Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili

A A

Upacara adat pelantikan tradisional suku Tomini di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah [Foto: Gulsam/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Nora’a Keke melengkapi empat ritual Kaili yang sudah tercatat: pora’a, balia, vaino randa kabilasa, vaino kamatea
  • Ritual berlangsung tiga tahap: musyawarah Molibu, penyembelihan di hulu sungai, makan bersama dan pesta Moraego
  • Rombongan menari mengelilingi Bantaya tujuh kali sebagai tanda hormat sebelum ritual inti
  • Naskah menulis persentase kepercayaan verbal-vokal-wajah tanpa menyebut sumber datanya sendiri
Daftar Isi
  1. Musyawarah Sebelum Air Diminta
  2. Darah di Hulu Sungai
  3. Tujuh Putaran Sebelum Masuk Bantaya
  4. Tombak dan Kain yang Tidak Bersuara
  5. Tiga Nilai yang Menopang Ritual
  6. Bagian yang Perlu Dibaca Ulang Pembaca

Selama ini, siapa pun yang mendata ritual budaya suku Kaili di Sulawesi Tengah akan berhenti pada empat nama: pora’a untuk syukuran panen, balia untuk penyembuhan, vaino randa kabilasa untuk pernikahan, dan vaino kamatea untuk kematian. Keempatnya sudah lama dicatat sebagai kekayaan tradisi lisan yang masih hidup di kalangan warga Kaili sepanjang pesisir barat dan timur Sulawesi Tengah. Yang belum terdokumentasi serinci itu adalah ritual yang justru dipanggil ketika hujan berhenti turun.

Kekosongan itu yang coba diisi Yunidar, Gazali Lembah, Ade Nurul Izzati G. Yotolembah, Ulinsa, Muthia Aryuni, dan Muhammad Ahsan Samad lewat Nora’a Keke Oral Tradition: Kaili Tribe Disaster Control Rituals in Palu Valley, dimuat Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia volume 8 nomor 2, tahun 2022.

Yunidar, Gazali Lembah, Ade Nurul Izzati G. Yotolembah, dan Ulinsa mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako. Muthia Aryuni tercatat di Fakultas Kedokteran kampus yang sama, sementara Muhammad Ahsan Samad berasal dari Fakultas Sains Sosial dan Humaniora Universiti Kebangsaan Malaysia.

Objek penelitiannya adalah masyarakat Desa Pombewe di Lembah Palu, tempat ritual bernama Nora’a Keke masih dijalankan. Nora’a dalam bahasa Kaili berarti “memberi darah,” sedangkan Keke berarti “muara” atau “sungai.” Bila digabungkan, ritual ini dipahami warga sebagai pemberian darah atau sesaji kepada arwah leluhur agar hujan turun ke wilayah yang dilanda kemarau panjang—menempatkan Nora’a Keke sebagai ritual kelima yang melengkapi empat ritual Kaili yang sudah lebih dulu dikenal.

Musyawarah Sebelum Air Diminta

Prosesi Nora’a Keke dimulai jauh sebelum hewan disembelih. Tahap awal berupa Molibu, musyawarah yang digelar di Baruga, Sou Eyo, dan Bantaya untuk mencari kesepakatan atau Sintuvu. Dalam pertemuan itu ditentukan hari dan tanggal upacara, tempat pelaksanaan, siapa pelaksana teknisnya, dan siapa yang bertugas membawa peralatan serta bahan. Setelah semua disepakati, Pabicara selaku juru bicara mengumumkan hasil musyawarah kepada warga, sekaligus meminta pasangan yang baru menikah menyiapkan hewan sembelihan sesuai ketentuan yang disetujui bersama.

Rangkaian ini menegaskan bahwa Nora’a Keke bukan tindakan spontan segelintir orang, melainkan keputusan kolektif desa. Sebagaimana empat ritual Kaili lain yang lebih dulu tercatat selalu melibatkan tokoh adat dan tokoh agama, ritual meminta hujan ini pun menghadirkan tetua adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, perempuan, dukun yang disebut Bayasa, dan pemain ibule, alat musik pengiring sepanjang prosesi berlangsung.

