Nilai Membaca Naik Setelah Kuis Daring di Kelas Tujuh

A A

Ilustrasi seorang siswa menatap layar ponsel di meja kelas berisi tumpukan buku. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Yang Diyakini sejak Bolat 2017
  2. Diagnostik 2023 dan Dua Puluh Soal
  3. Dari 47,87 ke 80,63
  4. Henning 2016 dan Qureshi 2023
  5. Batas yang Diakui Salim dan Timnya

Cekricek.id — Selama puluhan tahun kuis di kelas bahasa Inggris berdiri di ujung pelajaran sebagai alat ukur, bukan alat ajar. Guru membagikan lembar soal untuk mengetahui siapa yang sudah paham dan siapa yang belum, lalu pelajaran berikutnya dimulai. Yang berubah pada dasawarsa terakhir bukan soalnya, melainkan tempat soal itu muncul: sejak papan peringkat, poin, dan lencana pindah ke layar ponsel murid, kuis bergeser dari penutup pelajaran menjadi isi pelajaran. Satu kelas tujuh di Yogyakarta dipakai untuk menguji apakah pergeseran itu benar-benar mengubah kemampuan membaca, atau sekadar membuat kelas terasa lebih ramai.

Laporannya ditulis Malik Salim, Karisman Muhammad Sukarno, Fani Nabila Titania, Riris Handayani, Ziaul Haq, dan Iswan Maujud dari Universitas Negeri Yogyakarta, bersama Jasim Chaudhuri dari Universitas Maulana Abdul Kalam Azad, India. Artikel mereka, Using Gamified Quizzes to Enhance Students’ English Reading Comprehension Skills, dimuat jurnal Diksi, Volume 33 Nomor 1, tahun 2025, halaman 125 sampai 142. Naskahnya diterima redaksi pada 13 Juni 2024, disetujui pada 27 Maret 2025, dan terbit empat hari sesudah disetujui.

Persoalan yang mereka hadapi lebih tua daripada aplikasi mana pun. Murid, tulis tim itu di bagian pendahuluan, kerap tersendat pada hal yang sama: sulit menarik keterangan dari teks, kosakata terbatas, tersesat di kalimat panjang, dan gagal menyambungkan satu bagian bacaan dengan bagian lain. Kesabaran mereka menipis, semangat awal yang ditumbuhkan guru menguap, lalu perhatian berpindah ke teks pendek di TikTok, Instagram, dan YouTube atau ke permainan. Di seberangnya, guru terbebani pekerjaan administratif sehingga waktu untuk melatih membaca menyusut. Dua keadaan itu bertemu di ruang kelas yang sama.

Yang Diyakini sejak Bolat 2017

Ilustrasi seseorang memegang buku pelajaran bahasa Inggris yang terbuka.
Ilustrasi seseorang memegang buku pelajaran bahasa Inggris yang terbuka. [Foto: Pexels]

Sebelum penelitian ini, tumpukan bukti tentang kuis bergamifikasi hampir seluruhnya berhenti pada satu hal: perasaan murid. Bolat, Simsek, dan Ulker pada 2017 menguji sistem penjawab kelas daring yang dibuat menyerupai permainan dan mencatat pengaruhnya pada capaian akademik serta pandangan murid terhadap sistem itu. Bicen dan Kocakoyun pada 2018 memotret persepsi murid terhadap Kahoot. Fotaris dan kawan-kawan pada 2016 memasang unsur permainan di kelas pemrograman komputer dan mengamati murid memanjat papan peringkat. Orhan Goksun dan Gursoy pada 2019 membandingkan keberhasilan dan keterlibatan murid pada Kahoot dan Quizizz secara berdampingan. Yang diukur di sepanjang rangkaian itu sebagian besar adalah semangat, keterlibatan, dan sikap, bukan kemampuan yang tertinggal sesudah permainannya selesai.

Baca juga Seharuk, Cerita Cerdik dari Sungai Komering

Rantai itu punya lubang yang disebut sendiri oleh Salim dan timnya: sedikit peneliti yang menghubungkan kuis dengan hasil belajar, khususnya pemahaman bacaan pada murid sekolah menengah pertama. Dari lubang itulah dua pertanyaan penelitian disusun, yakni apa dampak kuis terhadap hasil belajar membaca, dan bagaimana kuis bergamifikasi memengaruhi keterlibatan murid dibandingkan cara mengajar tradisional. Pertanyaan pertama itu yang membedakan penelitian ini dari pendahulunya, sebab jawabannya harus berupa angka nilai, bukan angket kesukaan. Aplikasi yang dipilih adalah Quizizz, papan kuis daring yang bisa dimainkan bersama-sama lewat komputer, ponsel, atau tablet, dan yang oleh tim itu diperlakukan bukan sekadar sebagai alat penilaian melainkan sebagai model pembelajaran yang bisa disisipkan ke tengah pelajaran.

