Roti, Hasrat, dan Novel yang Dibicarakan Pembaca

A A

Ilustrasi jalan kampung berbatu di sebuah desa Prancis dengan rumah-rumah dari batu. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Di sebuah kampung kecil di pedalaman Prancis, tidak lama setelah perang usai, orang sekampung keracunan beramai-ramai. Tuduhan jatuh pada roti. Sampai hari ini peristiwa itu tidak pernah dipastikan secara resmi, dan justru karena ganjil dan menggantung itulah ia terus diceritakan ulang. Sophie Mackintosh memungutnya sebagai bahan bakar novelnya — dan bukan keracunannya yang kemudian membuat buku itu ramai dibicarakan pembaca.

Yang ramai justru seorang perempuan yang tinggal di kampung tersebut, istri si tukang roti, yang sepanjang cerita tidak berhenti menginginkan sesuatu yang tidak ia dapat. Novel itu berjudul Cursed Bread, terbit pada 2023, dan masuk daftar panjang Women’s Prize for Fiction pada tahun yang sama. Di Indonesia, buku itu jarang disebut. Yang membacanya dengan serius justru seorang peneliti dari Yogyakarta, dan bukan untuk mengulas bagus atau tidaknya.

Daftar Isi
  1. Kampung yang Diracuni Roti dan Novel yang Lahir dari Sana
  2. Seorang Istri Tukang Roti yang Menolak Berhenti Menginginkan
  3. Pembaca yang Ikut Menentukan Arti Novel Itu

Kampung yang Diracuni Roti dan Novel yang Lahir dari Sana

Ilustrasi aneka roti buatan tangan tersusun di rak sebuah toko roti.
Ilustrasi aneka roti buatan tangan tersusun di rak sebuah toko roti. [Foto: Pexels]

Naufaludin Anam dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menulis Questioning Desire, Women, and Meaning in Popular Novel Cursed Bread (2023): Representation Analysis, yang terbit di jurnal Mozaik Humaniora volume 25 nomor 1 tahun 2025, halaman 61 sampai 74, dengan lisensi CC BY-SA. Pertanyaan yang ia ajukan sederhana dan agak keras kepala: kenapa novel semacam ini populer, dan apa yang sebenarnya sedang diwakilinya. Pertanyaan itu ia ajukan justru karena fiksi populer lama diperlakukan sebagai bacaan yang tidak perlu dipikirkan, lawan dari sastra tinggi yang dianggap tempat orang mencari nilai dan makna.

Untuk menjawabnya ia mengerjakan dua hal sekaligus. Pertama, membaca teks novelnya sendiri — narasi, tokoh, cara Mackintosh menyusun kalimat. Kedua, membaca apa yang ditulis pembaca tentang novel itu di internet. Ulasan yang ia kumpulkan bukan sembarang ulasan: dari Goodreads ia mengambil yang paling banyak muncul di rentang tiga sampai empat bintang, dan dari YouTube ia mengambil lima ulasan yang paling banyak ditonton. Kerangkanya teori representasi Stuart Hall, dan sikapnya ia nyatakan terbuka: pembaca bukan penerima pasif. Mengutip Glover dan McCracken, ia menegaskan kajian sastra populer menuntut analisis yang menyertakan produksi, konvensi genre, audiens, sekaligus perkembangan platform digital.

Baca juga Ketika Buaya dan Badak Menggantikan Wajah Penguasa

Latar novelnya adalah Pont-Saint-Esprit, sebuah kota kecil di Prancis pada 1950-an, tak lama setelah perang berakhir. Anam menekankan bahwa latar itu bukan hiasan. Ia menautkannya pada catatan sejarah yang dikutipnya dari Lechevalier: pada masa antarperang, perempuan Prancis mengisi pabrik sebagai buruh; setelah perang usai, peran itu ditarik kembali ke dalam rumah, dan partisipasi mereka di dunia kerja terhenti. Elodie, tokoh utama novel itu, adalah hasil dari penarikan tersebut. Ia istri tukang roti, tidak punya kedudukan, tidak punya pekerjaan sendiri, dan hari-harinya habis di dalam rumah sebuah kota kecil yang baru selesai berperang.

