Belanja Sayur Daring di Shanghai Lebih Ramai di Kawasan Mapan

A A

Ilustrasi pengendara skuter berkotak antar biru berhenti di persimpangan rindang di Shanghai, Tiongkok [Foto: Icy Pomelo Allen/Pexels]

  • Seperlima penduduk yang tinggal di petak termiskin hanya menyumbang 10,4 persen pesanan bahan segar.
  • Di petak yang lebih banyak dihuni warga tanpa mobil pribadi, pesanan justru lebih ramai.
  • Makin banyak toko di sekitar rumah, makin jarang warga memesan lewat aplikasi.
  • Yang diukur adalah petak, bukan orang, sehingga perbedaan antarwarga dalam satu petak tidak terlihat dan kesimpulan tentang individu bisa keliru.
Daftar Isi
  1. Petak Termiskin
  2. Rumah Tanpa Mobil
  3. Lansia dan Anak Muda
  4. Supermarket Sejarak Jalan Kaki
  5. Pasar Sayur Lingkungan
  6. Angka di Tabel

Di peta Shanghai yang disusun dari catatan pesanan selama satu pekan pada Juni 2024, titik paling ramai berkumpul di pusat kota dan di pusat-pusat kawasan pinggiran. Changning bagian tengah-barat menonjol. Lujiazui di Pudong New Area juga. Begitu pula kawasan maju di sekitar simpul transportasi Hongqiao dan lingkungan Shanghai Jiao Tong University di Minhang selatan. Di tempat-tempat itulah sayur, buah, dan belanjaan supermarket paling sering dipesan lewat aplikasi lalu diantar sampai ke pintu rumah.

Peta itu dibuat Bochu Liu, Chuhao Liu, Thomas Burgoine, Guangping Chen, Yue Wang, dan Lan Wang dalam Socioeconomic inequalities in online fresh food delivery use and associations with the neighborhood food environment, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel nomor 2396, tahun 2026. Bochu Liu dan Lan Wang bekerja di Department of Urban Planning, Tongji University, Shanghai. Rekan mereka berasal dari The University of Tokyo, University of Cambridge, Central China Normal University di Wuhan, dan pusat riset Ele.me di Hangzhou.

Wilayah yang dipetakan adalah seluruh daratan di dalam jalan tol lingkar pinggiran Shanghai. Luasnya 3.073 kilometer persegi, dihuni 21 juta penduduk tetap menurut sensus 2020. Para penulis memecahnya menjadi 11.581 petak berukuran 500 kali 500 meter. Ke tiap petak ditempelkan jumlah pesanan dari Ele.me, satu dari dua platform pesan antar terbesar di Tiongkok, yang dipilah menjadi tiga: pesanan ke toko bahan segar dan pasar sayur, ke supermarket, dan ke toko buah.

Jauh dari titik ramai itu, peta menipis. Petak dengan pesanan sedikit umumnya jarang penduduk dan sulit dijangkau angkutan, seperti kawasan industri di seberang Gongqing Forest Park dan kawasan pabrik di Minhang. Petak yang sama sekali tanpa pesanan kebanyakan lahan pertanian di pinggir kota, terutama di sepanjang tepi selatan dekat jalan tol lingkar. Pesanan bahan segar tampak lebih terpencar dan lebih mengikuti sebaran permukiman ketimbang pesanan supermarket dan buah.

Petak Termiskin

Dari peta, para penulis berpindah ke penghuninya. Mereka menghitung seberapa rata pesanan terbagi di antara penduduk, dengan skala nol untuk rata sempurna. Hasilnya 0,436 untuk bahan segar, 0,440 untuk supermarket, dan 0,485 untuk buah. Tidak satu pun mendekati rata. Buah, yang angkanya paling tinggi, adalah belanjaan yang paling timpang pembagiannya.

