- Di semua kelompok pendapatan, bagian pasien atas biaya rumah sakit tercatat nol karena seluruhnya ditanggung asuransi.
- Kelompok pendapatan terendah rata-rata membayar sendiri 1.064 dolar setahun setelah pulang, kelompok tertinggi hanya 630 dolar.
- Hari kerja yang hilang menyumbang 87,7 sampai 95,2 persen dari seluruh beban keuangan pasien.
- Biaya tidak langsung naik dari 2.477 dolar pada cedera ringan menjadi 23.477 dolar pada cedera kritis.
- Data pengeluaran dan pendapatan dilaporkan sendiri lewat telepon, sehingga ingatan responden bisa meleset.
Daftar Isi
Mahsa Baymani dan Reyhane Bahrani memegang daftar panjang nama orang yang pernah dirawat karena kecelakaan lalu lintas di Provinsi Tehran, Iran. Keduanya bertanggung jawab mengumpulkan data untuk sebuah penelitian tentang biaya. Lebih dari 2.000 orang ditelepon sampai terkumpul 434 pasien yang kisah keuangannya lengkap: berapa tagihan rumah sakit, berapa yang dibayar sendiri, dan berapa hari kerja yang lenyap.
Hasil kerja itu ditulis Zhila Najafpour, Alireza Olyaeemanesh, Efat Mohamadi, Reyhane Bahrani, Mahsa Baymani, dan Zahra Goudarzi dalam artikel berjudul Economic burden of road traffic injuries across income groups and injury severity levels: a cross-sectional study in Tehran Province, Iran. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Naskah yang tersedia masih versi awal yang belum melewati penyuntingan akhir jurnal.
Najafpour, Bahrani, dan Baymani bekerja di Department of Health Care Management, Ahvaz Jundishapur University of Medical Sciences. Olyaeemanesh dan Mohamadi berasal dari Health Equity Research Center, Tehran University of Medical Sciences. Goudarzi, penulis korespondensi yang mengawasi keseluruhan proyek, bernaung di Shiraz University of Medical Sciences. Kampus di Tehran itu pula yang mendanai penelitian mereka.
Pertanyaan Najafpour dan Olyaeemanesh, dua perancang penelitian ini, sederhana tetapi jarang dijawab. Asuransi kesehatan dasar di Iran menanggung sebagian besar biaya rawat inap. Lalu, apakah keluarga korban benar-benar terlindung dari akibat keuangan sebuah kecelakaan? Mereka ingin tahu siapa yang menanggung apa, terutama setelah pasien meninggalkan rumah sakit.
Dari 94.647 kasus rawat inap ke 434 pasien
Baymani dan Bahrani berangkat dari 94.647 kasus rawat inap akibat cedera lalu lintas di Provinsi Tehran sepanjang 2023 sampai 2024. Dari sana terpilih 434 pasien, yang diwawancarai lewat telepon dalam setahun setelah pulang dan dicocokkan dengan catatan rumah sakit. Bila pasien tidak bisa dihubungi, yang menjawab adalah orang yang merawatnya.
Wajah para pasien itu, dalam catatan tim Goudarzi, cukup seragam. Usia rata-rata mereka 38,35 tahun. Tujuh dari sepuluh adalah laki-laki, tepatnya 71,4 persen, dan 70,5 persen sudah menikah. Sebanyak 61,1 persen bekerja. Hampir separuhnya, 44,9 persen, berumur 20 sampai 39 tahun. Mereka rata-rata terbaring di rumah sakit selama 10,5 hari.
Mohamadi, yang membantu analisis, dan rekan-rekannya lalu memilah pasien dengan dua cara. Pertama menurut pendapatan bulanan rumah tangga, dibagi empat kelompok dari yang terendah sampai tertinggi. Kedua menurut parahnya cedera: ringan, sedang, berat, dan kritis. Cedera berat paling banyak, 38,7 persen pasien, disusul ringan 24,2 persen, kritis 22,8 persen, dan sedang 15,0 persen.
Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset
Tagihan rumah sakit yang lunas, dan yang datang sesudahnya
Temuan pertama tim Najafpour melegakan. Di semua kelompok pendapatan, bagian pasien atas biaya rumah sakit tercatat nol. Tagihan rawat inap itu tidak kecil: rata-rata 7.047 dolar AS pada kelompok pendapatan terendah dan 4.955 dolar pada kelompok tertinggi, dihitung dengan kurs setara daya beli tahun 2023. Seluruhnya ditanggung asuransi.
