- Kelompok dengan ruang hijau terluas dalam radius 300 meter punya rasio bahaya 0,81 dibanding kelompok tersempit.
- Peserta dengan ruang biru terluas dalam radius 300 meter punya rasio bahaya 1,33, dan 1,62 pada radius 1.000 meter.
- Peserta dengan ruang hijau luas dan ruang biru sempit mencatat risiko paling rendah, yaitu rasio bahaya 0,50.
- Luas kebun rumah tangga di sekitar rumah tidak berkaitan dengan risiko penyakit ini.
- Rancangan studi ini observasional, sehingga membatasi penarikan kesimpulan sebab-akibat.
Daftar Isi
Ying Zhao dan tujuh rekannya menarik dua lingkaran khayal di sekeliling rumah ratusan ribu orang di Inggris, Skotlandia, dan Wales. Satu berjari-jari 300 meter, satu lagi 1.000 meter. Di dalam tiap lingkaran mereka menghitung berapa persen lahannya berupa ruang hijau dan berapa persen berupa air, lalu mencocokkannya dengan catatan medis: siapa yang kemudian terkena eksim atopik.
Hasil kerja itu ditulis Wei Zou, Huimin Chen, Yongmei Wu, Li Chen, Yu Wang, Ping Yao, Yuhan Tang, dan Ying Zhao dalam artikel The associations between residential environment and atopic dermatitis of adults: a prospective cohort study. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 906 tahun 2026. Zhao, penulis korespondensi, bekerja di School of Public Health, Kunming Medical University, Yunnan.
Bagi Zou dan rekan-rekannya, dermatitis atopik bukan perkara kulit kering biasa. Mereka menggambarkannya sebagai salah satu penyakit kulit meradang yang paling umum, ditandai pelindung kulit yang terganggu dan respons kekebalan yang tidak normal. Gatal hebat dan ruamnya, tulis mereka, bisa sangat melumpuhkan. Penderitanya juga menghadapi gangguan tidur, masalah kesehatan jiwa, serta turunnya kepuasan hidup dan produktivitas kerja.
Yang mendorong Zhao dan tim adalah satu celah. Polusi udara, alergen, dan iklim makin sering disebut ikut berperan dalam penyakit ini, sementara rumah yang sesak, kurang terawat, dan berjamur dicatat dapat memperparah gejalanya. Namun, apakah taman, hutan, sungai, dan danau di sekitar rumah berkaitan dengan siapa yang terkena, menurut mereka, belum banyak dijelajahi.
Chen, Wu, dan Wang membaca lahan di sekitar 422.899 rumah
Bahan yang dipakai Huimin Chen, Yongmei Wu, dan Yu Wang, tiga penulis yang mengerjakan analisis, berasal dari UK Biobank. Proyek itu merekrut warga berusia 40 sampai 69 tahun di Inggris, Skotlandia, dan Wales pada 2006 hingga 2010. Dari sana tersaring 422.899 orang yang belum pernah terkena dermatitis atopik. Usia rata-rata mereka 56,6 tahun, dan 54,3 persen di antaranya perempuan.
Empat jenis lahan dihitung Chen dan rekan di tiap lingkaran. Ada ruang hijau, yang dalam naskah dicontohkan sebagai taman dan hutan. Ada ruang biru, yaitu danau, sungai, dan kawasan pesisir. Lalu lingkungan alami dan kebun rumah tangga, masing-masing dihitung tersendiri. Semuanya dinyatakan sebagai persentase dari seluruh penggunaan lahan di dalam lingkaran itu.
Angka yang didapat Wu dan rekan memperlihatkan betapa timpangnya dua warna itu. Dalam radius 300 meter dari rumah, nilai tengah ruang hijau peserta 29,5 persen, sedangkan ruang biru hanya 0,1 persen. Pada radius 1.000 meter, ruang hijau menjadi 41,4 persen dan ruang biru 0,5 persen. Air, dengan kata lain, hanya secuil dari lanskap di sekitar rumah kebanyakan peserta.
