Daftar Isi
Cekricek.id — Dalam ilmu retorika Arab ada satu kata yang artinya kira-kira menaruh sesuatu di balik dinding supaya tidak langsung tertangkap mata: tawriyah. Yang disembunyikan di sana bukan benda, melainkan maksud si pembicara. Terjemahan kasarnya dalam percakapan sehari-hari adalah menjawab benar tanpa menjawab jujur. Orang yang ditanya sedang di mana lalu menjawab bahwa ia sedang di jalan, padahal jalan itu menuju tempat yang ia rahasiakan, memakai cara kerja yang mirip. Mirip, tetapi belum tentu sama.
Contoh yang dibedah para ahli balaghah — ilmu yang mengukur ketepatan dan keindahan tutur bahasa Arab — jauh lebih tua dan jauh lebih tegang. Nabi Ibrahim berjalan bersama istrinya, Sarah, di wilayah seorang penguasa yang zalim. Ditanya siapa perempuan di sebelahnya, ia menjawab “hazihi ukhti”, ini saudariku. Penguasa itu menangkap arti yang paling dekat, yaitu saudara sekandung. Yang dituju Ibrahim adalah saudara seiman. Tidak ada kata yang dusta di sana, dan tidak ada seorang pun yang merasa telah dibohongi.
Kalimat semacam itu punya nama teknis, empat syarat formal, dan empat tipologi. Nurfadillah, Sitti Fatima, Syamsu Rijal Ismail, dan Mohamad Harjum dari Universitas Negeri Alauddin Makassar membedahnya dalam Analisis Struktural, Tipologi, dan Nilai Estetis Uslub al-Tawriyah dalam ‘Ilmu Balaghah, yang terbit di Jurnal Ilmu Budaya Volume 14 Nomor 2 tahun 2026. Tulis tim itu, tawriyah bukan gejala cacat bahasa atau kegagalan berkomunikasi, melainkan rekayasa retorika yang disengaja dan dikendalikan penuh oleh penuturnya. Bahan yang mereka periksa dua rupa: ayat-ayat Al-Quran dan syair Arab klasik dari zaman Jahiliyah, Umayyah, sampai Abbasiyah.
Akar katanya, wa-ra-ya, mereka lacak sampai ke Lisan al-‘Arab susunan Ibnu Manzur, kamus rujukan terbesar bahasa Arab. Di sana maknanya menyembunyikan, menutupi, menaruh sesuatu di balik pembatas agar tidak terlihat mata. Ada pembanding yang lebih tua lagi dan lebih fisik: wara al-zand, memantik api dengan menggesekkan dua bilah kayu kering. Bara itu sudah ada di dalam serat kayunya sejak awal, laten, tidak ke mana-mana. Yang belum ada hanya gesekannya.
Al-Lafzh al-Musytarak: Kata yang Bercabang

Syarat pertama tawriyah adalah al-lafzh al-musytarak, harfiah lafal yang dipakai bersama-sama, yaitu satu kata yang menurut kamus memang memiliki lebih dari satu makna. Tanpa itu permainan tidak bisa dimulai. Kata bermakna tunggal, sepanjang apa pun sejarahnya, tidak bisa dipakai untuk keperluan ini. Bandingannya dalam bahasa Indonesia adalah kata bisa, yang sanggup berarti racun ular dan sanggup berarti mampu, dan hanya keadaan di sekitarnyalah yang menentukan mana yang berlaku. Langkah pertama analisis keempat penulisnya memang itu: menyisir teks untuk mencari kata-kata semacam ini.
Baca juga Tembang Wasita Rini dan Kemerdekaan Perempuan
Kekayaan seperti itu bukan kebetulan. Bahasa Arab bekerja dengan sistem derivasi akar kata, tasyrif, yang membuat satu akar tiga huruf melahirkan puluhan kosakata dengan nuansa berbeda-beda. Semakin panjang sejarah sebuah kata, semakin banyak cabang maknanya, dan semakin besar peluangnya dipakai untuk tawriyah. Penutur yang hendak memakainya harus lebih dulu tahu cabang mana saja yang sah menurut kamus, dan cabang mana yang cuma kebiasaan setempat yang tidak akan diakui siapa pun ketika kalimatnya diperkarakan.
