- Ronggeang Grup Pinang Sarumpun tampil sejak pukul 21.00 hingga dini hari
- Ensambel terdiri dari biola, dua gandang kaciak, gandang gadang, giriang-giriang, dan botol
- Setiap pertunjukan dibuka kato pasambahan dengan iringan biola
- Peran biduan beralih dari laki-laki ke perempuan
Daftar Isi
Terpal atau karpet digelar di tanah lapang, sejajar dengan tempat penonton berada. Di belakangnya, para pemusik duduk di kursi yang disediakan tuan rumah. Sekitar pukul 21.00 WIB, biola mulai menghimbau, dan ronggeang Grup Pinang Sarumpun baru berhenti pukul dua dini hari, kadang menjelang azan Subuh.
Malam-malam seperti itu dicatat Nola Maisandi, Muhammad Zulfahmi, dan Sriyanto dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang dalam artikel Struktur Pertunjukan dan Fungsi Sosial Musik Ronggeang: Studi Etnografi Kelompok Pinang Sarumpun di Pasaman, Indonesia. Artikel itu terbit di Jurnal Musik Etnik Nusantara Volume 5 Nomor 1 tahun 2025. Grup yang mereka ikuti bermarkas di Jorong Mudik Simpang, Nagari Simpang Utara, Kecamatan Simpang Alahan Mati, Kabupaten Pasaman.
Ronggeang adalah sebutan khas untuk kesenian ronggeng di Kabupaten Pasaman. Nama itu membedakannya dari ronggeng di Jawa dan Melayu. Menurut naskah, Ronggeang Pasaman masih dipengaruhi Ronggeng Melayu di pesisir timur Sumatera Utara dan budaya Mandailing, sehingga teks nyanyiannya memakai bahasa Minangkabau dan Mandailing. Di Kabupaten Pasaman, hampir setiap kecamatan punya kelompok ronggeang sendiri.
Terpal di Tanah Lapang
Panggung ronggeang tidak punya pembatas dengan penonton. Alasnya hanya terpal atau karpet, sehingga penari sejajar dengan orang yang menonton. Dari posisi itulah penonton bisa langsung ikut menari dan menyanyi, sesuatu yang menurut naskah sering terjadi di tengah pertunjukan. Pemusik duduk menghadap penonton, di belakang para penari.
Perlengkapan suaranya sederhana. Gandang kaciak, gandang gadang, giriang-giriang, dan botol dimainkan tanpa pengeras suara sama sekali. Hanya biola yang memakai toa, sedangkan vokal memakai mikrofon dengan ampli. “Panggung pertunjukan ronggeang terkesan lebih santai tanpa pembatas dan sejajar dengan penonton,” tulis Nola Maisandi dan Muhammad Zulfahmi dalam naskahnya.
Grup ini diundang ke alek kawin, sunat rasul, turun mandi anak, dan alek nagari. Mereka juga tampil untuk hiburan pemuda pada hari kemerdekaan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Frekuensi tampilnya, menurut naskah, lebih tinggi dibanding grup ronggeang lain di Kabupaten Pasaman. Lagu yang dimainkan juga mengikuti permintaan penonton atau tuan rumah yang mengundang.
“Hal yang menarik dari pertunjukan musik ronggeang Grup Pinang Sarumpun adalah tujuan sajiannya sebagai bentuk rasa syukur masyarakat,” tulis ketiga penulis di bagian abstrak. Grup ini juga tampil dalam lomba dan pertunjukan kesenian tradisional di tingkat Kabupaten Pasaman maupun Provinsi Sumatera Barat. Naskah mencatat banyaknya prestasi yang diraih grup ini selama ini.
Biola, Gandang, dan Botol
Ensambelnya terdiri dari satu biola, dua gandang kaciak, satu gandang gadang, satu giriang-giriang, dan satu botol. Biola berdawai empat bernada G-D-A-E menjadi instrumen pokok. Ia membawa melodi, mengiringi tarian, dan mengiringi kato pasambahan di awal pertunjukan. Setiap alat punya peran sendiri dan dimainkan bersamaan.