Diagnostik 2023 dan Dua Puluh Soal

Rancangannya kuasi-eksperimen: dua kelompok, satu diajar dengan cara biasa dan satu diajar dengan kuis, keduanya diukur sebelum dan sesudah perlakuan. Peserta yang disebut di bagian metode berjumlah 33 murid kelas tujuh SMP 1 Yogyakarta, terdiri dari 17 perempuan dan 16 laki-laki, yang dibagi ke kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Angka itu tidak konsisten di sepanjang artikel. Abstraknya menyebut 25 murid pada tiap kelompok, sedangkan seluruh tabel statistiknya memakai N sebanyak 30 untuk masing-masing kelompok pada tiap tahap pengukuran. Perlakuannya sendiri berjalan pada tahun ajaran 2023/2024.

Alurnya berjalan begini. Murid lebih dulu mengerjakan tes diagnostik berisi 20 soal pemahaman bacaan lewat Google Form, dan hasilnya dinilai peneliti masih kurang. Sesudah itu kuis dimasukkan sebagai perlakuan pada pembelajaran teks naratif: murid dibagi ke dalam kelompok, diberi waktu membahas teks dengan bantuan alat peraga visual, menyusun cerita pendek dari gambar, dan menebak gambar berdasarkan isi teks yang ditampilkan di depan kelas. Penutupnya tes sumatif 20 soal. Seluruh data diolah dengan SPSS versi 25 lewat statistik deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, dan uji-t sampel berpasangan.

Baca juga Literasi Digital Tak Cukup untuk Esai Akademik

Kekurangan yang hendak diperbaiki sudah dipetakan sebelum perlakuan dimulai. Murid kesulitan menemukan gagasan utama sebuah teks, menarik keterangan yang tersurat maupun yang tersirat, dan mengenali detail pendukung yang menopang gagasan itu. Tiga hal itu yang lazim diujikan dalam soal pemahaman bacaan, dan tiga hal itu pula yang dikejar lewat kuis dengan unsur poin, tingkatan, lencana, serta umpan balik yang muncul seketika begitu jawaban dikirim. Umpan balik seketika inilah yang di banyak penelitian sebelumnya dianggap bagian paling menentukan.

Dari 47,87 ke 80,63

Nilai rata-rata kelompok eksperimen sebelum perlakuan 47,87 dengan simpangan baku 11,855, nilai terendah 20 dan tertinggi 72. Sesudah perlakuan rata-ratanya 80,63 dengan simpangan baku 7,365, terendah 62 dan tertinggi 95. Kelompok kontrol berangkat dari titik yang tidak jauh berbeda, rata-rata 44,07 dengan nilai terendah yang sama, 20, lalu berakhir pada rata-rata 66,60. Simpangan baku kelompok eksperimen menyusut hampir separuh sesudah perlakuan, dari 11,855 menjadi 7,365, yang berarti jarak antara murid terlemah dan terkuat di kelas itu mengecil. Kelompok kontrol bergerak ke arah sebaliknya dalam hal sebaran, dengan simpangan baku 9,467 pada pengukuran terakhir, hampir sama dengan sebelum pelajaran dimulai.

Uji normalitas Kolmogorov-Smirnov menghasilkan angka signifikansi 0,200 untuk tiga kelompok data dan 0,030 untuk hasil akhir kelompok eksperimen, sementara uji Shapiro-Wilk yang lebih peka pada sampel kecil memberi angka 0,983, 0,943, 0,983, dan 0,976 dengan signifikansi di atas 0,05. Atas dasar itu data dinyatakan berdistribusi normal dan layak diuji dengan statistik parametrik, sebuah langkah yang menentukan sebab seluruh simpulan berikutnya bergantung padanya. Uji-t sampel berpasangan kemudian mencatat selisih rata-rata 32,76 poin pada kelompok eksperimen dan 22,53 poin pada kelompok kontrol, keduanya dengan nilai signifikansi 0,000.

