- Sebanyak 54,41 persen perempuan dalam gelombang 2023 berolahraga, lebih dari separuh.
- Skor perempuan muda turun dari 42,46 menjadi 29,22, dan skor perempuan paruh baya dari 47,34 menjadi 42,71.
- Dengan latar yang disetarakan, selisih skor mereka menjadi 4,3 poin pada 2023, dari 3,2 poin sepuluh tahun sebelumnya.
- Olahraga hanya dicatat sebagai ya atau tidak, sehingga jalan santai sesekali dan latihan berat yang rutin masuk kelompok yang sama.
Daftar Isi
- Dari ajaran Konfusianisme sampai Healthy China 2030
- Potret 2013: lebih banyak yang tidak berolahraga
- Potret 2023: keadaan berbalik di semua kelompok usia
- Dasawarsa 2013–2023 yang tidak dinikmati merata
- Temuan Sun dan Fang: kaitan itu baru kukuh pada 2023
- Penjelasan yang ditawarkan: tubuh, kebijakan 2016–2021, dan pasar
- Batas ukuran dan angka yang tidak cocok dalam naskah 2026
Selama berabad-abad perempuan di Tiongkok diajari patuh kepada ayah sebelum menikah, kepada suami selama menikah, dan kepada anak laki-laki setelah suami wafat. Kaki mereka diikat sehingga sulit bergerak, dan olahraga bukan dunia mereka. Sesudah Republik Rakyat Tiongkok berdiri, atlet perempuan naik ke panggung dengan semboyan perempuan menyangga separuh langit, tetapi dana negara lebih banyak mengalir ke olahraga prestasi daripada ke kegiatan olahraga perempuan kebanyakan.
Latar itulah yang dibawa Lei Sun dan Ping Fang ketika menulis Cross-time analysis of physical exercise and traditional gender concepts: Chinese women in the CGSS 2013 and 2023, BMC Public Health volume 26, tahun 2026. Sun bekerja di Nanjing University of Chinese Medicine, sedangkan Fang di School of Sports Science, Nanjing Normal University. Keduanya bertanya apakah kebiasaan berolahraga berjalan seiring dengan lunturnya pandangan lama tentang tempat perempuan.
Jawabannya mereka cari pada perempuan yang mengisi Chinese General Social Survey, 4.331 orang pada 2013 dan 2.143 orang pada 2023. Hasilnya berlapis. Perempuan yang berolahraga memang lebih jarang menyetujui peran lama, dan jarak itu melebar dalam sepuluh tahun. Namun hanya pada gelombang 2023 kaitan tersebut bertahan ketika diuji dengan cara yang lebih ketat.
Dari ajaran Konfusianisme sampai Healthy China 2030
Menurut riset terdahulu yang dikutip naskah, pandangan gender tradisional di Tiongkok berangkat dari titik ekstrem pada masa kekaisaran. Lima hubungan Konfusianisme, ajaran bakti, gagasan yin-yang yang memberi perempuan peran pasif, aturan klan tentang perkawinan, dan hukum negara bersama-sama menempatkan perempuan di bawah. Akses mereka ke pendidikan, pekerjaan, dan politik sangat dibatasi, dan laki-laki dianggap wajar memegang ruang publik.
Sisa pandangan itu masih terukur. Sun dan Fang memakai empat pernyataan dari survei: laki-laki sebaiknya mengutamakan karier dan perempuan mengutamakan keluarga, laki-laki pada dasarnya lebih mampu, menikah dengan baik lebih penting bagi perempuan daripada sukses berkarier, dan perempuan sebaiknya diberhentikan lebih dulu ketika ekonomi lesu. Jawaban keempatnya dilebur menjadi skor nol sampai seratus, dan makin tinggi skor seseorang, makin tradisional pandangannya.
Sementara itu, cara negara memandang olahraga perempuan ikut berubah. Naskah mencatat strategi Healthy China 2030 menyebut perempuan sebagai kelompok sasaran utama, dan jalur kebugaran di permukiman, jalan setapak di taman, serta area kebugaran khusus perempuan dibangun dalam jumlah besar. Soal ‘di mana berolahraga’, tulis kedua peneliti, mulai terjawab, sehingga pertanyaan berikutnya adalah apa yang ikut berubah di kepala para perempuan itu.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Potret 2013: lebih banyak yang tidak berolahraga
Pada gelombang 2013, perempuan yang berolahraga di waktu luang masih kalah jumlah. Hanya 42,42 persen yang menjawab pernah melakukannya dalam setahun terakhir, kira-kira dua dari lima orang. Jurang paling lebar terlihat pada status kependudukan. Di kalangan perempuan berstatus hukou pertanian angkanya 28,68 persen, sedangkan pada pemegang hukou nonpertanian mencapai 65,94 persen, lebih dari dua kali lipat.
