Cekricek.id — Pada sehelai lontar bernomor MP 165 yang kini disimpan Bibliotheque nationale de France, ada satu bait yang tidak ditemukan di salinan mana pun dari Bali. Bait kedelapan Pupuh I, berisi penciptaan bidadari. Sisipan sekecil itu menjadi penanda garis keturunan naskah: ia turun dari tradisi Jawa, dari skriptorium Merapi-Merbabu, bukan dari jalur Bali yang selama ini paling sering dipakai orang untuk membaca Kakawin Arjunawiwaha.
Galang Adhi Pradipta memilih lontar itu sebagai pijakan. Ia menulis Alegori Politik “Kakawin Arjunawiwaha”: Penokohan Arjuna sebagai Representasi Raja Airlangga, terbit di jurnal Purbawidya Vol. 15 No. 1 tahun 2026, dari Departemen Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Artikel itu bermula sebagai tugas akhir mata kuliah Teori Sastra dan Kajian Budaya. Yang ia kerjakan sederhana bunyinya: membaca kakawin gubahan Mpu Kanwa dari rentang 1028–1035 Masehi itu sebagai dokumen politik, bukan sebagai puisi pengantin.
Dugaannya sendiri sudah tua. Berg menafsirkan kakawin ini sebagai simbol pernikahan politik Airlangga pada 1938, dan Zoetmulder menyetujuinya. Robson pernah mengingatkan kemiripan itu bisa saja kebetulan. Lohuizen-de Leeuw membantah dengan alasan bahwa menyamakan tokoh sejarah dengan tokoh mitologis adalah kebiasaan sastra kavya yang diserap Jawa Kuno. Yang belum ada selama hampir sembilan puluh tahun adalah pembuktian pada tingkat struktur ceritanya.
Galang memakai dua alat untuk itu. Skema aktan A.J. Greimas dipakai memetakan siapa mengirim, siapa menolong, dan siapa menghalangi dalam tiap babak. Lalu teori dhwani dari puitika India, yang menurut G. Ayyaneth — dikutip Galang — adalah jiwa puisi kavya, yakni saat makna yang tidak diucapkan bergema lebih kuat daripada makna harfiahnya. Hasil pemetaan itu ia sandingkan dengan tiga prasasti masa Airlangga: Pucangan, Kamalagyan, dan Turun Hyang.
Gunung Indrakila

Cerita kakawin dibuka di lereng Gunung Indrakila. Arjuna bertapa di sana, dan Dewa Indra tidak percaya niatnya bersih. Tujuh bidadari dikirim untuk menggoyahkan pertapaan itu, dan Mpu Kanwa menulis adegan rayuan tersebut dengan sangat terbuka. Arjuna bergeming. Dalam pemetaan Greimas, susunannya rapi: Arjuna adalah subjek, objek yang dikejarnya kekuatan spiritual yang mewujud sebagai senjata Pasupati, pengirimnya para dewa, penerima manfaatnya tiga dunia yang sedang terancam. Antisubjeknya bukan musuh di medan perang, melainkan Indra sendiri, yang menggugat kemurnian niat pertapa itu.
Baca juga Ritual Batu Mbah-Mbeh yang Bertahan di Watugaluh
Indra lalu turun sendiri, menyamar sebagai resi tua, dan bertanya untuk apa semua laku prihatin ini. Jawaban Arjuna ada di baris keempat Pupuh VI. Terjemahan yang dipakai Galang berbunyi, “Hamba ini terikat oleh bakti dan kasih sayang. Hamba memiliki seorang kakak, Sri Dharmaputra yang masyhur namanya. Demi beliaulah hamba bertapa.” Bukan takhta yang disebut lebih dulu, bukan pula kesaktian. Yang disebut adalah bakti kepada saudara tua.
Ujian belum selesai di situ. Arjuna masih harus berselisih dengan seorang pemburu yang ternyata Siwa menyamar, sebelum dewa itu menampakkan diri dan menyerahkan Pasupati. “Anakku, telah nyata bahwa segala yang kauidamkan akan kaucapai semuanya,” demikian terjemahan baris pertama Pupuh XII yang dikutip Galang. Anugerah itu menutup babak pertama. Pertapa yang lulus ujian berubah menjadi orang yang bersenjata.
