- Sebanyak 797 pendidik, atau 56 persen, berada pada kelelahan emosional tinggi atau sedang.
- Sebanyak 313 orang, 21,9 persen, menjawab ingin pergi dalam setahun ke depan.
- Makin tinggi tekanan dari rekan kerja, makin tinggi kelelahan emosional dan makin tinggi depersonalisasi.
- Pendidik yang merasa didukung rekan kerja cenderung merasa lebih berhasil dalam pekerjaannya.
- Semua jawaban diambil pada satu waktu, sehingga tidak ada yang bisa disebut sebab atau akibat.
Daftar Isi
- Lebih dari Separuh Pendidik Mengaku Terkuras, dan Empat dari Lima Merasa Kurang Berhasil
- Kelelahan Itu Ikut Pulang ke Piring Makan, Sepatu Olahraga, dan Jam Tidur
- Rekan yang Mendukung dan Rekan yang Menekan Ternyata Bukan Dua Ujung Satu Garis
- Di Titik Kelelahan, Stres dan Suasana Kerja Mulai Mengikis Niat untuk Tinggal
- Yang Tidak Bisa Dikatakan Survei Ini, dan Kalimat Pendek yang Masih Menunggu Jawaban
Kalimatnya pendek saja: saya merasa terkuras di penghujung hari kerja. Pada musim semi 2023, kalimat itu sampai ke para pendidik anak usia dini berlisensi di Negara Bagian New York, terselip di antara ratusan pertanyaan lain. Sebanyak 1.423 orang menjawab sampai tuntas. Lalu angkanya keluar. Lebih dari separuh mengaku lelah secara emosional, dan 313 orang ingin pergi.
Jawaban itu dihimpun Beatriz A. Carmona, Ligia I. Reyes, Meghan C. Orman, dan Laura L. Bellows dalam artikel A path analysis examination of factors affecting early childhood educators’ health, burnout, and turnover. Artikel berbahasa Inggris itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26, nomor artikel 2532, tahun 2026. Keempatnya bekerja di Division of Nutritional Sciences, Cornell University, dan Reyes juga tercatat di Pennsylvania State University.
Yang menjawab hampir semuanya perempuan, 95 persen. Usia rata-rata mereka 43,6 tahun, dengan yang termuda 18 dan yang tertua 81 tahun. Sepertiga tergolong berpenghasilan rendah. Separuhnya, 49,5 persen, memegang gelar sarjana atau lebih tinggi. Mereka inilah yang sehari-hari mengasuh dan mengajar anak-anak kecil di lembaga berlisensi, pekerjaan yang di tulisan ini disebut guru PAUD.
Lebih dari Separuh Pendidik Mengaku Terkuras, dan Empat dari Lima Merasa Kurang Berhasil
Kelelahan kerja, atau burnout, dalam naskah ini punya tiga wajah. Yang pertama kelelahan emosional, yakni terkurasnya tenaga dan cadangan perasaan. Yang kedua depersonalisasi, rasa sinis dan berjarak dari pekerjaan sendiri. Yang ketiga merosotnya pencapaian pribadi, ketika orang merasa tidak banyak meraih apa pun dan tidak puas pada hasil kerjanya.
Ketiganya muncul dengan takaran berbeda. Sebanyak 797 pendidik, atau 56 persen, berada pada kelelahan emosional tinggi atau sedang. Depersonalisasi tinggi atau sedang dialami 541 orang, 38,1 persen. Angka paling besar justru ada di wajah ketiga. Sebanyak 1.138 pendidik, tepat 80 persen, mencatat pencapaian pribadi rendah atau sedang. Empat dari lima orang.
Lalu soal bertahan. Para pendidik ditanya seberapa mungkin mereka meninggalkan posisinya, lembaganya, atau karier mengajar anak usia dini dalam setahun ke depan. Sebanyak 313 orang, 21,9 persen, menjawab ingin pergi. Kira-kira satu dari lima. Sisanya, 1.110 orang, tidak berniat ke mana-mana.
Angka itu jatuh di ladang yang sudah kering. Menurut naskah, tenaga pendidik anak usia dini di Amerika Serikat berjumlah sekitar dua juta orang, dengan proporsi perempuan tertinggi di antara semua profesi, 97,1 persen. Upah mereka rendah dan tunjangannya terbatas. Sebagian lembaga, tulis keempat peneliti, kehilangan staf sampai 40 persen dalam setahun.