Pendidikan memperlihatkan pola yang sama. Dari perempuan yang tidak pernah bersekolah formal, hanya 17,15 persen yang berolahraga, dan skor pandangan tradisional mereka 55,80, termasuk yang tertinggi. Di ujung lain, perempuan berpendidikan pascasarjana mencatat skor 35,03. Wilayah timur pun jauh di depan dengan 56,36 persen perempuan berolahraga, dibandingkan 34,09 persen di wilayah tengah dan 32,05 persen di barat.
Kaitan dengan pandangan gender sudah tampak pada tahun itu. Setelah usia, hukou, status menikah, wilayah, pendidikan, dan posisi sosial diperhitungkan, skor perempuan yang berolahraga lebih rendah 3,2 poin daripada yang tidak. Selisih itu belum bisa dibaca sebagai pengaruh olahraga. Ketika Sun dan Fang mengujinya dengan cara yang dirancang untuk menyaring kemungkinan arah sebaliknya, angka 2013 menyusut menjadi kurang dari satu poin dan tidak lagi bermakna secara statistik.
Potret 2023: keadaan berbalik di semua kelompok usia
Sepuluh tahun kemudian perbandingannya terbalik. Sebanyak 54,41 persen perempuan dalam gelombang 2023 berolahraga, lebih dari separuh. Kenaikan terjadi di semua kelompok usia: dari 44,46 menjadi 64,81 persen pada perempuan muda, dari 44,05 menjadi 55,76 persen pada usia paruh baya, dan dari 40,48 menjadi 47,09 persen pada lansia. Kelompok termuda melompat paling jauh.
Kelompok yang dulu tertinggal justru mengejar paling cepat. Di wilayah tengah, perempuan yang berolahraga naik dari 34,09 menjadi 52,52 persen, dan di barat dari 32,05 menjadi 48,48 persen, sementara timur hanya bergeser dari 56,36 ke 62,12 persen. Pemegang hukou pertanian naik dari 28,68 ke 47,07 persen. Jarak dengan pemegang hukou nonpertanian, yang kini 72,78 persen, masih lebar tetapi menyempit.
Pandangan gender bergerak ke arah yang sama, walau tidak merata. Skor perempuan muda turun dari 42,46 menjadi 29,22, dan skor perempuan paruh baya dari 47,34 menjadi 42,71. Pemegang hukou pertanian turun dari 51,64 ke 45,83, pemegang hukou nonpertanian dari 42,82 ke 34,07. Pernyataan bahwa perempuan sebaiknya diberhentikan lebih dulu saat ekonomi lesu, yang sejak awal paling sedikit disetujui, makin ditinggalkan.
Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Dasawarsa 2013–2023 yang tidak dinikmati merata
Perempuan lansia menjadi pengecualian. Pada 2023 skor mereka 50,19, tertinggi di antara tiga kelompok usia, dan uji perbandingan antartahun menunjukkan pandangan mereka bergerak ke arah yang lebih tradisional. Dibandingkan perempuan muda dengan latar serupa, skor lansia lebih tinggi sekitar 7 poin pada 2013 dan melebar menjadi 17,2 poin pada 2023. Perempuan paruh baya pun terpaut 10,1 poin dari yang muda.
Wilayah tengah menyimpan kejutan lain. Pada 2013 perempuan di sana sedikit lebih terbuka daripada perempuan di timur, tetapi pada 2023 skor mereka justru 3,5 poin lebih tradisional. Sun dan Fang menautkannya dengan riset lain yang mereka kutip: ekonomi wilayah tengah berubah lebih lambat dan masih bertumpu pada pertanian serta manufaktur tradisional, sementara kaum mudanya banyak merantau dan meninggalkan penduduk lanjut usia.
Pendidikan tetap menjadi pembeda paling tegas. Perempuan yang tidak bersekolah formal nyaris tidak bergerak, dari skor 55,80 ke 54,26, sedangkan skor lulusan pascasarjana turun dari 35,03 menjadi 17,85. Posisi sosial yang dirasakan sendiri juga mulai berperan. Pada 2023 perempuan yang menempatkan diri di anak tangga kedua sampai kedelapan dari sepuluh lebih egaliter daripada mereka yang merasa berada di anak tangga terbawah, pola yang belum terlihat pada 2013.
Temuan Sun dan Fang: kaitan itu baru kukuh pada 2023
Di tengah pergeseran itu, jarak antara perempuan yang berolahraga dan yang tidak ikut melebar. Dengan latar yang disetarakan, selisih skor mereka menjadi 4,3 poin pada 2023, dari 3,2 poin sepuluh tahun sebelumnya. Ketika kedua gelombang digabung, pelebaran itu tetap terlihat sesudah penurunan umum skor dari tahun ke tahun dipisahkan, sehingga tidak semata mencerminkan masyarakat yang secara keseluruhan makin terbuka.
