- Pada kelompok dengan metabolik buruk dan gaya hidup buruk, 42,6 persen melaporkan nyeri punggung bawah.
- Para penulis menaksir 20,8 persen nyeri punggung bawah di populasi itu berkaitan dengan kurang gerak.
- Untuk keterbatasan gerak, obesitas perut menempati taksiran terbesar, 15,1 persen.
- Karena itu naskah ini tidak bisa menetapkan mana yang lebih dulu, kebiasaan buruk atau nyeri.
Daftar Isi
Pita ukur dilingkarkan ke pinggang. Bila angkanya 102 sentimeter atau lebih pada laki-laki, atau 88 sentimeter atau lebih pada perempuan, orang itu dicatat memiliki obesitas perut. Lalu datang satu pertanyaan dari lembar kuesioner: selama tiga bulan terakhir, apakah Anda mengalami nyeri punggung bawah? Yang dihitung hanya nyeri yang bertahan sehari penuh atau lebih, bukan pegal sekilas.
Dari pita ukur dan pertanyaan semacam itu, Chengxin Xie, Qihang Li, Jingxin Xin, Xiao Jiang, Qiang He, Wenbo Bian, Dongting Yu, Yanru Lin, dan Zhenyu Yao menyusun naskah berjudul Individual and combined associations of modifiable metabolic health and lifestyle with low back pain, neck pain, and functional limitation: evidence from a nationally cross-sectional study. Naskah itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulisnya bekerja di Jinan, Shandong, Tiongkok. Orang-orang yang diukur adalah warga dewasa Amerika Serikat.
Ada 10.286 orang dewasa yang ditanya soal nyeri punggung bawah dan nyeri leher. Usia tengah mereka 43 tahun. Sebanyak 3.057 orang menjawab ya untuk punggung bawah, dan 1.676 orang menjawab ya untuk leher. Kelompok kedua jauh lebih besar, 28.513 orang, ditanya apakah masalah punggung atau leher membuat mereka sulit melakukan kegiatan sehari-hari. Sebanyak 3.148 orang mengiyakan.
Setiap orang lalu diberi dua rapor. Rapor pertama berisi empat hal dari tubuh: obesitas perut, gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, dan lemak darah yang terganggu. Rapor kedua berisi empat kebiasaan: merokok setiap hari, minum alkohol berlebih, pola makan tidak sehat, dan kurang bergerak. Tanpa satu pun catatan, rapor disebut baik. Satu atau dua catatan berarti sedang. Tiga atau empat berarti buruk.
Punggung bawah
Di punggung bawah, kedua rapor sama-sama meninggalkan jejak. Pada orang dengan rapor metabolik baik, 26,4 persen melaporkan nyeri punggung bawah. Pada rapor metabolik buruk, angkanya 35,9 persen. Jarak pada rapor gaya hidup lebih lebar lagi. Dari 20,9 persen pada mereka yang kebiasaannya baik, angka itu naik menjadi 38,2 persen pada mereka yang kebiasaannya buruk.
Hitungan itu berarti kira-kira satu dari lima orang berkebiasaan baik mengeluh nyeri punggung bawah. Pada orang berkebiasaan buruk, hampir dua dari lima. Setelah usia, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, dan latar lain diperhitungkan, pola itu tetap ada. Peluang nyeri punggung bawah pada orang dengan gaya hidup buruk tercatat 2,222 kali peluang orang dengan gaya hidup baik. Untuk rapor metabolik buruk, angkanya 1,470 kali.
Yang paling menonjol adalah orang dengan dua rapor buruk sekaligus. Pada kelompok dengan metabolik buruk dan gaya hidup buruk, 42,6 persen melaporkan nyeri punggung bawah. Peluang mereka 3,435 kali peluang orang yang kedua rapornya baik. Xie dan rekan-rekannya juga mencatat hal lain. Apa pun rapor metaboliknya, makin buruk gaya hidup seseorang, makin besar bagian yang mengeluh nyeri punggung bawah.