Stres yang mereka rasakan sendiri tidak terlihat meledak-ledak. Hanya 120 orang, 8,6 persen, yang masuk golongan stres tinggi. Sebanyak 929 orang, 65,4 persen, berada di tingkat sedang, dan 370 orang di tingkat rendah. Gambarannya bukan segelintir orang yang ambruk, melainkan dua pertiga tenaga kerja yang terus bekerja di bawah beban sedang.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Kelelahan Itu Ikut Pulang ke Piring Makan, Sepatu Olahraga, dan Jam Tidur
Potong ke meja makan. Sebanyak 1.054 pendidik, 74,1 persen menurut tabel naskah, makan kurang dari dua porsi sehari untuk biji-bijian utuh, sayur, atau buah. Sebanyak 398 orang, 27,9 persen, tidak berolahraga sama sekali dalam sebulan terakhir. Di bagian hasil, naskah juga menyebut 31 persen tidur kurang dari tujuh jam semalam.
Kebiasaan itu tidak berdiri sendiri. Pendidik yang merasa pencapaian pribadinya rendah cenderung lebih jarang bergerak dan lebih buruk mutu makannya. Mereka yang lebih sinis terhadap pekerjaan juga lebih jarang bergerak dan lebih buruk makannya. Kelelahan emosional punya jejak sendiri: makin tinggi kelelahannya, makin rendah aktivitas fisik dan makin pendek tidurnya.
Rekan kerja ikut masuk hitungan. Pendidik yang mendapat lebih sedikit dukungan sosial di tempat kerja tercatat makan lebih buruk dan tidur lebih sedikit. Carmona dan rekan-rekannya membaca pola ini sebagai lingkaran. Tidur, makan, dan gerak yang terganggu dapat memperbesar stres, sehingga kelelahan kerja makin sulit diputus. Mereka lekas menambahkan bahwa arah sebaliknya itu tidak mereka uji langsung.
Ada satu pembanding yang dicatat naskah. Pendidik anak usia dini melaporkan kelelahan emosional yang lebih tinggi bahkan daripada guru sekolah dasar sampai menengah atas. Kelelahan mereka juga disebut tidak sebanding dengan banyak pekerjaan lain. Hal itu menjelaskan mengapa keempat peneliti tidak berhenti pada angka kelelahan, tetapi mengikutinya sampai ke rumah.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Rekan yang Mendukung dan Rekan yang Menekan Ternyata Bukan Dua Ujung Satu Garis
Enam bulan kemudian, pada musim gugur 2023, pertanyaannya berganti. Kali ini tentang ruang guru: siapa yang menyemangati, siapa yang membantu memecahkan masalah, siapa yang memicu konflik, mengucilkan, atau mengabaikan perasaan. Yang pertama disebut dukungan sosial. Yang kedua disebut tekanan sosial. Hanya 263 pendidik yang menjawab dua-duanya.
Skornya tidak ekstrem. Dukungan dari rekan kerja rata-rata 2,0 dari 5, sedangkan tekanan sosial rata-rata 2,5 dari 5. Naskah menyebut keduanya sebagai skor tengah. Kejutannya datang ketika kedua hal itu disandingkan dengan stres dan tiga wajah kelelahan tadi. Dukungan dan tekanan tidak bergerak seperti jungkat-jungkit.
Tekanan sosial berkaitan dengan dua wajah sekaligus. Makin tinggi tekanan dari rekan kerja, makin tinggi kelelahan emosional dan makin tinggi depersonalisasi, dengan koefisien 0,23 dan 0,27. Dukungan sosial hanya menyentuh satu wajah, yaitu pencapaian pribadi. Pendidik yang merasa didukung cenderung merasa lebih berhasil dalam pekerjaannya.
Di hulu semuanya ada stres. Pendidik yang stresnya tinggi tercatat mendapat dukungan lebih rendah, mengalami tekanan sosial lebih tinggi, dan lebih lelah pada ketiga wajah. Kaitan terkuatnya dengan kelelahan emosional, 0,52. Lalu pencapaian pribadi, 0,42 ke arah turun, dan depersonalisasi, 0,26. Ketiga wajah kelelahan itu pada gilirannya berkaitan dengan niat berhenti.
