Memo Amazon: Boros Token AI Bukan Ukuran Produktivitas

A A

Gedung Amazon Spheres di kompleks kantor pusat Amazon, Seattle, Amerika Serikat. [Foto: SounderBruce/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Memo Amazon menyebut jumlah pemakaian token AI sebagai ukuran yang sangat cacat.
  • Amazon menutup papan peringkat internal pada Mei akibat praktik tokenmaxxing.
  • AWS kini memakai metrik seperti kecepatan peluncuran fitur.
  • Karyawan diminta tidak memaksakan AI pada tugas yang tidak cocok.

Cekricek.id — Memo Amazon tentang pedoman penggunaan kecerdasan buatan (AI) bagi para insinyur perangkat lunaknya menegaskan bahwa banyaknya pemakaian token AI bukan ukuran produktivitas yang layak.

Melansir laporan CNBC, Selasa (27/10/2026), memo yang beredar di internal perusahaan sejak September itu dipublikasikan di situs web Amazon pada Selasa. Isinya merombak definisi peran insinyur pengembang perangkat lunak dan manajer di era AI.

Amazon menyebut metrik seperti jumlah pemakaian token, tingkat adopsi alat AI, serta jumlah perubahan atau tinjauan kode sebagai ukuran yang sangat cacat. Menurut perusahaan, metrik itu bisa memicu biaya lebih tinggi dan kerumitan berlebihan.

Token merupakan satuan data yang diproses dan dihasilkan model AI. Amazon tidak meminta karyawannya mengabaikan metrik tersebut sama sekali, tetapi mempertimbangkannya dengan cermat bersama data lain.

Baca juga Microsoft Tawarkan Pesangon Sukarela kepada 60.000 Karyawan

Papan Peringkat Internal Ditutup

Sejumlah perusahaan belakangan menindak praktik tokenmaxxing, yakni kebiasaan pengembang memakai AI sebanyak mungkin tanpa memedulikan hasilnya. Amazon sendiri menutup papan peringkat internal pada Mei setelah mendapati karyawan melakukan tokenmaxxing demi naik peringkat.

Seorang juru bicara Amazon menyatakan perusahaan tidak menerapkan batas pemakaian token bagi karyawan. Namun, perusahaan lain ada yang membatasi kuota token atau beralih ke model sumber terbuka yang lebih murah untuk tugas tertentu demi menekan tagihan AI.

Wakil Presiden sekaligus Distinguished Engineer Amazon Web Services Marc Brooker mengatakan perusahaannya kini memakai metrik seperti kecepatan peluncuran fitur untuk mengukur dampak AI terhadap produktivitas insinyur.

“Secara garis besar, kami memandang ini sebagai imbal hasil investasi. Jika ada masalah penting yang harus diselesaikan untuk pelanggan atau bisnis kami, kami akan menginvestasikan alat, waktu, token, upaya manusia, dan lainnya untuk itu,” kata Brooker kepada CNBC.

“Yang tidak ingin kami lihat adalah upaya yang terbuang, ketika kami menghabiskan token untuk menyelesaikan masalah yang tidak penting,” lanjutnya.

Baca juga Seluruh 30.000 Karyawan Uber Kini Bekerja dengan ChatGPT Work

Tak Pakai AI Bukan Kegagalan

Dalam memo itu, Amazon juga meminta karyawan tidak memaksakan AI pada tugas yang tidak cocok. Perusahaan menegaskan bahwa pekerjaan yang tidak terbantu alat AI saat ini merupakan temuan, bukan kegagalan.

Di bawah kepemimpinan CEO Andy Jassy, Amazon gencar menerapkan AI di seluruh lini bisnisnya. Jassy sebelumnya memprediksi AI akan mengubah cakupan dan kecepatan pekerjaan sehari-hari, serta berpotensi memangkas jumlah karyawan korporat dalam beberapa tahun ke depan, meski juga akan menciptakan pekerjaan lain.

Baca juga Ekonom Apollo: AI Belum Beri Untung bagi Perusahaan Nontekno

Bagikan

Baca Juga

Gen Z Lawan Kecanduan Media Sosial Lewat Aplikasi Detoks Digital
Elon Musk Tuding Militer Ukraina Langgar Aturan Pakai Starlink
OpenAI Klaim Terobosan Matematika, Ilmuwan Protes Akses Dibatasi
Menkes AS Kennedy Sebut Bangsa Arab Tak Hasilkan Sains, Dikecam
Bursa Tiongkok Hilang 2,4 Triliun Dolar AS Imbas Persaingan AI
Startup AS Ingin Terangi Malam dengan 50.000 Cermin di Orbit