Tiga tahap ritual Nora'a KekeTiga tahap ritual Nora'a Keke dari musyawarah sampai harapan hujan turun.Tiga tahap ritual Nora'a KekeProsesi menurut paperAwalmusyawarahMolibu, tetapkanIntisembelih hewandi hulu sungaiAkhirmakan bersama,pesta MoraegoHujandiharap turunakhiri kemarau
Sumber: Yunidar, Gazali Lembah, Ade Nurul Izzati G. Yotolembah, Ulinsa, Muthia Aryuni, dan Muhammad Ahsan Samad, Nora’a Keke Oral Tradition: Kaili Tribe Disaster Control Rituals in Palu Valley, Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 8(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Darah di Hulu Sungai

Begitu tahap awal selesai, seluruh peserta turun dari Bantaya menuju bagian hulu sungai sambil diiringi tabuhan gimba yang tak berhenti sepanjang jalan. Di sana, empat jenis beras diletakkan di atas daun pisang dan dupa dibakar sebagai pembuka. Bayasa lalu memanggil arwah leluhur untuk turut menyaksikan jalannya ritual, sementara sejumlah warga dikisahkan kerasukan arwah leluhur sambil menari mengikuti bunyi gimba.

Penyembelihan berlangsung berurutan, dimulai dari ayam, disusul kambing, lalu kerbau, dan setiap selesai satu ekor, kepalanya dihanyutkan ke sungai. Babi yang akan disembelih justru ditombak dengan bambu terlebih dahulu agar menjerit—jeritan itu diyakini menjadi undangan bagi dewa air. Warga yang diketahui melanggar aturan adat sebelum ritual digelar diperintahkan turun ke hilir dari lokasi penyembelihan, lalu dimandikan air yang telah tercampur darah hewan, seolah air itu menjadi tebusan atas pelanggaran yang telah dibuat.

Baca juga Baleganjur Nusa Agung Berpindah dari Bapak ke Pemuda

Tujuh Putaran Sebelum Masuk Bantaya

Sebelum rombongan diperbolehkan masuk kembali ke Bantaya, mereka lebih dulu mengelilingi balai itu sambil menarikan tarian sambutan sebanyak tujuh kali. Angka tujuh ini bukan kebetulan; disebut sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang menunggu di dalam balai. Warga yang berada di dalam Bantaya menyambut dengan menaburkan beras kuning ke arah rombongan yang baru selesai berputar.

Setelah seluruh proses ritual di sungai rampung, kepala-kepala hewan yang telah dipotong disimpan dalam kamboti, lalu digantung pada bambu kuning yang dihias daun kelapa. Rangkaian penutup tahap inti ini menyambungkan langsung ke tahap akhir: makan bersama hasil sembelihan mengikuti adat, yang kemudian dilanjutkan dengan pesta panen bernama Moraego sebagai ungkapan syukur sekaligus mempererat hubungan sosial warga desa.

Nora'a Keke, ritual kelima suku KailiNora'a Keke didokumentasikan sebagai ritual kelima Kaili, tiga tahap, tujuh kali tarian sambutan, tiga nilai utama.Nora'a Keke, ritual kelima suku KailiDesa Pombewe, Lembah Palu, Sulawesi Tengah4ritual Kailisudah tercatatsebelum ini3tahapawal, inti, akhir7kalitarian sambutanmasuk bantaya3nilaireligius, filsafat,etikaJalan risetnyaEmpat ritual Kailitercatat sebelumnyaNora'a Keke didatasebagai ritual kelimaProsesi, simbol, nilaidiurai lengkapPaper menulis persentase kepercayaan verbal-vokal-wajah (7/28/55persen) seolah temuan sendiri, tanpa menyebut sumber datanya.
Sumber: Yunidar, Gazali Lembah, Ade Nurul Izzati G. Yotolembah, Ulinsa, Muthia Aryuni, dan Muhammad Ahsan Samad, Nora’a Keke Oral Tradition: Kaili Tribe Disaster Control Rituals in Palu Valley, Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 8(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Tombak dan Kain yang Tidak Bersuara

Di luar rangkaian tindakan, Nora’a Keke juga menyimpan simbol verbal dan nonverbal yang oleh peneliti dianggap sama pentingnya dengan prosesi itu sendiri. Simbol verbal berupa nyanyian dan mantra doa berbahasa Kaili, di antaranya permohonan ampun yang ditujukan kepada penghuni “tanah tujuh lapis” agar bersedia menurunkan hujan, serta doa yang meminta kekuatan bekerja kepada Torilembana, sosok yang dipahami sebagai dewa penguasa lembah.

