Hampir Satu dari Tiga Lansia di Asia Selatan Mengalami Kekerasan

A A

Ilustrasi tangan keriput seorang perempuan lanjut usia bertumpu pada sandaran kursi bus [Foto: Cottonbro/Pexels]

  • Bila ke-33 penelitian itu digabung, angka lansia yang mengalami kekerasan di Asia Selatan mencapai 31,83 persen.
  • Kekerasan psikologis menimpa 20,09 persen lansia dan penelantaran oleh pengasuh 19,95 persen.
  • Angka gabungan kekerasan pada lansia perempuan mencapai 33,04 persen, sedangkan pada laki-laki 24,33 persen.
  • Para penulis meminta angka per negara dipandang sebagai temuan utama, bukan angka kawasan.
Daftar Isi
  1. Angka yang Dua Kali Rata-rata Dunia
  2. Lima Negara, Lima Wajah yang Berbeda
  3. Yang Paling Sering Bukan Pukulan
  4. Perempuan dan Kehormatan Keluarga
  5. Angka yang Diminta Dibaca dengan Hati-hati
  6. Usulan Para Penulis

Rumah yang dihuni anak dan cucu lazim dianggap tempat paling aman bagi orang tua yang sudah renta, apalagi di masyarakat yang menjunjung bakti kepada orang tua dan menyerahkan urusan merawat mereka kepada keluarga. Namun, sebuah kajian atas puluhan penelitian di Asia Selatan memperlihatkan bahwa justru di dalam keluarga dan lingkungan terdekat itulah hampir satu dari tiga warga lanjut usia mengalami kekerasan, mulai dari hinaan dan ancaman sampai dibiarkan tanpa perawatan.

Kajian itu ditulis Aman Shrestha, Indrajit Ghosh, Krishna Prasad Sapkota, Isha Karmacharya, Ahmed Danquah, Nicole Shelawala, Emily F. Gorman, dan Saruna Ghimire dalam artikel Prevalence of elder abuse among community-dwelling older adults in South Asia: a systematic review and meta-analysis, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka menghimpun 33 penelitian tentang warga berusia 60 tahun ke atas yang tinggal di tengah keluarga dan masyarakat, dari lima negara, yakni Bangladesh, India, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.

Para penulisnya bekerja di sejumlah lembaga di Amerika Serikat, antara lain University of Maryland Baltimore, Miami University di Ohio, dan University of Pittsburgh. Mereka memakai batasan Deklarasi Toronto tahun 2002, yang menyebut kekerasan terhadap lansia sebagai tindakan tunggal atau berulang, atau tiadanya tindakan yang semestinya, di dalam hubungan yang dilandasi harapan akan rasa percaya, dan yang menimbulkan bahaya atau penderitaan bagi orang yang sudah tua.

Angka yang Dua Kali Rata-rata Dunia

Bila ke-33 penelitian itu digabung, angka lansia yang mengalami kekerasan di Asia Selatan mencapai 31,83 persen. Para penulis menyandingkannya dengan rata-rata dunia sebesar 15,7 persen, sehingga angka kawasan ini mereka sebut dua kali lipat rata-rata global. Angka itu juga dekat dengan 33 persen yang dilaporkan untuk kawasan perdesaan di dunia, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah. Kajian terdahulu yang mereka kutip memperkirakan sekitar satu dari enam orang berusia 60 tahun ke atas di dunia mengalami suatu bentuk kekerasan.

Namun, Asia Selatan bukan yang tertinggi dalam perbandingan yang mereka susun. Angka kawasan ini masih di bawah 46,7 persen yang dilaporkan di Afrika Sub-Sahara dan 45,7 persen di Iran. Kajian terdahulu yang mereka rujuk mencatat Asia dengan 20,2 persen, lebih tinggi daripada Eropa yang 15,4 persen dan kawasan Amerika yang 11,7 persen. Sebuah kajian dari Asia Timur yang turut mereka kutip melaporkan kira-kira 78 kejadian per 1.000 orang-tahun.

