- Sebanyak 38,3 persen responden sangat mengkhawatirkan ketegangan internasional, lebih dari satu di antara tiga orang.
- Hanya 1,4 persen responden yang sangat khawatir pada COVID-19 atau tindakan untuk menanggulanginya.
- Di kelompok termuda, 21 sampai 27 tahun, 59,6 persen sangat khawatir pada pasar perumahan.
- Orang yang masih sangat khawatir pada korona memiliki rasio peluang 4,63 untuk gangguan jiwa apa pun.
- Kekhawatiran baru ditanyakan sekali, sehingga mana yang datang lebih dulu belum diketahui.
Daftar Isi
- November 2019: nama-nama ditarik dari daftar penduduk
- Sepanjang 2023 dan 2024: ketegangan dunia di urutan teratas
- Pada tahun-tahun yang sama: rumah bagi yang muda, dunia bagi yang tua
- Dua belas bulan ke belakang: diagnosis ikut dicatat
- Sesudah pembatasan dicabut: sedikit orang, kaitan paling kuat
- Dua gelombang data: arah hubungan belum terbaca
Januari 2023, pewawancara kembali mendatangi rumah para responden di Belanda. Mereka membawa enam pertanyaan yang belum pernah diajukan dalam survei kesehatan jiwa itu. Seberapa khawatir Anda hari ini tentang iklim, virus korona, ketegangan internasional, energi, biaya hidup sehari-hari, dan pasar perumahan? Kunjungan berlangsung sampai November 2024.
Jawaban atas enam pertanyaan itu dilaporkan Margreet ten Have, Marlous Tuithof, Saskia van Dorsselaer, Simone Korteling, Laura Shields-Zeeman, dan Annemarie I. Luik dalam artikel berjudul Societal worries and mental disorders in the general population: insights from the Netherlands Mental Health Survey and Incidence Study (NEMESIS). Artikel tersebut dimuat BMC Public Health pada 2026 dan belum diberi nomor volume. Para penulisnya bekerja di Trimbos Institute, Utrecht.
November 2019: nama-nama ditarik dari daftar penduduk
Urutannya bermula lebih awal. Antara November 2019 dan Maret 2022, orang berumur 18 sampai 75 tahun dipilih secara acak dari daftar penduduk Belanda untuk gelombang pertama survei bernama NEMESIS-3. Sebanyak 6.194 orang ikut serta. Pertanyaan tentang kekhawatiran pada persoalan masyarakat waktu itu belum ada dalam daftar.
Tiga tahun kemudian mereka dihubungi lagi. Dari 6.135 orang yang diundang untuk gelombang kedua, 4.688 orang bersedia, atau 76,4 persen. Umur mereka kini 21 sampai 78 tahun. Hampir semua wawancara dilakukan di rumah responden, dan pada gelombang inilah enam pertanyaan tentang kekhawatiran pertama kali diajukan.
Setiap pertanyaan punya empat pilihan jawaban. Orang yang menjawab banyak atau sangat banyak dicatat sebagai khawatir, sedangkan yang menjawab tidak atau sedikit dicatat sebagai tidak khawatir. Tidak ada penjelasan tambahan untuk tiap persoalan. Responden menjawab menurut pengertiannya sendiri.
Sepanjang 2023 dan 2024: ketegangan dunia di urutan teratas
Selama dua tahun itu, ketegangan internasional menempati urutan pertama. Sebanyak 38,3 persen responden sangat mengkhawatirkannya, lebih dari satu di antara tiga orang. Pasar perumahan menyusul dengan 34,0 persen. Dua persoalan itulah yang oleh para penulis disebut dicemaskan lebih dari sepertiga orang dewasa Belanda.
Tiga persoalan berikutnya berada di kisaran seperempat. Iklim dikhawatirkan 28,3 persen responden, biaya hidup sehari-hari 27,5 persen, dan pasokan serta harga energi 25,9 persen. Rata-rata, satu orang menanggung 1,6 kekhawatiran dari enam yang ditanyakan.
Virus korona berada jauh di bawah. Hanya 1,4 persen responden yang sangat khawatir pada COVID-19 atau tindakan untuk menanggulanginya. Para penulis mencatat bahwa angka penularan sudah relatif rendah dan tindakan pengendalian infeksi sudah dihentikan sejak 2022, sebelum wawancara gelombang kedua dimulai.
