Watak Tokoh dalam Naskah Hikayat Cekel Wanengpati

A A

Ilustrasi naskah tulisan tangan beraksara Arab yang terbuka. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Tokoh Sentral: Poros yang Menggerakkan Cerita
  2. Teknik Dramatik: Watak yang Ditunjukkan, Bukan Disebut
  3. Hikayat: Prosa Lama yang Terus Disalin
  4. Lelakon: Jalan Hidup yang Sudah Digariskan

Cekricek.id — Karakterisasi adalah nama teknis untuk satu pekerjaan yang sebenarnya kita lakukan setiap hari: meyakini watak seseorang tanpa pernah mendengar orang itu menyebutkan wataknya. Kita tidak menganggap seorang tetangga dermawan karena ia mengaku dermawan, melainkan karena kita melihat apa yang ia lakukan ketika merasa tidak ada yang memperhatikan. Bukti kita berupa peristiwa kecil yang tersimpan bertahun-tahun, bukan pengakuan. Sastra bekerja dengan cara yang mirip, hanya saja alat buktinya berupa kalimat, dan kalimat itu ditulis seseorang dengan maksud tertentu.

Perbandingan tadi meleset pada satu titik. Dalam hidup sehari-hari, kita menyimpulkan watak dari orang yang benar-benar ada dan bisa mengecewakan kita besok pagi. Dalam sebuah cerita, watak itu dibangun, dan bangunannya punya rancangan yang bisa dibongkar. Apris Wila Sari dan Nurizzati dari Universitas Negeri Padang mencoba membongkar rancangan tersebut pada sebuah naskah Melayu lama, lewat artikel Karakterisasi Tokoh Sentral dalam Naskah Hikayat Cekel Wanengpati BR 175a: Kajian Struktural yang terbit di jurnal Persona Volume 5 Nomor 2 tahun 2026.

Naskah yang mereka baca bernomor katalog BR 175a dan tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ia bagian dari kelompok cerita Panji, tradisi yang menyebar luas di Nusantara dan Asia Tenggara: kisah pengembaraan, penyamaran, perpisahan, dan pertemuan kembali, dengan latar kerajaan-kerajaan Jawa yang kemudian diadaptasi ke dalam tradisi sastra Melayu. Cerita Panji punya banyak salinan. Naskah BR 175a termasuk salinan yang jarang dijadikan bahan penelitian sastra, dan itulah sebabnya kedua peneliti memilihnya. Selama ini perhatian pada naskah semacam ini berhenti pada persoalan teks. Siapa penyalinnya, bagaimana aksaranya dibaca, apa arti kata-katanya dalam bahasa hari ini. Pekerjaan itu penting dan berat, dan hasilnya yang membuat naskah lama bisa sampai ke pembaca sekarang. Namun ada satu pertanyaan yang lebih jarang diajukan, justru pertanyaan pembaca biasa: apa yang membuat tokoh dalam cerita itu terasa punya isi? Pertanyaan itu yang diambil kedua peneliti dari Padang, dengan alat yang mereka sebut pendekatan struktural.

Tokoh Sentral: Poros yang Menggerakkan Cerita

Ilustrasi penari mengenakan topeng putih dan busana merah.
Ilustrasi penari mengenakan topeng putih dan busana merah. [Foto: Pexels]

Tokoh sentral, dalam istilah kajian sastra, bukan sekadar tokoh yang paling sering muncul. Ia tokoh yang kepadanya seluruh peristiwa bersandar, sehingga bila ia dicabut, ceritanya runtuh. Hasil identifikasi kedua peneliti menemukan dua tokoh semacam itu dalam BR 175a: Raden Inu Kertapati, yang dalam penyamarannya dikenal sebagai Cekel Waneng Pati, dan Raden Galuh Candra Kirana. Tokoh-tokoh lain ada dan berfungsi membantu jalannya cerita, tetapi kemunculan mereka tidak sekuat kemunculan keduanya.

Pembagian kerja keduanya berbeda. Raden Inu Kertapati dibangun terutama lewat tindakan dan dialog: pengembaraan, penyamaran, perkelahian, tugas yang diberikan raja. Raden Galuh Candra Kirana dibangun lewat narasi dan pengalaman batin: perpisahan, ujian bertubi-tubi, penantian yang panjang. Yang satu bergerak keluar, yang satu bertahan di tempat. Menurut Sari dan Nurizzati, dua pola itu tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling menyambung sehingga alur cerita tidak berhenti pada perpisahan dan bergerak menuju pertemuan kembali.

