- Industri detoks digital bernilai hampir 1 miliar dolar AS.
- Hampir 60 persen responden Gen Z mengaku kecanduan media sosial.
- Sebagian Gen Z beralih ke ponsel berfitur minim atau membuat pemblokir sendiri.
- Sekitar 95 persen pengguna aplikasi Opal masih memakai versi gratis.
Cekricek.id — Generasi Z mulai melawan kecanduan media sosial dengan beralih ke aplikasi detoks digital, ponsel berfitur minim, hingga menghapus aplikasi sama sekali.
Melansir laporan The Guardian, Selasa (27/10/2026), industri detoks digital kini bernilai hampir 1 miliar dolar AS dan diperkirakan tumbuh menjadi hampir 8 miliar dolar AS pada 2035. Hampir 60 persen responden Gen Z dalam jajak pendapat April lalu mengaku kecanduan media sosial, sementara survei 2025 mencatat sepertiga generasi ini telah menghapus sebagian aplikasi tersebut.
Nelissa Moukoudi, mahasiswi berusia 19 tahun di Kanada, merasakan perubahan setelah aktif di Instagram dan TikTok. “Kehidupan sosial saya anjlok total dan rasanya hidup saya hanya media sosial dan sekolah,” katanya.
Moukoudi lalu memasang Opal, aplikasi yang mewajibkan pengguna menjawab soal matematika sebelum bisa membuka kembali aplikasi yang mengganggu.
Baca juga Yunani Larang Anak di Bawah 15 Tahun Pakai Media Sosial
Merasa Jadi Kelinci Percobaan
Pergeseran ini juga dipicu kemarahan terhadap platform teknologi yang dinilai mengeksploitasi Gen Z demi keuntungan. “Generasi ini pada dasarnya dioptimalkan untuk dopamin oleh sistem-sistem yang sangat cerdas. Namun, generasi ini juga mulai menyadari apa yang tidak mereka inginkan,” kata Kenneth Schlenker, mantan pemasar produk Google sekaligus salah satu pendiri Opal.
Kendall Schrohe, mitra pendiri konsultan teknologi Attention Studio, bahkan menukar ponsel pintarnya dengan Light Phone seharga 349 dolar AS yang hanya punya fitur minim. “Generasi kami adalah kelinci percobaan bagi perusahaan teknologi besar, dan penderitaan serta kecanduan kami pada aplikasi-aplikasi ini dijadikan sumber keuntungan,” ujarnya.
Shreya Nallamothu, mahasiswi ilmu komputer Duke University, membuat sendiri perangkat pemblokir aplikasi menggunakan stiker NFC seharga 8 dolar AS. “Setiap orang berhak memiliki hubungan yang baik dengan teknologi, dan itu tidak seharusnya mahal,” katanya.
Baca juga Instagram Uji Video 90 Menit, Siap Tantang Dominasi YouTube
Enggan Bayar untuk Berhenti Main Ponsel
Aplikasi berbasis acara tatap muka juga berupaya memanfaatkan tren ini. Pie, aplikasi yang menampilkan acara lokal, melonjak dari 120.000 pengguna pada Juli menjadi 300.000 pengguna pada Agustus. “Saya memandang media sosial sebagai konsumsi konten yang pasif, tetapi Pie berbeda,” kata salah satu pendirinya, Nadya Okamoto.
Namun, meyakinkan Gen Z untuk membayar tidak mudah. Langganan Opal dipatok 99,99 dolar AS per tahun, pemblokir fisik Brick dijual 59 dolar AS, dan aplikasi Shift mengenakan biaya sekali bayar 150 dolar AS. Sekitar 95 persen dari 10 juta pengguna Opal, yang 75 persennya Gen Z, masih memakai versi gratis.
“Saya tidak akan membayar aplikasi hanya untuk merebut kembali hidup saya,” kata Moukoudi.
Bagi Han Choi, 26 tahun, menghapus semua aplikasi media sosial sudah cukup. “Ekonomi doomscrolling bukanlah sesuatu yang perlu terus kita ikuti,” ujarnya.
Baca juga Startup AS Ingin Terangi Malam dengan 50.000 Cermin di Orbit















