Sakit Kronis Membuat Pekerja Eropa Berhenti Kerja Lebih Cepat

A A

Ilustrasi lengan pekerja bersarung tangan karet hitam mengoperasikan tuas mesin industri [Foto: Marianna Zuzanna/Pexels]

  • Dua tahun sesudah diagnosis, angka tadi sudah berlipat.
  • Pekerja Slovenia yang menerima diagnosis menghadapi risiko keluar dini 26,0 poin lebih tinggi daripada rekan mereka yang sehat.
  • Waktu kerja yang hilang rata-rata 3,6 bulan per orang.
  • Hasilnya sekitar 136 miliar euro pendapatan yang hilang setiap tahun di dua belas negara itu.
  • Peserta yang sakit berat juga lebih mungkin hilang dari survei.
Daftar Isi
  1. Sebelum diagnosis, tidak ada tanda pekerja bersiap pergi
  2. Tahun diagnosis: makin berat penyakitnya, makin besar dorongannya
  3. Dua tahun kemudian: risiko berlipat, Slovenia paling jauh
  4. Tahun keempat dan keenam: puncak, lalu waktu yang hilang menyusut
  5. Setiap tahun: 136 miliar euro pendapatan yang tidak jadi diterima
  6. Sesudah angka-angka itu: batas penelitian dan catatan pada naskah

Tahun diagnosis menjadi titik awal hitungan. Pada tahun itu, peluang seorang pekerja Eropa berusia 55 tahun ke atas untuk meninggalkan pekerjaan sebelum waktunya naik 7,3 poin persentase dibanding rekan sebayanya yang sehat. Waktu kerja yang hilang pada titik itu tercatat 2,4 bulan.

Catatan itu disusun Nga Chau My Ha, Carla Sabariego, dan Diana Pacheco Barzallo dalam artikel The impact of chronic diseases on labour market exit: a difference-in-differences approach. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26, artikel nomor 2034, tahun 2026. Ketiganya berafiliasi dengan University of Lucerne dan Swiss Paraplegic Research di Swiss.

Mereka mengikuti 8.144 orang di dua belas negara Eropa lewat survei yang berjalan dari 2004 sampai 2020. Semua masih aktif di pasar kerja dan belum punya penyakit kronis ketika pertama kali didata. Dalam perjalanan survei, 25 persen dari mereka menerima sedikitnya satu diagnosis. Sebanyak 14 persen melaporkan keluar dari dunia kerja lebih awal.

Sebelum diagnosis, tidak ada tanda pekerja bersiap pergi

Yang dihitung sebagai keluar dini adalah peralihan ke status pensiun, atau ke status sakit permanen atau disabilitas, sebelum usia pensiun normal di negara masing-masing. Penyakit kronis di sini berarti penyakit tidak menular yang didiagnosis, dari hipertensi sampai kanker. Gangguan kesehatan jiwa tidak dimasukkan.

Pada periode sebelum diagnosis, garis kedua kelompok berjalan sejajar. Para penulis tidak menemukan kecenderungan yang bermakna pada masa itu. Artinya, menurut mereka, orang tidak berangsur-angsur meninggalkan pekerjaan karena sudah menduga akan jatuh sakit. Perubahan baru terlihat ketika diagnosis resmi datang.

Mereka memberi alasan mengapa diagnosis menjadi garis batas. Di negara-negara yang diteliti, pensiun disabilitas atau skema pensiun dini umumnya mensyaratkan keterangan medis resmi. Rasa kurang sehat saja tidak cukup untuk membuka pintu itu. Diagnosis adalah saat ongkos meninggalkan pekerjaan berubah.

Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia

Tahun diagnosis: makin berat penyakitnya, makin besar dorongannya

Pada tahun diagnosis, kenaikan peluang keluar dini berbeda menurut berat penyakit. Untuk kelompok berat, yaitu stroke dan kanker, kenaikannya 15 poin persentase. Kelompok sedang, yang mencakup penyakit paru obstruktif kronis, Parkinson, dan patah tulang panggul, naik 11 poin. Kelompok ringan seperti diabetes, hipertensi, dan katarak naik 7 poin.

