Lirik Evakuasi Hindia dan Beban Jadi Figur Publik

A A

Ilustrasi siluet penyanyi di depan mikrofon di bawah sorot lampu panggung. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sebuah lagu pop menyimpan penolakan yang tersusun rapi.

Temuan itu datang dari kajian atas lirik “Evakuasi” karya Hindia, yang termuat dalam album Menari dengan Bayangan. Peneliti membacanya memakai semiotika Michael Riffaterre, sebuah cara baca yang biasanya dipakai untuk puisi. Hasilnya menunjukkan lagu itu bekerja sebagai teks puitik yang utuh, bukan curahan hati yang lepas.

Kajian tersebut ditulis Arsytasya Nur Rahmi dan Muhammad Ismail Nasution dari Universitas Negeri Padang. Judul lengkapnya Kajian Semiotika Riffaterre terhadap Lirik Lagu Evakuasi dalam Album Menari dengan Bayangan Karya Hindia. Keduanya bekerja di bidang bahasa dan sastra Indonesia pada kampus tersebut.

Artikelnya terbit pada 2026 di jurnal terbitan Universitas Negeri Padang dengan penanda DOI 10.24036/jpers, Vol. 5 No. 1, halaman 156 sampai 163. Datanya berupa kata, frasa, klausa, dan larik yang dinilai bermuatan konotatif. Bagian lirik yang literal dan tidak simbolik tidak dijadikan bahan analisis.

Teks liriknya diambil dari lirik resmi yang tersedia pada layanan musik digital. Metodenya kualitatif deskriptif, dengan teknik simak dan catat. Lirik dibaca berulang lebih dulu, baru dikelompokkan menurut perangkat Riffaterre. Pengelompokan itu dilakukan agar tiap larik bisa ditimbang pada tahap yang tepat.

Pilihan objeknya sendiri sudah mengandung sikap. Karya populer kerap dianggap terlalu sederhana untuk dibedah serius. Kedua peneliti berangkat dari anggapan sebaliknya, bahwa kepadatan diksi dan ambiguitas dalam lirik menuntut pembacaan berlapis. Lagu populer, dalam pandangan mereka, ikut merekam hubungan antara bahasa dan tekanan sosial.

Daftar Isi
  1. Bom Waktu
  2. Dua Penolakan
  3. Baca Dua Kali
  4. Inti Teks
  5. Hipogram Ditahan
  6. Batas Satu Lagu

Bom Waktu

Ilustrasi seorang perempuan muda duduk memeluk lutut di ruang temaram.
Ilustrasi seorang perempuan muda duduk memeluk lutut di ruang temaram. [Foto: Pexels]

Riffaterre menyebut makna puitik justru lahir ketika bahasa menyimpang dari pemakaian sehari-hari. Ia menamai gejala itu ketidaklangsungan ekspresi. Bentuknya ada tiga: penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Ketiganya dipakai peneliti sebagai saringan pertama atas seluruh larik lagu ini.

Bentuk pertama tampak pada frasa “bom waktu” yang muncul di dalam lirik. Frasa itu jelas tidak menunjuk benda peledak. Peneliti membacanya sebagai tekanan batin yang menumpuk dan sewaktu-waktu bisa meledak tanpa aba-aba. Yang dipinjam dari benda itu hanya satu hal, yaitu waktu yang terus berjalan.

Frasa “objek validasi” dan “objek imitasi” dinilai bekerja dengan cara serupa. Keduanya memindahkan makna dari kenyataan sehari-hari ke ranah simbolik. Peneliti menyebut pemindahan itu sebagai mekanisme utama teksnya. Tanpa pemindahan tersebut, lirik lagu ini akan berhenti sebagai keluhan biasa.

Penyimpangan arti muncul pada larik yang berbunyi “Seribu Tuhan, ini berat”. Maknanya bercabang dan tidak bisa dipatok satu. Larik itu bisa dibaca sebagai keluhan religius, bisa pula sebagai kelelahan yang sampai di puncaknya. Peneliti membiarkan dua kemungkinan itu berdiri berdampingan tanpa memilih salah satu.

Seruan “oh evakuasi” dinilai bekerja jauh di luar arti aslinya. Kata evakuasi biasa dipakai untuk keadaan bencana dan penyelamatan fisik. Di dalam lagu ini ia menjadi permintaan agar seseorang dikeluarkan dari beban hidupnya. Bencananya tidak berada di luar tubuh, melainkan di dalam kepala si penutur.