Perbedaan terpenting muncul pada uji yang lebih ketat tadi. Untuk gelombang 2023, kaitan olahraga dengan skor yang lebih rendah bertahan dan bahkan membesar, antara 12 dan 16,8 poin tergantung cara penghitungannya. Di sinilah kedua peneliti berbeda dari bacaan sederhana atas angka mereka sendiri. Kaitan yang pada 2013 tampak nyata ternyata lebih mungkin lahir dari hal lain yang tidak terukur, sedangkan pada 2023 ia tetap berdiri.
Sun dan Fang juga menahan pembaca agar tidak menyimpulkan terlalu jauh. “Kenaikan besaran pengaruh dari 2013 ke 2023 semestinya dibaca sebagai perubahan yang terkait zamannya, yang mungkin dibentuk oleh modernisasi masyarakat dan arus budaya gender, bukan semata-mata menguatnya hubungan antara olahraga dan pandangan gender,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Penjelasan yang ditawarkan: tubuh, kebijakan 2016–2021, dan pasar
Mengapa olahraga bisa bersinggungan dengan pandangan tentang peran perempuan? Sun dan Fang bersandar pada teori yang memandang sikap dibentuk oleh pengalaman tubuh. Latihan yang berulang, menurut mereka, menggugat anggapan bahwa feminin berarti lemah dan pasif. Tiap kali target latihan tercapai, rasa mampu bertambah dan kepatuhan pasif makin sulit dipertahankan. Riset terdahulu yang mereka kutip menyebut olahraga sejak lama menjadi ruang tempat identitas gender dibentuk dan dipertontonkan.
Zaman pun berubah di sekitar para perempuan itu. Naskah menderetkan kebijakan yang terbit di antara dua survei: National Fitness Plan 2016–2020 yang menjadikan perempuan kelompok prioritas, Healthy China 2030 pada 2016, Sports Power Construction Outline pada 2019, dan Outline for the Development of Chinese Women 2021–2030 yang dikeluarkan Dewan Negara pada September 2021. Dokumen terakhir meminta pemerintah membimbing dan mendorong perempuan berolahraga.
Pasar ikut menyesuaikan diri. Tempat kebugaran, catat kedua peneliti, menawarkan kelas pemulihan kehamilan dan pascamelahirkan serta latihan kekuatan untuk perempuan. Tujuan berolahraga bergeser dari menurunkan berat badan ke mengejar rasa kuat dan rasa mampu mengendalikan diri. Anggapan bahwa perempuan tidak cocok berolahraga berat atau bahwa olahraga berlawanan dengan keanggunan makin sering digugat, sementara laki-laki mengambil lebih banyak pekerjaan rumah.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Batas ukuran dan angka yang tidak cocok dalam naskah 2026
Kedua peneliti mengakui batas temuan mereka. Olahraga hanya dicatat sebagai ya atau tidak, sehingga jalan santai sesekali dan latihan berat yang rutin masuk kelompok yang sama. Perempuan dalam dua gelombang itu bukan orang yang sama, dan tahun-tahun di antaranya tidak terekam. Pembagian kerja di rumah, jarak ke fasilitas olahraga, dan paparan media tidak ikut dihitung. Empat pernyataan tadi pun, tulis mereka, “tidak mencakup semua dimensi yang mungkin dari pandangan gender tradisional.”
Beberapa angka dalam naskah juga tidak cocok satu sama lain dan bisa diperiksa pembaca. Pada tabel deskriptif 2013, perempuan yang tidak berolahraga berjumlah 2.494 dan yang berolahraga 1.766, padahal totalnya disebut 4.331. Skor lansia 2013 tercetak 21,18, jauh di bawah kelompok lain, meski teks menyebut lansia lebih tradisional pada tahun itu. Satu uji tambahan malah memberi selisih lebih besar untuk 2013, yakni 4,2 poin berbanding 2,85.
Dalam rantai riset tentang pandangan gender di Tiongkok, yang selama ini bertumpu pada pendidikan, pekerjaan, dan perkawinan, naskah ini menambahkan satu mata rantai yang jarang diperiksa, yaitu tubuh yang bergerak. Mata rantai itu belum kokoh, sebab pada 2013 kaitannya tidak bertahan dan pada 2023 pun perempuan lansia berjalan ke arah lain. Dari kaki yang diikat ke jalan setapak di taman, jaraknya panjang, dan riset ini baru menandai dua titik di sepanjang jalan itu.