Kaitan itu tampak lebih kuat pada dua kelompok. Pada orang dewasa muda, usia 20 sampai 44 tahun, peluang nyeri punggung bawah di kelompok dua rapor buruk mencapai 6,008 kali. Pada laki-laki, angkanya 4,135 kali. Para penulis menyebut kaitan tersebut lebih nyata pada orang muda dan laki-laki. Mereka tidak menguraikan lebih jauh mengapa dua kelompok itu berbeda.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Dari delapan catatan di kedua rapor, satu yang paling besar bobotnya bagi punggung bawah: kurang bergerak. Para penulis menaksir 20,8 persen nyeri punggung bawah di populasi itu berkaitan dengan kurang gerak. Di antara orang yang nyeri punggung bawah, 75,5 persen tergolong kurang bergerak. Di antara yang tidak nyeri, 66,4 persen. Perokok harian pun lebih banyak di kelompok nyeri, 28,8 persen berbanding 21,0 persen.
Leher
Naik sedikit dari punggung bawah ke leher, ceritanya berubah. Rapor metabolik tidak lagi berbicara. “Status metabolik tidak berkaitan dengan nyeri leher,” tulis Chengxin Xie, Zhenyu Yao, dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu. Orang dengan pinggang lebar, gula darah tinggi, atau tekanan darah tinggi tidak tercatat lebih sering nyeri leher setelah latar mereka diperhitungkan.
Rapor gaya hidup tetap bersuara. Dari orang berkebiasaan baik, 10,8 persen melaporkan nyeri leher. Dari orang berkebiasaan buruk, 21,1 persen, hampir dua kali lipat. Peluang nyeri leher pada gaya hidup buruk tercatat 2,135 kali. Merokok, pola makan tidak sehat, dan kurang bergerak masing-masing berkaitan dengan nyeri leher. Kurang gerak lagi-lagi paling besar, dengan taksiran 20,5 persen.
Para penulis menawarkan penjelasan dari pustaka yang mereka rujuk. Punggung bawah menopang beban tubuh, sehingga lebih terpengaruh oleh obesitas dan peradangan di seluruh tubuh. Leher lebih dekat urusannya dengan postur, dengan cara orang bekerja dan menatap layar, dan dengan ketegangan otot setempat. Lemak di perut menambah tekanan mekanis pada tulang belakang. Penjelasan itu, menurut mereka, sebagian menerangkan mengapa metabolik buruk terkait punggung bawah, tetapi tidak leher.
Ada satu rincian lagi tentang leher. Angka tertinggi nyeri leher, 22,0 persen, justru muncul pada orang dengan rapor metabolik sedang dan gaya hidup buruk. Hanya pada kelompok metabolik sedang itulah nyeri leher naik teratur seiring memburuknya kebiasaan. Di kalangan dewasa muda, mereka yang kedua rapornya buruk punya peluang nyeri leher 2,321 kali peluang sebayanya yang kedua rapornya baik.
Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Pinggang dan rokok
Nyeri adalah satu hal. Tidak sanggup bergerak adalah hal lain. Kuesioner menanyakan dua puluh kegiatan tertentu, dan orang yang kesulitan menjalani salah satunya karena masalah punggung atau leher dicatat mengalami keterbatasan gerak. Mereka yang mengalaminya lebih tua. Usia tengahnya 57 tahun, sedangkan pada yang tidak mengalaminya 43 tahun.
Di sini pita ukur kembali penting. Pada orang dengan rapor metabolik baik, hanya 3,8 persen yang geraknya terbatas. Pada rapor metabolik buruk, 16,8 persen, lebih dari empat kali lipatnya. Peluangnya tercatat 2,404 kali setelah latar diperhitungkan. Di antara orang yang geraknya terbatas, 67,4 persen punya obesitas perut dan 56,2 persen punya tekanan darah tinggi.
Urutan bobotnya pun bergeser. Untuk keterbatasan gerak, obesitas perut menempati taksiran terbesar, 15,1 persen. Merokok menyusul dengan 14,0 persen, lalu tekanan darah tinggi 12,6 persen. Gaya hidup buruk tetap berkaitan, dengan peluang 1,670 kali. Orang dengan dua rapor buruk kembali berada di ujung: 17,6 persen dari mereka geraknya terbatas, dan peluangnya 4,378 kali peluang orang dengan dua rapor baik.
Para penulis juga memisahkan orang yang duduk lima jam atau lebih sehari dari yang duduknya lebih singkat. Kaitan dua rapor buruk dengan keterbatasan gerak muncul pada keduanya. Pada orang yang tidak banyak duduk, kaitan itu malah lebih kuat, 6,401 kali. Lama duduk di tempat kerja dan di perjalanan, tulis mereka, sulit diubah. Karena itu faktor lain yang bisa diubah menjadi penting untuk dikenali.