Keenam kekhawatiran itu tidak selalu datang bersama. Kaitan di antara mereka lemah. Yang paling erat adalah energi dengan biaya hidup sehari-hari, dengan angka korelasi 0,46, disusul iklim dengan ketegangan internasional, 0,35. Kekhawatiran pada korona hampir tidak berkaitan dengan lima lainnya; angkanya hanya 0,04 sampai 0,07.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Pada tahun-tahun yang sama: rumah bagi yang muda, dunia bagi yang tua
Siapa mencemaskan apa ikut tercatat. Perempuan lebih khawatir daripada laki-laki pada semua persoalan kecuali korona. Untuk pasar perumahan, angkanya 36,9 persen pada perempuan dan 31,1 persen pada laki-laki. Untuk biaya hidup, 29,6 persen berbanding 25,4 persen. Rata-rata perempuan menanggung 1,7 kekhawatiran, laki-laki 1,4.
Umur membelah daftar itu menjadi dua. Di kelompok termuda, 21 sampai 27 tahun, 59,6 persen sangat khawatir pada pasar perumahan, hampir enam dari sepuluh orang. Di kelompok tertua, 68 sampai 78 tahun, angkanya 27,2 persen. Biaya hidup dicemaskan 35,8 persen orang termuda dan 20,8 persen orang tertua.
Arahnya berbalik pada tiga persoalan lain. Orang yang lebih muda kurang khawatir pada iklim, ketegangan internasional, dan energi dibanding orang yang lebih tua. Di kelompok 68 sampai 78 tahun, 51,8 persen sangat khawatir pada ketegangan internasional. Jumlah kekhawatiran paling sedikit tercatat pada orang berumur 28 sampai 47 tahun.
Pekerjaan dan pendidikan memberi garis berikutnya. Di antara orang yang menganggur atau tidak mampu bekerja, 54,3 persen sangat khawatir pada biaya hidup, dibanding 25,2 persen pada orang yang bekerja. Rata-rata mereka menanggung 2,0 kekhawatiran. Orang berpendidikan dasar atau menengah bawah lebih cemas pada energi dan biaya hidup, tetapi kurang cemas pada iklim.
Susunan rumah tangga juga terbaca. Orang tua tunggal mencatat 41,9 persen untuk biaya hidup dan 43,7 persen untuk pasar perumahan. Di antara mahasiswa, 55,2 persen sangat khawatir pada perumahan. Secara keseluruhan, perempuan, orang tanpa pasangan atau anak, orang tanpa pekerjaan berbayar, dan warga kota menanggung kekhawatiran lebih banyak.
Dua belas bulan ke belakang: diagnosis ikut dicatat
Dalam kunjungan yang sama, pewawancara menelusuri gangguan jiwa yang dialami responden selama dua belas bulan sebelumnya. Ada tiga kelompok: gangguan suasana hati seperti depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan penggunaan zat, yakni alkohol dan obat-obatan. Dari 4.688 orang, 787 mengalami sedikitnya satu di antaranya.
Kedua catatan itu lalu disandingkan. Orang yang khawatir pada satu persoalan masyarakat lebih mungkin mengalami gangguan jiwa daripada yang tidak khawatir. Setelah umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan keadaan rumah tangga diperhitungkan, rasio peluangnya berkisar dari 1,38 sampai 4,63.
Kekhawatiran pada ketegangan internasional, energi, dan pasar perumahan berkaitan dengan ketiga kelompok gangguan sekaligus. Untuk gangguan jiwa apa pun, rasio peluangnya 1,58 pada ketegangan internasional, 1,58 pada energi, dan 1,38 pada perumahan. Menurut para penulis, kaitan ketegangan internasional dengan diagnosis belum pernah diperiksa lewat wawancara diagnostik.
Iklim dan biaya hidup memberi pola yang tidak penuh. Kekhawatiran pada iklim berkaitan dengan gangguan kecemasan, rasio peluang 1,47, dan gangguan penggunaan zat, 1,83, tetapi tidak dengan gangguan suasana hati. Kekhawatiran pada biaya hidup berkaitan dengan gangguan suasana hati, 1,72, dan kecemasan, 1,81, tetapi tidak dengan penggunaan zat.
Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur
Sesudah pembatasan dicabut: sedikit orang, kaitan paling kuat
Kelompok terkecil justru mencatat angka terbesar. Orang yang pada 2023 dan 2024 masih sangat khawatir pada korona memiliki rasio peluang 4,63 untuk gangguan jiwa apa pun. Untuk gangguan suasana hati angkanya 5,61, untuk penggunaan zat 4,27, dan untuk kecemasan 2,68. Tidak ada kekhawatiran lain yang mendekati angka itu.
Para penulis menyebut orang yang tetap khawatir pada masa sesudah pandemi itu mungkin kelompok yang sangat rentan. Mereka mengajukan beberapa dugaan. Sebagian mungkin menderita long COVID, yang gejalanya sebagian tumpang-tindih dengan gangguan jiwa. Survei tidak memiliki data long COVID, sehingga dugaan itu tidak dapat diuji.
Dugaan kedua, mereka adalah orang yang memang menanggung tekanan batin atau kecemasan pada kesehatan. Dugaan ketiga, kekhawatiran pada korona mencerminkan kepekaan yang lebih luas terhadap ancaman yang tidak terlihat dan tidak terduga. Namun lemahnya kaitan korona dengan lima kekhawatiran lain, menurut naskah, membuat dugaan terakhir itu tidak menjelaskan semuanya.
Hitungan berikutnya menjumlahkan kekhawatiran tiap orang. Makin banyak yang ditanggung, makin besar peluang gangguan. “Setiap tambahan satu kekhawatiran berkaitan dengan kenaikan 24 persen dalam kemungkinan mengalami gangguan jiwa umum apa pun,” tulis ten Have dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Untuk gangguan suasana hati kenaikannya 28 persen, kecemasan 27 persen, dan penggunaan zat 25 persen.
Dua gelombang data: arah hubungan belum terbaca
Mana yang datang lebih dulu belum diketahui. Kekhawatiran baru ditanyakan sekali, bersamaan dengan pencatatan diagnosis. “Karena itu, kami tidak dapat menarik kesimpulan tentang arah hubungan yang teramati antara kekhawatiran pada persoalan masyarakat dan gangguan jiwa,” tulis para penulis. Keterbatasan itu mereka sebut sendiri.
Empat kemungkinan mereka biarkan terbuka. Kekhawatiran bisa memperbesar peluang gangguan jiwa. Gangguan jiwa bisa mempertajam kekhawatiran pada persoalan masyarakat. Keduanya bisa bersumber dari penyebab yang sama. Atau ketiganya bekerja bersamaan. Data yang ada tidak dapat memilih salah satu.
Batas lain ikut dicatat. Survei tidak menjangkau orang yang kurang fasih berbahasa Belanda, orang tanpa alamat tetap, dan penghuni lembaga, sehingga temuannya tidak berlaku bagi mereka. Tiap kekhawatiran diukur dengan satu pertanyaan yang belum diuji secara resmi. Alat diagnosis yang dipakai pun merupakan versi yang sedikit diubah dan belum dievaluasi.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Karena itu para penulis menahan diri soal jalan keluar. Mereka menyebut beberapa hal yang layak diteliti, antara lain kelompok dukungan sebaya bagi orang yang kesulitan keuangan atau perumahan dan terapi perilaku kognitif. “Namun, temuan saat ini tidak memungkinkan kesimpulan tegas tentang tanggapan klinis, komunitas, atau kebijakan mana yang paling tepat,” tulis mereka.
Naskah yang beredar pada 2026 adalah versi yang sudah diterima jurnal tetapi belum disunting akhir. Dua hal di dalamnya dapat diperiksa pembaca. Bagian hasil menulis bahwa sebagian besar responden, 77,2 persen, berpendidikan tinggi. Tabel pertama mencatat pendidikan tinggi 36,7 persen dan menengah atas 40,5 persen, yang bila dijumlahkan menjadi 77,2.
Hal kedua menyangkut kata. Pertanyaan kepada responden menyebut iklim saja, tanpa penjelasan. Bagian pembahasan menuliskannya sebagai kekhawatiran pada perubahan iklim. Naskah sendiri mencatat bahwa responden menjawab menurut tafsir masing-masing, sehingga kedua istilah itu belum tentu sama isinya.
Catatan berhenti di November 2024, pada akhir gelombang kedua. Enam pertanyaan itu baru diajukan satu kali. Urutan antara cemas dan sakit menunggu wawancara berikutnya.