Latar kawasannya ikut mereka uraikan. Asia Selatan dihuni kira-kira seperempat penduduk dunia dan sekitar seperlima lansia dunia, sementara bagian penduduk lanjut usianya diproyeksikan naik dari 8,5 persen pada 2015 menjadi 18,9 persen pada 2050. Sebagian besar negaranya, tulis mereka, belum punya prasarana perawatan lansia yang menyeluruh, baik jaminan sosial, perawatan di lembaga, maupun jaminan kesehatan.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Lima Negara, Lima Wajah yang Berbeda

Di situlah persoalannya: angka gabungan itu menaungi perbedaan yang sangat lebar antarnegara. Dari 33 penelitian, 21 berasal dari India dan tujuh dari Nepal, sedangkan Bangladesh dan Sri Lanka masing-masing menyumbang dua, dan Pakistan satu. Karena itu para penulis meminta agar angka per negara dipandang sebagai temuan utama, bukan angka kawasan.

India mencatat angka gabungan 25,81 persen, tetapi penelitian-penelitian di dalamnya terentang dari 3 persen sampai 72,55 persen. Nepal lebih tinggi, yakni 49,84 persen, dengan rentang antarpenelitian dari 35,90 persen sampai 61,65 persen. Dua penelitian dari Sri Lanka menghasilkan angka gabungan 30,57 persen. Tidak ada penelitian yang ditemukan dari Afghanistan, Bhutan, dan Maladewa.

Lansia yang Mengalami Kekerasan, per NegaraPakistan (1 studi): Persen lansia +53,33%; Nepal (7 studi): Persen lansia +49,84%; Bangladesh (1 studi): Persen lansia +34,60%; Sri Lanka (2 studi): Persen lansia +30,57%; India (21 studi): Persen lansia +25,81%.Lansia yang Mengalami Kekerasan, per NegaraAngka gabungan tiap negara, dalam persen10%20%30%40%50%60%0Pakistan (1 studi)53,33%Nepal (7 studi)49,84%Bangladesh (1 studi)34,60%Sri Lanka (2 studi)30,57%India (21 studi)25,81%Pakistan dan Bangladesh masing-masing hanya diwakili satu studi.
Sumber: Aman Shrestha, Indrajit Ghosh, Krishna Prasad Sapkota, dkk., Prevalence of elder abuse among community-dwelling older adults in South Asia: a systematic review and meta-analysis, BMC Public Health, 26(2372), 2026. Grafik: Cekricek.id

Bangladesh dan Pakistan hanya bisa dibaca dari satu penelitian masing-masing. Satu penelitian Bangladesh yang mencakup laki-laki dan perempuan melaporkan 34,60 persen, sedangkan penelitian lain dari negara itu hanya meneliti perempuan sehingga tidak dimasukkan ke angka keseluruhan. Dari Pakistan, satu-satunya penelitian yang tersedia melaporkan 53,33 persen, angka tertinggi di antara kelima negara. Penelitian yang hanya meneliti perempuan itu tetap dipakai untuk hitungan khusus perempuan.

Yang Paling Sering Bukan Pukulan

Bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan ternyata bukan yang meninggalkan bekas di tubuh. Kekerasan psikologis menimpa 20,09 persen lansia dan penelantaran oleh pengasuh 19,95 persen. Kekerasan psikologis, menurut para penulis, bisa berupa hinaan, ancaman, perlakuan yang mempermalukan, dan pengucilan, dan kerap terjadi di dalam keluarga atau lingkungan pengasuhan.

Jauh di bawah keduanya, kekerasan finansial dialami 8,01 persen lansia dan kekerasan fisik 3,91 persen. Kekerasan seksual paling jarang dilaporkan, yakni 0,67 persen. Tingginya penelantaran inilah yang, menurut para penulis, membedakan Asia Selatan dari pola dunia, sebab secara global kekerasan finansial biasanya menempati urutan kedua. Urutan global yang mereka rujuk adalah kekerasan psikologis 11,6 persen, finansial 6,8 persen, penelantaran 4,2 persen, fisik 2,6 persen, dan seksual 0,9 persen.

Penjelasan yang mereka tawarkan berpusat pada keluarga. Lansia di kawasan ini bergantung kepada anak untuk nafkah dan tempat tinggal, dan menurut kebiasaan anak tertua, umumnya anak laki-laki, yang memikul tanggung jawab merawat orang tua. Urbanisasi dan kepergian kaum muda ke tempat lain berangsur mengganggu jaringan dukungan itu, sehingga banyak orang tua, terutama di perdesaan, tertinggal tanpa dukungan yang memadai.

