Ketika Sawah Andir Diambil untuk Landasan Terbang

A A

Pesawat komersial terparkir di landasan Bandara Husein Sastranegara, Bandung. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — Ada satu kata Belanda yang, kalau jatuh ke atas sebuah keluarga, berarti tanahnya diambil negara dan tidak ada pilihan untuk menolak: onteigening. Terjemahan yang paling dekat dalam bahasa kita adalah pengambilalihan paksa. Pada 15 September 1920 kata itu jatuh ke sawah-sawah di Andir, Bandung, lewat sebuah Besluit yang diteken Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Empat nama pemilik tanah tercatat dalam berkasnya: Hanapi, Raden Hadji Asikin, Martapoera, dan Mas Soedjana.

Nasib tanah keempat orang itu ditelusuri Muhammad Akmal Siddiq, Kunto Sofianto, dan Dade Mahzuni dari Universitas Padjadjaran dalam Dari Lahan Pertanian ke Landasan Udara: Perubahan Fungsi Lahan dan Lingkungan Hidup di Andir dalam Kebijakan Kolonial (1904-1942), terbit di jurnal PURBAWIDYA Volume 14 Nomor 2 pada 2025. Mereka tidak memakai cangkul. Alat kerjanya dua lembar peta topografi, arsip kolonial, foto sezaman, dan surat kabar terbitan masa itu.

Istilah teknis kedua muncul di bagian metodenya: land-use change, atau perubahan penggunaan lahan. Dalam percakapan sehari-hari kita menyebutnya alih fungsi lahan — sawah menjadi perumahan, kebun menjadi ruko. Bedanya, tim itu memakai istilah tersebut untuk kasus yang keputusannya sama sekali tidak berada di tangan pemilik tanah. Perubahan terjadi karena institusi kekuasaan memutuskannya, dan yang punya sawah hanya menerima pemberitahuan. Kerangka bacanya diambil dari Simo Laakkonen, yang memilah hubungan militerisasi dan lingkungan hidup menjadi tiga sudut pandang: peperangan, masyarakat, dan lingkungan hidup. Tim Unpad memilih sudut yang ketiga.

Daftar Isi
  1. Bau dan Pikul, Satuan yang Menghitung Sawah
  2. Vliegterrein, Lapangan yang Menggantikan Petak
  3. Overlay, Menumpuk Dua Peta agar Selisihnya Terlihat
  4. Ruang Fungsional, Istilah yang Menutup Pintu

Bau dan Pikul, Satuan yang Menghitung Sawah

Ilustrasi hamparan sawah berundak dengan latar perbukitan di Jawa Barat.
Ilustrasi hamparan sawah berundak dengan latar perbukitan di Jawa Barat. [Foto: Pexels]

Sebelum ada landasan, Andir adalah sawah. Peta topografi terbitan 1904 menandai wilayah itu dengan simbol garis diagonal, penanda lahan padi, dan simbol tersebut mendominasi hampir seluruh lembarnya. Andir bahkan dikenal sebagai desa loemboeng — desa lumbung — pada sekitar 1920. Kampung-kampung tuanya berbaris mengikuti jalan dan rel: Balubur Hilir, Kampung Bogor, Andir, dan Kebon Jukut. Di sekitarnya peta menandai sungai yang berkelok, jembatan besi, batu, dan kayu, kebun kelapa, ladang, serta padang alang-alang dan bambu. Andir baru masuk ke Gemeente Bandoeng pada 1906, sebagai satu dari delapan desa di onderdistrict Bandoeng Koelon.

Luas persawahan di Priangan Tengah tercatat sekitar 124.290 bau. Bau adalah satuan luas kolonial senilai 7.096 meter persegi, jadi angka tadi setara kurang lebih 881 juta meter persegi, atau sekitar delapan puluh delapan ribu hektare. Pasokan air Distrik Bandung cukup untuk tiga kali tanam dalam dua tahun. Hasilnya lebih dari 33 pikul per bau; satu pikul sama dengan 62,5 kilogram, sehingga tiap bau melepas lebih dari 2.062 kilogram padi. Sebagai pembanding, sepetak seluas satu bau kira-kira sebesar tujuh perempat lapangan sepak bola standar.

Baca juga Kebencian Mendominasi Dialog Novel Aku Juga Ingin Dianggap

Sawah itu tidak hanya menumbuhkan padi. Ikan mas berumur tujuh sampai empat belas hari disebar di petak yang airnya dangkal. Satu bau sanggup menampung sekitar lima puluh ribu ekor; sesudah dipelihara sebulan, penyusutan menyisakan tiga puluh ribu ekor pada saat panen. Pasar bibit di Pasar Cijerah melepas kurang lebih 150.000 ekor sehari. Setiap ekor ikan dihargai lima puluh gulden menurut catatan arsip yang dikutip tim itu. Angka-angka tersebut menerangkan satu hal yang mudah terlewat: satu petak sawah di Andir menghidupi dua sumber penghasilan sekaligus, padi di permukaannya dan ikan di dalam airnya.

