- Sebanyak 771 di antaranya, atau 79 persen, melaporkan sedikitnya satu gejala dalam 30 hari terakhir.
- Sekitar 84 persen responden masih memakai sumber air minum pengganti ketika mengisi survei.
- Sebanyak 57 persen responden dewasa mengaku memikirkan insiden itu setiap hari.
- Survei memotret satu waktu saja, jadi hubungan sebab-akibat antara air tercemar dan gejala tidak dapat ditarik darinya.
Daftar Isi
Air keran itu berbau seperti bahan bakar. Pada 28 November 2021, keluhan semacam itu mulai masuk ke Hawaii State Department of Health dari rumah-rumah di Oahu, Hawaii, disertai laporan gangguan kesehatan. Sehari kemudian keluar imbauan: jangan memakai air keran untuk minum, memasak, mandi, mencuci piring, mencuci pakaian, bahkan menyikat gigi.
Sepuluh bulan sesudahnya, bau itu belum pergi dari ingatan warga. Begitulah yang dicatat Daniel D. Nguyen, Asha Choudhury, dan tiga belas rekan mereka dalam Ongoing Community Concerns and Health Effects After Jet Fuel Contamination of a Drinking Water System — Oahu, Hawaii, September 2022, yang dimuat BMC Public Health sebagai artikel dalam proses terbit tahun 2026. Dari 972 orang yang menjawab, kira-kira empat dari lima masih merasakan gejala, padahal air sudah enam bulan dinyatakan aman.
Para penulis bekerja di Centers for Disease Control and Prevention, Agency for Toxic Substances and Disease Registry, dan Hawaii State Department of Health. Mereka menyebut laporannya sebagai yang pertama menggambarkan akibat jangka lebih panjang pada sebuah komunitas yang air minumnya terpapar bahan bakar jet. Dinas kesehatan Hawaii sendiri yang meminta bantuan untuk kembali bertanya kepada warga.
Sumur Red Hill
Sumbernya ada di bawah tanah. Pada November 2021, bahan bakar jet jenis JP-5, yang dipakai pesawat militer, lepas dari Red Hill Bulk Fuel Storage Facility. Naskah menyebut sebuah katup pembuangan sistem pemadam kebakaran yang retak di fasilitas bawah tanah itu pada 20 November 2021, dengan volume sekitar 53.000 liter.
Bahan bakar itu masuk ke sistem air Joint Base Pearl Harbor-Hickam. Sistem tersebut melayani sekitar 93.000 pengguna, militer maupun sipil, dan mengambil air dari tiga sumber. Salah satunya Red Hill Well. Kira-kira sepekan setelah imbauan keluar, dinas kesehatan memastikan sumur itu tercemar minyak bumi dalam kadar tinggi.
Angkanya tidak kecil. Hidrokarbon minyak bumi golongan diesel di sumur itu terukur sekitar 350 kali ambang tindakan lingkungan yang dipakai dinas kesehatan Hawaii, yaitu 400 bagian per miliar. Golongan bensin terukur sekitar 66 kali ambangnya yang 300 bagian per miliar. Ambang semacam itu adalah batas yang memicu pemantauan, pengujian, atau pemulihan.
Lebih dari 150 zat lain ikut diperiksa di air minum itu, dari logam, pestisida, sampai PFAS. Kecuali beberapa hidrokarbon minyak bumi, hasilnya sejalan dengan catatan pemantauan lama dan tidak menunjukkan pencemar lain yang meluas atau menetap. Yang membuat para penulis berhati-hati justru soal lain: pengetahuan tentang akibat JP-5 pada tubuh manusia masih terbatas, terlebih bila masuk lewat air minum.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Jaringan pipa lalu dibilas dan diuji ulang secara bertahap. Sepanjang Februari sampai Maret 2022 imbauan diubah zona demi zona, dari “jangan dikonsumsi” menjadi “aman untuk segala keperluan”, dan pada 18 Maret 2022 seluruhnya rampung. Sistem air itu dinyatakan memenuhi semua baku mutu yang berlaku. Para penulis menambahkan satu catatan: banyak pencemar belum punya baku mutu air minum nasional.
Tubuh dan pikiran
Dari sumur, cerita berpindah ke tubuh para pemakainya. September 2022, enam bulan setelah air dinyatakan aman, 972 orang mengisi survei lanjutan. Sebanyak 771 di antaranya, atau 79 persen, melaporkan sedikitnya satu gejala dalam 30 hari terakhir. Dan gejala itu jarang datang sendirian. Dari yang bergejala, 76 persen menyebut lebih dari tiga.