Penciptaan arti muncul lewat pengulangan. Larik “aku hanya butuh ketenangan” diulang beberapa kali sepanjang lagu. Menurut peneliti, pengulangan itu tidak sekadar hiasan bunyi, melainkan penanda gagasan yang mendominasi seluruh teks. Riffaterre menempatkan pola semacam itu sebagai penunjuk arah menuju pusat makna.

Dua Penolakan

Dua larik lain bekerja berpasangan dan saling menopang. Yang satu berbunyi “aku bukan objek validasi”. Yang lain berbunyi “aku bukan objek imitasi”, dan keduanya memakai pola kalimat yang sama. Pola itu selalu dimulai dengan penyangkalan, bukan dengan permintaan.

Baca juga Bak'ba, Pantun Bernyanyi dari Simpang Parit

Peneliti membedakan sasaran keduanya. Larik pertama menolak posisi sebagai alat pembenaran bagi orang lain. Larik kedua menolak posisi sebagai contoh yang dijiplak, semacam cetakan identitas untuk ditiru siapa saja. Keduanya sama-sama memakai kata objek, dan kata itulah yang ditolak.

Dari situ keduanya menarik pembacaan yang lebih luas. Sasaran kritiknya adalah budaya yang memperlakukan orang sebagai citra dan komoditas. Yang ditolak bukan perhatian orang, melainkan pengurangan diri menjadi barang pakai. Peneliti menyebutnya penolakan terhadap objektifikasi identitas di ruang publik.

Satu larik lagi menutup rangkaian itu. Bunyinya “ku menari dengan bayangan diri sendiri”, dan bunyi itu pula yang menjadi judul albumnya. Peneliti membacanya sebagai usaha kembali ke diri yang belum diatur ekspektasi publik. Yang tersisa untuk ditemani hanya bayangan sendiri, dan itu pun sudah dianggap cukup.

Baca Dua Kali

Riffaterre menuntut sebuah teks dibaca dua kali dengan cara berbeda. Pembacaan pertama disebut heuristik dan hanya menangkap arti harfiah. Pembacaan kedua disebut hermeneutik dan mencari arti yang tersimpan di baliknya. Tanpa tahap kedua, menurut peneliti, analisis akan berhenti pada pelabelan majas.

Secara heuristik, isi lagunya cukup terang. Aku-lirik ingin menjauh dari uang, rumah, ketenaran, panggilan, dan pertemuan. Ia menyatakan keinginan pergi supaya tidak lagi dicari orang lain. Semua yang ditolak itu justru hal yang biasanya dikejar orang banyak.

Pada lapisan itu, lagunya hanya bercerita tentang orang yang jenuh dan lelah bergaul. Peneliti tidak berhenti di sana. Lapisan berikutnya dibuka dengan menimbang satu kata yang menjadi judul lagu. Kata itu dipilih penulis lagunya dari kosakata kebencanaan, bukan dari kosakata perasaan.

Secara hermeneutik, kata evakuasi bergeser jauh dari arti kamusnya. Ia tidak lagi berarti menyelamatkan diri dari bahaya fisik. Ia menjadi lambang keluarnya seseorang dari tekanan yang melekat pada identitas publiknya. Ketenangan pun terbaca sebagai sesuatu yang jauh dan nyaris tinggal angan-angan.

Baca juga Migrasi Magis: Mantra Sijundai Jadi Teater Tari

Selisih dua bacaan itulah yang dikejar peneliti. Lapisan pertama menunjukkan orang yang lelah dan ingin sendirian. Lapisan kedua menunjukkan siapa yang membuatnya lelah, yaitu ruang publik yang menuntut ia selalu tersedia. Selisih itu yang membuat lagunya bergerak dari cerita pribadi ke persoalan bersama.

Inti Teks

Riffaterre menyebut inti makna sebuah teks sebagai matriks. Matriks tidak selalu tertulis di dalam teks itu sendiri. Ia disimpulkan dari tanda-tanda yang berulang dan saling menguatkan satu sama lain. Karena itu matriks selalu berupa rumusan peneliti, bukan kutipan dari teksnya.

Matriks lirik ini dirumuskan sebagai keinginan hidup tenang di tengah tekanan sosial. Seluruh larik dinilai mengarah ke rumusan itu. Termasuk larik yang sepintas hanya berisi keluhan tanpa sasaran yang jelas. Rumusan itu pula yang menjelaskan mengapa larik-larik penolakan terus bermunculan.

Matriks tersebut diwujudkan lewat apa yang disebut model. Modelnya adalah figur publik yang lelah oleh sorotan dan tuntutan interaksi. Figur itulah yang berbicara dari awal sampai akhir lagu. Peneliti tidak menyamakan figur tersebut dengan penyanyinya, dan pembedaan itu dijaga sepanjang analisis.

