Migrasi Magis: Mantra Sijundai Jadi Teater Tari

A A

Ilustrasi penari perempuan merebahkan tubuh di atas panggung gelap. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Mantra Jadi Bunyi
  2. Tubuh yang Kejang
  3. Rantai Lima Belas Meter
  4. Lorong Sebelum Panggung
  5. Bukan Rekaman Ritual
  6. Sisa Pertanyaan

Cekricek.id — Mantra Sijundai akhirnya punya wujud yang bisa dilihat mata. Wujudnya rantai besi sepanjang kurang lebih lima belas meter. Rantai itu dijatuhkan dari atas panggung, dan seorang penari perempuan langsung mengejarnya.

Ia tidak berusaha menghindar dari benda itu. Ia justru melilitkan rantai tersebut ke tubuhnya sendiri. Ia lalu bergerak dalam keadaan terjerat sampai lampu panggung padam. Adegan itu penutup sebuah karya teater tari berjudul Migrasi Magis.

Migrasi Magis dibuat di Institut Seni Indonesia Padangpanjang dan bukan sekadar pertunjukan. Karyanya hasil penelitian penciptaan yang prosesnya dicatat sejak observasi lapangan sampai evaluasi terakhir. Rantai lima belas meter itu adalah kesimpulan dari seluruh proses tersebut.

Prosesnya dilaporkan Ariefin Alham Jaya Putra, Fattahul Anugraha, Zulfikar Rizki Ananda, dan Suaida dari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang. Laporan berjudul Visualizing the Incantatory Power of the Sijundai Ritual: A Reinterpretation of Magical Phenomena through the Dance Work Migrasi Magis itu terbit di jurnal Ekspresi Seni Volume 27 Nomor 2 tahun 2025, pada halaman 300 sampai 315.

Sijundai adalah ritual magis yang hidup dalam kebudayaan Minangkabau. Seorang dukun membaca mantra dengan iringan saluang. Sasarannya diyakini terpengaruh secara psikologis sekaligus fisik. Ritual itu ditakuti dan dihormati pada saat yang bersamaan.

Papernya menyebut praktik semacam ini kian terpinggirkan oleh modernisasi dan rasionalisasi. Sijundai kerap diperlakukan sebagai cerita rakyat belaka. Padahal isinya menyangkut dendam, cinta yang ditolak, dan stigma yang menempel pada keluarga sasaran. Nilai sosialnya ikut hilang bersama status takhayul itu.

Struktur ritualnya sendiri sudah menyerupai pertunjukan. Ada persiapan media ritual, pembacaan mantra, dan iringan saluang. Sesudah itu energi dikirim dan respons muncul pada tubuh sasaran. Lima tahap itu yang dipadatkan menjadi tiga bagian dramatik di atas panggung.

Pengkarya turun ke Bukittinggi untuk menemui seorang dukun yang mempraktikkan ritual tersebut. Dari wawancara itu mereka mencatat struktur ritualnya, makna mantranya, dan gambaran respons tubuh orang yang terkena. Catatan lapangan itulah yang kemudian menjadi bahan baku koreografi.

Metodenya practice-based research, pendekatan yang menempatkan proses artistik sebagai sarana menghasilkan pengetahuan, mengacu pada Linda Candy dan Ernest Edmonds. Tahapannya ada lima: observasi, eksplorasi, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi. Model itu berasal dari Hawkins dan diadaptasi I Wayan Dibia.

Kerangka besarnya disebut reinterpretasi. Dharsono Sony Kartika merumuskannya sebagai proses kreatif yang mengubah nilai tradisional menjadi ekspresi artistik baru tanpa membuang esensi simboliknya. Bentuk yang dipilih teater tari, yang menyatukan narasi dramatik, gerak, musik, dan ekspresi emosional dalam satu kesatuan.

Tema ritual bukan hal baru di panggung Sumatera Barat. Syahril menggarap Sirompak pada 2015 dan Novalinda menggarap Mitologi Padusi pada 2018. Marzam meneliti basirompak di Taeh Baruah, Payakumbuh, pada 2017 dan membacanya sebagai manifestasi dendam masyarakat. Karya-karya sebelumnya menyorot dimensi sosial dan gender, bukan mantranya.

Baca juga Pandara, Pantun Ternate yang Nyaris Tak Terdengar

Migrasi Magis mengambil jalan yang berbeda. Mantra dijadikan sumber utama penciptaan, bukan ornamen budaya yang ditempel di permukaan karya. Di situlah pengkarya menempatkan kebaruan kerjanya. Mantra diperlakukan sebagai pusat energi simbolik yang menggerakkan seluruh pertunjukan.

