- Lalat hitam dewasa hanya menggigit pada siang hari, dan di keempat kampung gigitannya datang dalam dua gelombang.
- Di hulu, aliran alami sungai menopang populasi lalat yang besar, sedangkan di bagian tengah dan hilir jumlah lalat bergantung pada pelepasan air dari Bendungan Asejire.
- Puncak sore yang lebih tinggi daripada puncak pagi mereka sebut sebagai ciri lalat sabana.
- Angka gigitan, dengan demikian, lebih tepat dibaca sebagai ukuran paparan dan gangguan.
Daftar Isi
- Sebelum Azeez: ambang seribu gigitan setahun
- Yang ditemukan Azeez dan rekan di empat kampung
- Dua jam sibuk, sejalan dengan catatan Busari 2021
- Dari 30 gigitan sehari ke puluhan ribu setahun
- Di antara Osun-Ekiti dan lembah sungai Kamerun
- Gangguan yang berdiri sendiri, menurut Azeez dan rekan
- Yang belum terjawab pada 2026
Selama puluhan tahun, lalat hitam di Afrika Barat dipandang terutama sebagai kendaraan cacing penyebab onkoserkiasis, penyakit yang ditandai kebutaan dan kulit yang kehilangan warnanya. Di Negara Bagian Oyo, Nigeria, obat massal dibagikan sejak 1991, dan pada 2022 penularan di sana diduga sudah terputus. Di tetangganya, Osun, penularan aktif tercatat bertahan sampai 2015. Namun, di empat kampung yang mengapit Bendungan Asejire, tepat di perbatasan kedua negara bagian itu, lalatnya sendiri belum ke mana-mana.
Itulah yang dilaporkan Dauda Ishola Azeez, Fatimah Oluwakemi Abdussalam, Enan Adamani, Kamilu Ayo Fasasi, Olabanji Ahmed Surakat, Joseph Kumbur, Juliana Amanyi-Enegela, Omoi Samuel, Kehinde Olutoyin Ademolu, Quadri Olusegun Adeshina, dan Monsuru Adebayo Adeleke dalam artikel Public health impact of nuisance biting blackfly (Simulium damnosum s.l.) along the Asejire dam in Southwest, Nigeria, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2556 pada 2026. Sebagian besar penulis bekerja di Osun State University, Osogbo, sebagian lain di lembaga CBM International di Abuja.
Selama setahun, dari Desember 2024 sampai November 2025, lalat yang hinggap di kaki para penangkap di tepi sungai dikumpulkan dan dihitung, tiga hari setiap bulan, dari pukul tujuh pagi sampai enam sore. Hasilnya 9.857 ekor, semuanya dikenali sebagai Simulium damnosum s.l., kelompok lalat hitam yang menurut naskah itu paling banyak menimpa masyarakat Afrika. Angka itu menjadi pintu masuk ke pertanyaan yang lebih tua daripada penelitian ini.
Sebelum Azeez: ambang seribu gigitan setahun
Ukuran yang lama dipegang, sebagaimana dikutip para penulis dari panduan Organisasi Kesehatan Dunia, sederhana saja. Di kawasan sabana, kurang dari 1.000 gigitan per orang per tahun dianggap dapat diterima, sedangkan angka di atasnya dipandang sudah menjadi gangguan. Untuk hitungan harian, patokannya sekitar 30 gigitan per orang. Patokan harian itu, menurut naskah, dikutip dari program pengendalian onkoserkiasis Organisasi Kesehatan Dunia, dan gigitan di atasnya dipandang sebagai paparan berlebih.
Keyakinan itu kemudian digoyang dari dua arah. Stapley dan rekan-rekannya, menurut naskah ini, menunjukkan bahwa penularan dapat bertahan pada angka yang sangat rendah, kira-kira 70 sampai 300 gigitan per orang per tahun, bergantung pada jumlah penduduk dan ketidakrataan paparan. Sebuah laporan pada 2021 menambahkan bahwa parasit bisa mapan di suatu komunitas meski gigitan sedikit, sehingga risiko tertular kembali setelah obat massal dihentikan lebih besar daripada yang semula diandaikan.
Di sisi lain, para penulis mencatat bahwa angka 1.000 itu sendiri bukan kriteria resmi untuk menyatakan suatu wilayah bebas penyakit. Kriteria Organisasi Kesehatan Dunia menekankan seberapa banyak lalat yang membawa parasit, dengan ambang yang kerap disebut paling banyak 0,05 persen, atau lima ekor di antara 10.000. Angka gigitan, dengan demikian, lebih tepat dibaca sebagai ukuran paparan dan gangguan.
Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat
Yang ditemukan Azeez dan rekan di empat kampung
Empat kampung itu dipilih karena sungai melewati masing-masing. Aro berada di tepi Sungai Oba dan Molosun di tepi Sungai Osun, keduanya di Negara Bagian Osun dan di hulu bendungan. Dua sungai itu bertemu di perbatasan dan membentuk bendungan. Olukeye, di Negara Bagian Oyo, adalah kampung tempat bendungan itu berdiri, sedangkan Jago terletak jauh di hilir dan menerima air yang dilepas dari bendungan.
Lalat paling banyak tertangkap di hulu. Aro menyumbang 3.601 ekor dan Molosun 3.084 ekor, sehingga Osun memegang 6.685 ekor atau 67,82 persen dari seluruh tangkapan, kira-kira dua dari setiap tiga lalat. Dari sisi Oyo terkumpul 3.172 ekor, yakni 2.012 di Jago dan 1.160 di Olukeye. Meski begitu, uji statistik para penulis tidak menemukan perbedaan bermakna di antara keempat lokasi, dengan nilai P 0,325.
Kalender tangkapan memperlihatkan musim yang tegas. Februari hanya menghasilkan 87 ekor dari keempat kampung, dan pada Maret tidak seekor pun tertangkap di Aro. Jumlahnya naik pada Juni menjadi 948, melonjak ke 1.349 pada September, lalu memuncak pada Oktober dengan 2.498 ekor dan November dengan 2.486 ekor. Pada November itu Aro dan Molosun masing-masing mencatat 1.200 dan 1.205 ekor, sementara Olukeye hanya tujuh.
Para penulis membaca pola itu dari letak kampung terhadap bendungan. Di hulu, aliran alami sungai menopang populasi lalat yang besar, sedangkan di bagian tengah dan hilir jumlah lalat bergantung pada pelepasan air dari Bendungan Asejire. Mereka menyebut gejala serupa pernah dilaporkan di tempat lain, termasuk di Bendungan Merowe di Sudan, yang dikaji Zarroug dan rekan-rekannya.
Dua jam sibuk, sejalan dengan catatan Busari 2021
Lalat hitam dewasa hanya menggigit pada siang hari, dan di keempat kampung gigitannya datang dalam dua gelombang. Gelombang pagi jatuh pada pukul 09.00 sampai 11.00 di Molosun, Aro, dan Olukeye, serta sampai pukul 12.00 di Jago dan Aro. Gelombang sore berlangsung pukul 15.00 sampai 18.00 di Jago, Molosun, dan Olukeye, dan sampai pukul 17.00 di Aro dan Olukeye. Di antaranya, sekitar pukul 12.00 sampai 15.00 ketika suhu sangat tinggi, gigitan mereda.
Pola itu, tulis para penulis, sejalan dengan laporan Busari dan rekan-rekannya pada 2021 dari Alabameta, juga di Negara Bagian Osun. Puncak sore yang lebih tinggi daripada puncak pagi mereka sebut sebagai ciri lalat sabana. Ada pula pengecualian: di Molosun pada musim hujan dan di Olukeye pada musim kering hanya tampak satu puncak, sesuai dengan catatan Zarroug dan rekan-rekannya dari Sudan.
Jam-jam itu penting karena bertepatan dengan pekerjaan warga. Naskah itu menyebut pengambilan air, pemeliharaan ternak, dan panen hasil ladang sebagai kegiatan yang mempertemukan manusia dengan lalat. Hujan, menurut riset yang mereka kutip, menekan gigitan pada sore hari, dan angin yang sangat kencang dapat menghalau lalat sehingga gigitan berkurang.
Baca juga Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang
Dari 30 gigitan sehari ke puluhan ribu setahun
Dalam teks naskah, angka gigitan harian di Aro bergerak dari nol sampai 200 gigitan per orang, dan di Molosun dari 0,67 sampai 200,83. Di sisi Oyo angkanya lebih rendah, sampai 88,33 di Olukeye dan 173,33 di Jago. Aro dan Molosun berada di bawah patokan 30 gigitan sehari pada Februari, Maret, dan April, bulan-bulan yang menurut para penulis bisa berarti lalat tidak menjadi gangguan serius.
Di Oyo polanya tidak teratur. Olukeye melampaui patokan harian hanya pada April, September, dan Oktober, sedangkan Jago pada Maret, Juni, September, dan Oktober. Bila dihitung per bulan, Aro bergerak dari nol pada Maret ke 12.000 gigitan per orang pada November, dan Molosun dari 41,33 ke 12.050. Olukeye berkisar dari 40 pada Juni sampai 5.476,67 pada Oktober, dan Jago dari 62 pada Desember sampai 10.746,67 pada Oktober.