Urutan itu dibaca para penulis sebagai petunjuk tentang sebabnya. “Gradasi keparahan itu mendukung hipotesis bahwa keluarnya orang dari angkatan kerja adalah tanggapan atas keterbatasan fungsi yang ditimbulkan penyakit kronis,” tulis Nga Chau My Ha, Carla Sabariego, dan Diana Pacheco Barzallo dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris.

Jalur keluarnya juga dipilah. Ketika orang yang beralih ke status sakit permanen atau disabilitas dikeluarkan dari hitungan, pengaruh diagnosis tetap sekitar 15 poin, hampir sama dengan angka utama 16 poin. Sebagian besar dorongan itu, dengan demikian, berjalan lewat pensiun dini biasa. Jalur disabilitas sendiri hanya naik sekitar 2,0 poin.

Usia ikut menentukan. Pada pekerja berumur 50 sampai 54 tahun, yang hampir tidak punya pilihan pensiun dini, kenaikan risikonya 2,0 poin. Pada kelompok 55 sampai 60 tahun, kenaikannya sekitar 5 poin sesudah diagnosis. Kelompok kedua ini umumnya masih di bawah usia pensiun resmi, tetapi sudah berada di jendela pensiun dini.

Dua tahun kemudian: risiko berlipat, Slovenia paling jauh

Dua tahun sesudah diagnosis, angka tadi sudah berlipat. Kenaikan peluang keluar dini mencapai 15,7 poin persentase. Waktu kerja yang hilang ikut bertambah, dari 2,4 bulan menjadi 4,6 bulan. Pada rentang dua tahun pertama inilah para penulis membandingkan negara demi negara.

Risiko berhenti kerja sesudah diagnosisRisiko keluar dini naik 7,3 poin pada tahun diagnosis, 15,7 pada tahun kedua, 20,8 pada tahun keempat, 20,7 pada tahun keenam.Risiko berhenti kerja sesudah diagnosisKenaikan peluang, poin persentase, dibanding pekerja sehatTh 0Tahun diagnosis: risiko naik 7,3 poin, hilang 2,4 bulankerjaTh 2Dua tahun kemudian: naik 15,7 poin, hilang 4,6 bulanTh 4Tahun keempat, puncak: naik 20,8 poin, hilang 5,0bulanTh 6Tahun keenam: naik 20,7 poin, hilang 2,8 bulanPekerja usia 55 tahun ke atas di 12 negara Eropa. Rata-rata enamtahun: 16,1 poin dan 3,6 bulan.
Sumber: Nga Chau My Ha, Carla Sabariego, dan Diana Pacheco Barzallo, The impact of chronic diseases on labour market exit: a difference-in-differences approach, BMC Public Health, 26(2034), 2026. Grafik: Cekricek.id

Slovenia berada paling atas. Pekerja Slovenia yang menerima diagnosis menghadapi risiko keluar dini 26,0 poin lebih tinggi daripada rekan mereka yang sehat. Di bawahnya ada Jerman dengan 21 poin, Belgia 16, Italia 15, dan Austria 14. Swiss mencatat 11 poin, Spanyol dan Denmark sama-sama 10, lalu Republik Ceko 9.

Estonia menjadi pengecualian. Kenaikan risikonya hanya 1,3 poin, dan rentang taksirannya melewati angka nol. Para penulis menduga gaji yang relatif rendah dan pensiun yang sangat bergantung pada pendapatan membuat orang di sana tidak punya jaminan keuangan untuk berhenti. Mereka juga mengingatkan bahwa taksiran untuk Estonia, Prancis, dan Swedia perlu dibaca hati-hati.

Waktu kerja yang hilang mengikuti urutan yang sedikit berbeda. Di Slovenia, rata-ratanya 12,6 bulan, lebih dari setahun. Belgia kehilangan 6,4 bulan dan Italia 6,2 bulan. Austria mencatat 3,8 bulan, Spanyol 3,1, Swiss 2,9, Denmark 2,3, dan Swedia 2,2. Untuk Jerman, Republik Ceko, Estonia, dan Prancis, taksirannya tidak bermakna secara statistik.