Selama masa pengamatan dengan nilai tengah 12,45 tahun, Zhao dan tim mencatat 2.462 kasus baru dermatitis atopik. Mereka yang terkena cenderung lebih tua dan lebih banyak yang merokok. Aktivitas fisik mereka lebih rendah. Indeks Townsend mereka, ukuran kemiskinan wilayah tempat tinggal, lebih tinggi daripada peserta yang tidak terkena.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Yang dilihat Huimin Chen di sisi hijau
Perbedaan pertama sudah terlihat Chen dan rekan-rekannya sebelum hitungan yang lebih rumit dimulai. Rumah orang yang kemudian terkena dermatitis atopik dikelilingi ruang hijau lebih sedikit: nilai tengahnya 27,4 persen dalam radius 300 meter, dibanding 29,5 persen pada yang tidak terkena. Lingkungan alami di sekitar mereka pun lebih sempit, 16,1 persen berbanding 19,2 persen.
Pola itu bertahan dalam hitungan Wu dan rekan setelah usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, etnis, kemiskinan wilayah, rokok, alkohol, dan aktivitas fisik ikut diperhitungkan. Peserta dibagi empat kelompok menurut luas ruang hijau dalam radius 300 meter. Kelompok dengan ruang hijau terluas punya rasio bahaya 0,81 dibanding kelompok tersempit. Angka di bawah satu berarti risikonya lebih rendah.
Zou dan timnya juga mendapati tangga yang rapi di antara keempat kelompok itu. Rasio bahayanya turun bertahap, dari 0,88 pada kelompok kedua, 0,86 pada kelompok ketiga, hingga 0,81 pada kelompok keempat. Lingkungan alami dalam radius yang sama menunjukkan arah serupa dan sedikit lebih kuat, dengan rasio 0,76 pada kelompok yang paling luas.
Ada dua hal yang tidak ikut bergerak dalam tabel Chen dan rekan. Ruang hijau dalam radius 1.000 meter tidak menunjukkan kaitan yang bermakna secara statistik; rasio kelompok terluasnya 0,91, dengan rentang ketidakpastian yang masih melewati angka satu. Kebun rumah tangga juga begitu. Baik pada 300 meter maupun 1.000 meter, luas kebun di sekitar rumah tidak berkaitan dengan risiko penyakit ini.
Di sisi biru, hitungan tim Zhao berbalik arah
Lalu Zhao dan rekan sampai pada air, dan arah hitungannya berbalik. Peserta dengan ruang biru terluas dalam radius 300 meter punya rasio bahaya 1,33 dibanding kelompok dengan ruang biru tersempit. Ketika lingkarannya dilebarkan menjadi 1.000 meter, angkanya naik lagi menjadi 1,62. Keduanya kokoh secara statistik.
Kaitan itu, menurut Wu dan rekan, tidak berbentuk garis lurus. Dua kelompok terbawah nyaris tak berbeda, dan kenaikan baru tampak pada kelompok ketiga dan keempat. “Paparan ruang hijau yang lebih tinggi ditemukan bersifat melindungi terhadap dermatitis atopik, sedangkan paparan ruang biru yang lebih tinggi mungkin meningkatkan risikonya,” tulis Wei Zou dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Temuan tersebut berseberangan dengan hampir semua riset terdahulu yang dirujuk tim Zhao, sebab riset-riset itu memuji air. Ruang biru dikaitkan dengan kesehatan jiwa yang lebih baik, hipertensi yang lebih jarang, aktivitas fisik, dan pergaulan sosial. “Studi kami mengidentifikasi potensi untung-rugi dermatologis yang selama ini kurang mendapat perhatian,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Baca juga Kelembapan Terlalu Rendah atau Tinggi Naikkan Risiko Artritis
Ketika Wu dan rekan menggabungkan dua warna
Chen, Wu, dan Wang kemudian menggabungkan hijau dan biru. Sebagai pembanding mereka memakai peserta yang rumahnya miskin ruang hijau tetapi kaya ruang biru. Kelompok sebaliknya, peserta dengan ruang hijau luas dan ruang biru sempit, mencatat risiko paling rendah: rasio bahaya 0,50 dalam radius 300 meter dan 0,61 dalam radius 1.000 meter.
Zhao dan tim lalu menguji apakah hasil itu rapuh. Ruang hijau dan ruang biru saling dikendalikan satu sama lain, dan hasilnya tidak banyak berubah. Begitu pula ketika mereka hanya menghitung peserta yang sudah tinggal lebih dari lima tahun di alamat yang sama, atau mengeluarkan kasus yang muncul dalam dua tahun pertama pengamatan.