Syarat kedua dan ketiga adalah dua lapis makna yang sama-sama sah. Al-ma’na al-qarib, makna dekat, adalah arti yang langsung melintas di kepala pendengar; keempat penulisnya menyebutnya bertindak sebagai kamuflase, tameng, dinding perlindungan. Al-ma’na al-ba’id, makna jauh, adalah yang sebenarnya dituju, dan ia disebut tidak akan terjangkau oleh orang yang membaca sekilas. Susunan itu terbalik dari kebiasaan berbahasa sehari-hari: yang paling gampang ditangkap justru yang paling tidak dimaksudkan, dan yang paling sukar dijangkau justru yang paling dikehendaki penuturnya.
Di sinilah contoh sehari-hari tadi meleset. Orang yang menjawab bahwa ia sedang di jalan tidak memakai satu kata bercabang; ia hanya menahan sebagian keterangan, dan kalimatnya tetap bermakna tunggal. Tawriyah menuntut katanya sendiri yang bercabang, dengan dua arti yang sama-sama tercatat di kamus dan sama-sama bisa dipertahankan kalau ditagih. Menahan keterangan hanya perlu keberanian, dan siapa pun sanggup melakukannya tanpa belajar apa-apa. Tawriyah perlu perbendaharaan kata, dan perbendaharaan itu tidak bisa dikarang sendiri.
Al-Qarinah: Penunjuk yang Menggagalkan Makna Dekat
Rukun keempat adalah al-qarinah, penunjuk konteks, dan tugasnya justru merusak. Ia menggagalkan makna dekat supaya akal terpaksa pindah mencari makna jauh. Qarinah ada dua rupa: qarinah lafziyyah, berupa kata yang berdiri di dalam kalimat, dan qarinah haliyyah, berupa keadaan di luar kalimat. Pada jawaban Ibrahim, penunjuknya bukan kata, melainkan situasinya sendiri: seorang lelaki di hadapan penguasa yang berbahaya, dengan istrinya berdiri di sebelah. Tanpa keadaan itu, kalimatnya cuma keterangan silsilah yang biasa saja.
Contoh yang paling terang datang dari sebait syair Arab klasik yang dikutip papernya. Larik itu kira-kira berbunyi: aku melihat ekor serigala terbit di ufuk, mungkinkah al-ghazalah terbit? Kata al-ghazalah berarti rusa, dan berarti pula matahari. Kata kerja yang menempel padanya, tatlu’u, artinya terbit, dan terbit adalah pekerjaan yang di alam ini hanya melekat pada matahari. Rusa tidak terbit. Satu kata kerja itu saja sudah cukup membongkar seluruh penyamarannya.
Baca juga Sudah Punya Rekening, Belum Tentu Terlayani
Perbandingan ini menolong. Kalau makna dekat adalah dinding, qarinah adalah retak pada dinding itu. Ia tidak menunjukkan apa yang ada di baliknya, tidak pula menyebutkan namanya; ia hanya memberi tahu bahwa dinding itu bukan ujung ruangan. Sisa pekerjaannya diserahkan kepada pembaca, dan justru di situ, menurut keempat penulisnya, seluruh nilai estetis tawriyah bekerja. Teks yang menerangkan dirinya sendiri sampai habis tidak meninggalkan pekerjaan apa pun.
Murasysyahah: Penyamaran yang Dipertebal
Tawriyah dibagi ke dalam empat tipologi, dan pembaginya sederhana: ada atau tidaknya kata penyerta yang menemani lafal utama, serta ke arah mana kata itu berpihak. Yang pertama, mujarradah, berarti polos atau telanjang — tidak ada satu pun kata penguat, seperti pada jawaban Ibrahim tadi. Yang kedua, murasysyahah, berarti diperkuat, dan yang diperkuat justru makna dekatnya. Penuturnya sengaja menebalkan dinding penyamarannya sendiri supaya pendengar bertahan lebih lama di arti yang keliru.
Contohnya diambil dari Surah Az-Zariyat ayat 47, yang berbicara tentang langit dan pembangunannya. Lafal bi-aydin secara kamus berarti dengan tangan, dan makna itu dikuatkan oleh kata tepat sebelumnya, banaynaha, Kami membangunnya, karena membangun dalam pengalaman manusia selalu memakai tangan. Yang dituju ayat itu adalah kekuasaan, bukan anggota tubuh. Menurut konvensi sastra Arab klasik, justru tipe berlapis semacam inilah yang dinilai paling tinggi derajat retorisnya, karena penyamarannya paling sukar dan penyingkapannya paling terlambat.