Bulan kerja yang hilang, negara demi negaraSlovenia: Bulan +12,6; Belgia: Bulan +6,4; Italia: Bulan +6,2; Austria: Bulan +3,8; Spanyol: Bulan +3,1; Swiss: Bulan +2,9; Denmark: Bulan +2,3; Swedia: Bulan +2,2.Bulan kerja yang hilang, negara demi negaraRata-rata dalam dua tahun pertama sesudah diagnosis48120Slovenia12,6Belgia6,4Italia6,2Austria3,8Spanyol3,1Swiss2,9Denmark2,3Swedia2,2Delapan negara dengan taksiran bermakna. Jerman, Republik Ceko,Estonia, dan Prancis tidak bermakna secara statistik.
Sumber: Nga Chau My Ha, Carla Sabariego, dan Diana Pacheco Barzallo, The impact of chronic diseases on labour market exit: a difference-in-differences approach, BMC Public Health, 26(2034), 2026. Grafik: Cekricek.id

Tiap negara diberi penjelasan sendiri. Untuk Slovenia, para penulis menunjuk angka disabilitas yang termasuk tertinggi di antara negara terpilih. Pasar kerjanya juga kurang lentur, sehingga pekerjaan penuh waktu sering menjadi satu-satunya pilihan bagi orang yang ingin kembali bekerja.

Belgia, Jerman, dan Austria dijelaskan dari arah sebaliknya. Pendapatan di ketiga negara itu tinggi dan pembiayaan kesehatannya besar. Pada 2022, Belgia membelanjakan 10,9 persen produk domestik brutonya untuk kesehatan, Jerman 12,7 persen, dan Austria 11,4 persen. Rata-rata negara OECD pada tahun itu 9,2 persen.

Swiss menunjukkan sisi lain. Pekerja di sana kehilangan 6,8 persen pensiun untuk tiap tahun klaim yang dimajukan. Potongan itu lebih besar daripada di Austria, yang paling tinggi 5,1 persen, dan Jerman, 3,6 persen. Biaya hidup yang tinggi dan pengaturan kerja yang lentur ikut menahan orang tetap bekerja.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Tahun keempat dan keenam: puncak, lalu waktu yang hilang menyusut

Pada tahun keempat, kenaikan risiko mencapai puncaknya, 20,8 poin persentase. Waktu kerja yang hilang juga sampai di titik tertinggi, 5,0 bulan. Dua tahun berikutnya, risiko nyaris tidak bergerak dan tercatat 20,7 poin. Waktu kerja yang hilang justru turun menjadi 2,8 bulan.

Polanya tidak seragam di semua negara. Di Denmark dan Jerman, makin lama orang hidup dengan penyakitnya, makin besar peluang mereka berhenti. Di Belgia dan Italia, risiko naik selama dua sampai empat tahun pertama, lalu mulai turun pada tahun keenam. Para penulis menduga pengaruhnya melemah ketika orang makin dekat ke usia pensiun.

Naik turunnya angka sesudah diagnosis, menurut mereka, mungkin mencerminkan perjalanan kesehatan yang berubah. Sebagian orang pulih, sebagian lain memburuk. Bila enam tahun itu dirata-ratakan, kenaikan peluang keluar dini adalah 16,1 poin persentase. Waktu kerja yang hilang rata-rata 3,6 bulan per orang.

Angka 3,6 bulan itu diakui kecil. Para penulis mengaitkannya dengan usia peserta, yang umumnya baru jatuh sakit pada umur yang sudah lanjut. Mereka juga mencatat pertukaran yang dihadapi orang sakit. Pensiun dini sering berarti manfaat pensiun lebih kecil, tetapi beban kerja hilang dan waktu merawat diri bertambah.

Setiap tahun: 136 miliar euro pendapatan yang tidak jadi diterima

Hitungan terakhir memakai data tahun 2022. Para penulis mengalikan jumlah penduduk berusia 55 sampai 64 tahun, porsi yang punya penyakit kronis, gaji median, dan waktu kerja yang hilang. Hasilnya sekitar 136 miliar euro pendapatan yang hilang setiap tahun di dua belas negara itu.

