Radang Usus Crohn Lebih Sering Muncul di Wilayah Padang Rumput

A A

Ilustrasi sapi-sapi cokelat merumput di padang rumput luas dekat Sungai Clwyd, Wales [Foto: Eirian Evans/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Makin besar bagian padang rumput di suatu wilayah, makin banyak penderita Crohn dibanding jumlah penduduknya.
  • Kolitis ulseratif tidak terkait dengan padang rumput, tetapi lebih banyak di wilayah yang suhunya lebih rendah.
  • Para peneliti tidak mencari kuman MAP di rumput, air, atau tubuh peserta survei.
  • Peserta yang masuk hitungan berjumlah 3.887 orang, kira-kira satu persen penderita radang usus di Britania Raya.
Daftar Isi
  1. Penyakit Crohn mengikuti luas padang rumput
  2. Kolitis ulseratif mengikuti suhu udara
  3. Jalur yang diduga lewat kotoran ternak
  4. Jalur yang diduga lewat aliran sungai
  5. Teka-teki pada peternak dan dokter hewan
  6. Teka-teki pada angka di dalam naskah

Hamparan rumput tempat sapi dan domba merumput tampak tidak punya urusan dengan usus manusia yang meradang bertahun-tahun. Yang pertama pemandangan di lereng barat Inggris dan Wales. Yang kedua keluhan diare, nyeri perut, dan berat badan yang susut. Sebuah peta baru mempertemukan keduanya, tetapi hanya untuk satu dari dua penyakit radang usus yang diperiksa.

Peta itu disusun M.A Veral, R. W. Pickup, M. Roy, J. Sanderson, G. Agrawal, dan P. M. Atkinson dalam artikel berjudul Influence of landscape on the distribution of inflammatory bowel disease in England and Wales. Artikel tersebut dimuat BMC Public Health volume 26 pada 2026. Para penulisnya bekerja di Lancaster University dan di bagian gastroenterologi Guy’s and St Thomas’ NHS Foundation Trust, London.

Dua penyakit yang mereka sandingkan sama-sama tergolong radang usus menahun. Penyakit Crohn dapat menyerang bagian mana pun dari saluran cerna. Kolitis ulseratif terbatas pada usus besar. Gejalanya kerap serupa, dan naskah mencatat penyebab keduanya masih belum jelas. Sekitar tujuh juta orang di dunia hidup dengan radang usus jenis ini, dan Britania Raya termasuk yang angkanya tertinggi.

Yang membedakan keduanya dalam penelitian ini adalah sebuah dugaan lama. Kuman bernama Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis, disingkat MAP, menyebabkan penyakit Johne pada ternak. Sejumlah penelitian terdahulu menemukan kuman itu lebih sering ada di jaringan penderita Crohn. Kaitan serupa tidak dilaporkan pada kolitis ulseratif, sehingga penyakit kedua dipakai sebagai pembanding.

Penyakit Crohn mengikuti luas padang rumput

Bahan petanya berasal dari survei daring terhadap penderita radang usus di seluruh Britania Raya, yang diikuti 5.452 orang. Sebanyak 2.672 di antaranya menyandang penyakit Crohn, kira-kira separuh peserta. Setelah jawaban yang tidak lengkap disisihkan, 2.085 penderita Crohn masuk hitungan akhir. Alamat yang dipakai adalah kode pos saat mereka pertama kali didiagnosis.

Setiap penderita lalu ditempatkan pada daerah tangkapan air tempat ia tinggal, yaitu wilayah yang airnya mengalir ke sungai yang sama. Di tiap wilayah itu dihitung berapa bagian lahannya yang berupa padang rumput. Hasilnya searah: makin besar bagian padang rumput, makin banyak penderita Crohn dibanding jumlah penduduknya. Kaitan itu bermakna secara statistik pada hitungan pertama.

Kaitan tersebut malah menguat ketika faktor lain disisihkan satu per satu. Pada hitungan akhir, padang rumput menjadi satu-satunya faktor yang tersisa untuk penyakit Crohn. Luas kawasan kota dan lebar sungai tidak menunjukkan kaitan. Suhu dan curah hujan sempat muncul pada hitungan pertama dengan arah negatif, lalu gugur.

