- Sebanyak 57 jenis tumbuhan obat orang Moronene itu berasal dari 27 famili.
- Sagu berada paling atas dengan ICS 74, di bawahnya akar kuning dan bunga darah masing-masing 60.
- Para peneliti mencatat empat kelompok tumbuhan yang biasa digunakan bersamaan.
- Sebanyak 21 dari 57 jenis tumbuhan obat juga dipakai sebagai bahan pangan.
- Saat ini warga hanya memproduksi satu jenis tumbuhan, yaitu kayu bajakah.
Daftar Isi
Kampung adat orang Moronene berada di dalam Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, di Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Batasnya langsung bertemu Desa Tatange di Kecamatan Tinanggea, Konawe Selatan. Dari hutan, kebun, padang rumput, dan tepi sungai di sekitarnya, warga mengambil 57 jenis tumbuhan untuk obat. Hanya satu yang sejauh ini mereka buat menjadi produk: kayu bajakah.
Daftar itu disusun Ricky Astawan dan Ervizal Amzu dari IPB University bersama Syamsul Hidayat dari Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ketiganya menuliskannya dalam artikel Ethnobotanical Evaluation of Medicinal Plants of High Cultural Value among the Moronene Indigenous People in Rawa Aopa Watumohai National Park, Indonesia, yang dimuat Ulin - J Hut Trop volume 10 nomor 1 tahun 2026. Mereka berada di kampung itu pada Januari sampai Februari 2023 dan berbicara dengan 32 orang: seorang sando atau tabib, seorang ketua adat, dan 30 warga.
Hutan yang dibagi empat
Orang Moronene sudah lama tinggal di kawasan itu, jauh sebelum pemerintah menetapkannya sebagai kawasan konservasi. Dengan merujuk Hafid dan rekan, Astawan menulis bahwa Moronene adalah suku pendatang pertama di Sulawesi Tenggara, sebelum kedatangan suku Tolaki. Kehidupan sosial dan budaya mereka diatur oleh hukum adat dan lembaga adat.
Hutan di sana tidak dipandang sebagai satu hamparan. Mengutip Limba dan rekan, naskah itu menyebut empat zona: Inalahipue atau hutan hujan, Inalahi Popalia atau hutan keramat, Inombo atau hutan produksi, dan Lueno, hutan tempat hidup satwa liar. Warga memanfaatkan kawasan hutan menurut aturan adat. Cara mengelola itu, tulis para peneliti, diwariskan turun-temurun oleh leluhur mereka.
Di dalam tatanan itulah tumbuhan obat dipakai. “Masyarakat adat Suku Moronene masih mempertahankan pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional dan sumber pangan lokal,” tulis Astawan, Amzu, dan Hidayat dalam abstrak berbahasa Indonesia naskah mereka. Sando, menurut ketiganya, berperan sebagai dokter tradisional. Pengetahuannya turun dari generasi ke generasi, dan dengan tumbuhan yang dipercaya berkhasiat ia mengobati serta mencegah penyakit.
Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak
Lima puluh tujuh nama
Sebanyak 57 jenis tumbuhan obat itu berasal dari 27 famili. Sebagian besar diambil langsung dari lingkungan sekitar kampung, yakni hutan primer dan sekunder, kebun, padang rumput, serta tepi sungai. Bentuk tumbuhnya beragam: semak, pohon, liana, dan herba. Astawan dan rekan membaca keragaman itu sebagai tanda kedekatan warga dengan sumber daya alam di sekelilingnya.
Banyak nama dalam daftar itu berbunyi setempat. Ada kapati-pati merah dan kapati-pati putih, komba-komba, kokabu, libonu, lonkida, ruruhi, singi, tombira, tulasi dahu, uwikoro, dan wualae. Beberapa tumbuhan dicatat dengan dua nama sekaligus. Pinang disebut wua, rotan disebut o’uwe, sagu disebut tawaro, dan singkong disebut wanggole.
