- Tumpeng Sewu kini dijual sebagai paket wisata kuliner seharga Rp250.000 per orang.
- Barong Ider Bumi tidak ikut berubah karena dianggap sakral oleh orang Osing Kemiren.
- Pokdarwis Kencana membagi kesempatan menerima pesanan secara merata menurut jumlah tamu yang memesan.
- Pertunjukan otekan hidup kembali setelah kebiasaan menumbuk padi lama ditinggalkan karena mesin giling.
- Jumlah orang yang diwawancarai sedikit, sehingga tidak semua suara orang Osing tertampung.
Daftar Isi
- Bagaimana teras rumah berubah menjadi tempat berjualan
- Lesung yang dipukul lagi karena ada penonton
- Empat jalur hubungan yang ikut melebar
- Mengapa Barong Ider Bumi tidak ikut dijual
- Untung dihitung bersama, bukan sendiri-sendiri
- Dari malu menjadi bangga menyandang nama Osing
- Di mana penjelasan ini berhenti
Secangkir kopi di teras rumah warga Desa Kemiren, Banyuwangi, kini punya tarif. Tumpeng yang dulu disantap bersama tetangga sudah menjadi paket wisata kuliner, dan tari Gandrung dipentaskan lebih singkat untuk rombongan pelancong. Namun ada satu arak-arakan di desa yang sama, Barong Ider Bumi, yang susunannya tidak diubah sedikit pun. Orang Osing menjual sebagian tradisinya dan menahan sebagian yang lain.
Kejanggalan itu ditelusuri Iwan Nurhadi, Titik Sumarti, Arya Hadi Dharmawan, dan Didin S Damanhuri dari IPB University, Bogor. Tulisan mereka berjudul The Commodification of Culture and Ethical Transition of Tourism Development: An Insight from Osing Community, Indonesia dan terbit di Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan volume 10 nomor 01 tahun 2022. Mereka mewawancarai lima belas laki-laki dan empat perempuan di Kemiren, mulai dari perangkat desa, seniman, dan pemilik rumah singgah sampai pemuka adat.
Jawaban yang mereka dapat tidak sesederhana untung dan rugi. Warga Kemiren memang mengubah ritual menjadi dagangan, yang oleh para peneliti disebut komodifikasi budaya. Akan tetapi, perubahan itu berjalan menurut pilihan warga sendiri, dan cara mereka menimbang untung tetap bertumpu pada kepentingan bersama. Jaringan pergaulan warga melebar, sedangkan nilai kebersamaan mereka tidak bergeser.
Bagaimana teras rumah berubah menjadi tempat berjualan
Ambil contoh Tumpeng Sewu. Dalam bentuk aslinya, ritual ini digelar pada bulan Zulhijah sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan serta harapan akan kesehatan dan kesuburan. Hidangannya pecel pithik, dan warga menyantapnya bersama di teras rumah masing-masing. Sejak 2012 ritual itu masuk dalam acara Banyuwangi Festival, lalu pada 2014 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Wujudnya ikut berubah. Tumpeng Sewu kini digelar di sepanjang jalan utama desa dan disusul pertunjukan tari. Ia juga dijual sebagai paket wisata kuliner seharga Rp250.000 per orang. Para peneliti mencatat kira-kira 1.113 kepala keluarga terlibat, dan tiap keluarga mengeluarkan sedikitnya seekor ayam dan kelapa sebagai bahan dasar bumbunya.
Ngopi Sepuluh Ewu menempuh jalan serupa. Asalnya adalah nilai lungguh, suguh, dan gupuh dalam menghormati tamu. Ketika budaya minum kopi makin digemari, kebiasaan itu dijadikan festival. Acaranya tetap di teras rumah, tetapi pengunjung dikenai tarif sepuluh ribu untuk menikmati kopi. Semboyannya sak corotan dadi sak duluran, yang dalam naskah diartikan menyeduh bersama lalu menjadi saudara.