Mantra Jadi Bunyi

Pemain talempong berbusana kuning memukul deretan gong kecil Minangkabau.
Pemain talempong berbusana kuning memukul deretan gong kecil Minangkabau. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Bagian pertama karya ini milik aktor yang memerankan dukun. Ia bermonolog dengan nada emosional. Latar ceritanya seorang laki-laki yang ditolak seorang perempuan. Laki-laki itu memilih membalas lewat jalur yang tidak kasatmata.

Monolog tersebut ditempatkan sebelum ritual dimulai, dan letaknya disengaja. Penonton lebih dulu tahu siapa yang terluka dan mengapa ia melakukannya. Baru sesudah itu mantra dibaca, sehingga yang ditonton adalah pembalasan, bukan kejadian tanpa sebab.

Bunyi di bagian ini tidak hanya saluang. Talempong dan sampelong mengulang pola pendek berkali-kali. Mantra dibaca dengan tempo naik-turun di atas pola itu. Pengulangan itulah yang membangun rasa tertekan sebelum ada satu pun gerak besar di panggung.

Ke dalam lapisan tradisional itu masuk musik elektronik. Komposer menambahkan perkusi logam dan tekstur bunyi yang gelap. Hasilnya lanskap suara hibrid yang tidak sepenuhnya tradisional dan tidak sepenuhnya modern. Posisi bunyi itu mirip dengan posisi Sijundai sendiri hari ini.

Penari laki-laki masuk dengan pola lantai menyebar. Geraknya menebar energi ke seluruh ruang panggung, seolah sesuatu dilepaskan ke banyak arah sekaligus. Mantra sudah dikirim, dan bagian pertama ditutup di titik itu.

Tubuh yang Kejang

Bagian kedua adalah pusat dramatik karya ini. Penari perempuan berperan sebagai orang yang terkena mantra. Geraknya berupa kejang, kontraksi otot, tarikan rambut, gelombang tubuh, repetisi tangan, dan perubahan level yang ekstrem.

Pengkarya menegaskan ini bukan tiruan kesurupan. Yang ditafsirkan adalah sisi emosional dan simbolik dari hilangnya kendali atas tubuh sendiri. Bedanya tipis. Mereka menjaga jarak itu sepanjang bagian kedua, dan itu keputusan sadar sejak tahap eksplorasi.

Metronome cepat dipakai sebagai denyut mantra. Efek audio berupa tawa, jeritan, dan bisikan menambah rasa tidak stabil di dalam ruang pertunjukan. Gerak stakato memotong tubuh penari menjadi patahan-patahan pendek. Tubuh itu tampak terbelah antara kesadaran dan pengaruh dari luar.

Tiga kualitas gerak mendominasi seluruh karya. Stakato mewakili gangguan pada tubuh, ayunan cair mewakili energi mantra yang mengalir, dan kontraksi-tensi mewakili pergolakan batin. Pengkarya menamai gabungan itu estetika magis-somatik. Istilahnya menunjuk estetika yang lahir dari gagasan tubuh yang dipengaruhi energi dari luar.

Baca juga Watak Tokoh dalam Naskah Hikayat Cekel Wanengpati

Pola lantainya juga terbagi tiga. Diagonal panjang dipakai untuk konflik, lingkaran untuk pusaran kekuatan, dan freeze-motion-freeze untuk jeda dramatik. Pengulangan mantra membuat gerak penari terkunci pada iramanya. Gejala itu mereka sebut kinesthetic entrainment.

Rantai Lima Belas Meter

Bagian ketiga hanya membawa satu properti. Rantai sepanjang kurang lebih lima belas meter dijatuhkan dari atas panggung sebagai penanda ikatan yang tidak putus. Ikatan itu, menurut papernya, bukan hanya psikologis tetapi juga spiritual dan sosial.

Penari perempuan mengejar rantai itu, lalu melilitkannya ke tubuh sendiri. Lilitan tersebut tidak dilepas sampai pertunjukan selesai. Orang yang terkena Sijundai, menurut pembacaan karya ini, tidak pernah benar-benar bebas meski pengaruh magisnya mereda.

Papernya membaca Sijundai dalam tiga lapis makna. Magis sebagai energi emosional yang lahir dari sakit hati. Magis sebagai perebutan kendali atas tubuh orang lain. Magis sebagai stigma sosial yang ditanggung keluarga korban.

