Tidur Singkat atau Panjang, Anak Muda Jepang Lebih Jarang Sarapan

A A

Sarapan rumahan Jepang berupa nasi tinta cumi, sup miso, dan lobak rebus [Foto: サフィル (Safiru)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 258 orang, atau 14,0 persen, tidur kurang dari enam jam pada hari kerja.
  • Peserta yang sarapan empat sampai lima hari seminggu lebih mungkin tidur singkat dengan rasio odds 1,72.
  • Peserta yang jarang sarapan lebih mungkin tidur sembilan jam atau lebih dengan rasio odds 1,65.
  • Data diambil pada satu waktu saja sehingga tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan sebab-akibat.
Daftar Isi
  1. Hayashi Memilah Tiga Kelompok Tidur
  2. Hayashi Membaca Siapa yang Tidur Singkat dan Panjang
  3. Yang Ditemukan Hayashi pada Mereka yang Tidur Singkat
  4. Yang Ditemukan Hayashi pada Mereka yang Tidur Panjang
  5. Jet Lag Sosial dalam Catatan Hayashi
  6. Batas yang Diakui Hayashi dan Takemi

Fumi Hayashi membuka kembali jawaban ribuan anak muda Jepang tentang jam tidur dan meja makan mereka. Jawaban itu dikumpulkan lewat survei daring pada November 2019 oleh Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang. Dari sana Hayashi ingin tahu apakah lama tidur seseorang pada hari kerja berjalan seiring dengan cara ia memandang sarapan dan makan larut malam.

Hasilnya ia tulis bersama Yukari Takemi dalam artikel Association of cognitive aspects of eating and dietary behaviors with weekday sleep duration among young Japanese adults: a cross-sectional study. Tulisan itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026. Hayashi dan Takemi sama-sama bekerja di bidang Nutrition Ecology, Japan Nutrition University, di Sakado, Saitama. Hayashi merancang penelitian, mengerjakan analisisnya, dan menulis draf naskah, lalu memeriksa data serta hasilnya bersama Takemi.

Yang ditelaah Hayashi adalah 1.844 orang dewasa berusia 18 sampai 39 tahun dari seluruh Jepang, semuanya bukan pelajar atau mahasiswa. Ia tidak hanya melihat apa yang mereka makan. Hayashi juga menimbang apa yang mereka pikirkan tentang makan: seberapa bernilai sarapan di mata mereka, dan seberapa besar perhatian mereka pada kebiasaan makan sehari-hari.

Hayashi Memilah Tiga Kelompok Tidur

Langkah pertama Hayashi adalah membagi peserta menurut lama tidur pada hari kerja, yang dihitung dari jam tidur dan jam bangun yang mereka laporkan sendiri. Ada tiga kelompok: di bawah enam jam, enam sampai sembilan jam, dan sembilan jam atau lebih. Rentang enam sampai sembilan jam mengikuti anjuran lama tidur orang dewasa dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.

Sebagian besar peserta ternyata berada di rentang yang dianjurkan. Hayashi dan Takemi mencatat 1.360 orang, atau 73,7 persen, tidur enam sampai kurang dari sembilan jam. Sebanyak 258 orang, atau 14,0 persen, tidur kurang dari enam jam pada hari kerja. Di ujung lain ada 226 orang, atau 12,3 persen, yang tidur sembilan jam atau lebih.

Lama tidur hari kerja anak muda JepangLama tidur hari kerja anak muda JepangLama tidur hari kerja anak muda JepangPembagian tiga kelompok menurut jam tidur dan bangun1.844orangusia 18-39 tahun14,0%tidur singkatdi bawah 6 jam73,7%tidur cukup6 sampai 9 jam12,3%tidur panjang9 jam atau lebihJalan risetnyaSurvei daring nasionalNovember 2019Dewasa bukan pelajar
Sumber: Fumi Hayashi dan Yukari Takemi, Association of cognitive aspects of eating and dietary behaviors with weekday sleep duration among young Japanese adults: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka itu dibaca Hayashi dengan latar yang ia uraikan di awal naskah. Rencana kesehatan nasional Jepang, Health Japan 21 tahap ketiga, memasang sasaran menambah porsi warga yang tidurnya cukup, yakni enam sampai sembilan jam sehari. Walau begitu, tulis Hayashi dan Takemi, lama tidur di Jepang tetap termasuk yang paling pendek di dunia menurut basis data penggunaan waktu milik OECD.