Di sekitarnya ada perempuan lain yang berdiri di kutub berlawanan: Violet, istri seorang duta besar yang baru pindah ke kampung itu bersama suaminya. Anam mencatat sesuatu yang mudah terlewat. Meski jarak kelas kedua perempuan itu jelas, Mackintosh menolak menjadikan novelnya cerita tentang penindasan dan relasi kuasa. Yang ditaruh di tengah bukan ketimpangan, melainkan keinginan — dan keinginan itu milik perempuan yang berada di posisi paling biasa. Pilihan tersebut, catat Anam, sejalan dengan apa yang paling ditonjolkan para pengulas: bukan siapa berkuasa atas siapa, melainkan siapa yang berani menginginkan.

Seorang Istri Tukang Roti yang Menolak Berhenti Menginginkan

Sepanjang buku, Elodie menginginkan diperhatikan suaminya dan tidak mendapatkannya. Lalu datang pasangan pendatang itu, dan keinginannya berpindah kepada keduanya sekaligus, laki-laki dan perempuan, dalam bentuk obsesi yang oleh para pengulas Goodreads disebut aneh, gelap, dan sulit dilepaskan. Anam menolak buru-buru menyeret temuannya ke ranah psikoanalisis. Menurut dia, psikoanalisis kerap disalahgunakan peneliti yang lupa pada persoalan bahasa dan gaya novelnya sendiri, juga pada soal keabsahan tafsir. Yang gampang terjadi, tulis dia, peneliti sibuk mendiagnosis tokoh dan lupa bahwa tokoh itu terbuat dari kalimat.

Ia memilih membaca hasrat itu sebagai persoalan representasi: sesuatu yang ditaruh pengarang di dalam teks untuk mewakili keadaan manusia, bukan diagnosis atas tokohnya. Dari sana ia menarik satu hal yang jarang dikatakan tentang fiksi populer. Bahwa Elodie hanya istri tukang roti, bukan tokoh luar biasa, justru bagian dari resepnya. Rumah tangga, kebosanan, dan urusan sehari-hari adalah bahan yang memang menjadi milik fiksi populer, dan pembaca Goodreads bahkan menyebut buku semacam ini novel keseharian. Adegan paling awal yang dikutip Anam pun urusan rumah tangga biasa yang tidak selesai: seorang istri mendekati suaminya yang berpura-pura tidur, dan tetap tidak mendapat jawaban.

Baca juga Tembang Wasita Rini dan Kemerdekaan Perempuan

Puncak bacaan Anam jatuh pada dua kalimat yang ia kutip langsung dari novelnya. Yang pertama ada di halaman 65, ketika Elodie menjelaskan kenapa ia terus menginginkan. Dalam terjemahan bebas, kalimat di halaman itu berbunyi: “Aku sudah ditatap dengan kasihan dan dengan takut, dan aku belajar bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar dilihat adalah lewat hasrat.” Kemudian menyusul permintaan yang lebih terbuka: “Tolong lihat aku. Aku berjanji bahwa aku ada di sini.” Kalimat itu diucapkan tokoh di dalam narasinya sendiri, bukan kepada siapa-siapa.

Yang kedua ada sepuluh halaman sesudahnya, dan nadanya berbalik. Di halaman 75 novel itu tertulis, masih dalam terjemahan bebas: “Barangkali hasratku akan selalu berbalik kepadaku, menggigit tanganku bahkan ketika sudah kuberi makan, dan berpilin menjadi bentuk-bentuk baru yang liar.” Dua kalimat itu berjarak singkat, tetapi arahnya berlawanan: yang satu membela keinginan sebagai satu-satunya bukti bahwa ia ada, yang lain mengakui keinginan itu bisa memakan pemiliknya. Anam tidak memilih salah satunya, dan justru pada titik itu ia berhenti menafsir.

Ambivalensi itulah, tulis Anam, yang membuat pembaca ribut. Sebagian menafsirkannya sebagai kisah kehancuran diri; sebagian lain membacanya sebagai suara yang selama ini ditahan. Ia mengaitkan pembacaan kedua dengan argumen Radway pada 1991: bahwa membaca fiksi populer tentang perempuan dewasa dengan kedudukan sosial tertentu, yang keinginannya tidak terpenuhi, dapat melahirkan subjektivitas perempuan yang utuh dan tidak lagi minta maaf atas dirinya sendiri. Bacaan semacam itu, tambahnya, berjalan seiring dengan pandangan Mitchell bahwa paradigma lama tentang gender perlu dibongkar dan dinegosiasikan ulang.

