- Semua orang tua mendukung label peringatan gula pada makanan bayi kemasan, dan beberapa mengatakan akan lebih memercayai merek yang memakainya.
- Hanya satu ibu yang mengenal istilah gula bebas, dan hanya segelintir orang tua yang menghindari pure kemasan.
- Label peringatan menjawab sembilan di antaranya, lebih dari separuh, terutama dengan memudahkan orang tua membandingkan produk.
- Dari 25 orang tua hanya satu yang ayah, meski mereka menilai dominannya ibu mencerminkan pembagian peran memberi makan anak di England.
Daftar Isi
- Dari anjuran WHO sampai pedoman sukarela Inggris 2025
- Temuan Conway: orang tua tahu gula buruk, tetapi sulit mengenalinya
- Kemasan yang menenangkan sebelum label gizi sempat dibaca
- Musim wawancara 2025: praktis, lazim, dan disukai anak
- Ketika label peringatan diperlihatkan pada awal 2025
- Hitungan tim Conway: sembilan dari 16 faktor
- Catatan atas naskah 2026 yang belum disunting
Rak makanan bayi di supermarket Inggris dipenuhi kantong pure buah, biskuit mungil, dan camilan berkemasan cerah yang dipasarkan untuk anak di bawah tiga tahun. Lama sekali banyak orang tua meyakini produk semacam itu pasti sehat, justru karena dibuat khusus untuk bayi. Keyakinan itu mulai digugat ketika kandungan gula, tulisan di kemasan, dan cara pemasarannya makin disorot, sampai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan label peringatan gula di bagian depan kemasan.
Anjuran itulah yang ditimbang Rana E Conway, Alexandra Rhodes, Tiffany Denning, Emma Boyland, Kiara Sehgal, Andrew Steptoe, dan Clare H Llewellyn dalam Could using sugar warning labels on commercial baby foods reduce intake of free sugars? A qualitative study, BMC Public Health, tahun 2026. Enam penulis bekerja di Research Department of Behavioural Science and Health, University College London, sedangkan Boyland berasal dari Department of Psychology, University of Liverpool.
Bahan mereka adalah percakapan panjang dengan 25 orang tua di England yang anaknya berusia 6 sampai 35 bulan dan terbiasa menyantap makanan bayi kemasan, berlangsung antara Januari dan April 2025. Dari percakapan itu muncul gambaran yang lebih rumit daripada sekadar perlu atau tidaknya sebuah label. Orang tua ternyata sudah berniat membatasi gula, tetapi kemasan yang mereka pegang terus mengarahkan mereka ke kesimpulan lain.
Dari anjuran WHO sampai pedoman sukarela Inggris 2025
Persoalannya berpangkal pada gula bebas, istilah yang oleh naskah dijelaskan sebagai semua gula tambahan, misalnya gula pasir putih, ditambah gula alami buah dan sayur yang strukturnya sudah dipecah, seperti pure atau pasta buah. Gula di dalam buah dan sayur utuh tidak termasuk. Di Britania Raya, gula bebas menyumbang sekitar 10 persen kalori anak usia satu sampai tiga tahun, dua kali batas yang dianjurkan pemerintah setempat maupun WHO.
Akibatnya sudah terlihat pada usia yang sangat muda. Di England, 23,5 persen anak usia empat sampai lima tahun hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas, kira-kira satu dari empat anak, dan 22,4 persen anak usia lima tahun punya gigi berlubang. Anak di wilayah paling miskin dua kali lebih mungkin mengalami keduanya, sehingga menurut para penulis pencegahan sejak dini paling berguna bagi keluarga yang kurang beruntung secara sosial ekonomi.
WHO lalu menyusun Nutrient and Promotion Profile Model, pedoman komposisi, label, dan pemasaran makanan bayi kemasan, yakni produk yang dipasarkan untuk anak sampai 36 bulan. Pedoman itu menganjurkan label peringatan gula di depan kemasan dan melarang berbagai klaim. Sebuah penilaian atas 469 produk di supermarket Britania Raya yang dikutip naskah menemukan 41 persen melewati kriteria gula total pedoman tersebut, artinya tergolong tinggi gula.
Pemerintah Britania Raya memilih jalan yang lebih lunak. Pada 2025 terbit pedoman sukarela bagi industri makanan bayi, yang tidak mengusulkan label peringatan gula, meski memuat janji menimbang langkah lain bila pelaku usaha gagal menurunkan kadar gula dan memperbaiki label. Para penulis mencatat industri ini bernilai sekitar 54 miliar dolar AS di seluruh dunia, sehingga pembuat kebijakan menuntut bukti kuat sebelum mewajibkan apa pun.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Temuan Conway: orang tua tahu gula buruk, tetapi sulit mengenalinya
Seluruh orang tua yang diwawancarai tahu gula tidak sehat. Mereka mengaitkannya dengan gigi berlubang, kenaikan berat badan, diabetes, anak yang terlalu aktif, tidur yang terganggu, dan tumbuhnya kegemaran pada rasa manis. Semuanya juga mengaku berusaha membatasi gula anak, antara lain dengan menghindari makanan yang mencantumkan kata gula dalam daftar bahan. Niat, dengan kata lain, bukan bagian yang hilang.
