Seblang Olehsari: Izin Sehari Ditolak, Tari Tujuh Hari Batal

A A

Penari Seblang Olehsari bermahkota omprog menari di bawah payung, Banyuwangi [Foto: Mia novita ratna siwi/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Warga Olehsari menolak izin satu hari pada 2020; Seblang wajib tujuh hari berturut-turut sesudah Idul Fitri
  • Omprog tujuh lapis pelepah pisang bermakna sehat dan bugar; panggung bundar bermakna guyub rukun
  • Tiga rangkaian kembang dermo dijual penari ke penonton sebagai penolak bala dan penyubur ladang
  • Bakungan hanya disebut nama; narasumber tak bernama; abstrak dan isi berbeda soal waktu pelaksanaan
Daftar Isi
  1. Wabah yang melahirkan kewajiban tahunan dan ancaman bila ditinggalkan
  2. Dari makam Buyut Ketut sampai nampan bambu yang jatuh dari tangan
  3. Kembang dermo diperebutkan penonton dan selendang yang memilih penari baru
  4. Modernitas yang ditakuti para penulis dan Bakungan yang hanya disebut namanya
  5. Beberapa keterangan yang saling bersilang di dalam naskah

Izin turun untuk satu hari saja. Tahun 2020, ketika Covid-19 tiba dan seluruh warga Indonesia menjalani lockdown, perangkat perizinan hanya mengizinkan Desa Olehsari menggelar Seblang selama sehari. Warga menolak. Seblang, menurut mereka, harus tujuh hari berturut-turut atau tidak sama sekali. Tarian itu pun tidak dipentaskan, meski selametan dan arak-arakan ider bumi keliling desa sambil membawa omprog tetap dijalankan.

Keputusan itu tercatat dalam paper Anastasya Gawal Putri, Fiky Binti Zakiyah, dan Yolanda Naomi Martdina dari Universitas Jember, berjudul Tradisi Seblang Olehsari; Makna Simbolik Ritual Bersih Desa Olehsari Sebagai Budaya Lokal Banyuwangi, terbit di JPBB: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya volume 2 nomor 4, tahun 2023. Ketiganya menelusuri makna simbol dalam ritual tolak bala di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, lalu bertanya apa yang terjadi bila modernitas dipaksakan masuk ke dalamnya.

Penolakan sehari itu bukan soal keras kepala. Bagi warga Olehsari, tujuh hari adalah bagian dari makna, bukan sekadar jadwal. Untuk memahami mengapa satu hari dianggap tidak cukup, ceritanya harus dimundurkan ke asal-usul tradisi ini, ke sebuah wabah yang dalam naskah disebut pageblug.

Wabah yang melahirkan kewajiban tahunan dan ancaman bila ditinggalkan

Pada zaman dulu, tulis para penulis, masyarakat Desa Olehsari terkena wabah pageblug yang membuat mereka gagal panen hingga jatuh sakit. Dari situlah Seblang lahir sebagai ritual bersih desa, tolak bala, dan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini kemudian menjadi adat ulih-ulihan, kewajiban yang diwariskan turun-temurun dan dipercaya mendatangkan malapetaka bila ditinggalkan.

Ancaman itu dirumuskan tegas dalam naskah. “Jika tari seblang tidak dilakukan setiap tahunnya, akan terjadi musibah yaitu warga yang kerasukan salah satu roh halus dari leluhur atau terdapat beberapa warga yang sakit massal,” tulis Anastasya Gawal Putri, Fiky Binti Zakiyah, dan Yolanda Naomi Martdina dalam naskahnya. Kerasukan itu sendiri, dalam pembacaan mereka, adalah bentuk interaksi: roh leluhur memberi tanda bahwa tarian harus segera digelar.

Pelaksanaannya terikat waktu. Seblang digelar sekali setahun sesudah Idul Fitri, dan awal pelaksanaannya hanya boleh jatuh pada hari Senin atau Jumat. Selama tujuh hari berturut-turut, dari pukul dua siang hingga menjelang magrib, penari menari diiringi alat musik tradisional dan gending-gending yang masing-masing punya makna. Tujuh hari inilah yang pada 2020 tidak bisa ditawar menjadi satu.

Penarinya pun tidak sembarang orang. Syaratnya gadis remaja yang belum menikah dan berdarah keturunan penari Seblang terdahulu. Sinden, pemain musik, dan pawang Seblang juga harus bergaris keturunan. Para penulis mencatat penari diturunkan setelah membawakannya tiga kali dalam tiga tahun terakhir, sehingga peran itu selalu berpindah ke gadis berikutnya dalam garis yang sama.