Baca juga Lansia Rentan Thailand Mengumpul di Timur Laut, Cahaya di Tengah

Para penulis juga menyebut gesekan antargenerasi dan beban pengasuh. Di keluarga besar sekalipun, orang tua yang dulu menjadi pengambil keputusan dapat merasa diabaikan ketika peran itu beralih ke generasi yang lebih muda. Pengasuh yang memikul tugas merawat tanpa dukungan yang cukup, tulis mereka, dapat mengalami frustrasi dan tekanan, yang lalu muncul sebagai kekerasan psikologis.

Perempuan dan Kehormatan Keluarga

Garis pemisah yang paling konsisten dalam kajian ini adalah jenis kelamin. Angka gabungan kekerasan pada lansia perempuan mencapai 33,04 persen, sedangkan pada laki-laki 24,33 persen, dan arah yang sama terlihat di semua negara yang menyediakan data terpilah. Di India angkanya 28,39 persen berbanding 21,27 persen, sementara di Nepal 54,70 persen berbanding 47,55 persen. Perempuan, simpul para penulis, menanggung beban kekerasan yang lebih berat di seluruh Asia Selatan.

Selisih paling lebar tampak pada dua bentuk yang paling umum. Penelantaran dialami 25,16 persen lansia perempuan dan 14,60 persen lansia laki-laki, sedangkan kekerasan psikologis 26,73 persen berbanding 17,66 persen. Pada kekerasan fisik angkanya 6,23 persen berbanding 3,95 persen, dan pada kekerasan finansial 8,81 persen berbanding 7,47 persen. Arah ini, tulis para penulis, sejalan dengan temuan global yang mencatat perempuan lebih mungkin mengalami kekerasan pada usia lanjut daripada laki-laki.

Lansia Laki-laki dan Perempuan, Empat BentukPsikologis 17,66% ke 26,73%; Penelantaran 14,60% ke 25,16%; Finansial 7,47% ke 8,81%; Fisik 3,95% ke 6,23%.Lansia Laki-laki dan Perempuan, Empat BentukAngka gabungan Asia Selatan, dalam persenLaki-lakiPerempuan0%10%20%30%Psikologis17,66%26,73%Penelantaran14,60%25,16%Finansial7,47%8,81%Fisik3,95%6,23%
Sumber: Aman Shrestha, Indrajit Ghosh, Krishna Prasad Sapkota, dkk., Prevalence of elder abuse among community-dwelling older adults in South Asia: a systematic review and meta-analysis, BMC Public Health, 26(2372), 2026. Grafik: Cekricek.id

Justru di titik inilah para penulis meragukan angka mereka sendiri, dan arahnya ke atas. “Dengan demikian, angka kekerasan yang dilaporkan dalam kajian ini kemungkinan berada di bawah tingkat kekerasan yang sesungguhnya dialami perempuan lanjut usia,” tulis Aman Shrestha dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Rasa malu dan kehormatan, menurut mereka, begitu kuat sehingga dapat menutupi kenyataan dan menekan pelaporan.

Mereka menjelaskannya lewat contoh yang dekat. Di banyak keluarga Asia Selatan, perempuan tua yang melaporkan kekerasan tidak hanya dianggap meminta tolong, tetapi juga bisa dipandang mempermalukan keluarga dan anak-anaknya di depan umum. “Dalam konteks ini, kehendak perempuan lanjut usia dinomorduakan demi menjaga kehormatan keluarga,” tulis mereka, sehingga perempuan mungkin memilih diam untuk melindungi kedudukan keluarganya di masyarakat.

Kerentanan itu, menurut naskah tersebut, menumpuk sepanjang hidup. Para penulis menyebut norma patriarki yang mengutamakan laki-laki sebagai ahli waris dan pencari nafkah, hukum waris dan sistem kesejahteraan sosial yang membuat perempuan bergantung secara ekonomi kepada anggota keluarga laki-laki, serta rendahnya kedudukan sosial para janda. Usia harapan hidup perempuan yang lebih panjang juga membuat mereka lebih mungkin mengalami disabilitas dan bergantung kepada pengasuh.

