- Koteka yang dikenakan tegak lurus berarti pemakainya pria yang masih perjaka.
- Koteka yang miring ke kanan menandakan pemakainya berstatus sosial tinggi atau bangsawan.
- Honai berpintu kecil dan tidak berjendela untuk menahan hawa dingin Papua.
- Upacara babi Wam Mawe berlangsung setiap empat atau lima tahun sekali, khusus bagi kaum laki-laki.
- Potong jari kini sudah hampir ditinggalkan, menurut beberapa sumber yang dicatat kedua penulis.
Daftar Isi
- Lembah Dingin Tempat Archold Pertama Kali Bertemu Orang Baliem
- Koteka yang Dicatat Merina dan Muhaimin Menyimpan Tanda Kedudukan
- Honai, Rumah Tanpa Jendela yang Mereka Temui di Seluruh Lembah
- Kerabat, Leluhur, dan Tujuh Aliansi dalam Catatan Kedua Penulis
- Wam Mawe, Pesta Babi yang Menurut Mereka Melunasi Mahar dan Utang
- Potong Jari dan Adat yang Kini Semakin Dikritisi
Richard Archold sedang terbang di atas Lembah Baliem, di pegunungan tengah Papua, pada 23 Juni 1938. Peneliti asal Amerika Serikat itu menumpang pesawat PBY Catalina bernama Guba II, dalam ekspedisi penelitian vegetasi di ketinggian lebih dari 4.000 meter. Secara kebetulan, ia dan anggota timnya menjadi orang luar negeri pertama yang mengadakan kontak dengan penduduk Lembah Baliem.
Peristiwa itu dicatat Bresca Merina dan Muhaimin dalam artikel Kearifan Lokal dan Hukum Adat Suku Dani di Papua, yang terbit di Jurnal Hukum Caraka Justitia volume 3 nomor 1 tahun 2023. Keduanya berasal dari Pascasarjana Universitas Merdeka. Yang mereka gambarkan adalah kearifan lokal dan hukum adat di Desa Wosilimo, Distrik Uslimo, Kabupaten Jayawijaya, 27 kilometer dari Wamena.
Dari perjumpaan Archold itu, tulis mereka, diketahui bahwa penduduk Suku Dani adalah petani yang terampil. Alat mereka kapak batu, alat pengikis, pisau dari tulang binatang, bambu atau tombak kayu, dan tongkat galian. Merina dan Muhaimin lalu menyusuri apa yang hidup di lembah itu: pakaian, rumah, ikatan kerabat, pernikahan, dan upacara.
Lembah Dingin Tempat Archold Pertama Kali Bertemu Orang Baliem
Lembah yang dilintasi Archold itu, dalam catatan Merina dan Muhaimin, panjangnya sekitar 80 kilometer dan lebarnya 20 kilometer. Letaknya di ketinggian sekitar 1.600 sampai 1.700 meter, dikelilingi Pegunungan Jayawijaya, dengan penduduk sekitar 100.000 jiwa. Malam di sana dingin, berkisar 10 sampai 15 derajat Celsius. Orang juga mengenalnya sebagai Grand Baliem Valley.
Penghuninya, menurut Merina dan Muhaimin, hidup dari bertani. Mereka menanam sawi, kol, jeruk, dan buah merah, lalu menjual hasilnya setelah panen. Lereng pegunungan di sekeliling lembah sempit dan curam, sehingga Suku Dani punya cara sendiri untuk memanfaatkan kebun. Mereka menyebut diri nit bailiemega, yang berarti “kami orang Baliem”.
Archold bukan penjelajah pertama di dataran tinggi itu. Ekspedisi Lorentz dari Belanda sudah masuk pedalaman Papua pada 1909 sampai 1910, tetapi tidak sampai ke Lembah Baliem. Sesudah Archold, tulis Merina dan Muhaimin, pengaruh Eropa dibawa para misionaris yang membangun pusat misi Protestan di Hetegima sekitar tahun 1955.
Soal nama pun ada riwayatnya. Mengutip Agus Alua, kedua penulis menyebut bahwa pada zaman ekspedisi Eropa, dari 1940-an sampai 1960-an, suku-suku di kawasan itu dikenal dengan satu nama, yakni Dani. Sejak 2002, lewat Dewan Adat Papua, masyarakat di Wamena sepakat bahwa mereka terdiri atas suku Hubula di Lembah Baliem, suku Walak di utara, dan suku Dani di barat.