Pada 824 orang dewasa, sakit kepala paling sering muncul: separuh dari mereka mengalaminya. Kulit kering atau gatal dilaporkan 39 persen, rasa lelah atau kantuk yang tidak biasa 37 persen. Sulit mengingat dan sulit berkonsentrasi masing-masing 31 persen. Keluhan pada sistem saraf dan kesehatan jiwa menjadi dua kelompok terbesar.
Pikiran ikut menanggung. Cemas dilaporkan 43 persen orang dewasa, sulit tidur 34 persen, tegang atau gugup 30 persen, mudah marah 27 persen, dan merasa murung 24 persen. Di kolom isian bebas, empat orang menuliskan gangguan stres pascatrauma dan dua orang serangan panik. Seperempat responden memang sudah punya diagnosis kesehatan jiwa sebelum insiden.
Anak-anak tidak luput. Orang tua atau wali mengisi 148 survei atas nama anak. Sakit kepala dan pilek sama-sama dilaporkan pada 38 persen anak, kulit kering atau gatal 36 persen, ruam 30 persen. Sulit tidur dialami 26 persen dan cemas 25 persen. Di kalangan remaja 13 sampai 17 tahun, 57 persen punya sedikitnya satu gejala kesehatan jiwa.
Yang paling menentukan barangkali keyakinan mereka sendiri. Sebanyak 65 persen responden yakin, pada taraf tinggi sampai sangat tinggi, bahwa gejalanya berhubungan dengan pencemaran air. Lebih dari separuh, 55 persen, merasa kesehatan fisiknya memburuk sejak insiden. Separuh merasakan hal yang sama pada kesehatan jiwanya.
Keluhan itu mengubah hari-hari. Sekitar satu dari lima responden, 21 persen, menyebut kesehatan yang buruk membatasi kegiatan biasanya selama 14 hari atau lebih dalam sebulan terakhir. Sebanyak 54 persen pernah mencari layanan medis karena peristiwa ini, dan 22 persen dari mereka sampai ke ruang gawat darurat atau layanan perawatan segera.
Keran dapur
Di dapur, keran tetap dicurigai. Sebanyak 42 persen responden mengaku sangat khawatir akan keamanan air keran dalam 30 hari terakhir. Sebelum insiden, hanya tujuh persen yang sekhawatir itu. Lalu ada angka yang lebih mengganggu: 28 persen menyatakan masih mencium atau mengecap minyak, atau melihat lapisan mengilap, di air kerannya dalam sebulan terakhir.
Maka botol dan galon bertahan di rumah. Sekitar 84 persen responden masih memakai sumber air minum pengganti ketika mengisi survei. Hampir seperempat, 23 persen, sama sekali tidak memakai air keran untuk kegiatan rumah tangga, entah minum, memasak, menyeduh susu formula bayi, menyikat gigi, mandi, atau mencuci.
Seorang responden, yang kalimatnya dimuat para penulis tanpa nama, memberi pesan kepada komunitas lain yang kelak mengalami hal serupa. Menurut naskah berbahasa Inggris itu ia meminta para pemimpin memastikan air dibagikan, lalu menambahkan: “Bersiaplah untuk waktu yang lama, karena pencemaran air bukan perkara yang cepat beres.” Beban biaya membeli air untuk keperluan harian ikut banyak dikeluhkan.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Rumah yang ditinggalkan
Sebagian orang memilih meninggalkan rumahnya. Sebanyak 38 persen responden pindah sedikitnya sekali karena insiden ini, baik ke hunian sementara maupun untuk seterusnya. Sepuluh persen pindah tiga kali atau lebih. Yang ingin pindah tetapi tidak bisa menyebut penghalangnya: uang, kontrak sewa yang sulit diputus, atau sulitnya mutasi ke pos dinas militer di luar Hawaii.
Satu keluarga pindah ke sisi utara pulau. Sang ibu, juga tanpa nama dalam naskah, bercerita bahwa anak lelakinya dipenuhi biduran dan anak-anaknya sakit perut, bahkan sebelum bau minyak tercium di air. “Kami tidak pernah merasa bisa aman di rumah itu,” katanya, sebagaimana dikutip para penulis dari jawaban berbahasa Inggris.
Hewan peliharaan ikut masuk hitungan. Dari 544 responden yang menjawab soal ini, 60 persen menyebut hewannya menunjukkan gejala sejak insiden, dan lebih dari separuh pemilik itu membawanya ke dokter hewan. Para penulis mencatat kecemasan soal hewan menambah tekanan warga, sementara tanggap darurat kerap melupakan kebutuhan hewan peliharaan.
Pindah rumah pun tidak selalu memutus ingatan. Sebanyak 57 persen responden dewasa mengaku memikirkan insiden itu setiap hari. Rasa cemas, tertekan, trauma, dan takut pada air banyak dilaporkan, termasuk oleh mereka yang sudah pindah. Kekhawatiran yang paling sering disebut menyangkut akibat jangka panjang, terutama bagi anak-anak, dan risiko kanker.