Lalu petak-petak itu diurutkan menurut porsi warga berpenghasilan rendah, yaitu mereka yang memperoleh kurang dari 4.000 yuan atau 558 dolar AS sebulan, kira-kira satu setengah kali upah minimum bulanan Shanghai. Seperlima penduduk yang tinggal di petak termiskin hanya menyumbang 10,4 persen pesanan bahan segar. Untuk supermarket porsinya 6,2 persen, untuk buah 7,6 persen. Artinya, bagian mereka hanya sekitar separuh, atau kurang, dari yang semestinya bila pesanan terbagi rata.

Seperlima warga, jauh di bawah seperlima pesananSeperlima warga, jauh di bawah seperlima pesananSeperlima warga, jauh di bawah seperlimapesananSeperlima penduduk di petak termiskin ShanghaiPorsi pendudukPorsi pesanan20%10,4%Toko bahan segar20%6,2%Supermarket20%7,6%Toko buahPetak diurutkan menurut porsi warga berpenghasilan di bawah 4.000yuan per bulan.
Sumber: Bochu Liu, Chuhao Liu, Thomas Burgoine, Guangping Chen, Yue Wang, dan Lan Wang, Socioeconomic inequalities in online fresh food delivery use and associations with the neighborhood food environment, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hitungan yang lebih rinci menunjuk arah yang sama. Tiap kali porsi warga berpenghasilan rendah di sebuah petak naik sepuluh poin persentase, laju pesanan bahan segar di petak itu lebih rendah 24,6 persen. Pola serupa muncul pada pesanan supermarket dan buah. Angka-angka itu sudah memperhitungkan jumlah penduduk tiap petak, sehingga yang dibandingkan adalah kerapnya orang memesan, bukan padatnya permukiman.

Para penulis tidak menanyai warga mengapa mereka jarang memesan. Mereka hanya menunjuk kemungkinan yang dicatat riset lain: ongkos kirim, biaya layanan, dan batas belanja minimum yang lebih memberatkan pembeli beranggaran sempit. Ada pula kekhawatiran bahwa harga pangan segar di aplikasi lebih mahal. Kemudahan yang ditawarkan layar ponsel, dengan kata lain, tetap punya harga.

Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen

Rumah Tanpa Mobil

Satu kelompok bergerak ke arah sebaliknya. Di petak yang lebih banyak dihuni warga tanpa mobil pribadi, pesanan justru lebih ramai. Kenaikan sepuluh poin persentase porsi warga tanpa mobil berkaitan dengan laju pesanan bahan segar yang lebih tinggi 15,4 persen. Untuk supermarket kenaikannya 14,0 persen. Untuk buah, 20,5 persen.

Penjelasan yang ditawarkan sederhana. Rumah tangga tanpa mobil boleh jadi merasa layanan antar paling menghemat tenaga dan waktu untuk belanjaan yang besar dan mudah rusak, lalu mengandalkannya untuk belanja rutin. Barang berat tidak perlu lagi dijinjing pulang. Bagi para penulis, pesanan yang ramai di kawasan semacam itu menandakan sebagian kebutuhan pangan segar memang bisa dipenuhi dari layar.

“Bahkan di kota yang kaya angkutan umum seperti Shanghai, layanan antar tampaknya menyediakan saluran alternatif yang layak bagi warga tanpa mobil untuk memperoleh hasil bumi segar,” tulis Bochu Liu dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kalimat itu mereka tempatkan di bagian yang membahas apa arti temuan ini bagi kebijakan kota.