Satu kelompok menarik perhatian Zou dan rekan: peminum alkohol aktif, yang mencakup 91,6 persen peserta. Pada mereka, kaitan ruang biru dengan naiknya risiko lebih kuat, dan kaitan ruang hijau dengan turunnya risiko juga lebih kuat. Kaitan ruang hijau dan lingkungan alami pun lebih tegas pada peserta yang tidak merokok dan yang indeks massa tubuhnya lebih rendah.
Dugaan yang ditawarkan Tang dan Yao, serta batas yang mereka akui
Mengapa air? Yuhan Tang, Ping Yao, dan rekan-rekan tidak mengukurnya; mereka hanya menawarkan dugaan. Kelembapan dapat mengganggu pelindung kulit. Perairan membawa alergen seperti serbuk sari atau ledakan alga. Kedekatan dengan badan air juga bisa menaikkan risiko banjir, yang merusak rumah dan memperpanjang paparan jamur, pemicu yang sudah dikenal memperparah dermatitis atopik.
Untuk ruang hijau, Zou dan rekan menunjuk riset terdahulu tentang stres yang mereda, aktivitas fisik, dan respons kekebalan yang membaik. Mereka sendiri memasang pagar. Serbuk sari adalah pemicu yang dikenal bagi sebagian orang, sedangkan jenis tumbuhan dan musim serbuk sari tidak tercatat dalam data. Kaitan yang melindungi itu, tulis mereka, kemungkinan berlapis dan bergantung pada konteks.
Soal peminum, tafsir Zhao dan tim bertumpu pada kulit. Alkohol, tulis mereka, diketahui melebarkan pembuluh darah, menaikkan zat pemicu peradangan, dan mengganggu fungsi pelindung kulit. Kulit yang sudah lemah itu mungkin lebih mudah ditembus pemicu dari lingkungan lembap, sementara ruang hijau mungkin menjadi penyangga bagi tubuh yang sedang meradang.
Batasnya ditulis Zhao dan rekan tanpa berbelit. “Pertama, rancangan studi ini observasional, sehingga membatasi penarikan kesimpulan sebab-akibat,” tulis mereka dalam bahasa Inggris. Perancu yang tersisa dan arah kaitan yang terbalik tidak bisa disingkirkan. Luas lahan dihitung dari data wilayah, bukan dari berapa lama seseorang benar-benar berada di taman atau tepi air, dan polusi udara setempat tidak masuk hitungan.
Tim Zou juga tidak punya data keparahan penyakit; yang dihitung hanya kasus baru yang didiagnosis tenaga kesehatan. Pesertanya, menurut mereka, sebagian besar keturunan Eropa, sehingga hasilnya terbatas untuk digeneralisasi. Mereka meminta riset berikutnya mengulanginya pada populasi yang lebih beragam, dengan ukuran paparan yang lebih tepat untuk tiap orang.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Yang janggal dalam naskah Zou dan rekan
Ada beberapa hal dalam naskah Zou dan rekan yang dapat diperiksa pembaca. Tabel karakteristik peserta mencantumkan 93,6 persen peserta sebagai bukan kulit putih dan 5,8 persen kulit putih. Padahal badan naskah menyebut penderita lebih banyak yang berkulit putih, dan peserta UK Biobank sebagian besar keturunan Eropa. Label kedua baris itu tampaknya tertukar.
Hal kedua menyangkut jarak. Zhao dan tim menulis bahwa ruang biru mungkin menaikkan risiko terutama bila letaknya lebih dekat ke rumah, sementara tabel mereka menunjukkan rasio yang lebih besar pada radius 1.000 meter, yakni 1,62, daripada radius 300 meter, 1,33. Selain itu, nama Dzhambov disebut dalam pembahasan dengan nomor rujukan yang di daftar pustaka memuat penulis lain.
Dua lingkaran yang ditarik Ying Zhao dan rekan-rekannya pada akhirnya memuat dua cerita yang berlawanan. Di dalam lingkaran kecil, hijau berjalan seiring kulit yang lebih jarang meradang; air, yang hanya secuil dari lanskap, berjalan ke arah sebaliknya. Apa yang bekerja di balik kedua warna itu, entah kelembapan, jamur, serbuk sari, atau hal lain, masih mereka serahkan kepada riset berikutnya.