Tari Gandrung mengalami hal yang sama, bahkan lebih dulu. Tarian ini semula merupakan ungkapan syukur atas panen dan penghormatan kepada Dewi Sri. Naskah itu juga menyebutnya alat perjuangan untuk membangun semangat penduduk Osing yang tersisa setelah penghancuran oleh kompeni Belanda pada 1767. Pementasan aslinya terdiri atas tiga babak, yakni Jejer, Paju atau Ngibing, dan Seblang Subuh.
Dua keputusan bupati kemudian mengubah kedudukannya. Pada 2002 Gandrung ditetapkan sebagai maskot pariwisata Banyuwangi, dan setahun sesudahnya sebagai tari selamat datang. Kini ia menjadi paket wisata yang dalam tabel peneliti tertulis Rp1.500.000 per orang untuk paling banyak 60 wisatawan. Waktu pentasnya pun dipendekkan, dengan urutan Jejer gandrung, Repenan, Paju gandrung, dan Seblang Subuh.
Baca juga Seblang Olehsari: Izin Sehari Ditolak, Tari Tujuh Hari Batal
Lesung yang dipukul lagi karena ada penonton
Yang membuatnya rumit, menjual budaya ternyata tidak selalu mengikis budaya. Para peneliti menemukan satu kebiasaan yang justru hidup kembali, yaitu pertunjukan otekan. Menumbuk padi beramai-ramai sudah lama ditinggalkan karena warga beralih ke mesin giling, dan jumlah pekerjanya ikut berkurang. Lumpang dan alu hanya dikeluarkan untuk membuat tepung ketika ada hajatan seperti pernikahan.
Permintaan akan pertunjukan itulah yang menghidupkannya lagi. Seorang informan bercerita bahwa ia pernah diminta belajar memainkannya pada suatu hari Minggu, lalu berlatih siang dan malam sampai pukul sepuluh. Otekan, menurut penuturannya, dimainkan paling sedikit lima perempuan berbusana khas Osing dan seorang laki-laki pemain angklung. Warga pun memperoleh dua hal sekaligus, tradisi yang kembali dan penghasilan.
Rasa bangga bekerja dengan cara yang sama. Menurut para peneliti, warga terlibat dalam festival bukan semata karena uang, melainkan karena merasa sebagai pemilik budaya yang dipentaskan. Ketika tampil, mereka sadar sedang mewakili masyarakat dan cara hidupnya. Kesadaran dan kebanggaan itulah, bersama keuntungan ekonomi, yang mendorong mereka terus menggelar acara yang sudah dikemas untuk wisatawan.
Empat jalur hubungan yang ikut melebar
Perubahan itu merembet ke pergaulan warga. Para peneliti memetakan empat jalur hubungan yang menyertai setiap festival. Wisata, tulis mereka, memperluas jaringan pergaulan, mengubahnya, dan membentuk jaringan baru. Jalur pertama berlangsung di antara sesama warga Osing Kemiren. Di sini kepentingan yang berbeda-beda dilebur lewat kerja bersama menyiapkan ritual. Keikutsertaan dipahami sebagai kewajiban menjalankan perintah Danyang dan leluhur pendiri desa.
Hubungan di jalur ini, menurut pengamatan mereka, tidak diubah oleh wisata. Semangat warga merawat ritual malah terjaga dan menguat. Jalur kedua baru muncul bersama datangnya pelancong, yakni hubungan warga dengan wisatawan. Sifatnya tidak pribadi dan hanya sementara, tetapi cukup untuk menumbuhkan keinginan menyuguhkan penampilan terbaik pada ritual yang dulu hanya ditujukan bagi warga sendiri.
Jalur ketiga menghubungkan warga dengan pelaku usaha wisata, yaitu pengelola hotel, agen perjalanan, dan pemandu. Kemiren umumnya masuk sebagai bagian dari rencana perjalanan mereka. Hubungan yang berulang dan lama membuat perjanjian usaha menjadi lentur, dan urusan dagang perlahan berubah menjadi hubungan pribadi. Pendorongnya, tulis para peneliti, adalah rasa saling percaya dan keuntungan bagi semua pihak.