Di titik itulah artikel ini menarik untuk dibaca dua kali. Simpulan di abstraknya berbunyi tegas dalam bahasa Inggris, “We can draw the conclusion that quiz programs significantly improved students’ reading comprehension of English,” atau kira-kira: dapat disimpulkan bahwa aplikasi kuis meningkatkan pemahaman bacaan bahasa Inggris murid secara signifikan. Namun di badan artikel, ketika kelompok kontrol ternyata juga naik secara signifikan tanpa diberi kuis apa pun, tim penulis menahan diri dan menyatakan bahwa ketiadaan perlakuan pada kelompok itu menuntut penyelidikan lebih lanjut untuk memahami perubahannya, sebab faktor lain mungkin ikut bekerja. Dua kalimat itu berdiri di artikel yang sama, berjarak beberapa halaman.

Henning 2016 dan Qureshi 2023

Selisih dua kenaikan itu, 32,76 lawan 22,53, kira-kira sepuluh poin, dan sepuluh poin itulah yang tersisa sebagai kemungkinan sumbangan kuis. Angka semacam itu sejalan dengan mata rantai sebelumnya. Henning pada 2016 menemukan pemahaman bacaan membaik ketika kuis dipakai terus-menerus sepanjang proses belajar, terutama karena kuis berfungsi sebagai penilaian formatif yang memberi umpan balik berulang. Qureshi dan Khatoon pada 2023 membandingkan Kahoot, Quizizz, dan Baamboozle, lalu mencatat murid memandang alat-alat itu menyenangkan sekaligus menumbuhkan toleransi terhadap kesalahan, sebab keliru di dalam permainan tidak berakibat hukuman. Ruang untuk salah tanpa malu itu yang disebut membuat murid berani mencoba cara baca yang berbeda.

Baca juga Bias Tersembunyi di Soal Ujian Bahasa Inggris Niaga

Sihombing dan Astuti pada 2022 menempatkan Quizizz sebagai pengubah kegiatan kelas menjadi tantangan, dan Azhra bersama rekan-rekannya pada 2024, di jurnal yang sama, memakai aplikasi kuis untuk penguasaan kosakata murid sekolah menengah pertama. Yang ditambahkan penelitian Yogyakarta ini ke dalam rantai tersebut adalah nilai tes, bukan persepsi. Yang tidak bisa ditambahkannya adalah pemilahan: perlakuan di kelas eksperimen bukan hanya aplikasi kuis, melainkan satu paket berisi kerja kelompok, alat peraga, dan tugas menyusun cerita dari gambar. Yang diukur adalah paket itu utuh, sehingga porsi masing-masing bagian tidak diketahui. Tim itu sendiri mencatat bahwa penerapan kuis semacam ini menuntut syarat yang tidak selalu ada, mulai dari guru yang terlatih merancangnya sampai akses teknologi yang merata di antara murid.

Batas yang Diakui Salim dan Timnya

Beberapa hal harus dijaga agar tidak dibaca berlebihan. Penelitian ini berlangsung di satu sekolah, pada satu jenjang kelas, dalam satu tahun ajaran, dengan jumlah peserta yang dilaporkan berbeda di tiga tempat pada artikel yang sama. Uji-t berpasangan hanya membandingkan nilai sebelum dan sesudah di dalam masing-masing kelompok, sehingga selisih antara kedua kelompok tidak diuji langsung. Kenaikan nilai di kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan justru menjadi peringatan paling jelas dari artikelnya sendiri: ada yang bekerja di kedua kelas itu selain kuis, dan penelitian ini belum mengetahui apa.

Rantai riset tentang kuis bergamifikasi karena itu belum menutup dirinya. Ia bergerak dari pertanyaan apakah murid menyukainya, menuju pertanyaan apakah nilai mereka naik, dan sekarang berhenti di pertanyaan berikutnya yang lebih sulit: bagian mana dari kegembiraan itu yang sebenarnya mengajari anak memahami sebuah paragraf. Tiga puluh anak kelas tujuh di Yogyakarta menyumbang satu mata rantai untuk pertanyaan itu, bukan jawabannya.

Bagikan

Baca Juga

Murid di Sentani Belajar Bahasa Daerah Sambil Mengaduk Papeda
Flag Football Bikin Murid SD Shanghai Lebih Cepat Lari 50 Meter
Anak Spanyol yang Cukup Tidur Lebih Sering Jalan Kaki ke Sekolah
Makin Banyak Toko Tembakau Dekat Sekolah, Makin Banyak Siswa Vape
Murid Sekolah Khusus di Inggris Pilih Bekal daripada Makan Gratis
Guru PAUD New York Terkuras, Satu dari Lima Ingin Berhenti