- Siswa di sana tergolong rentan mencoba rokok elektrik 1,7 kali lebih sering dibanding siswa di kelompok rendah atau sedang.
- Secara keseluruhan, 5,6 persen siswa adalah pengguna aktif, atau 437 anak.
- Seperempat siswa sekolah menengah atas merasa sahabatnya merestui, padahal pengguna aktifnya sepersepuluh.
- Analisis tambahan kedua peneliti juga tidak menemukan kaitan bermakna antara jarak dan pemakaian vape.
Daftar Isi
Makin banyak toko tembakau di sekitar sekolah, makin banyak siswa mengisap vape. Pola itu muncul di Kentucky, Amerika Serikat. Di sekolah yang dikelilingi tujuh toko atau lebih, siswa juga lebih mudah tergoda mencoba.
Temuan itu ditulis Hannah Cardona dan Melinda Ickes dalam Proximity and density of tobacco retail locations to Kentucky schools and the relationship to youth perceptions of harm and susceptibility to e-cigarette use. Naskahnya terbit di BMC Public Health edisi Article in Press tahun 2026. Keduanya bekerja di University of Kentucky di Lexington.
Datanya berasal dari 7.823 siswa di 106 sekolah. Ada 58 sekolah dasar, 25 sekolah menengah pertama, dan 23 sekolah menengah atas. Sekolah itu tersebar di 45 county, dan para siswa mengisi survei sepanjang tahun ajaran September 2023 sampai Mei 2024.
Tujuh toko dalam satu mil
Kedua peneliti memetakan 4.811 lokasi penjual tembakau di Kentucky. Isinya toko kelontong, pom bensin, toko swalayan, dan toko khusus tembakau atau vape. Lalu mereka menghitung berapa toko yang berada dalam radius satu mil dari tiap sekolah.
Rata-rata ada 4,48 toko di sekitar satu sekolah. Angka terendah nol, angka tertinggi 24. Sekolah dengan nol sampai dua toko disebut berkepadatan rendah, tiga sampai enam toko sedang, dan tujuh toko atau lebih tinggi.
Sekolah menengah pertama paling rapat dikelilingi toko, rata-rata 4,94 toko dalam satu mil. Sekolah menengah atas 4,7 toko. Sekolah dasar paling longgar, 3,64 toko.
Jarak ke toko terdekat pun pendek. Rata-ratanya 0,51 mil untuk sekolah menengah pertama, 0,68 mil untuk sekolah menengah atas, dan 0,71 mil untuk sekolah dasar. Ada sekolah yang hanya berjarak 0,02 mil dari penjual tembakau.
Siswa sekolah menengah atas paling banyak berada di lingkungan padat toko. Sebanyak 44,6 persen dari mereka bersekolah di kelompok berkepadatan tinggi. Pada siswa sekolah dasar angkanya 20,3 persen, dan lebih dari separuhnya, 53,7 persen, berada di kelompok rendah.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Di kelompok padat toko itulah angka vape menanjak. Siswa di sana tergolong rentan mencoba rokok elektrik 1,7 kali lebih sering dibanding siswa di kelompok rendah atau sedang. Pengguna aktifnya juga lebih dari 1,5 kali lipat.
Pengguna aktif berarti memakai rokok elektrik dalam 30 hari terakhir. Rentan berarti belum pernah memakai, tetapi tergolong mungkin mencoba menurut jawaban surveinya. Kedua ukuran itu sama-sama lebih tinggi di sekolah yang dikelilingi banyak toko.
Secara keseluruhan, 5,6 persen siswa adalah pengguna aktif, atau 437 anak. Sebanyak 7,8 persen pernah memakai tetapi sudah tidak lagi. Lalu 15 persen belum pernah memakai tetapi rentan, kira-kira satu dari tujuh siswa.
Sisanya, 71,6 persen, belum pernah memakai dan tidak rentan. Usia rata-rata seluruh siswa 12,5 tahun. Hampir seperlima dari mereka baru berusia sembilan sampai sepuluh tahun.
Naik seiring jenjang
Angka itu menanjak dari jenjang ke jenjang. Pengguna aktif hanya 1,7 persen di sekolah dasar. Di sekolah menengah pertama menjadi 6,0 persen, dan di sekolah menengah atas 10,0 persen, atau satu dari sepuluh siswa.
Kerentanan bergerak ke arah yang sama. Di antara siswa yang belum pernah memakai, 14,9 persen anak sekolah dasar tergolong rentan. Angkanya 16,6 persen di sekolah menengah pertama dan 22,8 persen di sekolah menengah atas.
Yang paling curam justru restu teman. Siswa ditanya apakah sahabatnya tidak keberatan bila mereka memakai rokok elektrik. Yang menjawab ya 7,1 persen di sekolah dasar, 15,1 persen di sekolah menengah pertama, dan 25,3 persen di sekolah menengah atas.
Angka restu itu jauh di atas angka pemakaian yang sebenarnya. Seperempat siswa sekolah menengah atas merasa sahabatnya merestui, padahal pengguna aktifnya sepersepuluh. Menurut kedua peneliti, anggapan tentang kebiasaan teman bisa melampaui perilaku nyata.
Anggapan soal bahaya
Sebagian besar siswa menganggap vape berbahaya. Mereka setuju bahwa rokok elektrik buruk bagi kesehatan dan membuat kesehatan mental lebih buruk. Porsinya 87,5 persen di sekolah dasar, 86,0 persen di sekolah menengah pertama, dan 85,5 persen di sekolah menengah atas.
