- Rego, dalam bahasa Kaili, berarti gerak melingkar.
- Sejak usia dini, anak-anak di komunitas Kaili dikenalkan pada rego dengan cara melihat langsung kegiatan adat yang melibatkannya.
- Generasi muda Kaili mengunggah video tarian rego ke YouTube, Instagram, dan TikTok, sehingga tarian itu sampai kepada orang di luar komunitasnya.
- Tokoh adat dan sesepuh khawatir modifikasi yang berlebihan bisa menghilangkan kesakralan dan keaslian rego.
- Nama desa dan nama sekolah yang mengajarkan rego juga tidak dicantumkan.
Daftar Isi
Rego, dalam bahasa Kaili, berarti gerak melingkar. Dari arti itulah tarian masyarakat To-Kaili di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mendapat namanya, dan lingkaran itu hadir pada empat peristiwa besar dalam hidup: kelahiran, pernikahan, kematian, dan panen. Kini lingkaran yang sama berputar pula di luar upacara, di panggung festival dan di video YouTube, Instagram, serta TikTok.
Perjalanan itu dicatat Hapri Ika Poigi, Juraid, Hasan Muhamad, dan Andi Mascunra Amir dalam Rego: Cultural Reproduction and To-Kaili Identity in Sigi District, Central Sulawesi Province. Tulisan mereka terbit di Jurnal Sosial, Politik dan Budaya (SOSPOLBUD) volume 4 nomor 2, tahun 2025. Judul dan abstraknya tersedia dalam bahasa Inggris, sedangkan badan naskahnya berbahasa Indonesia.
Keempatnya berasal dari Pascasarjana Universitas Tadulako, Palu, dengan Hapri Ika Poigi sebagai penulis korespondensi. Mereka mengamati tradisi ini dari dekat dan mewawancarai tokoh adat, pelaku tari, serta anak muda yang terlibat di dalamnya. Yang mereka cari bukan urutan gerak, melainkan cara sebuah tarian membuat orang Kaili tetap merasa sebagai orang Kaili.
Salah paham yang paling umum hendak mereka luruskan sejak abstrak. Menurut para penulis, “rego bukan sekadar tarian, melainkan simbol kultural yang mengandung nilai-nilai spiritual, sosial, dan filosofis yang ditransmisikan lintas generasi”. Maksudnya, orang yang hanya melihat rego sebagai tontonan baru menangkap kulitnya. Isinya adalah pandangan hidup yang dititipkan dari orang tua kepada anak.
Reproduksi Budaya, Cara Rego Diturunkan ke Anak
Reproduksi budaya adalah istilah yang dipakai naskah ini untuk proses sederhana: sebuah tradisi dihidupkan lagi oleh generasi berikutnya. Bedanya dengan sekadar mewariskan benda, yang diturunkan di sini adalah makna dan nilai. Para peneliti menemukan bahwa pada rego, proses itu berjalan lewat tiga pintu sekaligus.
Pintu pertama adalah keluarga. Sejak usia dini, anak-anak di komunitas Kaili dikenalkan pada rego dengan cara melihat langsung kegiatan adat yang melibatkannya. Orang tua dan sesepuh keluarga menanamkan pemahaman tentang makna simbolik serta nilai yang dikandung tarian itu. Pengajaran itu tidak berhenti pada kata-kata. Anak-anak secara bertahap diajak ikut menari, sehingga pengetahuan masuk lewat tubuh dan bukan hanya lewat telinga. Karena itu naskah menyebut keluarga sebagai agen utama, yaitu pihak pertama yang menjaga rego tetap bersambung di tengah perubahan sosial.
Pintu kedua adalah tokoh adat. Mereka bertugas menjaga keaslian ritual dan memastikan pelaksanaannya sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat Kaili. Naskah menyebut mereka mediator budaya, penghubung antara generasi muda dengan leluhur dan alam semesta lewat ritual yang dijalankan.