Cerita berubah begitu pasien pulang. Goudarzi dan kolega menghitung apa saja yang dibayar sendiri selama setahun sesudahnya: rehabilitasi, obat, dan kunjungan kontrol. Kelompok pendapatan terendah rata-rata mengeluarkan 1.064 dolar. Kelompok tertinggi hanya 630 dolar. Makin tipis dompet sebuah keluarga, makin besar uang yang keluar setelah pintu rumah sakit tertutup di belakang mereka.
Urutan itu rapi di tabel yang disusun Olyaeemanesh dan rekan-rekannya. Dari kelompok termiskin ke terkaya, pembayaran sendiri setelah pulang turun dari 1.064 ke 982, lalu 651, lalu 630 dolar. Biaya medis langsung mengikuti arah yang sama, dari 1.489 ke 1.008 dolar. Ongkos nonmedis seperti transportasi dan pendamping hampir rata, 274 sampai 333 dolar.
“Meskipun biaya rumah sakit sepenuhnya ditanggung skema asuransi, rumah tangga, terutama yang berada di kelompok berpendapatan rendah, tetap terpapar tekanan keuangan yang berarti setelah pulang,” tulis Najafpour, Olyaeemanesh, Mohamadi, Bahrani, Baymani, dan Goudarzi di bagian kesimpulan. Naskah mereka aslinya berbahasa Inggris.
Hari kerja yang hilang menjadi tagihan terbesar
Angka paling besar yang ditemukan Baymani dan Bahrani ternyata tidak tercetak di kuitansi mana pun. Tim menanyakan berapa hari kerja yang hilang, baik pada pasien maupun kerabat yang menemaninya, lalu menilainya dengan pendapatan rumah tangga. Itulah yang mereka sebut biaya tidak langsung. Nilainya jauh melampaui ongkos berobat.
Pada kelompok pendapatan terendah, catat Goudarzi dan kolega, biaya tidak langsung rata-rata 9.965 dolar. Angkanya naik menjadi 12.101 dan 13.091 dolar pada dua kelompok tengah, lalu 18.808 dolar pada kelompok tertinggi. Kenaikan itu wajar menurut mereka: orang berpenghasilan lebih besar kehilangan lebih banyak uang untuk setiap hari yang terlewat.
Dilihat dari kantong pasien, hitungan Mohamadi dan rekan-rekannya menunjukkan hari kerja yang hilang menyumbang 87,7 sampai 95,2 persen dari seluruh beban keuangan, bergantung pada kelompok pendapatan. Biaya medis langsung hanya 9,4 persen pada kelompok terendah dan 3,2 persen pada kelompok tertinggi. Kira-kira sembilan dari setiap sepuluh dolar kerugian pasien berasal dari pekerjaan yang terhenti.
Najafpour dan timnya juga menghitung dari sudut masyarakat, yakni dengan memasukkan uang yang dikeluarkan sistem kesehatan dan asuransi. Dari sudut ini porsi biaya tidak langsung naik dari 50,1 persen pada kelompok terendah ke 73,1 persen pada kelompok tertinggi. Porsi biaya medis langsung bergerak sebaliknya, dari 42,9 persen menjadi 23,2 persen.
Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan
Cedera kritis dan kerugian yang berlipat
Pemilahan kedua yang dikerjakan Goudarzi dan kolega, menurut parahnya cedera, memperlihatkan lompatan yang lebih tajam. Biaya rumah sakit rata-rata 2.870 dolar untuk cedera ringan, 4.869 dolar untuk cedera sedang, 10.491 dolar untuk cedera berat, dan 16.288 dolar untuk cedera kritis. Pembayaran sendiri setelah pulang ikut naik, dari 685 menjadi 1.810 dolar.
Lonjakan terbesar lagi-lagi ada pada biaya tidak langsung. Tabel yang disusun Olyaeemanesh dan rekan-rekannya mencatat 2.477 dolar untuk cedera ringan, 5.606 dolar untuk cedera sedang, 19.699 dolar untuk cedera berat, dan 23.477 dolar untuk cedera kritis. Antara ujung paling ringan dan paling gawat, nilainya berlipat hampir sepuluh kali.