Baca juga Iki Paleg Suku Dani: Potong Jari yang Kini Ditinggalkan
Koteka yang Dicatat Merina dan Muhaimin Menyimpan Tanda Kedudukan
Pakaian adat laki-laki Dani adalah koteka, yang juga disebut holim. Merina dan Muhaimin menulis bahwa koteka dibuat dari labu berbentuk runcing dan dipakai tanpa baju maupun alas kaki. Cara memakainya membawa makna. Koteka yang dikenakan tegak lurus berarti pemakainya pria yang masih perjaka. Arah lain membawa arti lain. Menurut Merina dan Muhaimin, koteka yang miring ke kanan menandakan pemakainya berstatus sosial tinggi atau bangsawan. Koteka yang miring ke kiri melambangkan pria dewasa golongan menengah, sekaligus menunjukkan pemakainya keturunan panglima perang. Ukurannya pun berbeda-beda untuk setiap pria.
Kepala suku memakai koteka yang lebih besar dan lebih panjang. Itu, tulis Merina dan Muhaimin, menandakan dirinya pria berwibawa dan terpandang di masyarakat. Di kepala, kaum lelaki mengenakan topi bulat dari bulu burung yang bernama swesi, atau topi dari kuskus hitam yang disebut siloki inon.
Perhiasan lain melengkapi tubuh. Merina dan Muhaimin mencatat perisai yang digantungkan pada leher atau dahi bernama wali moken, sedangkan yang dikenakan di tubuh bagian atas disebut walimo, terbuat dari serat kayu dan kulit kerang. Ada pula taring babi yang disebut wam maik, serta sekan, anyaman rotan pada lengan dan pergelangan tangan.
Honai, Rumah Tanpa Jendela yang Mereka Temui di Seluruh Lembah
Rumah adat Suku Dani tergolong kecil, bundar, berdinding kayu, dan beratap jerami atau ilalang yang bisa mencapai 2,5 meter. Dingin lembah menentukan bentuknya. “Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela, tujuannya untuk menahan hawa dingin Papua,” tulis Merina dan Muhaimin dalam naskah mereka.
Ada tiga macam bangunan, menurut Merina dan Muhaimin. Honai dihuni laki-laki. Ebe’ai, atau honai perempuan, dihuni perempuan dan ada yang berbentuk persegi panjang. Yang ketiga adalah wamai, kandang babi. Satu rumah biasanya ditempati lima sampai sepuluh orang. Bagian dalamnya umumnya bertingkat dua, dihubungkan tangga dari bambu. Merina dan Muhaimin menulis bahwa penghuni membuat perapian di dasar rumah untuk penerangan, dengan menggali tanah sebagai tungku. Tiang penyangga di tengah memakai kayu besi. Kompleks honai seperti itu tersebar hampir di seluruh pelosok Lembah Baliem.
Honai bukan hanya tempat tidur. Dalam uraian Merina dan Muhaimin, di sanalah alat-alat perang dan simbol adat disimpan, anak-anak lelaki dididik dan dinasihati, serta strategi perang diatur. Honai juga dipakai untuk pengasapan mumi. Tradisi itu bisa ditemukan di Distrik Kurulu dan Kampung Aikima, dua tempat pemumian terkenal di lembah tersebut.
Baca juga Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan
Kerabat, Leluhur, dan Tujuh Aliansi dalam Catatan Kedua Penulis
“Masyarakat Dani adalah masyarakat komunal,” tulis Merina dan Muhaimin. Kelompok kerabat terkecilnya adalah keluarga luas: dua atau tiga keluarga yang bersama-sama menghuni satu kompleks perumahan berpagar. Beberapa klen kecil, atau ukul, bergabung menjadi klen besar yang disebut ukul loak. Garis keturunan mengikuti anak laki-laki.
Ada pula kanekela, kelompok yang memiliki objek sakral bersama. Merina dan Muhaimin memberi contoh Klen Alua, yang mempunyai sejumlah pusat kanekela di berbagai tempat. Keanggotaannya bisa melintasi kampung, konfederasi, bahkan aliansi. Tiap subklen mempunyai kanekela untuk fungsi tertentu, misalnya kesuburan atau peperangan. Dua jenis ap kaintek berperan dalam satu kanekela. Merina dan Muhaimin menyebut yang pertama ap wim metek meke, panglima perang. Yang kedua ap tugure, pengendali urusan politik, sosial, serta kesuburan biologis dan ekonomi. Keduanya mengatur ritual di dalam kelompoknya.
Lebih tinggi lagi ada wim aila, yang berarti rumah perang. Merujuk Agus Alua, kedua penulis menerangkan bahwa rumah itu khusus untuk menyimpan ap warek, piagam perang, dan menjadi pusat pengaturan strategi. Ritualnya diatur para panglima. Warga biasa, pria maupun wanita, turut berpartisipasi tanpa kecuali.
Kesatuan religi yang lebih luas lagi bernama wakunmo, artinya dunia arwah. Merina dan Muhaimin menulis bahwa sekitar lima tahun sekali simbol para arwah yang tersebar di mana-mana dikumpulkan lewat ritual khusus. Simbol itu lalu diantar ke luar kampung, menuju rumah kecil yang sakral di tengah hutan belukar di antara beberapa kampung.