Dua tipologi sisanya bergerak ke arah sebaliknya. Mubayyanah, yang berarti diperjelas, menghadirkan kata penyerta yang justru mendukung makna jauh, seperti kata terbit pada syair rusa dan matahari tadi, atau kata rahmat yang mendahului lafal ridwan pada Surah At-Taubah ayat 21. Muhayya’ah, yang berarti disiapkan, paling rumit susunannya: dualisme maknanya baru hidup kalau ada kata lain lebih dulu menyiapkan panggungnya. Cabut kata penyiap itu, dan kata utamanya kembali datar bermakna tunggal.
Baca juga 58 Masjid Padang Berdiri di Zona Risiko Tsunami
Ada satu contoh lagi yang memperlihatkan seberapa jauh dua lapisan itu bisa direntang. Pada Surah Al-An’am ayat 60, kata jarahtum secara kamus berarti melukai dengan benda tajam, sementara yang dimaksud adalah berbuat salah dan berbuat dosa. Di klausa sebelumnya, yatawaffakum terbaca sebagai tidur karena diikuti keterangan malam hari, padahal makna jauhnya kematian kecil. Dua kata berdampingan, dua-duanya berlapis, dan keduanya memakai kegiatan paling sehari-hari untuk mengangkut perkara yang paling berat.
Ta’ammul: Kerja Merenung yang Diminta Teks
Pertanyaannya, untuk apa semua kerumitan itu dibangun. Jawaban papernya bertumpu pada dua kata. Mufaja’ah adalah kejutan retoris, saat akal menyadari bahwa arti yang paling gampang tadi tidak masuk akal di tempatnya berdiri. Ta’ammul adalah kerja merenung yang menyusul kejutan itu. Kepuasan pembaca, tulis keempat penulisnya, datang bukan dari keindahan bunyi kalimatnya, melainkan dari jarak yang ia tempuh sendiri di antara dua makna, dari tidak tahu ke tahu.
Salah paham yang paling umum adalah menganggap kesamaran sebagai kelemahan berbahasa. Al-Khatib al-Qazwini, ahli balaghah yang rumusannya dipakai sebagai patokan sepanjang paper ini, menetapkan batasnya dengan tegas: tawriyah terjadi ketika seorang penutur menyebut satu kata tunggal bermakna dua, yang dekat dan terang justru tidak dikehendaki, sedangkan yang jauh dan tersembunyi itulah yang dimaksud. Kesamaran di situ direncanakan sejak awal, bukan kecelakaan berbahasa yang kemudian dibela dengan tafsir. Bedanya terletak pada niat penuturnya, dan niat itu ditinggalkan jejaknya di dalam susunan kata.
Fungsi keduanya lebih berat. Pada ayat-ayat mutasyabihat yang menyebut tangan atau bersemayamnya Tuhan, tawriyah dibaca sebagai jembatan bahasa: sifat keagungan bisa dibicarakan dengan kosakata manusia tanpa membuat pembacanya membayangkan tubuh. Istilahnya tanzih, penyucian dari keserupaan dengan makhluk. Bahasa manusia dipakai sampai batasnya, lalu ditandai bahwa di sanalah batas itu berada, dan pembaca diminta berhenti sebelum melewatinya. Gaya bahasa yang kelihatan seperti permainan ternyata dipakai untuk pekerjaan yang paling tidak main-main.
Batas berlaku juga untuk papernya sendiri. Kerjanya murni studi kepustakaan atas ayat dan syair, bukan pengujian terhadap pembaca. Keempat penulisnya menyatakan multisumber klasik sengaja mereka pakai supaya tafsir semantik yang mereka hasilkan tidak jatuh ke bias subjektif peneliti modern — pengakuan bahwa pembacaan makna jauh memang bergantung pada siapa yang membaca. Tidak ada angka di dalamnya tentang berapa banyak pendengar Arab hari ini yang benar-benar sampai ke makna itu.
Dan tawriyah punya batas yang tegas. Ia bukan kiasan, bukan sindiran, bukan pula sekadar bermain kata. Begitu satu saja dari empat rukunnya hilang — kata bercabang, makna dekat, makna jauh, penunjuk konteks — yang tersisa cuma kalimat yang membingungkan, dan kebingungan tidak pernah dihitung sebagai keindahan. Yang benar-benar disembunyikan di balik dinding itu, seperti bara di dalam kayu kering tadi, tidak akan keluar sendiri sampai ada yang mau menggeseknya.