Di sinilah lontar bertemu batu. Prasasti Pucangan sisi Jawa Kuno, baris kesembilan dan kesepuluh, mencatat seorang abdi bernama Narottama yang luar biasa teguh baktinya dan menanti di lereng gunung berhutan bersama rajanya. Kata yang dipakai prasasti adalah drdhabhakti; kata yang dipakai kakawin adalah bhakti. Pertapaan Arjuna, tulis Galang, menjadi cara membenarkan masa vakum kekuasaan Airlangga sebagai laku prihatin yang mendatangkan mandat, bukan sebagai pelarian pengecut.
Masa itu nyata dan berdarah. Ibu kota Wwatan hancur diserang Raja Wurawari pada 1006 Masehi, pewaris sah takhta tewas, dan Airlangga — menantu raja, bukan anak lelakinya — menyingkir ke hutan pegunungan. Susanti, yang dikutip Galang, menyebut dua tujuan mendesak di balik penggubahan kakawin ini: menambal genealogi yang rapuh, sekaligus menambah kesaktian raja menjelang perang pemulihan.
Batu di Kalkuta
Prasasti Pucangan kini berada jauh dari tempat asalnya. Batu itu lebih dikenal dengan nama Calcutta Stone, tersimpan di India, dan pada sisi Jawa Kuno baris kelima ia mencatat serangan Raja Wurawari yang keluar dari Lwaram sampai seluruh Pulau Jawa, dalam bahasa prasasti itu, berwujud lautan darah. Sisi Sanskerta memuat sebutan lain bagi Airlangga: sang penakluk segala arah dari timur. Sebutan itu punya kembaran di dalam kakawin. Arjuna pada Pupuh VI dilukiskan berhasrat digjayawijaya, menaklukkan segala penjuru. Kesejajaran semacam ini yang dikejar Galang sepanjang artikelnya — bukan kemiripan suasana, melainkan kemiripan kata.
Baca juga Berkas 2.197 Pengawas TPS Dibaca dengan Tiga Metode
Babak kedua Arjuna adalah perang. Indra menyatakan Niwatakawaca tidak bisa dibunuh asura, resi, dewa, maupun raksasa, dan kematiannya hanya ada di tangan manusia. Galang membaca kalimat itu sebagai sindiran halus terhadap kegagalan Dharmawangsa Teguh, sekaligus penunjukan Airlangga sebagai manusia yang sanggup menuntaskan krisis yang tidak selesai di tangan pendahulunya. Cara Arjuna menang juga bukan cara ksatria yang lurus. Dewi Supraba dikirim menemui Niwatakawaca, dan raksasa yang lengah itu membocorkan sendiri letak kesaktiannya. “Adapun kesaktianku dan ini adalah rahasia pamungkasnya terletak di ujung lidah,” begitu terjemahan baris kedelapan Pupuh XIX. Arjuna menunggu sampai musuhnya tertawa meremehkan, lalu memanah mulut yang terbuka itu.
Prasasti Pucangan memakai istilah teknis untuk hal yang sama. Bait kedua puluh sembilan sisi Sanskerta menyebut Raja Wijaya dari Wengker ditangkap pasukannya sendiri lewat siasat ala Wisnugupta, nama lain Kautilya, penyusun risalah politik Arthasastra. Spionase Arjuna dan Supraba, tulis Galang, adalah alegori bagi kecerdasan militer dan diplomasi Airlangga menghadapi musuh yang secara kekuatan lebih besar.