Jalur keempat adalah hubungan timbal balik dengan pemerintah. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi membina dan mengawasi Kemiren sebagai tujuan wisata unggulan serta mengesahkan Kelompok Sadar Wisata Kencana. Nama baik itu mengundang kepercayaan pihak lain, misalnya badan usaha milik negara dan dana tanggung jawab sosial perusahaan. Warga, di sisi lain, memperoleh keuntungan ekonomi dan identitas Osing yang lebih kuat.
Baca juga Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya
Di titik tengah keempat jalur itu berdiri Kelompok Sadar Wisata Kencana, yang biasa disingkat Pokdarwis Kencana. Kelompok ini menyiapkan tempat dan susunan acara, membagikan pesanan paket wisata kepada warga, serta mengurus surat dan laporan. Para peneliti menyebutnya pelaku yang paling menentukan dalam mengatur pembagian keuntungan dan kesejahteraan warga.
Cara kerjanya terlihat pada Tumpeng Sewu. Pokdarwis Kencana menentukan siapa yang mendapat kesempatan menerima pesanan senilai Rp250.000 per orang dari wisatawan. Kelompok itu juga mengelola para juru masak pecel pithik, yang dihargai Rp200.000 per orang. Pengurusnya paham bahwa peluang semacam ini dapat menimbulkan kecemburuan dan mengganggu kerukunan. Karena itu kesempatan dibagi merata menurut jumlah tamu yang memesan.
Kehadiran kelompok ini sekaligus menandai pergeseran lain. Susunan masyarakat Osing semula bertumpu pada usia, dengan orang yang lebih tua berada di lapisan atas. Kini pemuda yang tergabung dalam Pokdarwis Kencana memegang peran sosial penting dalam mengatur kegiatan wisata. Para peneliti membacanya sebagai tanda bahwa asas senioritas usia perlahan digantikan oleh kelincahan dan daya cipta anak muda.
Mengapa Barong Ider Bumi tidak ikut dijual
Persoalannya, mengapa Barong Ider Bumi tidak ikut berubah? Ritual ini digelar pada 2 Syawal sebagai bagian dari tradisi bersih desa, untuk menjauhkan warga dari bencana dan mensyukuri rezeki yang telah diterima. Arak-arakan berangkat dari kantor Desa Kemiren, mengelilingi desa, dan berakhir di Makam Buyut Cili, yang dianggap leluhur desa. Dalam tabel peneliti, kolom versi wisatanya hanya berisi catatan bahwa komodifikasi budaya tidak ditemukan.
Penjelasannya terletak pada kesakralan. Filosofi, selamatan, dan hidangan pecel pithik dalam ritual ini tidak berubah. Barong Kemiren sendiri membawa makna kebersamaan, kerja keras, pengingat sejarah, dan rasa syukur kepada Tuhan. Ritual itu menjadi cerminan nilai dan citra diri orang Osing Kemiren, sehingga susunannya dipertahankan agar tidak mendatangkan nasib buruk. “Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komodifikasi budaya hanya terjadi di ruang budaya yang profan,” tulis Iwan Nurhadi dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Dari sini terlihat cara kerja pemilahan itu. Orang Osing, menurut para peneliti, memiliki pengetahuan yang menggolongkan budaya menjadi yang sakral dan yang profan. Barong Ider Bumi termasuk yang pertama. Gandrung dipandang sebagai tari pergaulan, masuk golongan kedua, sehingga boleh disesuaikan dengan kepentingan wisata. Pemerintah pun memberi keleluasaan kepada warga untuk memilih ritual mana yang berubah dan mana yang tidak.