Gelas minuman
Satu catatan di rapor gaya hidup berperilaku ganjil: alkohol. Batasnya dua gelas atau lebih sehari bagi perempuan dan tiga gelas atau lebih bagi laki-laki. Minum sebanyak itu tidak berkaitan dengan nyeri punggung bawah maupun nyeri leher. Pada keterbatasan gerak, arahnya terbalik. Di antara orang yang geraknya terbatas, 32,7 persen tergolong peminum berlebih. Di antara yang geraknya tidak terbatas, 41,5 persen.
Xie dan rekan-rekannya tidak membaca angka itu sebagai kabar baik. Penjelasan yang mereka anggap paling mungkin adalah arah yang terbalik. Orang yang nyeri atau sulit bergerak bisa saja mengurangi minum karena cemas akan kesehatannya. Bisa juga karena mereka lebih jarang bergaul, sebab minum kerap merupakan kegiatan bersama. Keadaan kesehatan secara umum dan kebiasaan lain yang tidak diukur mungkin ikut berperan.
Peringatan mereka ditulis terang. “Yang penting, pengamatan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti adanya efek perlindungan dari konsumsi alkohol,” tulis Xie, Yao, dan para penulis lain. Mereka menambahkan bahwa temuan-temuan terdahulu tentang minum dalam jumlah sedang dan gejala nyeri pun tidak seragam.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Jinan dan batas datanya
Dari ruang kerja mereka di Shandong Provincial Hospital, para penulis mengakui batas hitungan ini. Semua orang diukur dan ditanya pada satu waktu saja. Karena itu naskah ini tidak bisa menetapkan mana yang lebih dulu, kebiasaan buruk atau nyeri. Orang yang punggungnya sakit bisa saja berhenti bergerak karena sakit itu. Nyeri pun dilaporkan sendiri oleh pesertanya, sehingga bergantung pada ingatan.
Batas lain menyangkut apa yang tidak ikut diukur. Kesehatan jiwa, beban fisik pekerjaan, mutu tidur, penyakit penyerta, dan obat yang diminum tidak masuk hitungan. Pola makan hanya ditanyakan lewat satu kali ingatan 24 jam. Rentang ketidakpastian untuk kelompok dua rapor buruk juga lebar. Untuk nyeri punggung bawah, misalnya, angka 3,435 kali itu berada di antara 2,026 dan 5,824.
Dengan batas itu, para penulis tetap menyampaikan satu seruan. “Kami menyerukan perhatian yang lebih kuat pada pemaduan perubahan gaya hidup dengan penanganan penyakit metabolik untuk meredakan nyeri, memperbaiki fungsi, dan menjawab kebutuhan tiap orang secara lebih efektif,” tulis mereka. Studi yang mengikuti orang dari waktu ke waktu, kata mereka, masih diperlukan untuk memastikan urutan kejadiannya.
Halaman tabel
Beberapa hal pada naskah bisa diperiksa pembaca. Judulnya menyebut “nationally cross-sectional study”, tampaknya kehilangan satu kata. Ringkasannya menyebut data 1999 sampai 2018, padahal pertanyaan soal nyeri hanya tersedia pada 1999 sampai 2004 dan 2009 sampai 2010. Di tabel utama, kolom keterbatasan gerak diberi kepala “Poor”, padahal isinya jawaban ya. Lemak darah disebut dengan dua istilah berbeda di teks dan di tabel.
Ada pula satu ketegangan kecil dalam penalarannya. Para penulis menyebut sebuah studi lain yang mengikuti orang dari waktu ke waktu sebagai penguat hubungan sebab-akibat. Beberapa halaman kemudian mereka sendiri menulis bahwa rancangan mereka tidak mampu menetapkan sebab-akibat. Klaim bahwa hasilnya berlaku lintas usia juga perlu dibaca hati-hati. Untuk keterbatasan gerak, kaitan itu disebut bertahan pada orang muda dan paruh baya.
Maka yang tersisa adalah sebuah gambar, bukan vonis. Pita ukur yang melingkar di pinggang ternyata lebih banyak bercerita tentang punggung bawah dan tentang sulitnya bergerak daripada tentang leher. Lembar pertanyaan soal rokok, makan, dan gerak bercerita tentang ketiganya. Dan pada orang yang kedua rapornya buruk, jawaban ya untuk nyeri punggung bawah datang dari lebih dari empat di antara sepuluh orang.