Vliegterrein, Lapangan yang Menggantikan Petak

Rencana lapangan terbang sebenarnya tidak lahir di Andir. Pada awal 1918 pemerintah kolonial membangun lapangan di Soekamiskin dan mulai mendirikan beberapa hanggar pada Februari tahun itu. Tanahnya ternyata lunak dan sulit dikeringkan. Genangan air membuat lapangan tak bisa dipakai. Letnan Kolonel van Haselen, yang melapor ke Soekamiskin pada Desember 1924, mencatat kesemrawutan dan suasana yang tidak menyenangkan di antara para stafnya. Survei yang dilakukan sesudah itu menyimpulkan Soekamiskin bukan lokasi yang ideal untuk pangkalan permanen.

Kegagalan itu sampai ke ruang sidang Volksraad. Jean Charles Pabst menyatakan pengalaman Soekamiskin membuktikan pentingnya penyelidikan tanah yang menyeluruh sebelum sebuah pangkalan udara dibangun. Cornelis Hendrik van Rietschoten menjawab bahwa keputusan mengenai Soekamiskin belum diambil dan penyelidikan masih berjalan; ia menekankan perlunya kehati-hatian dalam memilih lokasi baru. Perdebatan itu berlangsung pada 1919, setahun sebelum Besluit pengambilalihan turun. Yang dibahas ketika itu masih soal tanah, bukan soal siapa yang menggarapnya.

Di sinilah satu salah paham perlu dikoreksi. Orang mudah mengira lapangan terbang dipilih di tempat yang jarang diguyur hujan. Kapten Infanteri O. van Houten, Komandan Divisi Penerbangan, justru mengusulkan Andir dengan alasan yang berkebalikan: dalam laporannya yang dimuat De Preanger Bode pada 1921 ia menyebut kawasan itu memang sering dilanda hujan, tetapi permukaannya tetap kering dan tetap bisa dipakai terbang. Yang menentukan bukan curah hujannya, melainkan daya serap tanahnya. Persis kebalikan dari yang terjadi di Soekamiskin, tempat air berhenti di permukaan dan tidak turun ke mana-mana.

Andir juga dipilih karena letaknya dekat jalur kereta api dan dekat Bandung yang sudah menjadi pusat industri. Anggarannya diperkirakan sekitar 170.000 gulden dengan tambahan 20.000 gulden, lalu pemerintah menetapkan 400.000 gulden untuk memulai pekerjaan. Pemotongan rumput dilelang terbuka dan dimenangkan Tan In Tjiang dengan sewa sementara f30 sebulan. Lapangan itu diresmikan pada Maret 1922, dihadiri Mayor Jenderal Kroesen dan Kolonel van den Weijden. Dari udara, kata “Andir” terbaca jelas di tengah lingkaran lapangan, menjadi penanda bagi penerbang yang hendak masuk ke kawasan itu.

Baca juga Ketika Kata Di Sini Terasa Asing dalam Die Sommer

Sesudah diresmikan, lapangan itu terus tumbuh. KNILM membuka rute Batavia–Bandung dan Batavia–Semarang pada 1 November 1928. Sekolah penerbangan dipindahkan dari Kalidjati ke Andir pada Januari 1932. Ketika pesawat Glenn Martin dibeli, Letnan Kolonel Blok dari kesatuan insinyur militer menyatakan dalam De Avondpost 1937, “dengan pembelian pesawat Glenn Martins, ruang hanggar menjadi tidak memadai, maka dari itu diperluas.” Setahun berikutnya anggaran tambahan 200.000 gulden disetujui. Sejak 1935 Andir ditetapkan sebagai pangkalan udara utama ML-KNIL karena fasilitasnya paling lengkap: penyimpanan, pemeliharaan, jaringan komunikasi radio, serta pelatihan pilot dan mekanik.

Overlay, Menumpuk Dua Peta agar Selisihnya Terlihat

Dari mana tim itu tahu apa saja yang hilang? Mereka memakai apa yang disebut Thomas J. Schlereth above-ground archaeology, arkeologi permukaan — membaca artefak budaya yang masih tampak di permukaan, seperti struktur lanskap, pola ruang, dan tata letak bangunan, tanpa melalui penggalian. Bahan bacanya peta dan foto sezaman. Tekniknya tumpang susun, atau overlay: dua lembar peta ditumpuk agar selisih di antara keduanya kelihatan. Analisisnya bersifat kualitatif dan menekankan perubahan simbol, struktur ruang, serta persebaran spasial.