Angka setahunnya jauh meninggalkan ambang 1.000. Aro mencatat 36.471,67 gigitan per orang per tahun, lebih dari tiga puluh enam kali ambang itu, dan Molosun 31.235,38. Jago mencatat 18.830,25 dan Olukeye 10.856,41, sehingga kampung yang paling ringan pun masih lebih dari sepuluh kali ambang. Untuk seluruh perbatasan Oyo-Osun, para penulis menuliskan angka 99.939,03.
Di antara Osun-Ekiti dan lembah sungai Kamerun
Para penulis lalu menaruh angka mereka di samping catatan lain. Di perbatasan Osun-Ekiti, masih di barat daya Nigeria, penelitian Dauda dan rekan-rekannya melaporkan 10.231,8 gigitan per orang per tahun dan 3.160 per bulan. Di lembah Sungai Imo angkanya 3.096 sampai 3.534 per bulan, di Kachia, Negara Bagian Kaduna, 5.177 sampai 5.807, dan di kantong onkoserkiasis yang bertahan di Ghana 4.960 sampai 6.169.
Di ujung lain berdiri lembah-lembah sungai Kamerun, wilayah yang disebut hiperendemik, dengan gigitan bulanan yang kerap melampaui 30.000 sampai 50.000 dan angka tahunan 530.322 dalam laporan Fodjo dan rekan-rekannya. Angka Asejire, kata para penulis, melampaui Osun-Ekiti tetapi masih di bawah Kamerun. Perbedaan itu mereka kaitkan dengan keadaan air setempat, susunan jenis lalat, dan suburnya tempat berbiak.
Gangguan yang berdiri sendiri, menurut Azeez dan rekan
Di sinilah naskah itu bergeser dari cara pandang lama. Gigitan yang berlebihan, tulis para penulis, adalah beban kesehatan tersendiri yang tetap ada bahkan sesudah penularan parasit terputus. Setiap gigitan memasukkan zat dari liur lalat yang memicu radang kulit berat, gatal, reaksi alergi setempat, dan infeksi bakteri akibat garukan. Mereka juga menyebut reaksi menyeluruh yang dinamai demam lalat hitam.
Akibatnya merembet ke luar kulit. Naskah itu menyebut tidur yang terganggu, kelelahan, dan turunnya produktivitas kerja, lalu kegiatan bertani, menangkap ikan, dan mengambil air yang dihindari pada jam-jam puncak. Kehadiran di sekolah disebut menurun karena anak-anak menghindari paparan, dan pertemuan sosial maupun keagamaan dibatasi. Naskah itu juga menyebut tekanan batin, berupa rasa cemas dan rasa rentan pada warga yang terus-menerus terpapar.
“Dampak kesehatan masyarakat dan sosial-ekonomi dari gangguan gigitan lalat hitam tidak dapat dilebih-lebihkan,” tulis Dauda Ishola Azeez dari Osun State University bersama sepuluh rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dari sana mereka meminta pemerintah kedua negara bagian memperkuat pengawasan dan pengendalian lalat, antara lain dengan membasmi jentik di tempat berbiak, penolak serangga, dan pakaian pelindung, yang dipusatkan pada jam gigitan pagi dan sore.
Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Yang belum terjawab pada 2026
Batas penelitian ini diakui terang. Lalat yang tertangkap tidak diperiksa apakah membawa cacing Onchocerca volvulus, dan jenis-jenis kerabat di dalam kelompok Simulium damnosum tidak ditentukan, karena keduanya di luar cakupan dan sumber daya yang tersedia. “Akibatnya, tetap tidak diketahui apakah lalat hitam yang tertangkap selama masa survei sedang aktif menularkan onkoserkiasis,” tulis mereka.
Ada pula beberapa hal yang dapat dicocokkan sendiri oleh pembaca. Tabel gigitan harian memuat 400,00 untuk Aro pada November, 346,67 untuk Jago pada Oktober, dan 176,67 untuk Olukeye pada Oktober, dua kali lipat dari batas atas yang tertulis di teks. Keempat angka tahunan bila dijumlahkan menghasilkan 97.393,71, bukan 99.939,03. Abstrak juga menyebut gigitan bulanan di atas 1.000 di setiap lokasi, padahal Aro mencatat nol pada Maret.
Penelitian ini, dengan begitu, mengisi satu ruas dalam rangkaian yang panjang. Riset-riset sebelumnya menetapkan ambang, lalu meragukannya, lalu memindahkan perhatian ke lalat yang membawa parasit. Azeez dan rekan-rekannya menambahkan hitungan setahun dari tepi sebuah bendungan, tempat obat sudah lama dibagikan tetapi lalat masih hinggap di kaki orang pada pukul sembilan pagi dan tiga sore. Apakah lalat itu masih membawa penyakit adalah ruas berikutnya, yang oleh naskah ini dibiarkan terbuka.