Beban total mengikuti pola itu. Menurut hitungan tim Najafpour, pasien cedera ringan menanggung 3.468 dolar, sedangkan pasien kritis 25.737 dolar. Dari sudut masyarakat, bebannya naik dari 6.749 menjadi 43.021 dolar, lebih dari enam kali lipat. Pada pasien, porsi hari kerja yang hilang bergerak dari 71 persen pada cedera ringan sampai 92 persen pada cedera yang lebih parah.
Arti temuan bagi keluarga yang tidak punya tabungan
Bagi Goudarzi dan para penulis lain, dua pola tadi saling mengunci. Keluarga berpendapatan tinggi kehilangan uang lebih banyak dalam angka mutlak. Keluarga berpendapatan rendah menanggung beban yang relatif lebih berat, karena daya tahan keuangan mereka terbatas dan tidak ada mekanisme pengganti penghasilan ketika pencari nafkah belum bisa kembali bekerja.
“Ketidaksesuaian antara tanggungan biaya rumah sakit dan perlindungan keuangan yang lebih luas ini menyoroti celah kritis dalam pelaksanaan jaminan kesehatan semesta,” tulis Najafpour dan kelima rekannya di bagian pembahasan. Menurut mereka, perhatian yang hanya tertuju pada layanan rawat inap dapat membiarkan kelompok rentan terpapar pengeluaran kesehatan yang membawa bencana bagi keuangan keluarga.
Usul Olyaeemanesh, Najafpour, dan kolega menyasar masa setelah pulang. Mereka menyarankan cakupan asuransi diperluas ke layanan rehabilitasi dan perawatan lanjutan yang esensial, disertai bantuan keuangan terarah bagi rumah tangga berpendapatan rendah. Perlindungan sosial bagi orang yang lama tidak bisa bekerja juga mereka sebut dapat meringankan beban itu.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Batas-batas yang diakui tim Goudarzi
Goudarzi dan rekan-rekannya tidak menutupi kelemahan data mereka. Pengeluaran setelah pulang, hari kerja yang hilang, dan pendapatan rumah tangga semuanya dilaporkan sendiri lewat telepon, sehingga ingatan responden bisa meleset. Pendapatan hanya ditanyakan pada satu titik waktu. Akibat keuangan yang berlangsung lebih dari setahun juga tidak terekam.
Penelitian ini pun, tulis Najafpour dan kolega, bersifat menggambarkan, bukan menguji sebab-akibat antara pendapatan, parahnya cedera, dan beban ekonomi. Temuannya belum tentu berlaku bagi provinsi lain atau wilayah pedesaan Iran. “Karena itu, hasilnya perlu ditafsirkan dengan kehati-hatian yang semestinya,” tulis mereka.
Ada pula beberapa hal dalam naskah Najafpour dan kolega yang dapat diperiksa pembaca sendiri. Empat kelompok pendapatan disebut kuartil, tetapi isinya tidak sama besar: 105, 62, 168, dan 99 orang. Susunan itu nyaris kembar dengan pembagian menurut parahnya cedera, yaitu 105, 65, 168, dan 99 orang, yang bila dijumlahkan menjadi 437, bukan 434.
Tabel beban pasien yang dimuat tim Goudarzi juga menyisakan pertanyaan. Kelompok pendapatan tertinggi tercatat menanggung 37.243 dolar, padahal pembayaran sendiri, ongkos nonmedis, dan biaya tidak langsung kelompok itu di tabel sebelumnya berjumlah sekitar 19.763 dolar. Uraian hasil pun menyebut biaya medis langsung bergerak dari 935 ke 13.365, sementara tabelnya memuat 1.096 sampai 2.806 dolar.
Daftar nama yang dipegang Baymani dan Bahrani pada akhirnya bercerita tentang hal yang tidak tampak di kuitansi. Rumah sakit di Provinsi Tehran tidak menagih para pasien itu sepeser pun. Kerugian mereka menumpuk di tempat lain: di hari-hari tanpa pekerjaan setelah pulang, yang nilainya rata-rata mulai dari 9.965 dolar pada keluarga berpendapatan paling rendah.