Untung dihitung bersama, bukan sendiri-sendiri
Bagian kedua temuan menyangkut cara warga menimbang keputusan. Para peneliti menyimpulkan bahwa etika ekonomi orang Osing berpegang pada perolehan manfaat bersama yang sebesar-besarnya. Keuntungan pribadi ditempatkan sesudah keuntungan bersama. Seorang informan di Kemiren bahkan menuturkan bahwa ia nyaris tidak mendapat untung besar dan kadang hanya balik modal, tetapi menjalaninya demi kemajuan Osing.
Timbangan bersama itu juga bekerja ketika ada penolakan. Seorang informan yang diwawancarai di balai desa menceritakan bahwa seniman Kemiren pernah memprotes Color Fun Festival karena memakai musik DJ. Acara itu lalu diubah menjadi Sembur Kuwung Festival yang memakai musik tradisional. Bagi para peneliti, keberatan semacam ini menunjukkan bagaimana senang dan susah dihitung, lalu disesuaikan sampai diterima warga.
Naskah itu juga mencatat asal-usul gagasannya. Penetapan Osing sebagai tujuan wisata mula-mula lahir dari tafsir pemerintah tentang apa yang terbaik bagi banyak pihak, dan pengembangannya, tulis para peneliti, sebenarnya didorong kepentingan kalangan elite. Meski begitu, keputusan warga untuk menjadikan wisata bagian dari mata pencaharian mereka baca sebagai hasil menimbang bersama antara manfaat dan mudarat.
Baca juga Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival
Dari malu menjadi bangga menyandang nama Osing
Temuan lain menyangkut identitas warga. Para peneliti mencatat orang Osing semula berada di pinggir dibanding kelompok lain di Banyuwangi, yakni Madura, Jawa, Bugis, dan Bali. Sebelum penataan ulang struktur politik, mereka tidak berkesempatan duduk di birokrasi pemerintah atau menjadi anggota dewan. Sesudah 2004 orang Osing mulai mendapat tempat strategis.
Pengembangan wisata lalu menempatkan Osing sebagai ikon budaya kabupaten. Akibatnya terdengar dalam penuturan seorang informan yang oleh peneliti dicatat sebagai ESA. “Dulu memalukan bila kami dikenal sebagai warga Osing Kemiren. Sekarang, kami bangga menjadi orang Osing,” katanya, sebagaimana dikutip dalam naskah berbahasa Inggris itu. Manfaat itu belum sampai ke semua orang. Informan lain menjelaskan bahwa nama Kemiren membuat para penabuh gamelan memperoleh nafkah dari pementasan. Perajin gamelan belum merasakan hal serupa. Sebabnya, nama desa itu dikenal sebagai asal penabuh gamelan yang baik, bukan sebagai asal pembuat gamelan.
Di mana penjelasan ini berhenti
Para penulis sendiri memberi batas pada temuan mereka. Jumlah orang yang diwawancarai sedikit, sehingga tidak semua suara orang Osing tentang wisata di daerahnya tertampung. Mereka juga tidak menyajikan hitungan angka. Hubungan kuasa di antara para pelaku, pembagian keuntungan, dan kesejahteraan warga belum ditinjau menyeluruh, dan soal kelestarian lingkungan dalam wisata desa tidak mereka bahas.
Mereka juga meminta tafsir tentang etika itu dibaca dengan hati-hati, sebab teori dan pustaka pendukungnya masih terbatas. Beberapa saran tetap diajukan. Pemerintah diminta memberi pendidikan dan pelatihan untuk menjaga nilai budaya dan mengembangkan atraksi baru. Pokdarwis Kencana disarankan tetap menjadi satu pengelola inti dan menyusun prosedur baku pelayanan, agar manfaat dinikmati semua warga.
Kopi bertarif di teras dan barong yang tidak dijual, dengan begitu, lahir dari timbangan yang sama. Warga Kemiren mengubah yang mereka golongkan profan dan menahan yang mereka anggap sakral. Para peneliti menyimpulkan bahwa upaya meraih manfaat ekonomi sambil mempertahankan warisan membuat orang Osing menyesuaikan kegiatan ekonominya dengan nilai budaya mereka sendiri.