Makin banyak warga tanpa mobil, makin ramai pesananToko bahan segar: Kenaikan laju pesanan +15,4%; Supermarket: Kenaikan laju pesanan +14,0%; Toko buah: Kenaikan laju pesanan +20,5%.Makin banyak warga tanpa mobil, makin ramaipesananKenaikan laju pesanan tiap porsi warga tanpa mobil naik 10 poin5%10%15%20%25%0Toko bahan segar15,4%Supermarket14,0%Toko buah20,5%Pesanan daring satu pekan pada Juni 2024 di 11.581 petak Shanghai.
Sumber: Bochu Liu, Chuhao Liu, Thomas Burgoine, Guangping Chen, Yue Wang, dan Lan Wang, Socioeconomic inequalities in online fresh food delivery use and associations with the neighborhood food environment, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Temuan ini tidak seragam dengan riset di tempat lain. Sebuah studi di Inggris yang dikutip para penulis mendapati hal serupa: ketiadaan mobil mendorong orang memakai layanan antar belanjaan. Sebuah studi di Amerika Serikat mendapati kebalikannya. Liu dan rekan-rekannya menduga perbedaan penduduk, wilayah, dan cara menghitung menjadi sebabnya, sebab mereka menghitung jumlah pesanan, sedangkan studi Amerika itu menghitung jumlah hari dengan sedikitnya satu antaran.

Lansia dan Anak Muda

Usia membelah peta dengan cara yang tidak terduga. Petak dengan lebih banyak penduduk berusia 65 tahun ke atas memesan lebih jarang: tiap kenaikan sepuluh poin persentase berkaitan dengan laju pesanan bahan segar yang lebih rendah 25,0 persen. Namun petak dengan lebih banyak penduduk berusia 18 sampai 34 tahun juga memesan lebih jarang, dengan selisih 18,3 persen.

Untuk lansia, para penulis merujuk alasan yang sudah dikenal dari riset lain. Aplikasi terasa sulit dipakai. Mutu sayur dan buah yang tidak terlihat menimbulkan ragu. Ada pula keinginan melihat dan memegang sendiri barang yang mudah layu sebelum membelinya. Semua itu membuat pasar dan toko tetap menjadi pilihan.

Anak muda lain ceritanya. Mereka dikenal sebagai pemakai awal layanan antar, tetapi yang mereka pesan kebanyakan makanan jadi. Kelompok usia ini berisi mahasiswa dan pekerja pemula yang sering makan dari kantin dan gerai bawa pulang. Bahan mentah untuk dimasak bukan kebutuhan harian mereka, sehingga pesanan sayur dan buah dari kawasan mereka tetap sedikit.

Yang tersisa di tengah adalah orang paruh baya. Para penulis menduga merekalah pemakai inti: orang tua yang terimpit jam kerja panjang, perjalanan pulang-pergi, dan urusan mengasuh, tetapi tetap ingin menyajikan makan bersama dari bahan mentah untuk anak-anak. Pola usianya mereka gambarkan sebagai lengkung, tinggi di tengah dan turun di kedua ujung.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Supermarket Sejarak Jalan Kaki

Peta yang sama juga memuat toko sungguhan. Untuk tiap petak dihitung berapa supermarket, toko bahan segar, toko buah, dan gerai makanan cepat saji yang berada dalam satu kilometer lewat jalan, jarak yang lazim dianggap setara lima belas menit berjalan kaki. Makin banyak toko di sekitar rumah, makin jarang warga memesan lewat aplikasi.

Besarnya kecil tetapi ajek. Satu supermarket tambahan dalam jarak itu berkaitan dengan laju pesanan bahan segar yang lebih rendah 1,4 persen dan pesanan buah yang lebih rendah 1,8 persen. Tambahan toko bahan segar berkaitan dengan penurunan pada ketiga jenis pesanan sekaligus. Jumlah toko buah tidak menunjukkan kaitan apa pun.

Di pinggiran dalam kota, pesanan bahan segar diperkirakan turun 7,9 persen ketika jumlah toko bahan segar di sekitar petak naik dari kelompok seperlima terbawah ke kelompok seperlima keempat. Angka ini disebut para penulis tanpa tabelnya. Bagi mereka, itu tanda bahwa layanan antar bisa menjadi pengganti di tempat yang miskin toko.

Mereka sendiri memberi batas pada tafsir itu. “Bukti ini bersifat keterkaitan, bukan sebab-akibat, namun menunjukkan potensi layanan daring untuk menutup kekurangan dalam lingkungan ritel setempat,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Yang tercatat hanyalah dua hal yang muncul bersamaan di petak yang sama pada pekan yang sama.

