Napas Pedagang Kaki Lima Chennai Melemah Seiring Tahun Berjualan

A A

Ilustrasi lapak buah berpayung di trotoar tepi jalan raya di Chennai, Tamil Nadu, India, Juli 2022 [Foto: Vinayaraj/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Secara keseluruhan, 76,2 persen pedagang melaporkan sedikitnya satu keluhan pernapasan.
  • Setiap tambahan satu tahun berjualan berkaitan dengan tiupan yang lebih lemah 3,34 liter per menit.
  • Setiap tambahan satu jam berada di luar ruangan dalam sehari berkaitan dengan penurunan 6,48 liter per menit.
  • Pendapatan bulanan pedagang tidak berhubungan dengan kekuatan tiupan.
Daftar Isi
  1. Ubaithullah dan rekan-rekannya turun ke empat koridor Porur
  2. Batuk yang dicatat Muruganantham di hampir enam dari sepuluh lapak
  3. Tiupan yang lebih lemah dari acuan yang dipegang Ubaithullah
  4. Tahun demi tahun di tepi jalan dalam hitungan tim Muruganantham
  5. Pedagang yang tidak merasa sesak, menurut Janakiraman dan kawan-kawan
  6. Angka yang perlu dicocokkan lagi dalam naskah Muruganantham

Aabitha Banu Ubaithullah dan tujuh rekannya meminta hal yang sama kepada ratusan pedagang kaki lima di Porur, Chennai. Berdirilah tegak, tarik napas sedalam mungkin, lalu tiup alat genggam ini sekuat-kuatnya. Tiga kali. Tiupan terkuat dicatat dalam liter per menit, dan dari angka itulah mereka membaca apa yang dikerjakan udara tepi jalan pada dada orang yang berjualan di sana.

Ubaithullah, asisten profesor di SRM College of Physiotherapy, menulis laporannya bersama Palanivelan Muruganantham, Veeragoudhaman T S, Niveditha Jayaraman, Sivaranjani Sethuraman, Vinitha Arasu, Hariharasudhan Ravichandran, dan Balamurugan Janakiraman. Judulnya Occupational exposure to air pollution and respiratory health among urban street vendors in South India. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah yang sudah diterima dan belum diberi nomor terbitan.

Tujuh dari delapan penulis itu bernaung di SRM Institute of Science and Technology, Kattankulathur, Tamil Nadu. Hariharasudhan Ravichandran datang dari Alva’s College of Physiotherapy and Research Centre di Moodbidri, Karnataka. Yang mereka temukan ringkas saja: makin lama seorang pedagang berjualan di tepi jalan, makin lemah tiupan napasnya.

Muruganantham dan rekan-rekannya berangkat dari sebuah kekosongan. Polisi lalu lintas dan penyapu jalan di India sudah beberapa kali diperiksa napasnya, sedangkan pedagang kaki lima nyaris belum. Padahal, menurut angka yang mereka kutip, lebih dari 10 juta pedagang kaki lima di negeri itu menghabiskan 8 sampai 12 jam sehari di tepi jalan, kerap tanpa pelindung apa pun.

Ubaithullah dan rekan-rekannya turun ke empat koridor Porur

Porur, tempat tim Ubaithullah bekerja, adalah salah satu simpul tersibuk di kota metropolitan Chennai. Kira-kira 2,5 juta orang melintasinya setiap hari. Bus, truk, kendaraan roda tiga, dan sepeda motor bertemu di Porur Junction, lalu menyebar ke empat koridor jalan yang dipenuhi halte, warung makan tepi jalan, dan kelompok-kelompok lapak.

Di sepanjang kira-kira 19 kilometer ruas itulah Muruganantham dan kawan-kawan menemui pedagang satu per satu antara Juni dan Agustus 2025. Sebanyak 403 orang mereka dekati, dan 298 bersedia ikut. Yang menolak umumnya beralasan tidak punya waktu, sehingga tingkat kesediaannya 73,9 persen. Dari koridor barat saja terkumpul 105 pedagang.