Jalan ritual Seblang OlehsariTahapan Seblang Olehsari: ziarah makam Buyut Ketut, kejiman, selametan dan ider bumi, tari tujuh hari, ditutup mandi nglungsur.Jalan ritual Seblang OlehsariTahapan yang dicatat di Desa Olehsari, Glagah, BanyuwangiZiarahmakamBuyut KetutKejimanwaktuditentukanSelametandan iderbumiTari7 haripenuhMandinglungsur, rohleluhur pulangAwal pelaksanaan hanya jatuh pada hari Senin atau Jumat sesudah IdulFitri.
Sumber: Anastasya Gawal Putri, Fiky Binti Zakiyah, dan Yolanda Naomi Martdina, Tradisi Seblang Olehsari; Makna Simbolik Ritual Bersih Desa Olehsari Sebagai Budaya Lokal Banyuwangi, JPBB: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 2(4), 2023. Grafik: Cekricek.id

Dari makam Buyut Ketut sampai nampan bambu yang jatuh dari tangan

Ritual dibuka dengan ziarah ke makam Buyut Ketut, yang diyakini sebagai cikal bakal Desa Olehsari. Setelah itu terjadi kejiman, kerasukan yang menimpa salah satu warga, dan dari kejiman inilah waktu pelaksanaan ditentukan. Menyusul selametan desa, arak-arakan ider bumi, pertunjukan tari, dan siraman penutup yang dikenal sebagai nglungsur. Setiap tahap, menurut para penulis, membawa makna yang menafsirkan kehidupan sosial warga.

Pertunjukan dimulai dengan pawang membuka upacara dan memasang omprog, mahkota dari pelepah daun pisang muda sebanyak tujuh lapis. Bagian atasnya diberi daun segar yang biasanya diambil dari kebun atau area pemakaman, dan di tengahnya dipasang kaca kecil. Pelepah pisang segar itu, tulis mereka, bermakna harapan agar warga tetap sehat, bugar, dan bersemangat menjalani hari. Panggungnya bundar, agar warga guyub rukun dan tidak berselisih.

Baca juga Baleganjur Nusa Agung Berpindah dari Bapak ke Pemuda

Lalu mata penari ditutup. Ibu-ibu yang berdiri di belakangnya memegang nampan anyaman bambu, sementara pawang mengasapi penari dengan kemenyan dan membaca mantra untuk mengundang roh leluhur Seblang masuk ke tubuhnya. Tandanya sederhana dan mendebarkan: nampan bambu itu jatuh. Sejak detik itu penari menari dengan mata tertutup, mengikuti pawang dan irama gending yang dimainkan.

Gending pertama adalah Seblang Lukintho, pemanggil roh leluhur dan arwah-arwah agar datang ke ritual. Setelahnya mengalir Cengkir Gadhing, Kembang Gadung, Kembang Menur, Padha Nonton Pundak Sempal, Liliro Kantun, dan Kembang Dermo. Di dalam naskah, gending-gending ini dicatat namanya saja, tanpa uraian lirik, sehingga pembaca hanya tahu urutan dan fungsi pembukanya.

Kembang dermo diperebutkan penonton dan selendang yang memilih penari baru

Saat gending Kembang Dermo dimainkan, penari membawa wadah berisi tiga rangkaian bunga bernama kembang dermo dan berjalan mendekati penonton untuk menjualnya. Penonton berebut. Bunga itu diyakini mengusir malapetaka dan penyakit, mendatangkan keselamatan atau keberuntungan. Ada yang menaruhnya di sudut rumah sebagai penolak bala, ada yang membawanya ke sawah atau ladang dengan kepercayaan tanaman akan subur dan panen melimpah.

Para penulis membaca buah-buahan hiasan panggung dengan logika yang sama. Buah itu dipercaya warga sebagai jimat atau pegangan; bila diletakkan di tempat menanam padi, padi akan tumbuh subur. Memakai kerangka interaksionisme simbolik George H. Mead, mereka menyebut buah, musik, dan panggung sebagai simbol signifikan yang muncul dari individu dan dijadikan alat komunikasi antara warga, penari, dan roh yang dipercaya melindungi desa.

Interaksi belum selesai. Pada prosesi Tundikan, penari melempar selendang yang sudah digulung ke arah penonton. Siapa pun yang terkena lemparan harus maju ke depan dan menari bersama Seblang. Batas antara penonton dan pelaku ritual, dalam adegan ini, ditentukan oleh sehelai kain yang melayang.

Ritual ditutup dengan nglungsur, mandi bersama penari dan para pendukungnya. Mereka duduk berjajar di bangku panjang dengan kepala ditutupi kain panjang, sementara pawang melantunkan mantra dan doa sambil menyiramkan air ke atas kepala. Kain panjang itu bermakna kebersamaan dan kerukunan warga. Tujuannya agar roh leluhur kembali ke alamnya dan warga bisa kembali bekerja seperti biasa.