Baca juga Pandara, Pantun Ternate yang Nyaris Tak Terdengar

Di sinilah satu anggapan umum dikoreksi. Tokoh perempuan dalam hikayat kerap dianggap sekadar hadiah di ujung cerita, objek yang menunggu diselamatkan pahlawannya. Sari dan Nurizzati menyimpulkan sebaliknya untuk naskah ini. Raden Inu Kertapati, tulis mereka, tidak hanya digambarkan sebagai tokoh kepahlawanan, sedangkan Raden Galuh Candra Kirana tidak semata-mata diposisikan sebagai objek yang menunggu penyelamatan. Keduanya sama-sama menentukan arah penyelesaian konflik, dan konstruksi tokoh dalam hikayat Melayu klasik, menurut mereka, lebih rumit daripada anggapan umum tadi.

Teknik Dramatik: Watak yang Ditunjukkan, Bukan Disebut

Teknik dramatik adalah istilah untuk cara pengarang memperlihatkan watak lewat tindakan, dialog, pikiran, dan tanggapan tokoh lain, tanpa menyebut sifatnya sama sekali. Lawannya teknik ekspositori, ketika pengarang langsung memberi tahu pembaca siapa tokohnya dan bagaimana perangainya. Dalam sastra Melayu klasik keduanya lazim dipakai bergantian dalam satu cerita. Di naskah BR 175a, bagian-bagian yang paling menentukan hampir selalu memakai cara yang pertama, dan kutipan-kutipan yang dikumpulkan kedua peneliti memperlihatkan polanya dengan jelas.

Ambil satu adegan pertunangan. Di halaman 52 naskah itu, Sri Batara memberi tahu Raden Inu bahwa ibundanya sudah disuruh menyiapkan segala bingkisan untuk menetapkan Raden Galuh sebagai tunangannya. Naskah tidak mengatakan Raden Inu rendah hati. Yang tertulis pada halaman tersebut hanya bahwa, mendengar titah itu, Raden Inu “hanya menundukkan kepala seperti orang yang sedang malu”. Tidak ada kebanggaan yang diumumkan, tidak ada ucapan terima kasih yang panjang. Pembaca yang menyimpulkan sisanya.

Cara yang sama dipakai untuk kesetiaan. Pada halaman 89, ketika Raden Galuh mendengar perkataan Cekel Waneng Pati dan teringat kepada tunangannya, naskah itu menuliskan bahwa ia “tunduk diam terkenangkan oleh tunangannya baginda di Kuripan, Kakang Inu, seraya berlinang-linang air matanya”. Kata setia tidak muncul di sana. Yang ada hanya kepala yang tertunduk dan air mata yang jatuh, dan menurut kedua peneliti itu sudah cukup untuk membangun watak yang bertahan sepanjang cerita.

Baca juga Ketika Prompt Jadi Pelajaran di Kelas Bahasa

Ketabahan diperlihatkan dengan cara yang lebih pahit. Dalam penyamarannya sebagai Ken Sila Berangat, Raden Galuh hendak dinikahkan dengan orang lain oleh orang tua angkatnya, dan ia menangis mendengar kabar itu. Lalu, pada halaman 180 dan 181, naskah tersebut mencatat pikirannya sendiri: “Baiklah kuturutkan perkataan Permaisuri. Apatah dayaku tiada terbalas kasihnya memeliharakan aku.” Penerimaan itu bukan kepasrahan yang kosong. Ia perhitungan atas utang budi kepada orang yang selama ini memeliharanya.

Keberanian dan rasa tanggung jawab Raden Inu dibangun dengan pola yang persis sama. Pada halaman 81 ia digambarkan bertarung melawan raksasa Buta Wela Sambu dalam keadaan sudah tercengkeram dan berhasil mengalahkannya. Pada halaman 129, setelah menangkap seekor kijang bernama Wewalang Isung Emas, ia tidak menyimpan tangkapan itu untuk dirinya melainkan menyuruh dua orang membawanya untuk dipersembahkan kepada Sang Nata. Tidak satu pun dari kedua bagian itu menyebut kata berani ataupun bertanggung jawab.