Dari model lahir varian, yakni turunan makna yang tersebar di berbagai larik. Peneliti mendaftar lima varian: keinginan akan ketenangan, penolakan terhadap ketenaran dan interaksi, kelelahan yang digambarkan sebagai bom waktu, penolakan terhadap validasi dan imitasi, serta keputusan pergi sebagai penyelamatan diri.

Kelima varian itu tidak berdiri sendiri-sendiri. Tidak ada satu simbol tunggal yang memikul seluruh makna lagunya. Yang memikulnya adalah hubungan antarlarik, dan hubungan itulah yang membuat teksnya terbaca utuh. Menurut peneliti, jaringan makna semacam itu yang membedakan teks puitik dari catatan harian.

Hipogram Ditahan

Tahap terakhir dalam kerangka Riffaterre adalah hipogram. Hipogram adalah teks atau pola pengalaman yang menjadi latar sebuah karya. Ia menyambungkan lirik dengan jaringan makna di luar dirinya sendiri. Riffaterre membedakan hipogram potensial dari hipogram aktual, dan pembedaan itu dipakai peneliti.

Peneliti hanya menetapkan hipogram potensial untuk lagu ini. Isinya pengalaman umum orang modern yang jenuh, lelah bergaul, dan ingin menarik diri sejenak. Pola semacam itu tidak berasal dari satu teks tertentu. Yang menjadi latarnya kebiasaan hidup bersama, terutama pada orang yang terus diawasi banyak mata.

Baca juga Naskah 1789 dan Cara Jawa Menerima Tamu

Hipogram aktualnya justru ditahan. Mengaitkan lagu ini dengan kisah figur publik lain yang menarik diri dari sorotan memang mungkin dilakukan. Namun peneliti menolak menjadikannya sumber penciptaan selama bukti antarteksnya belum kuat. Kisah itu boleh dipakai sebagai konteks pembacaan, tetapi tidak lebih dari itu.

Penahanan seperti itu tidak umum dalam kajian sejenis. Sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan karya dengan kisah nyata hanya karena temanya terasa mirip. Kedua peneliti menilai cara semacam itu terlalu longgar untuk dipertanggungjawabkan. Kekuatan lagunya, kata mereka, justru pada kemampuannya menjadi lambang bersama.

Di bagian akhir kajiannya, keduanya menulis bahwa ketenangan “bukan hanya kebutuhan individual, tetapi juga bentuk resistensi terhadap budaya sosial yang terus menuntut ketersediaan diri, keterlihatan, dan performativitas identitas”. Kalimat itu memindahkan lagunya dari ranah perasaan ke ranah sikap.

Batas Satu Lagu

Kajian ini menyebut batasnya sendiri dan menyebutnya di bagian pembahasan. Pertama, analisisnya bertumpu pada satu lagu saja. Temuannya belum bisa digeneralisasi ke seluruh karya Hindia, apalagi ke lirik populer Indonesia secara umum. Satu lagu tetap satu lagu, betapapun rapi susunan tandanya.

Kedua, pembacaan hipogram aktualnya masih berupa tafsir kontekstual. Bukti antarteks yang benar-benar kuat dan bisa diverifikasi belum tersedia. Ketiga, kajiannya bersifat tekstual belaka, sehingga cakupannya terbatas pada teks yang tertulis.

Akibat batas ketiga itu, tanggapan pendengar tidak pernah masuk hitungan. Konteks produksi musiknya juga tidak dibahas. Nada, aransemen, dan cara menyanyikan lagunya berada di luar wilayah analisis. Padahal ketiganya ikut menentukan bagaimana sebuah lagu terasa oleh pendengarnya.

Peneliti mengusulkan penelitian lanjutan untuk menutup celah tersebut. Objeknya bisa diperluas ke beberapa lagu atau dibandingkan antaralbum. Pendekatan semiotiknya juga bisa digabung dengan kajian resepsi pendengar. Dengan begitu pemaknaannya tidak hanya berhenti pada apa yang tertulis di layar.

Yang tersisa adalah larik yang diulang itu, dan kenyataan bahwa ia perlu diulang.

Bagikan

Baca Juga

Relief Candi Sukuh dan Jalan Ritual Peziarah
Fiksi Ilmiah Indonesia dan Kata yang Dipinjamnya
Ironi Dunia dalam Lirik Kasidah Nasida Ria
Id, Ego, Superego dalam Lirik Sang Dewi Lyodra
Tongkat, Wortel, dan Cara Kuasa Bekerja di Rumah Hasan
Lirik Ghea Indrawari di Bawah Kacamata Freud