Jerman menyumbang bagian terbesar, 68,90 miliar euro, kira-kira separuh dari seluruh jumlah. Italia menyusul dengan 17,86 miliar euro, Spanyol 16,03 miliar, dan Belgia 8,93 miliar. Di ujung lain ada Estonia, yang kehilangannya ditaksir 0,03 miliar euro.

Angka itu juga dibandingkan dengan belanja kesehatan tiap negara. Di Slovenia, kerugian 2,31 miliar euro setara 44,42 persen dari belanja kesehatan nasionalnya. Belgia mencatat 16,09 persen dan Jerman 14,08 persen. Prancis berada paling bawah dengan 0,72 persen.

Dari sinilah para penulis menarik pokok tulisannya. “Meski rata-rata waktu kerja yang hilang tampak kecil pada tingkat perorangan, ketika dihitung pada tingkat populasi, kerugian produktivitas yang ditimbulkannya besar,” tulis ketiganya. Mereka menyebut makin banyaknya penyakit kronis dan menuanya angkatan kerja sebagai pendorongnya.

Usulan mereka bertumpu pada rehabilitasi kerja. Bentuknya antara lain konseling, jadwal yang lentur, peralatan pendukung di tempat kerja, dan dukungan tenaga kesehatan kerja. Insentif pajak bagi pemberi kerja serta kampanye gaya hidup sehat ikut disebut. Tanpa langkah seperti itu, tulis mereka, beban pensiun dan layanan kesehatan akan bertambah.

Baca juga Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata

Sesudah angka-angka itu: batas penelitian dan catatan pada naskah

Para penulis mencatat sendiri batas penelitiannya. Survei dilakukan dua tahun sekali, sehingga orang yang keluar sebentar dari pekerjaan bisa terlewat. Peserta yang sakit berat juga lebih mungkin hilang dari survei. Kedua hal itu, menurut mereka, cenderung membuat pengaruh yang terukur lebih kecil daripada yang sebenarnya.

Ada batas lain. Diagnosis dilaporkan sendiri oleh peserta. Perilaku sehat dan daya lenting orang tidak sepenuhnya tertangkap. Taksiran untuk tahun-tahun akhir juga makin lebar rentangnya, karena jumlah orang yang masih bisa diamati kian sedikit.

Beberapa hal di dalam naskah tidak saling cocok. Bagian hasil menyebut pengaruh pada waktu kerja tidak bermakna di semua negara. Kalimat berikutnya dan tabelnya hanya menandai empat negara. Abstrak menaruh Belgia dan Italia tepat di bawah Slovenia untuk risiko keluar dini, sedangkan pembahasan menaruh Jerman di urutan kedua.

Batas bawah rentang taksiran Jerman ditulis berbeda di dua tabel. Angka 68,90 miliar euro untuk Jerman pun bersandar pada taksiran yang ditandai tidak bermakna. Selain itu, 14 persen peserta disebut keluar dini, tetapi angka per kelompok hanya 7,3 persen dan 5,7 persen. Bagian keterbatasan juga menyebut semua penyakit diperlakukan setara, padahal naskah memuat tiga tingkat keparahan.

Titik terakhir yang tercatat adalah tahun keenam sesudah diagnosis. Pada titik itu kenaikan risikonya 20,7 poin persentase. Waktu kerja yang hilang 2,8 bulan. Sesudah tahun keenam, naskah tidak mencatat apa-apa lagi.

Bagikan

Baca Juga

Tahu Wadah Plastik Lepas Partikel, Warga Nebraska Tetap Memakai
Enam Bulan Dinyatakan Aman, Warga Oahu Masih Takut Air Keran
Media Sosial Menjerat Lebih dari Sepertiga Mahasiswa di Kerala
Dokter Tanpa Jabatan di Turki Lebih Condong Bekerja Seperlunya
Punya Kebun di Rumah, Warga Prancis Lebih Sering Digigit Caplak
Label Peringatan Gula Makanan Bayi Bisa Kalah oleh Klaim Alami