Sisanya tidak setuju dengan setidaknya satu dari dua pernyataan itu. Kelompok kecil inilah yang paling sering sudah mencoba. Di sekolah berkepadatan rendah, 30,6 persen dari mereka pernah memakai vape, sedangkan pada siswa yang menganggapnya berbahaya hanya 8,5 persen.
Di sekolah berkepadatan tinggi selisihnya tetap lebar. Sebanyak 32,7 persen siswa yang tidak menganggap vape berbahaya pernah memakainya. Namun pada siswa yang menganggapnya berbahaya pun angkanya naik menjadi 14,0 persen.
Pada siswa yang menganggap vape berbahaya itu, kerentanan juga lebih tinggi di lingkungan padat toko, yakni 18,8 persen berbanding 14,9 persen di kelompok rendah. Restu sahabat pada siswa yang sama tercatat 15,4 persen di kelompok padat toko dan 11,2 persen di kelompok rendah.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Jarak tidak seterang jumlah
Soal jarak, hasilnya lebih rumit. Siswa yang paling sering pernah atau sedang memakai vape bukan yang sekolahnya paling dekat dengan toko. Mereka berada di kelompok tengah, setengah sampai satu mil dari toko terdekat.
Di kelompok tengah itu, 16,7 persen siswa tidak menganggap vape berbahaya. Di kelompok dekat angkanya 13,5 persen, dan di kelompok jauh 12,8 persen. Di kelompok tengah pula, 39,8 persen siswa yang tidak menganggapnya berbahaya pernah memakai vape.
Kerentanan siswa di kelompok dekat tercatat 15,5 persen. Angka itu tidak berbeda secara bermakna dari kelompok tengah dan jauh. Analisis tambahan kedua peneliti juga tidak menemukan kaitan bermakna antara jarak dan pemakaian vape.
Jumlah toko memang berkaitan dengan pemakaian dan kerentanan, tetapi kaitannya kecil. Kedua peneliti mencatat bahwa jumlah dan jarak toko hanya menjelaskan sebagian terbatas dari perbedaan antarsiswa. Besarnya di bawah satu persen pada semua hitungan tambahan.
Negara bagian tanpa lisensi
Kentucky, saat penelitian berlangsung, tidak mewajibkan lisensi untuk menjual tembakau, nikotin, atau produk vape. Negara bagian itu juga tidak punya pembatasan lokasi yang berlaku menyeluruh. Padahal per 30 September 2024, tiga puluh enam negara bagian sudah mewajibkan lisensi.
Beberapa kota di sana punya aturan zonasi sendiri. Toko tembakau harus berjarak sedikitnya 1.000 kaki dari sekolah, taman, dan tempat bermain. Namun kedua peneliti mencatat aturan itu tidak menjangkau toko yang sudah berdiri sebelumnya.
Sebuah rancangan undang-undang, Senate Bill 100, sedang diproses untuk mewajibkan lisensi di Kentucky. Kedua peneliti menilai lisensi akan memudahkan pemeriksaan dan pengawasan toko. Mereka juga menyebut pendidikan pencegahan di sekolah tetap perlu, berapa pun toko di sekitarnya.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Kaitan, bukan sebab
Kedua peneliti sendiri membatasi kesimpulannya. “Tidak mungkin menyimpulkan bahwa kedekatan atau kepadatan ritel tembakau secara langsung menyebabkan persepsi atau perilaku remaja,” tulis Cardona dan Ickes dalam naskah berbahasa Inggris itu. Survei mereka memotret satu waktu saja.
Keterbatasan lain juga mereka akui. Sekolah yang ikut adalah peserta program pencegahan tembakau, bukan hasil pemilihan acak, sehingga belum tentu mewakili seluruh sekolah Kentucky. Toko dihitung dari sekolah, bukan dari rumah siswa.
Ada pula faktor yang tidak ikut dihitung. Lingkungan yang padat toko bisa berbeda dalam hal sifat kota atau desa, ciri permukiman, dan kebiasaan warganya. Karena itu kedua peneliti meminta hubungan yang mereka temukan dibaca sebagai penjajakan.
Angka yang tak cocok
Beberapa angka dalam naskah tidak saling cocok. Tingkat respons survei ditulis 73 persen, dari 9.655 siswa yang ikut dibagi 10.700 siswa penerima program. Hasil bagi dua angka itu sebenarnya sekitar 90 persen, dan angka 73 persen baru cocok bila pembilangnya 7.823.
Jumlah sekolah juga muncul dalam dua versi. Bagian sampel menyebut 106 sekolah, sedangkan bagian pemetaan menyebut 160 lokasi sekolah. Rentang jumlah toko ditulis nol sampai 24, padahal angka tertinggi per jenjang adalah 18, 22, dan 19.
Di Tabel 3, baris jenjang sekolah untuk kelompok berkepadatan tinggi memuat angka yang sama dengan kelompok rendah. Satu kolomnya berjumlah 85,9 persen, bukan seratus. Abstrak dan simpulan juga menyebut jarak dekat berkaitan dengan vape, padahal bagian hasil menunjuk kelompok jarak tengah.
Yang belum terjawab
Penelitian ini belum bisa mengatakan apakah toko yang membuat siswa mencoba vape. Kedua peneliti menyarankan riset berikutnya mengukur paparan dengan lebih teliti. Contohnya pola gerak siswa, lama waktu di dekat toko, dan iklan di titik penjualan.
Untuk saat ini, yang tercatat adalah sebuah pola di 106 sekolah Kentucky. Di sekolah yang dikelilingi tujuh toko tembakau atau lebih, lebih banyak siswa yang mengisap vape dan lebih banyak yang rentan mencoba.