Yang hilang adalah kemampuan mengenali produk tinggi gula. Ketika diminta mengurutkan makanan bayi menurut kandungan gulanya, orang tua kesulitan. Sebagian menduga produk berbahan buah paling manis, sebagian lain menunjuk makanan penutup atau biskuit. Produk yang mengandung sayur, produk merek premium, dan produk berlabel untuk bayi yang lebih muda dikira lebih rendah gula, padahal dugaan itu tidak bersandar pada angka di kemasan.
Contoh paling terang datang dari dua camilan. Beberapa orang tua mengira sebuah wafer yang mengandung 5 gram gula per 100 gram dan sebuah camilan olahan buah yang mengandung 67 gram gula per 100 gram kurang lebih sama manisnya. Alasannya sederhana, keduanya camilan rasa buah dengan kemasan yang mirip. Selisih lebih dari tiga belas kali lipat itu luput karena bentuk kemasan lebih cepat terbaca daripada tabel gizi.
Di titik ini pengetahuan lama tentang buah ikut menyesatkan. Hanya satu ibu yang mengenal istilah gula bebas, dan hanya segelintir orang tua yang menghindari pure kemasan karena menyamakannya dengan smoothie, dengan alasan buah yang diblender melepaskan gula atau kehilangan serat. Sebagian besar menganggap gula dalam makanan bayi berbahan buah sebagai gula alami yang tidak bermasalah, sehingga kantong pure dipandang setara dengan buah segar.
Kemasan yang menenangkan sebelum label gizi sempat dibaca
Tulisan di kemasan bekerja lebih dulu daripada angka. Kebanyakan orang tua tertarik pada produk berklaim tanpa gula tambahan dan mengira produk itu tidak mengandung gula, sementara keterangan bahwa isinya hanya gula alami membuat mereka tenang. Pesan seperti ‘organic’, ‘no junk promise’, dan ‘other stuff 0%’ memberi kesan serupa bagi sebagian orang tua, yakni bahwa gulanya lebih sedikit.
Banyaknya pilihan memperkuat kebiasaan itu. Orang tua menyebut jumlah produk dan keterangan di label terasa membanjiri, padahal waktu belanja sempit, sehingga mereka membeli merek yang dipercaya tanpa memeriksa produk satu per satu. Sebagian memang curiga dan menyebut pesan kemasan hanya pemasaran. Meski begitu, mereka mengaku dengan kesal tetap tertarik pada kemasan yang elok dipandang.
Daftar bahan yang dicetak menonjol juga ikut berperan. Orang tua memakainya untuk menilai isi produk, dan daftar yang memuat bahan yang dikenal seperti apel atau jus apel, tanpa kata gula, dianggap sehat. Sebaliknya, panel gizi yang mencantumkan gram gula per 100 gram berukuran lebih kecil dan dirasa sulit diterjemahkan menjadi pegangan memberi makan anak.
Gambaran dari England itu bersambung dengan riset di tempat lain yang dikutip naskah. Orang tua di Australia juga dilaporkan tertarik pada kantong makanan bayi berklaim tanpa gula tambahan, dan bukti eksperimen di sana menunjukkan mereka 13,7 kali lebih mungkin memilih produk yang membawa klaim tersebut. Sebuah tinjauan tentang pemahaman konsumen atas istilah gula pun menemukan gula alami umumnya dianggap berbeda dan lebih sehat daripada gula tambahan.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Musim wawancara 2025: praktis, lazim, dan disukai anak
Hambatan berikutnya tidak tertulis di kemasan. Orang tua menyukai kantong dan camilan bayi karena dikemas per porsi dan tahan lama, sehingga bisa disimpan di lemari, kereta dorong, atau tas popok untuk dipakai kapan saja. Buah segar dipandang lebih merepotkan karena bisa rusak bila terlupa, bisa mengotori, atau ditolak anak. Rak yang penuh di supermarket dan obrolan sesama orang tua, termasuk di forum daring, membuat makanan bayi kemasan terasa lazim.
Anak sendiri ikut menentukan. Orang tua bercerita bahwa anak kadang menolak buah segar atau makanan bayi yang gurih, tetapi menyukai yang manis, mulai dari pure buah, yoghurt, camilan, sampai campuran sayur manis. Kadang mereka mengalah pada permintaan anak, atau membiarkan porsinya lebih besar daripada rencana. Dalam keadaan lelah dan kurang tidur, memilih makanan yang pasti dimakan terasa masuk akal.
Ada pula rasa percaya yang jarang dipertanyakan. Banyak orang tua, terutama yang baru punya anak pertama, mengandalkan makanan bayi kemasan karena yakin produk itu diawasi sehingga sehat, tidak membuat tersedak, dan cocok dengan kebutuhan bayi. Menjadi orang tua yang baik mereka kaitkan dengan memastikan anak cukup makan dan tidak lapar, apalagi bila lapar berarti rewel atau sulit tidur.