Angka yang melekat pada SeblangOmprog tujuh lapis pelepah pisang, pentas tujuh hari berturut-turut, tiga rangkaian kembang dermo, dan izin satu hari pada 2020 yang ditolak warga.Angka yang melekat pada SeblangAtribut, durasi, dan satu keputusan warga pada masa Covid-197 lapispelepahomprog penari7 hariberturutsiang ke magrib3kembangdermo, dijual kepenonton1 hariizin 2020ditolak wargaJalan risetnyaWabah pageblugSeblang tiap tahunCovid: tari berhentiSelametan dan ider bumi membawa omprog tetap digelar pada 2020meski tari tidak dipentaskan.
Sumber: Anastasya Gawal Putri, Fiky Binti Zakiyah, dan Yolanda Naomi Martdina, Tradisi Seblang Olehsari; Makna Simbolik Ritual Bersih Desa Olehsari Sebagai Budaya Lokal Banyuwangi, JPBB: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 2(4), 2023. Grafik: Cekricek.id

Modernitas yang ditakuti para penulis dan Bakungan yang hanya disebut namanya

Di sinilah paper berbelok dari deskripsi ke kekhawatiran. Memakai konsep masyarakat risiko dari Beck, para penulis menyebut tiga risiko: ekologis, yang pada Seblang berkaitan dengan hasil tanaman petani; sosial, pada lingkungan sekitar; dan mental, berupa perubahan tingkah laku yang umumnya terjadi pada generasi muda. Karena penari Seblang Olehsari adalah kaum muda, di merekalah risiko itu dianggap paling dekat.

Kalimat para penulis pada bagian ini tidak ragu-ragu. “Karena industrialisasi dan modernisasi yang maju justru akan membuat suatu tradisi yang sudah dilestarikan sejak lama akan luntur jika lebih mengutamakan kemajuan,” tulis mereka. Contoh risiko paling dominan, menurut naskah, adalah marahnya leluhur yang mengakibatkan bencana, dan mereka menunjuk terhentinya tradisi selama kurang lebih dua tahun pada masa Covid-19 sebagai contohnya.

Baca juga Poster Ramadan Kampung Kuningan dan Setan yang Diborgol

Seblang, tulis para penulis, hidup di dua desa: Olehsari yang disebut Muda dan Bakungan yang disebut Tua. Mereka menyebut risiko kesenjangan antara keduanya dan kemungkinan hilangnya tradisi lama di Bakungan. Namun tidak ada satu pun data lapangan tentang Bakungan dalam naskah; desa itu hanya muncul sebagai nama dan label. Pembaca yang ingin tahu apa bedanya Seblang Tua dan Seblang Muda tidak akan menemukannya di sini.

Keterbatasan lain terletak pada sumber datanya. Wawancara dilakukan dengan sinden dan warga lokal yang terlibat langsung, tetapi tak seorang pun disebut namanya dan jumlah narasumber tidak dicantumkan. Seluruh temuan berasal dari satu desa, sehingga makna-makna simbol yang diuraikan berlaku untuk Olehsari dan tidak bisa dibawa ke Seblang Bakungan, apalagi ke ritual bersih desa di tempat lain.

Beberapa keterangan yang saling bersilang di dalam naskah

Ada beberapa hal yang bisa dicek pembaca sendiri. Abstrak menyebut Seblang digelar sekali setahun tepat pada hari raya, sedangkan tubuh naskah menulis tujuh hari sesudah Idul Fitri, dimulai hanya pada Senin atau Jumat, dengan waktu yang ditentukan lewat kejiman. Tiga keterangan waktu ini tidak dipertemukan, dan pembaca dibiarkan memilih sendiri mana yang berlaku.

Syarat penari belum menikah juga digoyang oleh naskah itu sendiri. Setelah menyebut syarat itu, para penulis menambahkan bahwa dua tahun lalu penari sudah menikah dan masih bisa membawakan Seblang, tanpa menjelaskan apakah aturan berubah atau hanya dilonggarkan. Begitu pula soal Covid-19: di satu bagian tari tidak digelar pada 2020 karena izin hanya sehari, di bagian lain tradisi disebut berhenti kurang lebih dua tahun.

Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia

Daftar pustakanya pun tidak rapi. Subagyo tahun 2003 dikutip di latar belakang tetapi tidak ada di daftar referensi, dan beberapa rujukan ditulis sebagai alamat berkas di komputer pribadi, bukan alamat yang bisa dibuka pembaca lain. Ejaan pageblug dan pagebluk dipakai bergantian. Semua ini tidak mengubah deskripsi ritualnya, tetapi mengurangi ketelitian yang bisa diharapkan dari sebuah naskah jurnal.

Yang tersisa dari paper ini adalah gambaran satu desa yang memilih menunda tarian daripada memendekkannya. Pada sore terakhir, bila tahun itu berjalan normal, penari dan para pendukungnya duduk berjajar di bangku panjang, kepala tertutup satu kain, air disiramkan sambil doa dilantunkan. Roh leluhur pulang ke alamnya. Warga kembali ke sawah, dengan kembang dermo terselip di sudut rumah dan di petak ladang mereka.

Bagikan

Baca Juga

Busana Petani Batobo Kuansing Dijahit Jadi Gaya Art of Beat
Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Tongkonan Toraja sebagai Kurikulum Hidup Tanpa Suara Warga
Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan
Talempong Gua Duo Tigo Lengayang Berlatih di Halaman Rumah
Iki Paleg Suku Dani: Potong Jari yang Kini Ditinggalkan