Sisanya adalah nama yang akrab di dapur dan pekarangan. Jahe, kencur, kunyit, serai, sirih, dan merica masuk daftar. Begitu pula pepaya, kelor, daun katuk, jambu biji, sirsak, sukun, dan belimbing wuluh. Kopi, coklat, kapuk, jati lokal, dan bambu ikut tercatat sebagai tumbuhan obat, bersama akar kuning, bajakah, putri malu, meniran, kumis kucing, dan pecah beling.
Sagu di puncak daftar
Dari 57 jenis itu, sepuluh dinilai paling layak dikembangkan. Penilaiannya memakai tiga ukuran: tingkat kepercayaan warga terhadap suatu tumbuhan, nilai gunanya dalam mengobati penyakit, dan Index of Cultural Significance atau ICS. Ukuran terakhir, menurut naskah, menunjukkan seberapa dekat sebuah kelompok etnis dengan pemanfaatan suatu jenis tumbuhan.
Sagu berada paling atas dengan ICS 74. Di bawahnya akar kuning dan bunga darah, masing-masing 60. Bajakah mencatat 56, sedangkan jambu biji dan tawaoloho sama-sama 54. Kunyit berada di angka 36, komba-komba dan putri malu di angka 30, dan kumis kucing di angka 15. Tiga angka teratas itu disebut lagi oleh para peneliti di bagian simpulan.
Dua ukuran lain tercantum di tabel yang sama. Komba-komba mencatat angka terbesar di tabel untuk tingkat kepercayaan, yaitu 0,47, dan untuk nilai guna, yaitu 0,50. Bajakah punya nilai guna 0,44. Akar kuning mencatat tingkat kepercayaan 0,31 dan nilai guna 0,38, sementara kumis kucing 0,28 pada keduanya. Sagu, yang teratas dalam ICS, mencatat 0,16 pada kedua ukuran itu.
Kesepuluh jenis itu dipilih karena memenuhi tiga syarat. Warga banyak memakainya, tumbuhannya mengandung metabolit sekunder yang berkhasiat, dan ia cocok dengan habitat zona tradisional, yang berada di atas 200 meter dari permukaan laut dengan suhu 27 sampai 30 derajat Celsius. Khasiatnya, tulis Astawan, mencakup penyakit dalam seperti gangguan pencernaan, demam, tekanan darah tinggi, dan diabetes, juga penyakit luar seperti luka, infeksi kulit, dan radang.
Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Ramuan empat kelompok
Tidak semua tumbuhan dipakai sendiri-sendiri. Dari wawancara dengan warga, para peneliti mencatat empat kelompok tumbuhan yang biasa digunakan bersamaan. Kelompok pertama berisi kersen dan sirsak, yang dipakai untuk diabetes dan tekanan darah tinggi. Kelompok kedua adalah jahe, kencur, kunyit, dan lengkuas, dan dalam tabel naskah ramuan rimpang ini dicatat untuk batuk.
Kelompok ketiga menggabungkan tiga jenis: kapati-pati merah, kapati-pati putih, dan meniran. Warga memakainya untuk diabetes, tekanan darah tinggi, dan rematik. Kelompok keempat hanya dua jenis, kumis kucing dan pecah beling. Keduanya diramu untuk sakit pinggang.
Astawan dan rekan menyandingkan catatan itu dengan pustaka lain. Kumis kucing, misalnya, disebut sangat luas dipakai masyarakat umum untuk sakit pinggang, dengan rujukan Kuvaini dan rekan. Pecah beling dicatat untuk keluhan yang sama dalam tulisan Rizal dan rekan. Sirsak, menurut Fadhil dan rekan yang dikutip naskah, berguna untuk tekanan darah dan kolesterol.
Dari obat ke periuk
Sebagian tumbuhan obat itu juga sampai ke periuk. Sebanyak 21 dari 57 jenis tumbuhan obat juga dipakai sebagai bahan pangan. Yang dimaksud bahan pangan dalam naskah adalah makanan pokok, makanan tambahan, serta bumbu atau rempah yang digunakan orang Moronene.