Suara warga
Hampir separuh responden, 477 orang, menuliskan jawaban dengan kata-kata sendiri. Dari sana para penulis menemukan enam tema yang berulang: akibat pencemaran, tindakan, informasi, ketidakpastian soal keamanan air, sumber daya dan kebutuhan, serta kebutuhan untuk didengar. Nada yang dominan adalah kecewa.
Warga menilai tanggapan awal dan pemulihan tidak memadai. Arahan yang berbeda-beda antarlembaga membuat mereka bingung soal keamanan air dan bantuan yang tersedia. Mereka meminta hal yang konkret: penggantian pipa dan peralatan rumah tangga, pengosongan bahan bakar di fasilitas Red Hill, pengujian di setiap rumah, dan hasil yang diberitahukan kepada penghuninya.
Soal kepercayaan, angkanya terbelah. Sebanyak 44 persen responden dewasa menyebut otoritas kesehatan masyarakat sebagai sumber informasi yang paling mereka percaya. Namun 22 persen menyatakan tidak punya satu pun sumber yang dipercaya. Sejumlah warga merasa keluhannya diremehkan, dan sebagian kecil menulis dengan nada pasrah bahwa survei pun tidak akan mengubah apa-apa.
Bantuan sebenarnya datang dari banyak arah, mulai dari air pengganti, layanan cuci pakaian, pemeriksaan medis, relokasi sementara, sampai bantuan uang. Masalahnya ada pada ketidakajekan. Layanan berganti dari waktu ke waktu dan berbeda antarlembaga, proses penggantian biaya rumit, dan warga sipil paling sering melaporkan nyaris tidak menerima apa-apa.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Klinik Red Hill
Jawaban warga dibawa ke dinas kesehatan Hawaii dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Pada Januari 2023, Defense Health Agency membuka Red Hill Clinic di pangkalan itu untuk memantau gejala yang berlanjut. Mula-mula klinik hanya melayani personel militer aktif dan keluarganya, kemudian diperluas bagi warga yang tidak berafiliasi dengan militer.
Langkah lain menyusul. Sepanjang Februari sampai Maret 2023, sekitar 600 rekam medis ditelaah untuk menilai kebutuhan kesehatan yang masih ada. Sebuah registri kesehatan independen, yang dijalankan University of Hawaii, kemudian dibentuk untuk mengikuti kesehatan warga terdampak dari waktu ke waktu. Rencana pemantauan air minum jangka panjang antarlembaga ikut disusun.
Para penulis merangkum pelajarannya dalam satu kalimat. “Bencana lingkungan yang melibatkan paparan bahan kimia dapat menimbulkan dampak kesehatan dan sosial yang bertahan lama,” tulis Daniel D. Nguyen, Asha Choudhury, dan rekan-rekan dalam naskah berbahasa Inggris itu. Lembaga kesehatan, menurut mereka, perlu siap memantau kesehatan fisik dan jiwa serta melibatkan warga.
Semua angka tadi punya batas, dan para penulis menyebutnya sendiri. Responden datang secara sukarela, sehingga orang dengan gejala lebih berat mungkin lebih terdorong ikut, sedangkan yang tidak percaya pada lembaga militer atau pemerintah mungkin memilih absen. Survei memotret satu waktu saja, jadi hubungan sebab-akibat antara air tercemar dan gejala tidak dapat ditarik darinya.
Ada pula soal waktu. Pencemaran terjadi di tengah pandemi COVID-19, yang menurut naskah bisa ikut menyumbang gejala fisik dan jiwa yang dilaporkan. Gejala anak diisi orang tua, sehingga keluhan yang tidak kasatmata mungkin terlewat. Responden pun hanya mewakili delapan persen rumah tangga terdampak, dan sembilan dari sepuluh berafiliasi dengan Departemen Pertahanan.
Satu hal kecil dapat diperiksa pembaca. Naskah menulis 528 dari 972 responden mencari layanan medis, tetapi kalimat sesudahnya menghitung kunjungan gawat darurat dari 525 orang, bukan 528. Naskah ini juga masih versi dalam proses terbit yang belum melewati penyuntingan akhir, sehingga selisih semacam itu bisa berubah.
Di Oahu, air keran sudah lolos uji sejak Maret 2022. Yang belum pulih adalah hubungan orang dengan keran itu. Enam bulan sesudah dinyatakan aman, sebagian besar warga yang menjawab masih menuang air dari wadah lain, dan lebih dari seperempat masih merasa mencium minyak di air yang mengalir di rumahnya.