Hikayat: Prosa Lama yang Terus Disalin

Hikayat adalah sebutan untuk prosa dalam sastra Melayu klasik, satu dari dua bentuk utamanya di samping puisi, sebab drama tidak dikenal dalam tradisi itu. Fungsinya bermacam-macam: menumbuhkan jiwa kepahlawanan, mendidik, menghibur, sekaligus mengabadikan peristiwa yang dialami raja atau dewa. Karena disalin berulang-ulang selama berabad-abad, satu hikayat kerap ditemukan dalam lebih dari satu naskah, dan tiap salinan membawa selisihnya sendiri, baik pada bahasanya maupun pada cara ceritanya disajikan. Selisih itu yang membuat sebuah salinan layak dibaca sendirian. Sebagian ahli memahami variasi antarnaskah bukan sebagai kesalahan penyalin, melainkan sebagai kreativitasnya dalam menyajikan kembali sebuah cerita. Sampai kini, penelitian atas Hikayat Cekel Wanengpati lebih banyak berhenti pada pekerjaan filologi: menginventarisasi naskah, menyunting teks, mengalihaksarakan, mengalihbahasakan. Satu versi lain, naskah ML 139, sudah dialihaksarakan dan dialihbahasakan dalam penelitian Safitri pada 2020. Pekerjaan itu membuat teksnya terbaca. Ia belum menanyakan bagaimana ceritanya dibangun.

Baca juga Kekerasan terhadap Anak di Aku Juga Ingin Dianggap

Pendekatan struktural sendiri berarti membaca sebuah karya sebagai bangunan yang utuh. Unsur-unsurnya tidak dinilai satu per satu, melainkan dari cara mereka saling mengikat. Tokoh tidak dipisahkan dari alur, alur tidak dipisahkan dari tema. Karena itu, menyebut Raden Inu pemberani baru berarti sesuatu bila keberanian tersebut terbukti menggerakkan peristiwa berikutnya. Dalam bacaan kedua peneliti, keberanian itu memang menjadi awal terurainya konflik yang selama ini menghalangi pertemuannya dengan Raden Galuh Candra Kirana.

Lelakon: Jalan Hidup yang Sudah Digariskan

Satu kata muncul berulang dalam naskah ini: lelakon. Artinya kira-kira jalan hidup yang sudah digariskan oleh kekuatan yang lebih tinggi. Dalam percakapan sehari-hari kita menerjemahkannya sebagai nasib, dan di situ terjemahannya meleset sedikit. Nasib menyiratkan penyerahan dan berhentinya usaha. Lelakon dalam naskah ini justru dijalani dengan kerja: kedua tokoh terus bergerak, terus bertahan, terus menyamar dan menempuh perjalanan, dan pertemuan kembali mereka datang sesudah semua itu, bukan sebagai penggantinya.

Dari sana kedua peneliti menarik hubungan antara watak dan tema. Keberanian serta rasa tanggung jawab Raden Inu bertemu dengan kesetiaan dan ketabahan Raden Galuh, dan pertemuan itu melahirkan tema perjuangan, cinta, kesetiaan, serta pengorbanan. Karakterisasi, dalam bacaan ini, bukan hiasan yang ditempelkan pada cerita untuk membuat tokohnya menarik. Ia salah satu tiang yang menyangga bangunan cerita, dan mencabutnya berarti membuat rangkaian peristiwa dalam naskah kehilangan sebabnya.

Batas pekerjaan itu diakui sendiri di bagian akhir artikelnya. Sari dan Nurizzati hanya menggarap karakterisasi dua tokoh sentral, sehingga latar, alur, dan sudut pandang belum ditelaah secara mendalam. Mereka juga memakai satu versi naskah saja, yaitu BR 175a, sehingga kemungkinan adanya perbedaan penggambaran watak pada salinan lain belum terlihat. Apa yang berlaku pada satu naskah, dengan demikian, belum tentu berlaku pada seluruh tradisi cerita Panji di Nusantara.

Istilah-istilah tadi pada akhirnya hanya alat. Yang tersisa dari BR 175a adalah seorang lelaki yang menundukkan kepala ketika namanya disebut dalam sebuah rencana pertunangan, dan seorang perempuan yang menahan tangis lalu mengatakan baiklah. Penyalinnya tidak pernah menyebut mereka rendah hati atau tabah. Ratusan tahun kemudian, dua pembaca di Padang menemukan keduanya justru pada apa yang tidak dituliskan.

Bagikan

Baca Juga

Naskah Ulu Serawai dan Nilai Islam dalam Ritual Kayik Beterang
Masyarakat Adat HukaEa dan Naskah yang Melengkapi Unsur Kelima
Naskah Bharatayuddha yang Diterjemahkan ke Jawa Baru
Jejak Raja Airlangga dalam Kakawin Arjunawiwaha
Kidung Subrata, Naskah Merapi-Merbabu dengan 22 Salinan
Dewi Kilisuci Hamil dalam Naskah Panji Jayakusuma