Ketika label peringatan diperlihatkan pada awal 2025
Semua orang tua mendukung label peringatan gula pada makanan bayi kemasan, dan beberapa mengatakan akan lebih memercayai merek yang memakainya. Label itu, kata mereka, akan mendorong mereka mencari pilihan yang lebih rendah gula, entah produk sejenis tanpa label peringatan, camilan gurih, buah segar, atau kue beras tawar. Produk berlabel peringatan mungkin tetap diberikan, tetapi hanya sesekali.
Seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai P09 sebelumnya keliru menebak kandungan gula sebuah camilan olahan buah. “Saya rasa itu akan sangat membantu, cukup dengan melihat sekilas, oke, mungkin itu lebih cocok jadi suguhan sesekali,” katanya, dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris. Sebagian orang tua mengusulkan persentase gula dicantumkan pada label, dan ada yang khawatir label luput terlihat di kemasan yang ramai warna.
Dukungan itu punya batas yang tegas. Banyak orang tua mengatakan label peringatan akan membuat mereka memeriksa kemasan, lalu mengabaikan peringatan itu bila daftar bahan hanya memuat buah atau bila klaim menyiratkan gulanya alami. Partisipan yang dicatat sebagai P06 berkata, “Menurut saya kalau isinya hanya pure buah, rasanya produk itu tidak seharusnya diberi label, karena itu alami.” Sebagian bahkan menilai label keliru menyamakan gula tambahan dengan gula alami.
Hitungan tim Conway: sembilan dari 16 faktor
Para penulis lalu memetakan semua yang mereka dengar menjadi 16 faktor yang memudahkan atau menghalangi orang tua mengurangi makanan bayi tinggi gula. Label peringatan menjawab sembilan di antaranya, lebih dari separuh, terutama dengan memudahkan orang tua membandingkan produk. Hasil ini sejalan dengan riset terdahulu yang dikutip naskah, bahwa label peringatan menurunkan kesan sehat sebuah produk dan niat membelinya.
Namun label tidak bekerja sendirian. Menurut para penulis, kemampuan label mengatasi sulitnya mengenali produk tinggi gula akan lebih kuat bila isyarat yang membuat orang tua mengabaikannya, seperti klaim tanpa gula tambahan dan pesan penuh buah asli, dicabut dari kemasan. Pesan bahwa menghaluskan buah melepaskan gula, disertai panduan praktis tentang pengganti yang sesuai usia, menjawab delapan faktor dan menjadi satu-satunya cara menambah keyakinan orang tua memberi makanan lain.
“Analisis kami mendukung perlunya undang-undang untuk menerapkan serangkaian unsur kebijakan label dan pemasaran yang saling menguatkan sebagaimana diusulkan WHO, bukan hanya label peringatan gula,” tulis Conway dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Di sinilah mereka berbeda jalan dengan pedoman sukarela 2025, yang menyerahkan perbaikan kepada industri dan tidak menyertakan label peringatan sama sekali.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Beberapa hambatan tetap tidak tersentuh oleh perubahan label mana pun, yaitu kepraktisan produk dan kesukaan anak pada rasa manis. Para penulis menduga timbangan orang tua masih bisa bergeser bila kesan sehat produk berkurang dan keyakinan memberi makanan lain bertambah. Kesukaan anak pun, menurut mereka, mungkin berubah dalam jangka panjang bila sejak dini anak berulang kali dikenalkan pada pilihan yang lebih sehat.
Catatan atas naskah 2026 yang belum disunting
Keterbatasannya diakui para penulis. Dari 25 orang tua hanya satu yang ayah, meski mereka menilai dominannya ibu mencerminkan pembagian peran memberi makan anak di England. Penutur selain bahasa Inggris dan pengasuh lain seperti kakek-nenek tidak diwawancarai, dan perbedaan jawaban menurut latar sosial ekonomi tidak dinilai. Di luar daftar itu, yang direkam naskah ini adalah ucapan orang tua tentang apa yang akan mereka lakukan, bukan catatan belanja setelah label benar-benar terpasang.
Naskah yang beredar masih berstatus diterima dan belum disunting, dan beberapa ketidakrapian bisa diperiksa pembaca. Nama salah satu penulis tertulis Tifiany Denning di halaman sampul dan Tiffany Denning di halaman judul. Usia rata-rata anak disebut 18,5 bulan di bagian hasil tetapi 18,4 bulan di tabel peserta. Satu kelompok motivasi disebut ‘reflective’ di teks dan ‘reflexive’ di tabel kutipan.
Dalam rantai riset tentang gula pada anak, naskah ini menambah satu mata rantai yang spesifik. Ia tidak membantah anjuran WHO, tetapi menunjukkan bahwa peringatan di depan kemasan akan dibaca berdampingan dengan gambar buah dan janji serba alami di sebelahnya. Di rak supermarket yang sama, orang tua yang sudah berniat membatasi gula masih harus memilih mana dari dua pesan itu yang mereka percayai.