Peta 1904 berskala 1:20.000, sedangkan peta 1931 berskala 1:25.000. Agar sebanding secara visual, peta 1904 diperbesar 1,25 kali. Di lembar 1931 muncul zona bertanda Vliegterrein Andir — harfiah berarti lahan terbang — persis di tempat simbol sawah dan kebun sebelumnya berdiri. Lapangan itu semula memakai lahan 950 kali 650 meter, lalu terus diperluas sampai 1942. Luas sebesar itu, tulis tim tersebut, langsung menghapus bagian penting lanskap Andir sebelumnya: persawahan, kebun kelapa, dan padang alang-alang.

Tim itu menulis bahwa cara baca semacam ini punya batas. Membandingkan peta 1904 dan 1931 menuntut pertimbangan atas perbedaan skala dan sistem simbol; surat kabar dan arsip kolonial pun harus dibaca dengan sadar bahwa keduanya menyimpan sudut pandang kolonial dan kemungkinan bias representasi. Peta memberi tahu apa yang hilang dari lembarnya. Peta tidak memberi tahu ke mana orangnya pergi.

Ruang Fungsional, Istilah yang Menutup Pintu

Yang berubah bukan hanya tutupan lahan. Jaringan irigasi ikut lenyap dari peta 1931, dan bersama irigasi hilang pula budidaya ikan mas yang tadi dihitung dalam ekor per hari. Padi dan ikan adalah dua mata pencaharian yang berdiri di atas air yang sama. Ketika petaknya dikeringkan dan diratakan, keduanya berhenti pada waktu yang bersamaan. Menurut catatan Coolsma yang dikutip tim itu, penduduk kampung yang disebut cacah atau wong cilik memang menjalani hidup yang sangat sederhana, dan sawah adalah tumpuan utamanya.

Baca juga Nilai Membaca Naik Setelah Kuis Daring di Kelas Tujuh

Infrastruktur baru datang menggantikan. Pada 1921 pihak militer meminta izin membangun jalan penghubung dari Groote Postweg ke lokasi pendaratan dekat perhentian Andir. Gemeenteraad menyetujuinya dengan syarat: jalan penghubung ke jaringan jalan kota harus punya delapan meter permukaan keras, sementara jalan akses menuju lapangan dirancang selebar dua belas meter dengan 5,5 meter permukaan keras. Pada 1937 jalur samping dari stasiun Staatsspoorwegen diperpanjang sampai hanggar baru, dan gerbong-gerbong pengangkut komponen pesawat mulai masuk ke sisi lapangan.

Di sekelilingnya berdiri bengkel besar, kantor administrasi, barak militer, dan blok perumahan bagi personel. Jalan Fokkerweg, yang dibahas rapat Gemeenteraad pada 1925, dinilai rute yang sangat baik bagi pendatang bermobil dari arah Tjimahi menuju utara kota, meski dalam praktiknya justru lebih sering dipakai penduduk setempat. Ruang yang dulu terbuka dan bisa dimasuki siapa saja berubah menjadi ruang berpagar yang menuntut izin.

Perlu dicatat apa yang tidak dikatakan paper ini. Ia membaca satu kawasan di barat Bandung sepanjang tiga puluh delapan tahun, bukan seluruh Priangan dan bukan seluruh kebijakan agraria kolonial. Ia juga tidak menghitung berapa keluarga yang berpindah, sebab arsip yang dipakainya memang tidak mencatat hal itu. Yang bisa dibuktikan hanyalah bahwa keputusan datang dari atas dan lanskapnya berubah sesudah itu. Pembandingnya ada satu, disebut di bagian awal paper: kajian Nur Utomo dan kawan-kawan pada 2023 tentang degradasi lingkungan di Regentschap Pemalang sepanjang 1870 sampai 1942.

Onteigening tetap sebuah kata yang rapi. Ia berhenti pada perpindahan hak, dan tidak menampung apa pun yang terjadi sesudahnya: petak yang dikeringkan, bibit ikan yang tidak lagi dipesan di Pasar Cijerah, kata Andir yang dilukis besar-besar di rumput supaya terbaca dari langit. Hari ini lahan itu bernama Lanud Husein Sastranegara dan dikepung permukiman padat, sementara sawah yang dulu menghitung panennya dengan bau sudah tidak punya nama lagi.

Bagikan

Baca Juga

58 Masjid Padang Berdiri di Zona Risiko Tsunami
Burnout Atlet Dayung dan Arah Hubungan yang Tak Ditunjukkan
Perang Aceh Berlanjut Setelah Istana Sultan Jatuh
Sarasehan KAMIL ITB Siapkan Mahasiswa Menapaki Pascasarjana
Self-Talk Positif dan Keputusan Atlet Futsal Remaja
Tarik-Menarik Hutan Nagari Sumbar Sejak 1967