Dua radang usus, dua peta berbedaHanya penyakit Crohn yang mengikuti luas padang rumput.Dua radang usus, dua peta berbedaSurvei penderita radang usus di England dan WalesCrohnKolitis ulseratif2.6721.946Peserta survei2.0851.559Masuk hitunganakhir182152Tak pernah pindahalamatYaTidakTerkait padangrumputRumputSuhuFaktor yangtersisaAngka menurut naskah.
Sumber: M.A Veral, R. W. Pickup, M. Roy, J. Sanderson, G. Agrawal, dan P. M. Atkinson, Influence of landscape on the distribution of inflammatory bowel disease in England and Wales, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di atas peta, padang rumput paling luas terdapat di daerah tangkapan sebelah barat, dan bagiannya menyusut ke arah timur. Sebaran penderita Crohn sendiri tidak membentuk pola yang gamblang bila dilihat dengan mata. Angka penderita lebih tinggi di beberapa wilayah daripada wilayah lain, tulis para peneliti, tetapi polanya tidak jelas. Hitunganlah yang memperlihatkan kaitannya.

Baca juga Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan

Kolitis ulseratif mengikuti suhu udara

Di sisi lain, kolitis ulseratif tidak menoleh ke padang rumput. Dari 1.946 penderita yang ikut survei, 1.559 masuk hitungan akhir, dan mereka ditempatkan pada daerah tangkapan air yang sama. Kaitan dengan luas padang rumput tidak ditemukan, baik pada hitungan pertama maupun pada hitungan akhir. Hujan, kota, dan lebar sungai pun tidak.

Yang tersisa untuk penyakit kedua ini justru suhu. Pada hitungan akhir, wilayah yang rata-rata suhu musim panasnya lebih rendah mencatat lebih banyak penderita kolitis ulseratif. Suhu di Britania Raya umumnya berubah dari utara ke selatan, sehingga risiko penyakit ini lebih besar di utara. Angka tertinggi tercatat di sebuah daerah tangkapan dekat Middlesbrough, disusul beberapa wilayah di barat laut England.

Para penulis tidak membaca suhu sebagai penjelasan tunggal. Faktor lain yang ikut berubah dari utara ke selatan mungkin berperan, dan keberatan serupa mereka akui berlaku pula bagi kaitan Crohn dengan padang rumput. “Namun, perbedaan antara hasil model CD dan UC itulah yang menjadi kunci,” tulis Veral dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. CD dan UC adalah singkatan yang dipakai naskah untuk penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.

Alasannya sederhana. Kedua kelompok penderita datang dari survei yang sama, lewat saluran yang sama. Kalau peserta dari daerah peternakan sekadar lebih rajin mengisi survei, kedua penyakit semestinya sama-sama condong ke padang rumput. Kenyataannya hanya satu yang condong.

Jalur yang diduga lewat kotoran ternak

Mengapa padang rumput? Naskah menjawabnya dengan sebuah jalur dugaan yang berawal dari hewan. Ternak yang terinfeksi MAP, entah sudah tampak sakit entah belum, mengeluarkan kuman itu dalam jumlah besar bersama kotorannya ke atas rumput. Seekor hewan bisa bertahun-tahun menebar kuman sebelum menunjukkan gejala, sehingga penebaran itu berlangsung lama tanpa diketahui.

Kebiasaan beternak ikut menambah sebarannya. Sapi perah dan sapi potong dikandangkan selama musim dingin, lalu kotorannya disebar ke lahan, terutama padang rumput. Kuman itu, menurut naskah, tetap hidup lama di tangki penampungan sebelum disebar. Domba merumput sepanjang tahun, sedangkan sapi dari musim semi sampai musim gugur. Di Britania Raya, penyakit Johne diperkirakan ada pada 68 persen kawanan, berdasarkan contoh susu dari 225 kawanan.

Jalur yang diduga dari ternak ke manusiaJalur yang diduga dari ternak ke manusiaJalur yang diduga dari ternak ke manusiaModel konsep dalam naskah, bukan hasil pengukuranTernakkenakumanPadangkotoranjatuhHujanmembawake sungaiPaparanair danpercikanCrohnpada orangrentanKuman MAP tidak diukur langsung dalam penelitian ini.
Sumber: M.A Veral, R. W. Pickup, M. Roy, J. Sanderson, G. Agrawal, dan P. M. Atkinson, Influence of landscape on the distribution of inflammatory bowel disease in England and Wales, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang penting dicatat, jalur ini tidak diukur dalam penelitian. Para peneliti tidak mencari kuman MAP di rumput, air, atau tubuh peserta. Luas padang rumput dipakai sebagai wakil keberadaan ternak yang merumput, baik yang sakit maupun yang sehat. Penelitian ini bersifat pengamatan, dan naskah menyatakannya terang-terangan.

Jalur yang diduga lewat aliran sungai

Pada jalur kedua, air mengambil alih. Hujan membasuh kuman dari padang rumput, membawanya lewat air permukaan ke sungai, lalu ke hilir. Dari sana manusia dapat terpapar melalui air minum atau melalui percikan halus air sungai yang terbawa angin. Penelitian terdahulu yang dikutip naskah menemukan MAP di sebagian besar contoh air sungai yang diperiksa.