Pintu ketiga adalah komunitas yang lebih luas. Upacara pernikahan, kelahiran, kematian, dan panen menjadi saat warga ikut serta bersama-sama. Keikutsertaan itu, menurut para peneliti, bekerja sebagai mekanisme kolektif: nilai tidak diajarkan satu per satu, melainkan dialami beramai-ramai.
Tiga pintu itu tidak menutup semua celah. Para peneliti mencatat bahwa generasi muda cenderung lebih tertarik pada budaya populer yang datang lewat media massa dan teknologi digital. Upaya keluarga dan komunitas kuat, tetapi daya tarik dari luar juga kuat.
Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili
Gerak Melingkar, Lambang Hidup yang Terus Berputar
Lingkaran dalam rego bukan pilihan bentuk yang kebetulan. Gerak melingkar itu, tulis para peneliti, secara harfiah mencerminkan siklus kehidupan yang berkelanjutan. Ia juga menggambarkan hubungan yang selaras antara manusia, alam semesta, dan leluhur. Di balik gambaran itu ada keyakinan. Masyarakat Kaili percaya bahwa keseimbangan dalam hubungan tersebut membawa berkah dan kedamaian. Naskah menyebut rego sebagai wujud fisik dari filosofi hidup orang Kaili yang menghormati keseimbangan ekologi dan sosial, yakni keselarasan dengan alam dan dengan sesama.
Simbol tidak hanya ada pada gerak. Kostum tradisional yang dikenakan penari menampilkan identitas etnik, dan pada saat yang sama membawa pesan tentang status sosial, kedewasaan, serta tanggung jawab moral seseorang di tengah komunitasnya. Pakaian, dalam bacaan ini, adalah keterangan tentang siapa pemakainya.
Musik dan syair punya tugas lain lagi. Keduanya berfungsi sebagai sarana komunikasi spiritual, yang diyakini mampu menyampaikan doa dan permohonan kepada leluhur serta kekuatan yang mengatur kehidupan manusia. Nyanyian dalam rego, dengan begitu, ditujukan bukan hanya kepada penonton. Dimensi ini sudah dicatat peneliti lain yang dirujuk naskah. Rego dipercaya menghubungkan masyarakat Kaili dengan alam semesta dan roh leluhur, yang diyakini memberi berkah, perlindungan, dan kedamaian. Setiap gerakan, pola, dan ritme disebut bukan hal yang acak, melainkan simbol yang dipahami turun-temurun.
Adaptasi, Rego Pindah ke Festival dan Layar Ponsel
Adaptasi, dalam naskah ini, berarti menyesuaikan cara tampil tanpa mengganti isi. Perubahan yang paling mencolok ada pada panggungnya. Jika sebelumnya rego hanya dipentaskan dalam acara adat tertentu, kini ia mulai dipertunjukkan dalam berbagai acara publik dan festival budaya.
Panggung baru membawa penonton baru, termasuk anak muda yang sebelumnya kurang tertarik atau kurang mengenal tradisi ini. Festival juga memberi para penari kesempatan berkreasi dan menampilkan bentuk yang lebih inovatif. Syaratnya satu: makna dan simbolisme aslinya tetap dijaga. Layar ponsel menjadi panggung berikutnya. Generasi muda Kaili mengunggah video tarian rego ke YouTube, Instagram, dan TikTok, sehingga tarian itu sampai kepada orang di luar komunitasnya. Para peneliti mencatat efek sampingnya, yaitu tumbuhnya kebanggaan anak muda terhadap warisan budaya mereka sendiri.
Sekolah ikut mengambil peran. Sekolah-sekolah di Kabupaten Sigi mulai memasukkan rego ke dalam kurikulum pendidikan lokal, baik dalam pelajaran seni budaya maupun kegiatan ekstrakurikuler. Siswa tidak hanya mendengar teorinya, tetapi juga mempraktikkannya langsung.