Orang-orang yang ditemui Jayaraman, Sethuraman, dan anggota tim lainnya rata-rata berusia 38,5 tahun. Hampir dua dari tiga adalah perempuan, tepatnya 65,4 persen, dan para penulis menyebut angka itu mencerminkan dominasi perempuan dalam pekerjaan ini di tempat tersebut. Tidak seorang pun perokok atau bekas perokok, sebab mereka memang tidak diikutkan, begitu pula mereka yang sudah didiagnosis berpenyakit pernapasan.

Catatan Ubaithullah menunjukkan betapa lama para pedagang itu berada di jalan. Rata-rata mereka sudah berjualan 16,45 tahun. Rata-rata pula mereka berada di luar ruangan 8,4 jam sehari untuk menjajakan dagangan. Para penulis membaca dua angka itu sebagai tanda paparan udara tepi jalan yang panjang dan terus-menerus.

Pedagang kaki lima Porur dalam angkaDari 298 pedagang, rata-rata 16,45 tahun berjualan dan 8,4 jam sehari di luar; rata-rata tiupan napas 376,1 liter per menit.Pedagang kaki lima Porur dalam angkaPorur, Chennai, Tamil Nadu, India298Pedagang65,4% perempuan16,45Tahun kerjarata-rataberjualan8,4Jam di luarrata-rata sehari376,1Liter/menitrata-rata tiupanJalan risetnyaEmpat koridor jalan298 pedagangTiupan diukurAcuan dewasa sehat India yang dikutip naskah: 450 sampai 600 literper menit.
Sumber: Palanivelan Muruganantham, Veeragoudhaman T S, Aabitha Banu Ubaithullah, Niveditha Jayaraman, Sivaranjani Sethuraman, Vinitha Arasu, Hariharasudhan Ravichandran, dan Balamurugan Janakiraman, Occupational exposure to air pollution and respiratory health among urban street vendors in South India, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar

Batuk yang dicatat Muruganantham di hampir enam dari sepuluh lapak

Sebelum meniup alat, para pedagang ditanyai Muruganantham dan rekan-rekannya tentang keluhan napas selama setahun terakhir. Jawabannya ramai. Sebanyak 58,7 persen mengaku batuk saat bekerja, hampir enam dari sepuluh orang. Yang mengeluh sesak napas 36,9 persen. Secara keseluruhan, 76,2 persen pedagang melaporkan sedikitnya satu keluhan pernapasan. Pada pedagang makanan perempuan di Mesir yang mereka kutip, angkanya 86,2 persen.

Udara yang mereka hirup, menurut data stasiun pemantau terdekat yang dipakai tim Ubaithullah, tidak tergolong ekstrem. Indeks kualitas udara rata-rata sebulan tercatat 72,25, sedangkan rata-rata setahun 94,31. Para penulis menyebutnya paparan yang sedang tetapi menetap. Kadar partikel halus dan partikel kasar, tulis mereka, melampaui batas yang dianjurkan.

Satu angka lain membuat Ubaithullah dan rekan-rekannya memberi penekanan khusus. “Hanya 2,3 persen pedagang yang melaporkan memakai masker selama bekerja,” tulis Aabitha Banu Ubaithullah, asisten profesor SRM College of Physiotherapy, bersama tujuh rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Itu kira-kira dua dari setiap seratus orang.