Toko fisik ternyata punya peran kedua. Petak yang dikelilingi lebih banyak toko cenderung tidak kosong sama sekali dari pesanan. Satu supermarket tambahan berkaitan dengan peluang nol pesanan supermarket yang lebih rendah 34,2 persen, walau rentang ketidakpastiannya masih mencakup nol. Para penulis membacanya begini: toko adalah tempat pesanan disiapkan, jadi keberadaannya membuat layanan hadir, sekaligus memberi warga pilihan berjalan kaki.

Pasar Sayur Lingkungan

Dari situ para penulis sampai ke pasar. Mereka mengusulkan agar pemerintah Shanghai membuat voucer konsumsi bisa ditukarkan untuk belanja daring di pasar sayur setempat, dan bekerja sama dengan platform untuk menyubsidi atau menghapus ongkos kirim bagi rumah tangga kurang mampu. Platform juga disarankan mendahulukan kawasan yang banyak dihuni warga tanpa mobil.

Usul itu disertai peringatan. Banyak warga berpenghasilan rendah akan tetap berbelanja langsung, sehingga menjaga dan menghidupkan pasar sayur lingkungan mereka sebut penting agar jurang pola makan tidak melebar. Mereka menolak gagasan lingkungan lima belas atau dua puluh menit yang hanya bersandar pada layanan antar. Yang diperlukan adalah toko dan kurir yang saling terhubung.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Batas temuan ini ditulis terang. Yang diukur adalah petak, bukan orang, sehingga perbedaan antarwarga dalam satu petak tidak terlihat dan kesimpulan tentang individu bisa keliru. Datanya hanya sepekan, dari satu platform, dan mencakup sedikitnya 30 persen pesanan tanpa persentase pasti. Sebagian pesanan supermarket pun berisi barang selain pangan segar. Para penulis meminta hasilnya dibaca sebagai perilaku memesan lewat platform, bukan gambaran belanja pangan segar seluruh penduduk.

Angka di Tabel

Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Para penulis menyebut lebih dari separuh dari 11.581 petak mencatat nol pesanan, lalu merincinya: 5.531 petak untuk bahan segar, 4.447 untuk supermarket, dan 4.840 untuk buah. Separuh dari 11.581 adalah 5.790 lebih. Ketiga angka itu berada di bawahnya.

Bagian pembahasan juga menyatakan gerai makanan cepat saji hanya berkaitan dengan pesanan supermarket. Tabel hasilnya memperlihatkan kaitan yang sama, bahkan lebih besar, pada pesanan buah. Selain itu, petak dengan lebih banyak perempuan tercatat memesan bahan segar 40,0 persen lebih jarang untuk tiap kenaikan sepuluh poin persentase, angka terbesar di tabel, tetapi tidak dijelaskan di bagian pembahasan.

Peta itu akhirnya terbaca lain. Changning, Lujiazui, Hongqiao, dan lingkungan kampus di Minhang selatan bukan sekadar tempat kurir paling sibuk. Titik-titik itu menandai warga yang sanggup membayar kemudahan, dan warga tanpa mobil yang paling membutuhkannya. Di tepi selatan dekat jalan tol lingkar, petak-petak lahan pertanian tetap kosong dari pesanan.

Bagikan

Baca Juga

Hampir Tiga dari Empat Orang Kuwait Makan Garam Terlalu Banyak
Migrain Lebih Jarang Datang pada Orang yang Tidurnya Tujuh Jam
Warga Korea yang Tinggal Sendiri Kian Murung dari Muda sampai Tua
Tekanan Kerja Tinggi Justru Membuat Pekerja Norwegia Bertahan
Melanoma di Hungaria Naik Paling Cepat Justru di Daerah Miskin
Tidur Anak di Sekolah Miskin Portugal Mengikuti Dompet Keluarga