Biola itu dimainkan dengan gaya tradisi, bukan gaya Barat. Bedanya terlihat dari cara memegang penggesek maupun cara menekan senar. Gandang gadang punya satu permukaan kulit berdiameter sekitar 23 sentimeter, sedangkan gandang kaciak punya dua permukaan, sekitar 18 dan 13 sentimeter. Kedua jenis gandang itu dimainkan dengan pola ritme yang sama.
Kedua gandang berperan sebagai dasar dan paningkah, pembawa tempo. Giriang-giriang, sebutan lokal untuk tamburin, digoyang atau dipukul telapak tangan. Bunyinya memberi warna dan mengisi ruang kosong di antara ketukan musik yang riang. Bunyinya yang khas juga ikut mengatur tempo.
Botolnya adalah botol bekas minuman seperti bir atau cola, dipukul dengan sendok makan untuk menjaga ketukan tetap. Kini botol itu makin jarang dipakai. Siwal, salah satu narasumber, menyebut dulu hampir selalu ada sampah botol minuman sejenis alkohol di tempat pesta, sedangkan sekarang jarang ditemukan, sehingga botol tidak lagi diharuskan.
Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi
Pasambahan Pembuka
Setiap malam Grup Pinang Sarumpun dibuka dengan kato pasambahan, dibawakan salah satu anggota grup dengan iringan himbauan biola. Teksnya berisi mukadimah, salam penghormatan, sapaan, dan permohonan izin kepada penonton. Menurut naskah, pembuka inilah yang membedakan grup ini dari grup lain di Nagari Simpang Utara.
Pasambahan itu menyapa angku-angku, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, hingga bundo kanduang. Para pemain lalu merendah dengan menyebut diri urang mudo matah, umua baru satahun janguang, akal kurang dan pengalaman belum ada. Mereka mengakui tentu banyak salah dan silap, sebab itu sifat manusia, lalu menutup dengan harapan dunsanak senang mendengarkan.
Selesai pasambahan, anggota lain mengambil tempat untuk menari. Biola menghimbau, gandang masuk sebagai dasar dan paningkah, lalu alat lain menyusul. Sesudah intro, penyanyi melantunkan syair berupa pantun, dan lagu pembuka yang dibawakan berjudul Lagu Selamat Datang. Penyanyi berpengalaman, menurut naskah, menguasai struktur himbauan biola, intro, dan penutup lagu.
Biduan dan Selendang
Pemusik berjumlah lima sampai enam orang dan boleh ikut menari. Penari minimal tiga orang, sekaligus bernyanyi dan membuat pantun spontan. Untuk Gadih Basanai dan Gurindam Duo Koto, jumlahnya harus tepat tiga karena koreografinya baku, sedangkan lagu lain biasanya ditarikan empat orang yang berhadapan membentuk segi empat untuk gerak basalisiah.
Dalam satu malam ada satu atau dua biduan, sebutan warga Nagari Simpang Utara untuk penyanyi perempuan. Makmun, seniman ronggeang berusia 65 tahun, menyebut peran biduan dulu dibawakan laki-laki. Seiring waktu peran itu beralih ke perempuan, salah satunya agar masyarakat tetap tertarik menonton.
Kostum anggota grup berupa baju batik atau kemeja bermotif seragam, dengan celana bebas. Biduan boleh berpakaian bebas, kecuali saat undangan formal seperti HUT Kabupaten Pasaman, ketika kebaya dikenakan. Selendang dipakai penari dan penyanyi sebagai properti gerak dan ciri khas tarian ronggeang. Selendang itu juga menambah nilai estetika tarian grup ini.