Anam juga menautkannya pada catatan Gilchrist tentang bagaimana di bawah norma yang dikuasai laki-laki, keinginan perempuan biasanya ditekan, dibatasi rasa takut, dan diatur agar tidak mengganggu. Dibaca dari situ, Elodie bukan tokoh yang menyimpang, melainkan tokoh yang melanggar aturan lama tentang siapa yang boleh menginginkan. Novel populer, kata Anam, ternyata tempat yang cukup lapang untuk pelanggaran semacam itu — lebih lapang, barangkali, daripada ruang akademik yang sibuk menimbang mana sastra tinggi dan mana bukan.

Pembaca yang Ikut Menentukan Arti Novel Itu

Bagian paling tidak lazim dari penelitian ini adalah keputusan menempatkan pembaca sebagai data. Tabel yang disusun Anam memuat apa yang dikatakan pengulas: gaya bercerita yang seperti mimpi demam, tema yang ganjil, akhir yang tidak menenangkan, latar sejarah keracunan massal di Prancis, dan perbandingan dengan dua novel Mackintosh sebelumnya, The Water Cure dan Blue Ticket. Beberapa pengulas mengeluh tokoh-tokoh lain kurang tergali karena semuanya berpusat pada Elodie. Christina Campbell, salah satu pengulas yang videonya dimasukkan ke dalam tabel, menempatkan novel itu di antara fiksi sejarah dan horor, dan menilai pembaca sengaja diminta mengisi sendiri lubang-lubang ceritanya. Pengulas lain menyoroti kebutuhan perempuan yang tidak terpenuhi sebagai inti buku.

Baca juga Musik Banyuwangi Berganti Genre Setelah Kekerasan 1965

Dari kumpulan itu Anam menarik satu pola. Tiga novel Mackintosh sama-sama menempatkan perempuan sebagai pusat cerita, dan pembaca menggeneralisasi pola tersebut menjadi sikap: pengarangnya dianggap punya keberpihakan, bukan sekadar selera. Hubungan antara pengarang dan pembaca itu ia sebut dialog. Bukan pengarang yang menyampaikan pesan lalu pembaca menerimanya, melainkan keduanya membentuk arti bersama-sama, di kolom ulasan dan di kanal video. Anam juga mencatat komposisi pengulasnya: sebagian besar perempuan, dan di antara lima video yang ia periksa hanya satu yang diulas laki-laki.

Simpulan Anam berdiri di atas tiga kaki. Popularitas novel itu, tulis dia, dibentuk oleh pilihan pengarang dalam menyusun cerita sekaligus oleh suara pembaca yang menanggapinya; representasi hasrat di dalam teks bersambung dengan pengalaman sehari-hari pembacanya; dan teks, representasi, serta pembaca membentuk hubungan tiga arah yang darinya makna disusun. Ia meminjam Hall untuk menutup: makna dibangun dan dikomunikasikan lewat sistem budaya, oleh pelaku-pelaku sosial yang menata pandangan mereka atas suatu gejala.

Batas kerjanya juga ia tandai sendiri, dan batas itu tidak kecil. Ulasan yang dipakainya bukan seluruh ulasan, melainkan yang paling sering muncul pada rentang tiga sampai empat bintang di satu situs dan lima video yang paling banyak ditonton di satu kanal video; ulasan-ulasan itu pun ia tempatkan sebagai medium pendukung data, bukan bukti utama. Ia sendiri mengingatkan bahwa keabsahan tafsir adalah masalah yang mudah dilupakan dalam kajian semacam ini. Satu novel, dengan kata lain, tidak sedang mewakili fiksi populer.

Yang tersisa adalah gambar kecil yang ganjil. Sebuah kampung Prancis yang pernah diracuni rotinya sendiri, seorang perempuan rekaan yang tinggal di dalamnya, dan sekumpulan pembaca di berbagai negara yang menulis panjang-panjang tentang keinginan perempuan itu — sebagian dengan kagum, sebagian dengan gelisah. Rotinya tidak pernah terbukti beracun. Yang jelas menular adalah keinginannya.

Bagikan

Baca Juga

Ketika Mengeluh Jadi Bahasa Utama Sebuah Novel
Delusi Cinta Kanuma dalam Novel Jepang Kankin
Rokok, Cermin, dan Pil dalam Animasi Opal
Ketika Madeline Berhenti Mencari Alice
Lirik Evakuasi Hindia dan Beban Jadi Figur Publik
Perlawanan Diam Perempuan di Sinema Minangkabau