Simbol nonverbalnya jauh lebih sederhana secara jumlah, tetapi tidak kalah bermakna: Toko Tampi, sebentuk tombak yang menjadi lambang kejayaan warga Kaili karena dulu dipakai sebagai alat perang, serta kain adat yang disakralkan setiap kali tradisi Kaili dilaksanakan. Yunidar dan kawan-kawan menegaskan bahwa dua jenis simbol ini saling melengkapi.

Dalam naskahnya mereka menulis, “The interesting thing about the ritual of Nora’a Keke lies in the procession from the beginning to the end of the ritual implementation, there are verbal and non-verbal symbols, as well as the valuable values contained in the implementation of the Nora’a Keke ritual.” Bila diterjemahkan, kira-kira berbunyi: hal menarik dari ritual Nora’a Keke terletak pada prosesi dari awal sampai akhir pelaksanaannya, ada simbol verbal dan nonverbal, serta nilai-nilai berharga yang terkandung di dalamnya.

Baca juga Dua Fabel Solok Selatan Membicarakan Cara Memegang Kuasa

Tiga Nilai yang Menopang Ritual

Di sisi lain dari simbol dan prosesi, penelitian ini juga mengurai tiga nilai yang dianggap terkandung dalam Nora’a Keke: religius, filosofis, dan etis. Nilai religius tampak dari pengakuan atas Torilembana sebagai penguasa lembah, ditutup penegasan bahwa kesempurnaan hanya milik Allah Ta’ala, bukan manusia. Nilai filosofis menempatkan manusia sekaligus sebagai makhluk Tuhan yang tidak boleh melupakan adat leluhur, makhluk sosial yang akan menanggung bencana dari lingkungan bila melanggar norma, dan makhluk individu yang mesti terus bekerja—digambarkan lewat kerbau yang kembali dipekerjakan begitu hujan turun.

Nilai etis melengkapi keduanya lewat tiga arah sekaligus: etika kepada Tuhan yang diwujudkan lewat anjuran salat dan puasa agar terhindar dari kesengsaraan, etika kepada diri sendiri berupa larangan menyakiti diri, dan etika kepada lingkungan berupa permohonan perlindungan lahan dari hama serta kekeringan berkepanjangan. Ketiga nilai ini, menurut naskahnya, tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling menopang di sepanjang prosesi yang sama.

Baca juga Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan

Bagian yang Perlu Dibaca Ulang Pembaca

Penelitian ini tetap punya batas yang perlu digarisbawahi. Karena hanya mengamati satu desa, yaitu Pombewe, kesimpulan tentang prosesi, simbol, dan nilai Nora’a Keke tidak serta-merta bisa diberlakukan untuk menggambarkan seluruh komunitas suku Kaili yang tersebar di Sulawesi Tengah. Ritual dengan nama sama di desa lain bisa saja menyimpan variasi kecil yang tidak tertangkap dalam penelitian ini.

Ada pula satu bagian yang layak dicermati ulang oleh siapa pun yang membaca naskah aslinya. Pada uraian simbol nonverbal, penulis menuliskan bahwa “the results showed that people’s confidence level was only 7% from verbal, 28% from vocal sounds and 55% from facial expressions,” seolah angka itu adalah hasil pengamatan langsung dari ritual Nora’a Keke di Pombewe. Namun naskah tidak pernah menjelaskan dari mana persisnya ketiga persentase itu dikumpulkan, siapa respondennya, atau bagaimana metodenya—sesuatu yang mestinya dijelaskan bila memang berasal dari temuan lapangan penelitian ini sendiri.

Nora’a Keke pada akhirnya berdiri sebagai ritual kelima yang melengkapi catatan tradisi lisan suku Kaili, menyambung rantai penelitian yang sebelumnya berhenti pada pora’a, balia, vaino randa kabilasa, dan vaino kamatea. Ia menempatkan diri bukan sebagai penutup daftar, melainkan sebagai pengingat bahwa masih ada celah dalam pencatatan tradisi lisan Kaili yang baru terisi ketika kemarau panjang memaksa satu desa duduk bermusyawarah di Baruga, lalu turun bersama ke hulu sungai.

Bagikan

Baca Juga

Yusuf Gayos Ubah Vokal Barzah Jadi Lagu Kaylana Batang Hari
RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Lima Lukisan Retno Amalia Pratiwi Menjawab Novel Gibran
Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi
Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera
Kronologi Dana 1 Persen Freeport untuk Amungme dan Kamoro