Hayashi dan Takemi juga menyebut bahwa pola tidur tak teratur sudah teramati pada anak muda Jepang. Karena itu keduanya menilai perlu dicari faktor yang masih bisa diubah dan berkaitan dengan lama tidur kelompok usia ini. Kebiasaan makan adalah salah satu yang mereka periksa, bersama cara orang memandang makan itu sendiri.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Hayashi Membaca Siapa yang Tidur Singkat dan Panjang

Sebelum masuk ke urusan makan, Hayashi menengok dulu siapa saja penghuni tiap kelompok. Peserta yang tidur sembilan jam atau lebih rata-rata berusia lebih muda daripada dua kelompok lain. Porsi laki-laki lebih tinggi di kelompok tidur singkat, sedangkan perempuan lebih banyak di kelompok tidur panjang, begitu catatan Hayashi dan Takemi.

Status perkawinan pun ikut membedakan. Hayashi menemukan peserta tanpa pasangan lebih banyak di kelompok tidur di bawah enam jam, sementara yang berpasangan lebih banyak di kelompok tidur enam sampai sembilan jam. Setelah semua faktor diperhitungkan bersama, peserta tanpa pasangan tetap lebih mungkin tidur singkat, dengan rasio odds 1,76.

Pekerjaan memberi gambaran paling tegas dalam hitungan Hayashi. Karyawan perusahaan dan pegawai negeri lebih banyak ditemukan di kelompok tidur singkat. Dibandingkan dengan mereka, pekerja paruh waktu punya rasio odds 3,24 untuk tidur panjang, pengurus rumah tangga 2,72, serta wiraswasta dan pekerjaan lain 4,56.

Ada pula jejak pendidikan dan keuangan. Menurut Hayashi dan Takemi, peserta berpendidikan sekolah menengah atas atau lebih rendah lebih banyak di kelompok tidur panjang. Peserta yang menyebut keadaan ekonominya sangat sulit juga lebih sering berada di kelompok itu. Susunan tinggal dan kategori indeks massa tubuh tidak menunjukkan perbedaan bermakna antarkelompok.

Yang Ditemukan Hayashi pada Mereka yang Tidur Singkat

Lalu Hayashi sampai pada pertanyaan utamanya. Pada kelompok tidur di bawah enam jam, ia menemukan kaitan dengan satu sikap makan: perhatian untuk menghindari makan larut malam. Makin besar perhatian seseorang pada hal itu, makin kecil peluangnya masuk kelompok tidur singkat, dengan rasio odds 0,89.

Kebiasaan sarapan memperlihatkan arah yang serupa. Hayashi dan Takemi mencatat bahwa peserta yang sarapan empat sampai lima hari seminggu, bukan hampir setiap hari, lebih mungkin tidur singkat, dengan rasio odds 1,72. Sebaliknya, perhatian pada sarapan itu sendiri tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan tidur singkat.

Bagi Hayashi, hadirnya dua hal itu sekaligus punya arti. Rendahnya perhatian pada makan larut malam yang muncul bersama sarapan yang tidak setiap hari, tulisnya bersama Takemi, mengisyaratkan bahwa tidur singkat berkaitan baik dengan cara orang memandang makan maupun dengan perilaku makannya yang nyata.

Hayashi juga menawarkan satu kemungkinan penjelasan. Peserta yang tidur singkat cenderung bangun lebih siang pada akhir pekan, sehingga sarapan yang terlewat boleh jadi lebih sering terjadi pada hari libur. Tetapi ia sendiri yang memberi rem. “Namun, tafsir ini tetap bersifat spekulatif mengingat data yang tersedia,” tulis Hayashi dan Takemi dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Yang Ditemukan Hayashi pada Mereka yang Tidur Panjang

Kelompok tidur sembilan jam atau lebih memperlihatkan pola lain kepada Hayashi. Di sini yang menonjol adalah pandangan tentang manfaat sarapan. Makin tinggi skor manfaat sarapan yang dirasakan seseorang, makin kecil peluangnya masuk kelompok tidur panjang, dengan rasio odds 0,80. Skor itu adalah satu dari tiga sisi pandangan tentang sarapan yang dipilah Hayashi, di samping pendukung dari lingkungan dan sosial serta hambatan untuk sarapan.

Perilakunya sejalan dengan pandangan itu. Hayashi dan Takemi mendapati peserta yang jarang sarapan, dibandingkan dengan yang sarapan hampir setiap hari, lebih mungkin tidur panjang, dengan rasio odds 1,65. Menurut keduanya, kesesuaian ini mengisyaratkan bahwa rendahnya nilai sarapan di mata mereka tercermin dalam kebiasaan makan.

Dua kelompok, dua pola makanDua kelompok, dua pola makanDua kelompok, dua pola makanRasio odds dibanding kelompok tidur 6 sampai 9 jamTidur singkatTidur panjang1,250,68Jet lag sosial1,721,65Sarapan tak rutin0,890,80Sikap soal makanSarapan: 4-5 hari (singkat), jarang (panjang). Sikap: hindari makanlarut (singkat), manfaat sarapan (panjang).
Sumber: Fumi Hayashi dan Yukari Takemi, Association of cognitive aspects of eating and dietary behaviors with weekday sleep duration among young Japanese adults: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Mengapa demikian, Hayashi tidak memastikannya. Ia hanya menunjuk bahwa kelompok tidur panjang lebih banyak diisi pekerja paruh waktu, pengurus rumah tangga, dan wiraswasta. Keadaan kerja dan hidup semacam itu, tulis Hayashi dan Takemi, mungkin berkaitan dengan rutinitas pagi dan pola sarapan yang berbeda, walau mekanismenya tidak bisa ditentukan dari data ini.