Bendungan Waringin Sapta
Babak ketiga justru yang paling ganjil. Arjuna dinobatkan menjadi raja di Indraloka selama tujuh malam surga, setara tujuh bulan waktu bumi, dan menikahi Suprabha. Di puncak kenikmatan itu ia gelisah. Terjemahan Pupuh XXXIV yang dikutip Galang menyebut hati Arjuna terdesak oleh kepiluan karena teringat orang tua dan kakaknya yang menunggu di hutan. Arjuna tidak memperpanjang masa jabatannya. Tepat setelah tujuh bulan genap, ia memohon diri, naik kereta Matali, dan kembali ke pertapaan Wadari. Bagi Galang, penolakan terhadap kenyamanan takhta inilah yang paling berguna secara politik. Ia memberi validasi moral kepada raja yang sedang membangun citra sebagai pemimpin yang tidak terkorup oleh kekuasaannya sendiri.
Ada lapis lain yang dibaca Galang pada pernikahan itu. Suprabha, pada Pupuh I, disebut dengan frasa yang mengidentifikasikannya sebagai penjelmaan Laksmi. Merujuk Vettam Mani, Laksmi memiliki aspek Rajyalaksmi, personifikasi kemakmuran dan kekuasaan raja. Penyatuan di akhir cerita, dengan pembacaan itu, menjadi lambang direbutnya kembali kemakmuran yang hilang saat pralaya, bukan sekadar hadiah bagi pemenang perang.
Baca juga Janlup dan Gercep di Kolom Komentar TikTok
Simbol itu diperluas lagi di luar teks kakawin. Yudhistira dan Suparta, dalam telaah atas Kakawin Lambang Pralambang, mencatat penggambaran arca Airlangga yang dikelilingi delapan dewi dan menilai susunan tersebut tidak lumrah dalam ikonografi arca pendarmaan. Galang menempatkannya dalam kerangka Astalaksmi, delapan aspek kemakmuran yang mencakup keberanian, kemenangan, dan pemulihan kemakmuran yang hilang. Anomali ikonografis itu, dengan pembacaan tersebut, berubah menjadi pernyataan politik.
Padanan sejarahnya bukan lagi soal perang. Prasasti Kamalagyan bertarikh 1037 Masehi mencatat pembangunan bendungan Waringin Sapta untuk menahan banjir dan menghidupkan kembali sumber penghidupan rakyat; teks itu menyebut mewujudkan kesejahteraan dunia sebagai sifat alami seorang raja diraja. Prasasti Turun Hyang menyebut tujuan pemerintahan Airlangga dengan satu frasa, apageh ri jagaddhita, teguh berpegang pada kesejahteraan dunia.
Legitimasi itu ternyata tidak tunggal. Prasasti Pucangan juga menyejajarkan Airlangga dengan Rama putra Dasarata, sementara Jordaan menekankan identifikasinya sebagai titisan Wisnu lewat arca Belahan. Sebelumnya, menurut telaah Pradipta, Suparta, dan Simanjuntak atas naskah Sabhaparwa tradisi Merapi-Merbabu, Dharmawangsa Teguh sudah lebih dulu memakai cara serupa dengan menempatkan dirinya sebagai Yudhistira. Memilih Arjuna, dengan begitu, berarti memilih kursi adik.
Galang tidak mengklaim lebih dari yang bisa ia tunjukkan. Ia mengakui pembuktiannya bersandar pada satu suntingan teks dan tiga prasasti, lalu menyarankan kajian lanjutan memperluas pembandingan ke korpus prasasti dan artefak arkeologis lain yang sezaman, serta menelusuri bagaimana masyarakat Jawa Kuno menerima simbol-simbol itu. Kesejajaran kata, betapapun rapatnya, belum membuktikan niat Mpu Kanwa. Ia baru memperlihatkan pola.
Pola itulah yang tersimpan di daun lontar bernomor MP 165, dan di salinan tertua skriptorium Merapi-Merbabu, Lontar 31 L 220 bertarikh 1669 Masehi. Enam ratus tahun setelah Mpu Kanwa, orang masih menyalin cerita tentang seorang ksatria yang menolak takhta. Yang mereka salin, kalau bacaan Galang benar, adalah cara sebuah kekalahan diubah menjadi cerita kebangkitan.