Itu sebabnya peta disusun menurut daerah tangkapan air, bukan menurut batas kota atau kabupaten. Dengan satuan itu, penduduk dan padang rumput di hulunya otomatis berada dalam satu wilayah hitung. Sebelumnya, Pickup dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa orang yang tinggal di sepanjang ruas tertentu Sungai Taff di Cardiff, Wales, lebih berpeluang didiagnosis Crohn.

Penelitian baru ini memperluas temuan setempat itu ke tingkat nasional. Para penulis menyebut karya mereka sebagai yang pertama melaporkan kaitan Crohn dengan luas padang rumput pada skala satu negeri. Ketika peta dipecah ulang menjadi petak-petak berukuran 5 sampai 50 kilometer persegi, kaitan positif itu tetap muncul. Jalur lain seperti daging, susu, dan air minum dianggap merata dan tidak dihitung.

Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses

Teka-teki pada peternak dan dokter hewan

Kalau padang rumput berperan, peternak dan dokter hewan semestinya paling sering sakit. Nyatanya tidak. Naskah mengutip penelitian lain yang mencatat angka Crohn hanya 0,47 persen pada peternak sapi dan dokter hewan, tanpa kaitan dengan kawanan yang terjangkit penyakit Johne. Ada pula bukti bahwa radang usus lebih jarang pada kelompok ini daripada penduduk umum.

Veral dan rekan-rekannya tidak menyembunyikan ganjalan itu. Mereka menulis bahwa temuan tersebut tidak mendukung peran MAP sebagai penyebab. Lalu mereka menawarkan beberapa penjelasan: kerentanan terhadap kuman bergantung pada usia, penyakit menuntut gangguan kekebalan pada orangnya, kuman tersebar luas di luar lingkungan kerja, dan paparan pada masa kanak-kanak jarang terekam.

Dari situ muncul rumusan yang lebih hati-hati. Kuman MAP ditemukan di jaringan usus penderita Crohn maupun orang yang tidak sakit. Bagi sebagian orang kuman itu mungkin faktor yang diperlukan, tetapi tidak cukup sendirian untuk menimbulkan penyakit. Paparan pada usia dewasa, atau pada orang yang tidak rentan, bisa saja tidak menambah jumlah kasus.

Batas penelitian diakui dengan angka. Peserta yang masuk hitungan berjumlah 3.887 orang, kira-kira satu persen dari 540.000 penderita radang usus di Britania Raya. Survei diikuti secara sukarela lewat internet, sehingga sebagian wilayah bisa kurang terwakili. Satuan petanya pun kasar. Skotlandia tidak ikut dihitung karena sebagian besar daerah tangkapannya tidak punya peserta. Para penulis meminta hasilnya dibaca dengan hati-hati.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Teka-teki pada angka di dalam naskah

Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Naskah menyebut 518 dari 5.452 peserta dikeluarkan, yang semestinya menyisakan 4.934 orang. Jumlah akhir keempat jenis penyakit ternyata 3.887. Penderita Crohn saja berkurang dari 2.672 menjadi 2.085. Selisih itu tidak diterangkan.

Ringkasan naskah juga menyatakan kolitis ulseratif tidak terkait dengan faktor apa pun, padahal hitungan akhirnya memuat kaitan dengan suhu. Di bagian lain, sebaran kuman yang disebut meningkat dari utara ke selatan digambarkan mengikuti sumbu bujur. Keduanya hal kecil dan tidak mengubah temuan pokok, tetapi patut dicatat.

Padang rumput dan usus yang meradang akhirnya tetap dua hal yang berjauhan, dihubungkan oleh hitungan dan sebuah dugaan tentang air. Untuk penyakit Crohn, hitungan itu menunjuk ke rumput di barat. Untuk kolitis ulseratif, ia menunjuk ke udara dingin di utara. Naskah tidak menyatakan salah satunya sudah terjelaskan. Ia hanya memperlihatkan bahwa dua penyakit yang gejalanya mirip itu tersebar mengikuti dua peta yang berlainan.

Bagikan

Baca Juga

Air Minum Warga Pedalaman Kering Brasil Tercemar Sepanjang Musim
Remaja Norwegia Lebih Percaya Pesan Antivape dari Teman Sebaya
Perempuan Tiongkok yang Rajin Olahraga Makin Menolak Peran Lama
Langkah Kaki Pagi Orang Swedia Hilang Saat Kerja dari Rumah
Musk Janjikan Starlink Murah di India, Sindir Ambani Jelang IPO
Serangan di Selat Hormuz Meningkat Saat Upaya Damai Iran Buntu