Gurindam Duo Koto, lagu Mandailing, dibawakan tiga penyanyi laki-laki yang juga menari, dengan irama lebih lambat. Herman Toni, ketua Grup Pinang Sarumpun yang berusia 45 tahun, menyebut syairnya menggambarkan kekecewaan hati seorang laki-laki yang dibohongi kekasihnya. Bait pertamanya dibuka baris Sajak samulo den pantokan, lalu bait kedua mengulangnya dengan kata katokan.
Lagu asli seperti Gadih Basanai dan Tanjung Barujan punya teks yang membentuk satu cerita. Lagu populer Minang seperti Ratok Pasaman dan Duo Talago Cinto, juga dangdut seperti Gadis Atau Janda dan Kereta Malam, dinyanyikan dengan syair yang diganti pantun spontan. Talago Cinto, misalnya, berisi pantun tentang rindu lama yang lepas setelah bersua.
Baca juga Saluang Pauah Mengiringi Kaba dari Isya sampai Subuh
Penonton yang Ikut Menari
Menurut Herman Toni, penonton ronggeang tidak dibatasi usia, ras, maupun suku. Jabatan pun tidak menjadi pembatas. Pada acara Titik Kulminasi Negeri Tanpa Bayangan di Bonjol, Camat Bonjol dan perangkatnya ikut menari dan bernyanyi bersama. Naskah menyebut interaksi penonton dan seniman ronggeang terjalin lebih secara emosional.
Naskah memetakan sepuluh fungsi musik menurut Alan P. Merriam pada grup ini, dari pengungkapan emosi sampai pengintegrasian masyarakat. Balas pantun jenaka membuat penonton tertawa. Pertunjukan juga disiarkan langsung lewat Facebook dan diunggah ke kanal YouTube bagi yang tidak bisa datang. Syair yang penuh kiasan dicatat sebagai fungsi perlambangan.
Junasri, narasumber lain, menyebut grup ini diundang ke acara pemerintahan seperti ulang tahun Kabupaten Pasaman dan Titik Kulminasi Equator Bonjol, serta undangan Dinas Kebudayaan. Pantun nasihat juga dilantunkan, salah satunya berpesan agar budaya sendiri tetap dicintai walau banyak budaya luar masuk. Grup ini juga memeriahkan perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.
Naskah menempatkan grup ini sebagai kesenian yang tetap diminati di tengah derasnya hiburan luar seperti orgen tunggal. Makin sering grup tampil di alek warga, makin besar peluang generasi muda tertarik meneruskannya. Namun temuan ini hanya bersumber dari satu kelompok di satu nagari, sehingga belum tentu menggambarkan ronggeang di tempat lain.
Baca juga Malapak, Saat Indang Solok Diubah Jumlah dan Bunyinya
Catatan Naskah
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa ulang pembaca. Abstraknya masih menyebut tulisan ini sebagai skripsi. Wawancara dengan Herman Toni tertulis 23 Juni 2024 di badan naskah, sementara daftar wawancara hanya mencantumkan 3 Mei 2024. Abstrak berbahasa Inggrisnya pun memuat salah ketik pada jumlah fungsi, tertulis 10 unction.
Siwal dan Junasri dikutip di badan naskah, tetapi tidak tercantum di daftar wawancara. Sebaliknya, Ocan dan Eka Sasmurita ada di daftar, tetapi keterangan mereka tidak muncul di pembahasan. Teks pasambahan yang dikutip juga menyebut Pasaman Barat, padahal nagari grup ini berada di Kabupaten Pasaman.
Pertunjukan yang dibuka pasambahan di atas terpal itu bisa berlangsung sampai menjelang azan Subuh. Sepanjang malam, pemusik tetap duduk di belakang penari, dan penonton tetap sejajar dengan mereka, cukup dekat untuk sewaktu-waktu ikut masuk menari. Di atas terpal itu, batas antara yang bermain dan yang menonton memang tidak pernah dipasang.