Keluhan napas banyak, masker nyaris tak adaSedikitnya satu keluhan napas: Pedagang +76,2%; Batuk saat bekerja: Pedagang +58,7%; Sesak napas: Pedagang +36,9%; Memakai masker saat berjualan: Pedagang +2,3%.Keluhan napas banyak, masker nyaris tak adaPersen dari 298 pedagang kaki lima di Porur, Chennai25%50%75%100%0Sedikitnya satu keluhan napas76,2%Batuk saat bekerja58,7%Sesak napas36,9%Memakai masker saat berjualan2,3%Keluhan napas dilaporkan sendiri oleh pedagang.
Sumber: Palanivelan Muruganantham, Veeragoudhaman T S, Aabitha Banu Ubaithullah, Niveditha Jayaraman, Sivaranjani Sethuraman, Vinitha Arasu, Hariharasudhan Ravichandran, dan Balamurugan Janakiraman, Occupational exposure to air pollution and respiratory health among urban street vendors in South India, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Janakiraman dan penulis lain tidak menanyakan alasannya kepada para pedagang Porur. Mereka hanya merujuk kajian terdahulu tentang pekerja luar ruang di kota: masker terasa tidak nyaman, menyulitkan bicara dengan pembeli, risikonya kurang disadari, dan harganya membebani. Di Bangkok, menurut kajian yang mereka kutip, lebih dari separuh pedagang tidak pernah memakai pelindung pernapasan.

Tiupan yang lebih lemah dari acuan yang dipegang Ubaithullah

Lalu datang giliran alat tiup itu. Rata-rata tiupan terkuat 298 pedagang yang dicatat tim Ubaithullah adalah 376,1 liter per menit. Sebagai pembanding, para penulis mengutip acuan orang dewasa sehat di India pada kelompok usia sebanding, yang disusun dari sekitar 6.000 orang. Rentangnya 450 sampai 600 liter per menit.

Keluhan dan angka ternyata berjalan seiring dalam catatan Muruganantham. Pedagang yang mengeluh sesak napas rata-rata hanya meniup 320,41 liter per menit, sedangkan yang tidak mengeluh mencapai 381,28 liter per menit. Selisih serupa muncul pada mereka yang melaporkan batuk, mengi, dahak pagi, dan dada terasa berat.

Vinitha Arasu dan rekan-rekannya juga meminta pedagang menahan napas selama mungkin. Rata-ratanya 33,32 detik. Kemampuan ini bergerak searah dengan kekuatan tiupan: setiap tambahan satu detik menahan napas berkaitan dengan tiupan yang lebih kuat 3,03 liter per menit. Hubungan keduanya termasuk yang paling erat di seluruh data.

Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses

Tahun demi tahun di tepi jalan dalam hitungan tim Muruganantham

Di sinilah inti temuan Muruganantham dan Ubaithullah. Setiap tambahan satu tahun berjualan berkaitan dengan tiupan yang lebih lemah 3,34 liter per menit. Setiap tambahan satu jam berada di luar ruangan dalam sehari berkaitan dengan penurunan 6,48 liter per menit. Keduanya tetap bermakna sesudah tinggi badan, berat badan, dan ciri lain pedagang ikut ditimbang.

Udara sendiri berbicara dengan cara yang menarik perhatian tim Janakiraman. Rata-rata indeks kualitas udara setahun berkaitan dengan tiupan yang lebih lemah, begitu pula kadar partikel kasar sebulan, yang tiap kenaikan satuannya berkaitan dengan penurunan 1,35 liter per menit. Sebaliknya, rata-rata indeks sebulan dan kadar partikel halus tidak menunjukkan kaitan yang bermakna.

Dari pola itu Ubaithullah dan rekan-rekannya menarik satu pembacaan. “Ukuran paparan jangka panjang (indeks kualitas udara tahunan, lama bekerja) merupakan penanda yang lebih kuat ketimbang ukuran jangka pendek, yang menegaskan sifat menahun dari risiko kesehatan kerja ini,” tulis mereka dalam bahasa Inggris. Udara yang sedang-sedang saja tetapi dihirup bertahun-tahun, menurut para penulis, lebih berarti daripada naik-turun bulanan.

Ada pula yang ternyata tidak berkaitan dalam hitungan Sethuraman dan kawan-kawan. Pendapatan bulanan pedagang tidak berhubungan dengan kekuatan tiupan. Sesak yang dirasakan saat beraktivitas juga tidak. Hanya sesak saat beristirahat yang berkaitan, dengan tiupan lebih lemah 14,37 liter per menit. Tinggi badan bergerak searah dengan kekuatan tiupan, sedangkan berat badan berlawanan arah.

