Diabetes di Desa Herat Banyak Datang Bersama Darah Tinggi

A A

Ilustrasi ujung jari dengan setetes darah disentuhkan ke strip alat ukur gula darah digital [Foto: Roy Zuo/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Dari 609 orang dewasa yang diperiksa sepanjang 2024, sebanyak 46 orang mengidap diabetes.
  • Dari 107 orang berumur 45 sampai 54 tahun, 21 orang mengidapnya.
  • Bersama umur, inilah satu-satunya kaitan yang bertahan sampai hitungan terakhir.
  • Lingkar pinggang dan pendidikan tak lagi terbukti berkaitan dengan diabetes.
  • Survei ini memotret satu waktu, sehingga tidak bisa menunjukkan mana sebab dan mana akibat.
Daftar Isi
  1. Desa-desa petani yang selama ini luput dari hitungan penyakit gula
  2. Di bawah 35 tahun nyaris tak ada, lalu angka melompat di usia 45 sampai 54
  3. Gula darah tinggi dan tekanan darah tinggi ditemukan pada orang yang sama
  4. Perut buncit, buta huruf, dan duduk berjam-jam sempat tampak berperan lalu memudar
  5. Lebih rendah daripada Kabul dan kota Herat, dengan sejumlah catatan pada naskahnya

Jempol ditekan ke kertas. Begitulah banyak warga desa di Provinsi Herat, Afghanistan barat, menyatakan bersedia diperiksa. Lembar persetujuan dibacakan kata demi kata dalam bahasa Dari, seorang saksi ikut mendengarkan, lalu cap jempol dibubuhkan. Tiga dari empat peserta memang buta huruf. Sesudah itu mereka berpuasa sedikitnya delapan jam, dan darah mereka diambil.

Darah itulah yang kemudian bercerita. Abdul Saboor Karim Suri, Khwaja Mir Islam Saeed, dan Said Naim Allemy menuliskannya dalam artikel Diabetes prevalence and associated risk factors among adults in rural Herat province, Afghanistan: a community-based cross-sectional study, terbit di BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Karim Suri dan Allemy berasal dari Fakultas Kedokteran Jami University di Herat. Saeed adalah penasihat teknis Afghanistan National Public Health Institute di Kementerian Kesehatan Masyarakat, Kabul.

Dari 609 orang dewasa yang diperiksa sepanjang 2024, sebanyak 46 orang mengidap diabetes. Itu 7,6 persen, kira-kira satu dari tiga belas orang. Batasnya gula darah puasa 126 miligram per desiliter atau lebih, atau sedang minum obat diabetes. Angka itu tidak tersebar rata. Ia menumpuk pada satu rentang umur, dan pada orang-orang yang tekanan darahnya juga tinggi.

Desa-desa petani yang selama ini luput dari hitungan penyakit gula

Mundur sejenak ke tempatnya. Herat adalah salah satu provinsi terbesar di Afghanistan. Sebagian besar penduduknya tinggal di desa dan hidup dari bertani serta berdagang kecil-kecilan. Menurut naskah itu, lebih dari 70 persen penduduk Afghanistan tinggal di pedesaan, tempat layanan kesehatan sulit dijangkau dan pengetahuan tentang pencegahan penyakit tidak menular masih sangat terbatas.

Justru dari desa-desa itu data hampir tidak ada. Laporan yang tersedia, tulis ketiga peneliti, kebanyakan berasal dari fasilitas kesehatan atau dari kajian kecil di kota. Kabul pernah dihitung. Kota Herat pernah. Di utara, distrik pedesaan Andkhoy juga pernah. Pedesaan di barat belum, dan kekosongan itulah yang hendak mereka isi.

Orang-orang yang diperiksa rata-rata berumur 40,6 tahun. Perempuan sedikit lebih banyak, 316 orang atau 51,9 persen. Sebanyak 455 orang, 74,7 persen, buta huruf. Hampir semuanya menikah, yaitu 579 orang. Yang bekerja, baik di kantor maupun sebagai buruh kasar, berjumlah 257 orang. Sisanya, 352 orang, tidak bekerja atau ibu rumah tangga.

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Di bawah 35 tahun nyaris tak ada, lalu angka melompat di usia 45 sampai 54

Umur membelah hasil itu dengan tajam. Di antara 275 orang yang belum genap 35 tahun, hanya tujuh yang mengidap diabetes, atau 2,5 persen. Pada kelompok 35 sampai 44 tahun, tujuh dari 117 orang, yakni 6,0 persen. Lalu melompat. Dari 107 orang berumur 45 sampai 54 tahun, 21 orang mengidapnya. Itu 19,6 persen, kira-kira satu dari lima.