Keempat peneliti menarik satu pelajaran dari pemisahan ini. Banyak upaya di tempat kerja selama ini hanya menambah dukungan. Padahal, menurut riset lain yang mereka rujuk, hubungan yang buruk bisa lebih kuat pengaruhnya daripada hubungan yang baik di lingkungan kerja pengasuhan yang berat. Mereka mencatat pula bahwa dukungan dan tekanan tetap saling berkaitan.
Di Titik Kelelahan, Stres dan Suasana Kerja Mulai Mengikis Niat untuk Tinggal
Di sinilah adegannya memuncak. Stres, rekan yang menekan, piring yang miskin sayur, tidur yang pendek, lalu keinginan untuk pergi: semuanya bertemu di satu simpul. “Kelelahan kerja menandai titik ketika stres kronis dan lingkungan sosial yang tegang mulai mengikis kesehatan, kesejahteraan, dan komitmen profesional para pendidik,” tulis Carmona, Reyes, Orman, dan Bellows dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Akibatnya tidak berhenti pada si pendidik. Menurut naskah, pergantian staf mengganggu kestabilan kelas dan kesinambungan pengasuhan. “Ketika pusat pendidikan anak usia dini tutup karena pergantian staf, banyak orang tua terpaksa mengurangi atau meninggalkan pekerjaan,” tulis keempat peneliti, juga dalam bahasa Inggris. Karena itu mereka menyebut persoalan ini urusan kesehatan masyarakat dan ekonomi.
Tawaran mereka mengikuti peta tadi. Program berbasis kesadaran penuh, sistem saling mengakui antarrekan, dan pelatihan menyelesaikan konflik disebut sebagai contoh yang mungkin meredakan stres sekaligus memperbaiki suasana kerja. Kata yang dipakai tetap hati-hati: mungkin. Naskah ini tidak menguji satu pun program itu.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Yang Tidak Bisa Dikatakan Survei Ini, dan Kalimat Pendek yang Masih Menunggu Jawaban
Batasnya ditulis terang. Semua jawaban diambil pada satu waktu, sehingga tidak ada yang bisa disebut sebab dan tidak ada yang bisa disebut akibat. “Hubungan-hubungan ini karena itu harus ditafsirkan sebagai kaitan, bukan sebagai pengaruh yang berarah atau sebab-akibat,” tulis para peneliti. Rekan yang menekan bisa menaikkan stres, dan stres bisa pula membentuk cara orang berhubungan.
Ada batas lain. Peta stres dan suasana kerja hanya bertumpu pada 263 orang, sehingga ketepatannya lebih rendah daripada bila seluruh 1.423 orang ikut. Upah, jumlah staf, dan sumber daya lembaga tidak diukur pada survei kedua. Survei pun diisi sukarela. Mereka yang paling tenang mungkin tidak ikut mengisi, sehingga beban yang tergambar bisa lebih berat daripada kenyataan.
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa angka yang tidak seragam. Bagian hasil menyebut 72 persen pendidik kurang makan buah, sayur, dan biji-bijian utuh, sedangkan tabelnya mencatat 74,1 persen. Responden kulit putih ditulis 70 persen di teks dan 72,3 persen di tabel. Angka 31 persen yang tidur kurang dari tujuh jam tidak muncul di tabel, yang hanya memuat rata-rata 7,9 jam.
Abstrak dan bagian hasil juga tidak sepenuhnya searah. Abstrak menulis tekanan sosial berkaitan dengan kelelahan emosional dan depersonalisasi yang lebih rendah, sementara bagian hasil menulis lebih tinggi. Kaitan dukungan sosial dengan pencapaian pribadi disebut bermakna di abstrak, tetapi di bagian hasil hanya mendekati bermakna, dengan nilai p 0,075. Tulisan ini mengikuti bagian hasil.
Keempat peneliti meminta survei serupa diulang pada kelompok yang lebih besar dan diikuti dari waktu ke waktu. Awal tahun ajaran dan akhir tahun ajaran, tulis mereka, bisa saja berbeda wataknya. Mereka juga meminta kepemimpinan lembaga, ketersediaan sumber daya, dan kebijakan ikut diukur pada riset berikutnya.
Untuk saat ini, yang ada hanyalah potret musim semi dan musim gugur 2023 di New York. Satu kalimat tentang penghujung hari kerja. Sebanyak 797 orang yang mengaku terkuras. Lalu 313 orang yang, ketika ditanya tentang setahun ke depan, menjawab ingin pergi.