Satu-satunya pengecualian adalah kekerasan seksual, yang angkanya sedikit lebih tinggi pada laki-laki, yakni 0,55 persen berbanding 0,34 persen pada perempuan. Para penulis sendiri meminta angka itu tidak dibaca terlalu jauh, karena tiap angka hanya bersumber dari dua penelitian dan mereka menyebutnya masih bersifat pendahuluan. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan pada bentuk ini, kata mereka, baru bisa digambarkan setelah ada penelitian dengan sampel yang lebih besar.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Angka yang Diminta Dibaca dengan Hati-hati

Peringatan paling keras datang dari para penulisnya sendiri. Penelitian-penelitian yang mereka gabung sangat berbeda satu sama lain, sehingga angka 31,83 persen itu mereka minta ditafsirkan dengan sangat hati-hati. Rentang prediksinya membentang dari 6,06 persen sampai 77,16 persen, dan lebarnya rentang itu, tulis mereka, membatasi kemampuan menarik kesimpulan yang tegas untuk seluruh kawasan. Ketika penelitian tertentu dikeluarkan dari hitungan, angka gabungan hanya sedikit bergeser, sementara perbedaan antarpenelitian tetap sangat tinggi.

Ada pula tanda bahwa penelitian yang terbit condong ke angka tinggi. Ketika para penulis menyesuaikan hitungan untuk kemungkinan adanya penelitian yang tidak terbit, angka gabungan itu turun dari 31,83 persen menjadi 11,91 persen. Mereka menyebut hal itu menandakan angka tanpa penyesuaian tersebut menggelembung cukup besar, meski ketimpangan tadi bisa juga mencerminkan perbedaan nyata antarpenelitian.

Cara bertanya ikut menentukan hasil. Penelitian yang memakai banyak butir pertanyaan menghasilkan angka gabungan 34,25 persen, sedangkan yang memakai satu pertanyaan tunggal 22,75 persen, walau selisih itu tidak bermakna secara statistik. Para penulis mencatat bahwa alat ukur yang baku dan teruji secara budaya masih sedikit di Asia Selatan, sehingga lebarnya perbedaan bisa bersumber dari cara pertanyaan disusun.

Keterbatasan lain mereka tulis terang. Semua penelitian yang dihimpun memotret satu waktu saja, sehingga yang tampak adalah hubungan, bukan sebab dan akibat. Sebagian memakai sampel kecil dan sampel yang dipilih karena mudah dijangkau, yang menurut mereka dapat mendorong angka gabungan ke atas. Tidak ada satu pun penelitian yang memenuhi syarat dari Afghanistan, Bhutan, dan Maladewa, sehingga temuan ini belum tentu berlaku di ketiga negara itu.

Usulan Para Penulis

Dari angka yang hampir dua kali rata-rata dunia itu, para penulis menyimpulkan bahwa perlindungan informal oleh keluarga tidak cukup untuk mencegah kekerasan terhadap lansia. Mereka mengusulkan kerangka hukum resmi yang memidanakan kekerasan terhadap lansia, pendidikan bagi orang tua maupun kaum muda, serta program perawatan pengganti sementara bagi pengasuh keluarga, mengingat penelantaran termasuk bentuk yang paling umum.

Untuk penelitian berikutnya, mereka mengajukan tiga hal. Ketiganya adalah alat ukur yang sesuai dengan budaya setempat, penelitian baru di negara yang datanya sedikit atau belum ada, dan penelitian jangka panjang untuk mengenali faktor risiko.

Bagikan

Baca Juga

Satu dari Empat Tenaga Kesehatan Bangladesh Idap Penyakit Ganda
Thailand 18 Tahun Melatih Tenaga Kesehatan Hadapi Flu Pandemi
Mahasiswa Kesehatan di Turki Merasa Belum Siap Menghadapi Bencana
Perdagangan Karbon di Tiongkok Ikut Menekan Biaya Berobat Warga
Perempuan Herat Lebih Terhalang Izin Keluarga daripada Jarak
IMF: PDB per Kapita Bangladesh Diproyeksi Lampaui India pada 2026