Sesudah itu angkanya turun lagi. Pada kelompok 55 tahun ke atas, sebelas dari 110 orang mengidap diabetes, tepat 10,0 persen. Hampir separuh dari seluruh pengidap dalam survei ini, dengan begitu, berkumpul di satu dasawarsa umur saja. Naskah itu mencatat lonjakannya, tetapi tidak menguraikan mengapa kelompok tertua berada di bawah kelompok sebelumnya.

Diabetes melonjak di usia 45-54 tahunDi bawah 35 tahun (275 orang): Persen pengidap diabetes +2,5%; 35-44 tahun (117 orang): Persen pengidap diabetes +6,0%; 45-54 tahun (107 orang): Persen pengidap diabetes +19,6%; 55 tahun ke atas (110 orang): Persen pengidap diabetes +10,0%.Diabetes melonjak di usia 45-54 tahunPengidap diabetes di tiap kelompok umur, desa-desa Herat, persen5%10%15%20%25%0Di bawah 35 tahun (275 orang)2,5%35-44 tahun (117 orang)6,0%45-54 tahun (107 orang)19,6%55 tahun ke atas (110 orang)10,0%Seluruh peserta: 7,6 persen (46 dari 609 orang).
Sumber: Abdul Saboor Karim Suri, Khwaja Mir Islam Saeed, dan Said Naim Allemy, Diabetes prevalence and associated risk factors among adults in rural Herat province, Afghanistan: a community-based cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketika umur dihitung bersama jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, lingkar pinggang, dan tekanan darah, lonjakan itu tetap berdiri. Peluang orang berumur 45 sampai 54 tahun untuk mengidap diabetes kira-kira empat kali peluang mereka yang di bawah 35 tahun. Para peneliti membacanya sebagai tumpukan paparan metabolik selama bertahun-tahun, ditambah menuanya sel beta.

Jenis kelamin tidak membedakan apa-apa. Dari 293 laki-laki, 7,2 persen mengidap diabetes; dari 316 perempuan, 7,9 persen. Pekerjaan pun begitu: 7,4 persen pada yang bekerja, 7,7 persen pada yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga. Pendapatan bulanan dan status pernikahan sama saja. Tak satu pun dari empat hal itu terbukti berkaitan.

Gula darah tinggi dan tekanan darah tinggi ditemukan pada orang yang sama

Potong ke lengan yang dililit manset. Sebanyak 173 peserta tergolong bertekanan darah tinggi, yakni 140 per 90 milimeter air raksa atau lebih, atau sedang minum obat penurun tekanan darah. Di antara mereka, 22 orang juga mengidap diabetes. Itu 12,7 persen. Pada 436 orang yang tekanan darahnya normal, angkanya 5,5 persen.

Selisih itu tidak luruh ketika faktor lain ikut dihitung. Peluang orang bertekanan darah tinggi untuk mengidap diabetes tetap 2,37 kali peluang mereka yang tekanan darahnya normal. Bersama umur, inilah satu-satunya kaitan yang bertahan sampai hitungan terakhir. Ketiga peneliti menyebutnya sejalan dengan bukti global yang mengaitkan resistansi insulin dengan gangguan lapisan dalam pembuluh darah dan kakunya pembuluh.

Di titik itulah kesimpulan mereka bertumpu. “Temuan ini menggambarkan beban gangguan pembuluh darah dan gangguan metabolik yang saling berkelindan,” tulis Karim Suri, Saeed, dan Allemy dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka meminta pemeriksaan tekanan darah dan diabetes digabung di tingkat komunitas, terutama bagi orang yang lebih tua dan mereka yang tekanan darahnya sudah naik.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Perut buncit, buta huruf, dan duduk berjam-jam sempat tampak berperan lalu memudar

Ada beberapa hal lain yang semula tampak penting. Lingkar pinggang, misalnya. Sebanyak 232 peserta melewati batas 94 sentimeter untuk laki-laki atau 80 sentimeter untuk perempuan. Di kelompok ini 10,8 persen mengidap diabetes, hampir dua kali angka 5,6 persen pada mereka yang lingkar pinggangnya normal.

Pendidikan memperlihatkan jarak serupa. Dari 455 orang yang buta huruf, 41 mengidap diabetes, atau 9,0 persen. Dari 154 orang yang bisa membaca, hanya lima, atau 3,2 persen. Kebiasaan duduk juga begitu. Mereka yang duduk atau berbaring tiga jam atau lebih sehari, 264 orang, mencatat 10,2 persen. Yang kurang dari itu, 5,5 persen.