Bumbu datang dari kunyit, o’liku, lengkuas, merica, serai, kencur, tawaoloho, dan jahe. Sumber karbohidratnya uwikoro, singkong, dan sagu. Dari sagu yang dimanfaatkan adalah umbut dan patinya, sedangkan dari agel hanya umbutnya. Uwikoro dan singkong diambil umbinya.
Untuk sayur, warga memakai tokulo atau tahongai, singkong, sagu, pepaya, okra, kelor, daun katuk, dan cakokak. Yang dimanfaatkan buahnya adalah wualae, tawaoloho, sukun, dan pepaya. Dari pepaya yang terpakai adalah buah, bunga, dan daun. Dari tawaoloho diambil buah dan daun, dari kelor daun dan buah.
Dua tumbuhan punya peran ketiga. Akar kuning dan bajakah, selain menjadi obat, dipakai orang Moronene sebagai pewarna alami minuman. Naskah mencatat akar kuning dipercaya sebagai obat demam, dengan rujukan antara lain Setyowati dan Wardah. Bajakah disebut dapat menurunkan tekanan darah tinggi, mengutip Azzahra dan rekan.
Para peneliti menarik satu pengamatan dari daftar pangan itu. Sumber daya di lokasi tersebut, tulis mereka, sangat melimpah dan mudah ditemukan serta dimanfaatkan warga. Dengan kelimpahan itu, menurut naskah, masyarakat tidak akan keluar mencari sumber daya lain.
Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Bajakah dan pasar yang belum ada
Sepuluh jenis unggulan itu disertai usulan cara mengembangkannya: budidaya berbasis komunitas, penguatan kapasitas masyarakat adat, serta dokumentasi dan kajian lanjutan. Bentuk produknya disebut dalam abstrak, yakni jamu, teh herbal, dan obat luar. “Pengembangan tersebut diharapkan dapat mendukung kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan pengetahuan lokal secara berkelanjutan,” tulis Astawan dan dua rekannya.
Soal pasar dicatat tersendiri. Naskah menyebut belum ada pemantauan terkait pemasaran dari pihak taman nasional, yang disebut para peneliti sebagai pihak yang bertanggung jawab meningkatkan usaha mikro, kecil, dan menengah di wilayah adat Moronene. Saat ini warga hanya memproduksi satu jenis tumbuhan, yaitu kayu bajakah.
Astawan mengusulkan pembagian kerja. Taman nasional mencarikan pasar bagi hasil tumbuhan yang dibuat masyarakat adat. Masyarakat adat mengolah tumbuhan menjadi produk yang siap dijual. Kerja sama semacam itu, menurut para peneliti, dapat menambah pendapatan warga dari pemanfaatan tumbuhan obat dan pangan.
Catatan ini berasal dari satu kampung adat dan 32 informan, terdiri atas 7 laki-laki dan 25 perempuan. Khasiat yang didaftar adalah khasiat tumbuhan yang dipercaya warga dan sando. Ketiga peneliti sendiri menaruh dokumentasi dan kajian lanjutan sebagai bagian dari strategi yang mereka sarankan.
Simpulan naskah memuat lima langkah konservasi. Zonasi khusus untuk melindungi area pengambilan tumbuhan berdasarkan sistem adat. Budidaya berbasis komunitas bagi jenis bernilai ekonomi tinggi. Penguatan kapasitas sando lewat dokumentasi pengetahuan tradisional. Kerja sama taman nasional dan masyarakat dalam mengembangkan produk herbal. Terakhir, pemantauan populasi jenis yang kritis dengan melibatkan warga setempat.
Di kampung yang berbatas dengan Desa Tatange itu, 57 nama tumbuhan kini tercatat dan sepuluh di antaranya diusulkan untuk dikembangkan. Kayu bajakah masih menjadi satu-satunya yang diproduksi warga. Jamu, teh herbal, dan obat luar disebut Astawan, Amzu, dan Hidayat sebagai produk yang berpotensi dikembangkan dari tumbuhan itu.