Dasar religinya, tulis Merina dan Muhaimin, adalah penghormatan kepada roh nenek moyang. Konsep terpenting bernama atou, kekuatan sakti leluhur yang diturunkan kepada anak laki-laki. Kekuatan itu meliputi menjaga alam, menyembuhkan penyakit dan menolak bala, serta menyuburkan tanah. Bagi mereka, menjaga alam sama halnya dengan menghormati nenek moyang.
Pernikahan mengikuti garis leluhur itu. Merina dan Muhaimin menuturkan mitologi tentang sepasang suami istri penghuni danau di sekitar Kampung Maina, Lembah Baliem Selatan, yang mempunyai anak bernama Woita dan Waro. Orang Dani diharuskan menikah dengan orang di luar kelompok keturunannya sendiri. Sebuah desa terdiri atas tiga sampai empat silimo yang dihuni delapan sampai sepuluh keluarga.
Di seluruh Lembah Baliem, catat Merina dan Muhaimin, masyarakat Hubula terbagi dalam tujuh aliansi: Omarikmo, Wosiala, Aluama, Solimo, Pilabaga, Wio, dan Kurima. Di antara aliansi besar itu ada sejumlah konfederasi yang kokoh dan berperan seperti aliansi. Mereka menyebut konfederasi Aso-Lokobal, Ohena-Inaiwerek, Peleima, dan Soapma.
Wam Mawe, Pesta Babi yang Menurut Mereka Melunasi Mahar dan Utang
Dalam bahasa Hubula, wam berarti babi dan mawe berarti upacara. Merina dan Muhaimin menulis bahwa Wam Mawe tidak berlangsung tiap tahun, melainkan setiap empat atau lima tahun sekali, sehingga suku Hubula melaksanakannya secara meriah. Upacara ini dilaksanakan khusus bagi kaum laki-laki.
Sebelumnya biasanya digelar Wam Wesake, atau Pesta Honai Adat. Babi yang dipilih, menurut Merina dan Muhaimin, adalah yang paling bagus, yang sudah dipersiapkan dan dipelihara sangat lama untuk keperluan itu. Wam Mawe sendiri menjadi upacara untuk menyelesaikan masalah adat di dalam masyarakat, seperti mahar kawin yang belum dibayarkan atau utang piutang lainnya.
Tujuannya tidak berhenti di situ. Merina dan Muhaimin mencatat tiga lagi: memperbaiki tatanan masyarakat dan hubungan antarklan dalam honai adat, menghormati persekutuan antarsuku dalam peperangan, serta membangun hubungan diplomasi dengan honai adat klan atau suku lain. Seusai pesta, para pemuda melantunkan nyanyian, lalu daging babi bakar dibagikan kepada masyarakat adat yang telah ditentukan.
Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Potong Jari dan Adat yang Kini Semakin Dikritisi
Merina dan Muhaimin juga menulis tentang iki paleg, pemotongan jari sebagai tanda dukacita atas anggota keluarga yang meninggal. Bagi Suku Dani, jari adalah simbol kerukunan, kesatuan, dan kekuatan dalam sebuah keluarga. “Kebersamaan sangat penting bagi masyarakat Papua Pegunungan,” tulis keduanya.
Tradisi itulah yang oleh Merina dan Muhaimin disebut hukum adat yang hidup di dalam masyarakat. Namun mereka mencatat, berdasarkan beberapa sumber, bahwa potong jari kini sudah hampir ditinggalkan. Orang jarang melakukannya lagi, walau masih banyak lelaki dan wanita tua dengan jari terpotong karena mengikuti tradisi ini di masa lampau.
Temuan Merina dan Muhaimin dinyatakan untuk Desa Wosilimo, Distrik Uslimo. Dalam penutupnya, keduanya menulis bahwa seiring perkembangan zaman ada kearifan lokal dan hukum adat yang tidak lagi dilakukan masyarakat Suku Dani, karena mereka telah menyadari dampak tradisi iki paleg bagi kesehatan dan fungsi tubuh dalam kegiatan sehari-hari.
Kedua penulis menutup naskah dengan satu simpulan. Seiring berkembangnya zaman dan sumber daya manusia pada Suku Dani, kearifan lokal dan hukum adat semakin dikritisi, namun tetap dilestarikan sebagai bagian dari warisan nenek moyang. Merina dan Muhaimin juga berpendapat generasi muda perlu mengkaji kearifan lokal yang ada di Indonesia.
Lembah yang pada 1938 dilihat Archold dari jendela Guba II itu, dalam catatan Merina dan Muhaimin, masih dihuni orang-orang yang menyebut diri kami orang Baliem. Koteka, honai, dan pesta babi tetap menjadi bagian dari hukum adat yang mereka gambarkan. Adat lain, seperti potong jari, menurut keduanya kini sudah hampir ditinggalkan.