Siapa yang lebih sering mengidap diabetesSiapa yang lebih sering mengidap diabetesSiapa yang lebih sering mengidap diabetesPersen pengidap diabetes pada kelompok dengan dan tanpa tiap ciriYaTidak12,7%5,5%Tekanan darahtinggi10,8%5,6%Lingkar pinggangbesar10,2%5,5%Duduk 3 jam ataulebih9,0%3,2%Buta hurufSesudah dihitung bersama, hanya tekanan darah tinggi dan umur yangbertahan.
Sumber: Abdul Saboor Karim Suri, Khwaja Mir Islam Saeed, dan Said Naim Allemy, Diabetes prevalence and associated risk factors among adults in rural Herat province, Afghanistan: a community-based cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu semuanya dihitung bersama, dan dua yang pertama memudar. Lingkar pinggang dan pendidikan tak lagi terbukti berkaitan dengan diabetes. Para peneliti menduga pengaruh lemak tubuh berjalan lewat jalur tekanan darah atau umur, gejala yang menurut mereka juga terlihat pada data lain dari Asia Selatan. Kebiasaan duduk tidak masuk hitungan bersama itu.

Dapur tidak memberi jawaban. Sebanyak 546 dari 609 peserta memasak dengan minyak padat, yaitu minyak nabati terhidrogenasi atau lemak hewani seperti ghee. Hanya 32 orang memakai minyak cair. Sayur dan buah jarang hadir: 499 orang memakannya kurang dari tiga hari seminggu. Angka diabetes di kelompok itu 7,6 persen, nyaris sama dengan 7,3 persen pada yang lebih sering.

Para peneliti menyebut konsumsi buah dan sayur itu rendah sampai mengkhawatirkan. Mereka menduga perbedaannya tak terlihat karena makanan orang desa nyaris seragam. Rokok, yang diisap 42 orang, tidak berkaitan. Tembakau kunyah, yang dipakai 142 orang, mencatat 10,6 persen berbanding 6,6 persen, tetapi selisih itu tidak cukup kuat. Kadar lemak darah juga tidak menunjukkan kaitan.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Lebih rendah daripada Kabul dan kota Herat, dengan sejumlah catatan pada naskahnya

Angka 7,6 persen itu berada di bawah hampir semua pembanding yang disebut para peneliti. Survei nasional 2024 mencatat 11,1 persen. Kabul 13,2 persen, kota Herat 9,9 persen, pedesaan Andkhoy 9,7 persen. Di Pakistan rentangnya 16 sampai 25 persen, di India 9 sampai 20 persen menurut negara bagian. Angka dunia pada 2021 adalah 10,5 persen.

Mengapa desa lebih rendah? Dugaan para peneliti: kerja ladang membuat orang lebih banyak bergerak, dan makanan olahan lebih jarang sampai ke desa. Tetapi mereka sendiri curiga angkanya terlalu kecil. Pemeriksaan gula darah puasa saja bisa melewatkan kasus yang tertangkap lewat HbA1c atau tes toleransi glukosa, dan pemeriksaan rutin di desa hampir tidak ada.

Kalimat peringatan mereka pendek. “Meskipun pedesaan Afghanistan saat ini menunjukkan angka yang lebih rendah, kecenderungan ini kecil kemungkinan bertahan tanpa strategi pencegahan aktif dan deteksi dini,” tulis ketiganya. Mereka menunjuk kader kesehatan komunitas, yang disebut sebagai tulang punggung layanan primer Afghanistan, untuk memeriksa, merujuk lebih awal, dan mengajarkan pola hidup.

Batasnya diakui terang. Survei ini memotret satu waktu, sehingga tidak bisa menunjukkan mana sebab dan mana akibat. Gula darah diukur sekali, padahal pedoman klinis biasanya meminta pengulangan pada hari lain. Tekanan darah diambil dalam satu kunjungan. Warga kota tidak diikutkan, dan sebagian jawaban bergantung pada ingatan peserta.

Pembaca naskah juga bisa memeriksa beberapa hal. Disebutkan 643 orang terpilih dan 24 gugur, tetapi yang dianalisis 609 orang, bukan 619. Sayur disebut rendah bila kurang dari lima hari seminggu, sedangkan tabelnya memakai batas tiga hari. Kolesterol tinggi didefinisikan 200 miligram per desiliter, tabelnya 190. Kolom pendapatan hanya memuat 271 orang.

Empat puluh enam dari 609 lembar persetujuan itu berujung pada gula darah di atas batas. Dua puluh satu di antaranya milik orang berumur 45 sampai 54 tahun, dan 22 milik orang yang tekanan darahnya juga tinggi. Sebagian besar lembar itu ditandai dengan cap jempol, di desa-desa petani Herat yang untuk pertama kalinya masuk hitungan.

Bagikan

Baca Juga

Radang Usus Crohn Lebih Sering Muncul di Wilayah Padang Rumput
Air Minum Warga Pedalaman Kering Brasil Tercemar Sepanjang Musim
Remaja Norwegia Lebih Percaya Pesan Antivape dari Teman Sebaya
Perempuan Tiongkok yang Rajin Olahraga Makin Menolak Peran Lama
Langkah Kaki Pagi Orang Swedia Hilang Saat Kerja dari Rumah
Pekerja Sesak Napas di Australia Lebih Sering Kurangi Jam Kerja