Di bagian ini motif melodi piano masuk menggantikan denyut metronome. Bunyinya menandai penyesalan dan kehilangan. Musik dalam karya ini memang tidak diperlakukan sebagai pengiring, melainkan sebagai penggerak emosi dan energi tubuh penari. Adegan lalu ditutup monolog penyesalan dari aktor yang memerankan pengirim mantra.

Ia mengakui perbuatannya melukai perempuan itu sekaligus melukai dirinya sendiri. Ambiguitas moral itu membuat karyanya tidak berhenti pada pembagian sederhana antara pelaku dan korban. Pengirim mantra ikut terjerat oleh rantainya sendiri.

Lorong Sebelum Panggung

Pertunjukan tidak dimulai di dalam gedung. Penonton dikumpulkan di luar, lalu digiring melewati lorong gelap yang ditata menyerupai hutan atau ruang sakral. Perpindahan itu bagian dari karyanya, bukan urusan teknis penyelenggaraan.

Judulnya menjelaskan alasannya. Migrasi merujuk pada perpindahan energi dari pengirim ke korban, dan perpindahan penonton adalah versi harfiah dari gagasan itu. Titik fokus cahaya ikut berpindah, kualitas gerak berpindah dari stabil ke kacau, dan suara berpindah dari monolog menjadi mantra repetitif. Empat perpindahan itu yang membentuk identitas estetis karyanya.

Baca juga Kajian Bahasa Sandi di Forum Gelap Kota Malang

Respons penonton dicatat sebagai kesan, bukan sebagai data terukur. Mahasiswa, dosen, dan warga yang hadir menyebut bagian lorong sebagai pengalaman teatrikal paling kuat. Sebagian mengaku baru melihat Sijundai dari sudut estetika, bukan dari sudut mistik semata.

Bukan Rekaman Ritual

Di sinilah batas karyanya. Pengkarya memilih tidak mereplikasi ritual secara literal dan mengolahnya secara metaforis. Alasannya etis, sebab mereplikasi ritual berisiko melanggar kepercayaan masyarakat pemiliknya. Konsekuensi pilihan itu jelas.

Apa yang tampak di panggung tidak bisa dibaca sebagai keterangan tentang apa yang sungguh terjadi pada orang yang terkena Sijundai. Karya ini satu tafsir artistik, bukan bukti etnografis tentang ritualnya. Batas tersebut diakui sendiri oleh pengkaryanya.

Batas lain menempel pada bahannya. Dukun yang diwawancarai tidak disebut namanya di dalam laporan tersebut. Respons penonton dicatat tanpa pengukuran, dan dokumentasi fotonya bertanggal 2022, tiga tahun sebelum laporannya terbit.

Tim itu justru menjadikan batas teks sebagai alasan bekerja dengan tubuh. “Tubuh dapat menjadi medium epistemik yang efektif dalam mengakses dan menafsirkan pengetahuan budaya yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui teks,” tulis tim itu. Kalimat tersebut sekaligus pengakuan bahwa sebagian Sijundai memang tidak bisa dituliskan.

Sisa Pertanyaan

Papernya mengklaim tiga sumbangan. Pengembangan estetika teater tari berbasis ritual lokal, model kerja practice-based research bercorak Minangkabau, dan wacana tubuh sebagai ruang negosiasi antara rasionalitas dan kepercayaan tradisional. Ketiganya masih klaim internal yang belum diuji pihak lain.

Tidak ada catatan tentang apa yang terjadi bila Migrasi Magis dipentaskan di hadapan penonton yang mempercayai Sijundai secara harfiah. Tidak ada pula data tentang seberapa luas ritual itu masih dipraktikkan hari ini. Papernya hanya menyebut praktiknya makin terpinggirkan, lalu berhenti. Yang tersisa dari seluruh karya itu adalah rantai lima belas meter di lantai panggung.

Rantai itu dijatuhkan dari atas oleh orang lain, tetapi yang melilitkannya ke tubuh justru orang yang paling ingin lepas.

Bagikan

Baca Juga

Aneuk Jamee Aceh Selatan, Urusan Rumah Tangga Lewat Ninik Mamak
Ronggeang Pinang Sarumpun Menari sampai Menjelang Subuh
Histeria dalam Bailau, Nada yang Diam-diam Selalu Bergeser
Dendang Suayan Balenggek Diubah Jadi Fantasia Orkestra
Malapak, Saat Indang Solok Diubah Jumlah dan Bunyinya
Jam Gadang Naik ke Catwalk, Lorong Batanya Jadi Potongan Busana