Pedagang yang tidak merasa sesak, menurut Janakiraman dan kawan-kawan

Satu hal membuat Janakiraman dan rekan-rekannya berhenti sejenak. Banyak pedagang memberi nilai sesak yang rendah saat beristirahat, padahal tiupan mereka di bawah acuan. Para penulis menduga pedagang tidak menyadari gangguan napasnya yang masih dini, atau pelan-pelan sudah terbiasa dengannya. Dugaan itu mereka sandarkan pada kajian terdahulu, bukan pada pengukuran sendiri.

Ubaithullah juga berhati-hati membatasi apa yang boleh disimpulkan. “Mengingat rancangan penelitian ini potong lintang, kaitan yang teramati perlu ditafsirkan dengan hati-hati dan tidak menetapkan hubungan sebab-akibat,” tulis ia dan rekan-rekannya. Artinya, naskah ini memperlihatkan lama berjualan dan lemahnya tiupan berjalan bersama, bukan membuktikan yang satu menyebabkan yang lain.

Keterbatasan lain disebut Muruganantham dan kawan-kawan dengan terang. Kualitas udara diambil dari stasiun pemantau, bukan diukur di tubuh tiap pedagang, sehingga paparan yang sebenarnya bisa lebih tinggi. Asap dapur di rumah tidak dinilai. Jumlah peserta pun hanya 77,6 persen dari yang direncanakan, sehingga kaitan yang kecil mungkin luput.

Karena perokok dan penderita penyakit pernapasan tidak diikutkan, Ravichandran dan rekan-rekannya mengingatkan bahwa hasil ini belum tentu berlaku bagi kelompok tersebut. Perbedaan antara pedagang laki-laki dan perempuan juga belum mereka bedah. Semua itu mereka serahkan kepada penelitian lanjutan yang mengikuti pedagang dari waktu ke waktu.

Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat

Angka yang perlu dicocokkan lagi dalam naskah Muruganantham

Pembaca yang menelusuri naskah Muruganantham dan Ubaithullah akan menemukan beberapa angka yang tidak seragam. Abstrak menulis kaitan indeks kualitas udara tahunan sebesar 1,80 liter per menit, sedangkan bagian hasil menulis 3,8. Angka 44 persen disebut sebagai dahak pagi di abstrak, tetapi sebagai mengi di bagian hasil.

Dua hal lain juga layak diperiksa pada naskah tim Ubaithullah. Bagian hasil mencatat 76,2 persen pedagang punya sedikitnya satu keluhan, sementara pembahasan menyebut kira-kira dua pertiga. Sasaran peserta ditulis dinaikkan menjadi 422 orang, tetapi capaian 77,6 persen dihitung dari angka 384. Naskah ini memang masih versi yang belum disunting akhir.

Yang tinggal dari kerja Aabitha Banu Ubaithullah di Porur adalah sebuah angka sederhana pada alat genggam. Pedagang berdiri tegak di tepi jalan tempat ia berjualan belasan tahun, menarik napas, lalu meniup tiga kali. Rata-rata hasilnya 376,1 liter per menit, dan angka itu cenderung lebih rendah pada mereka yang paling lama berdiri di sana.

Bagikan

Baca Juga

Pekerja Jepang dengan HIV Bertahan Kerja bila Diagnosis Dini
Sekali Berhenti di Video Sedih, Layar Remaja Inggris Ikut Muram
Udara di Dalam Rumah Dalian Ikut Mengisi Ruang Tunggu Klinik
Sakit Kronis Membuat Pekerja Eropa Berhenti Kerja Lebih Cepat
Tahu Wadah Plastik Lepas Partikel, Warga Nebraska Tetap Memakai
Enam Bulan Dinyatakan Aman, Warga Oahu Masih Takut Air Keran