Satu hal ditegaskan Hayashi: tidur lebih lama jangan buru-buru dibaca sebagai tanda hidup yang lebih sehat. “Dengan demikian, lama tidur yang lebih panjang tidak serta-merta mencerminkan gaya hidup yang lebih baik dan mungkin berkaitan dengan ciri sosial dan gaya hidup yang berbeda,” tulis Hayashi dan Takemi. Faktor-faktor itu, kata keduanya, tidak diukur langsung dalam penelitian ini.

Jet Lag Sosial dalam Catatan Hayashi

Hayashi memasukkan satu ukuran lagi, yaitu jet lag sosial. Dalam naskahnya, istilah itu berarti ketidakselarasan antara waktu biologis dan waktu sosial. Hayashi menghitungnya dari selisih titik tengah tidur pada hari kerja dan akhir pekan, sehingga makin jauh jam tidur seseorang bergeser saat libur, makin besar angkanya.

Dua kelompok tidur bergerak ke arah berlawanan. Hayashi dan Takemi menemukan jet lag sosial yang lebih besar berkaitan dengan tidur singkat, dengan rasio odds 1,25. Pada kelompok tidur panjang arahnya terbalik: jet lag sosial yang lebih kecil, dengan rasio odds 0,68. Peserta yang tidurnya lebih pendek pada hari kerja juga cenderung tidur lebih lama pada akhir pekan.

Untuk temuan pada kelompok tidur panjang, Hayashi meminta pembacanya berhati-hati. Mereka cenderung bangun lebih siang baik pada hari kerja maupun akhir pekan, sehingga titik tengah tidurnya hampir sama sepanjang minggu. Menurut Hayashi dan Takemi, kaitan itu boleh jadi lebih banyak mencerminkan sifat data jam tidur yang sama daripada hubungan yang benar-benar terpisah.

Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas

Batas yang Diakui Hayashi dan Takemi

Hayashi dan Takemi menuliskan sendiri batas-batas pekerjaan mereka. Yang pertama, data diambil pada satu waktu saja, sehingga tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan sebab-akibat. Peserta juga berasal dari panel survei daring, yang menurut keduanya rentan terhadap bias pemilihan dan bias jawaban. Hal itu, tulis mereka, membatasi sejauh mana hasilnya bisa digeneralisasi.

Seluruh jawaban dilaporkan sendiri oleh peserta. Hayashi mengingatkan bahwa lama tidur yang dihitung dari jam tidur dan jam bangun bisa saja menggambarkan waktu di tempat tidur, bukan waktu tidur yang sesungguhnya. Jadwal kerja, termasuk kerja bergilir, tidak tersedia dalam data yang ia pakai.

Masih ada dua catatan lain dari Hayashi dan Takemi. Pandangan tentang makan dan perilaku makan diukur pada saat yang sama, sehingga urutan waktunya tidak jelas. Pesertanya pun terbatas pada dewasa muda bukan pelajar di Jepang, yang membatasi sejauh mana temuan ini dapat diberlakukan pada kelompok lain.

Karena itu Hayashi dan Takemi menyerukan penelitian lanjutan yang mengikuti orang yang sama dari waktu ke waktu. Penelitian semacam itu, tulis keduanya, perlu memakai ukuran tidur yang objektif dan menilai pandangan serta perilaku makan secara berulang. Dengan cara itu urutan waktu dan mekanisme di balik kaitan tadi bisa diperjelas.

Dari jawaban yang ia buka kembali itu, Hayashi pulang dengan satu simpulan yang ia rumuskan hati-hati. “Temuan ini mengisyaratkan bahwa lama tidur berkaitan tidak hanya dengan sisi perilaku makan, tetapi juga dengan sisi kognitif makan pada dewasa muda,” tulis Hayashi dan Takemi di akhir naskah mereka.

Bagikan

Baca Juga

Remaja Gemuk Tetap Lebih Rentan Dirundung di Negara yang Aman
Hampir Satu dari Tiga Lansia di Asia Selatan Mengalami Kekerasan
Satu dari Empat Tenaga Kesehatan Bangladesh Idap Penyakit Ganda
Thailand 18 Tahun Melatih Tenaga Kesehatan Hadapi Flu Pandemi
Mahasiswa Kesehatan di Turki Merasa Belum Siap Menghadapi Bencana
Perdagangan Karbon di Tiongkok Ikut Menekan Biaya Berobat Warga