Perubahan ini tidak diterima tanpa cemas. Tokoh adat dan sesepuh khawatir modifikasi yang berlebihan bisa menghilangkan kesakralan dan keaslian rego. Jalan tengah yang dicatat naskah adalah berinovasi pada penyajian dan promosi, sambil mempertahankan substansi spiritual dan simbolik tarian secara ketat.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Kohesi Sosial, Lingkaran yang Merapatkan Warga
Kohesi sosial adalah keeratan hubungan antarwarga, dan di sinilah rego bekerja di luar urusan seni. Setiap pementasan melibatkan seluruh lapisan masyarakat: tokoh adat, pemuda, anak-anak, perempuan, dan laki-laki. Semuanya berperan aktif dalam penyelenggaraan upacara. Pertemuan itu membuka ruang bagi warga untuk saling berbicara dan mempererat hubungan kekeluargaan. Bedanya dengan pertunjukan biasa, kerja bersama sudah dimulai sejak persiapan. Lewat keterlibatan itu, nilai seperti gotong royong, toleransi, saling menghormati, dan kerja sama terus dipupuk pada generasi muda.
Rego juga menjadi penanda identitas, yaitu ciri yang membuat sebuah kelompok mengenali dirinya. Menurut para peneliti, tradisi ini membedakan masyarakat Kaili dari etnis lain dan memperkuat kesadaran bersama untuk menjaga budaya asli. Naskah menyebut arus globalisasi cenderung homogen, artinya menyeragamkan.
Bagi anak muda, manfaatnya disebut ganda. Mereka memahami lebih dalam mengapa budaya sendiri perlu dihargai dan dikembangkan. Mereka juga diperkenalkan pada etika, moralitas, dan tanggung jawab sosial, yang oleh naskah dikaitkan dengan pendidikan karakter.
Diplomasi Budaya, Rego sebagai Perkenalan ke Luar
Diplomasi budaya, dalam pengertian naskah ini, adalah memperkenalkan keunikan budaya lokal kepada masyarakat internasional. Para peneliti melihat rego punya potensi ke arah itu. Kata yang mereka pakai adalah potensi, bukan capaian yang sudah terukur. Hal yang sama berlaku untuk pariwisata. Seiring meningkatnya minat pada wisata budaya, rego dinilai berpeluang besar dikembangkan sebagai daya tarik lokal. Manfaat yang dibayangkan ada dua: pemasukan bagi masyarakat setempat dan perjumpaan dengan pengunjung dari latar budaya lain.
Agar potensi itu tidak berhenti di atas kertas, naskah meminta keterlibatan banyak pihak. Komunitas lokal, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas disebut bersama-sama. Para penulis menempatkan rego bukan hanya sebagai milik masyarakat To-Kaili, melainkan bagian dari khazanah budaya nasional.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Batas Temuan, Bagian yang Belum Dijawab Naskah
Temuan ini punya batas yang diakui penulisnya sendiri. Strategi adaptasi rego, peran generasi muda, dan cara yang efektif untuk memasukkannya ke kurikulum disebut masih perlu digali dalam penelitian lanjutan. Perbandingan dengan tradisi serupa di komunitas adat lain juga belum dilakukan, sehingga gambaran ini berlaku untuk To-Kaili di Sigi saja.
Ada pula beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca di naskahnya. Wawancara dengan tokoh adat, pelaku tari, dan anak muda disebut, tetapi tidak satu pun nama, jumlah narasumber, atau ucapan mereka dimuat. Nama desa dan nama sekolah yang mengajarkan rego juga tidak dicantumkan.
Soal rujukan, satu kalimat tentang hasil penelitian justru ditutup dengan nama penulis skripsi tahun 2012 dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Laporan lama yang dirujuk untuk tahun 1998 berjudul tentang Kabupaten Donggala, bukan Sigi. Dua judul di daftar pustaka menulis Raego’ dan etnik Kulawi, tanpa penjelasan hubungannya dengan rego dan To-Kaili.
Yang tersisa dari naskah ini adalah sebuah lingkaran yang ternyata lebih luas daripada arena tari. Gerak melingkar itu dimulai di rumah, dijaga tokoh adat, dirapatkan oleh upacara, lalu dibawa anak muda ke festival dan layar ponsel. Selama makna spiritualnya dipegang, kata para peneliti, rego tetap rego di panggung mana pun.















