Tidur Tujuh Jam Seiring Daya Pikir Terbaik di Usia 50 ke Atas

A A

Ilustrasi seorang lansia berbaring di ranjang dengan lampu meja menyala di sampingnya [Foto: Vladimirscrajber/Pexels]

  • Orang yang tidur sekitar tujuh jam mencatat skor daya pikir tertinggi.
  • Di Tiongkok puncaknya jatuh pada 5,5 jam, di Inggris 6,8 jam, dan di India 6,4 jam.
  • Tidur enam jam atau kurang tidak lagi berkaitan bermakna dengan skor daya pikir.
  • Semua angka itu ingatan peserta sendiri, tanpa alat perekam gerak.
Daftar Isi
  1. Sun berangkat dari angka demensia dunia
  2. Tiga negara di meja Zhang, tiga cara tidur
  3. Lengkung yang ditemukan Sun, dari tanggal sampai ingatan
  4. Usia dan jenis kelamin dalam hitungan Liu dan Sun
  5. Batas yang diakui Chen dan Li
  6. Yang masih bisa diperiksa pembaca naskah Sun

Lin Sun menghimpun jawaban 25.783 orang berusia 50 tahun ke atas di Tiongkok, Inggris, dan India. Kepada mereka dibacakan sepuluh kata yang tak saling berkaitan untuk diingat, lalu mereka diminta menghitung mundur dari 100 dengan mengurangi tujuh, dan menyebut hari, tanggal, bulan, serta tahun saat itu. Satu jawaban lain ia sandingkan dengan semua itu: berapa jam mereka tidur pada malam hari.

Hasil kerja itu ia tulis bersama Ruizhu Liu, Chunlu Zhang, Yuhan Yao, Peng Chen, dan Longyun Li dalam artikel Sleep duration and cognitive function in middle-aged and older adults: a multinational study in China, England, and India, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel nomor 1080, tahun 2026. Keenamnya bekerja di Departemen Anestesiologi China-Japan Union Hospital of Jilin University, Changchun, Tiongkok. Sun merancang studi dan menulis draf naskah, sedangkan Chen dan Li mengawasi seluruh rancangannya.

Yang ditemukan Sun dan rekan-rekannya mudah digambar: sebuah lengkung seperti huruf U terbalik. Orang yang tidur sekitar tujuh jam mencatat skor daya pikir tertinggi. Skor itu lebih rendah pada mereka yang tidur empat jam atau kurang, dan lebih rendah lagi pada mereka yang tidur sembilan jam atau lebih. Lengkung yang sama muncul di tiga negara yang kekayaan, layanan kesehatan, dan cara hidupnya jauh berbeda.

Sun berangkat dari angka demensia dunia

Sun membuka naskahnya dengan sebuah hitungan: sekitar 57,4 juta orang hidup dengan demensia pada 2019, dan jumlahnya diperkirakan mencapai 152 juta pada 2050. Bagi tim itu, lonjakan tersebut membuat pencarian faktor risiko yang masih bisa diubah menjadi mendesak. Tidur, tulis mereka, termasuk di antaranya: perilaku sehari-hari yang dimiliki semua orang dan berkaitan dengan kinerja otak.

Dugaan soal lengkung U terbalik bukan hal baru, dan Sun mengakuinya. Sejumlah studi yang ia rujuk sudah menunjukkan bahwa tidur kurang dari enam jam maupun lebih dari sembilan jam sama-sama merugikan. Persoalannya, hampir semua studi itu dikerjakan di satu negara saja. Belum ada yang menguji apakah pola serupa bertahan ketika orang Tiongkok, Inggris, dan India diletakkan berdampingan.

Karena itu Sun, yang mengumpulkan dan menganalisis data inti, memadukan tiga survei penuaan berskala nasional. Dari Tiongkok ada 12.543 orang, dari Inggris 7.245 orang, dan dari India 5.995 orang. Chunlu Zhang mengekstrak dan memeriksa ulang datanya, sementara Ruizhu Liu membantu analisis statistik. Semua peserta menyebut sendiri lama tidurnya dalam wawancara tatap muka.

Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia

Tiga negara di meja Zhang, tiga cara tidur

Di data yang diperiksa Zhang, ketiga kelompok itu nyaris tak mirip. Peserta Inggris paling tua, rata-rata 68,74 tahun, dibanding 61,59 tahun di Tiongkok dan 62,84 tahun di India. Mereka juga paling terdidik: 21,8 persen berpendidikan tinggi. Sepertiganya tinggal sendiri, dan tujuh dari sepuluh minum alkohol setidaknya sebulan sekali. Skor daya pikir mereka paling baik di semua jenis tes.

Peserta Tiongkok memperlihatkan wajah lain kepada Sun. Sebanyak 85,7 persen berpendidikan di bawah sekolah menengah pertama, dan 30,2 persen masih merokok. Mereka pula yang paling banyak tidur singkat: 15,3 persen, kira-kira satu dari tujuh orang, tidur empat jam atau kurang semalam. Di Inggris angkanya hanya 4,8 persen dan di India 6,9 persen.

India, dalam catatan Sun, justru negeri para penidur panjang. Sebanyak 13,7 persen pesertanya tidur sepuluh jam atau lebih, jauh di atas Tiongkok yang 4,2 persen dan Inggris yang 1,7 persen. Peserta India paling jarang mengidap penyakit kronis utama dan paling ramping, tetapi 40,8 persen di antaranya memiliki gejala depresi, tertinggi di antara ketiga negara.

Siapa tidur paling singkat, siapa paling lamaTiongkok: Tidur 4 jam atau kurang +15,3%, Tidur 10 jam atau lebih +4,2%; Inggris: Tidur 4 jam atau kurang +4,8%, Tidur 10 jam atau lebih +1,7%; India: Tidur 4 jam atau kurang +6,9%, Tidur 10 jam atau lebih +13,7%.Siapa tidur paling singkat, siapa paling lamaPersentase peserta berusia 50 tahun ke atas di tiap negaraTidur 4 jam atau kurangTidur 10 jam atau lebih5%10%15%20%0Tiongkok15,3%4,2%Inggris4,8%1,7%India6,9%13,7%Peserta: Tiongkok 12.543 orang, Inggris 7.245 orang, India 5.995orang.
Sumber: Lin Sun, Ruizhu Liu, Chunlu Zhang, Yuhan Yao, Peng Chen, dan Longyun Li, Sleep duration and cognitive function in middle-aged and older adults: a multinational study in China, England, and India, BMC Public Health, 26:1080, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lengkung yang ditemukan Sun, dari tanggal sampai ingatan

Dengan tujuh jam sebagai patokan, Sun menghitung selisih skor tiap kelompok tidur. Pada data gabungan, mereka yang tidur empat jam atau kurang tertinggal 0,13 poin skor baku. Tidur lima atau enam jam tidak berbeda bermakna dari tujuh jam. Selepas itu skor merosot: tertinggal 0,05 pada delapan jam, 0,16 pada sembilan jam, dan 0,26 pada sepuluh jam atau lebih.

Besarnya selisih tidak sama di tiap negara, dan Liu serta Sun mencatatnya. Tiongkok menunjukkan kaitan paling kuat: penidur sepuluh jam atau lebih tertinggal 0,34 poin, dibanding 0,22 di India dan 0,19 di Inggris. Inggris paling lemah di kedua ujung. Di sana, tidur empat jam atau kurang bahkan tidak berkaitan bermakna dengan skor daya pikir.

Sun lalu mencari titik tempat lengkung itu berbalik arah. Di Tiongkok puncaknya jatuh pada 5,5 jam, di Inggris 6,8 jam, dan di India 6,4 jam. Sebelum titik itu, setiap tambahan satu jam tidur beriring dengan skor yang lebih tinggi, paling curam di Tiongkok. Sesudahnya, setiap tambahan jam justru beriring dengan skor yang lebih rendah di ketiga negara.

Titik puncak daya pikir di tiga negaraLama tidur acuan 7 jam; titik balik kurva 5,5 jam di Tiongkok, 6,8 jam di Inggris, dan 6,4 jam di India.Titik puncak daya pikir di tiga negaraSkor naik sampai titik balik ini, lalu turun7 jamTidur acuanPembanding5,5 jamTiongkokTitik balik kurva6,8 jamInggrisTitik balik kurva6,4 jamIndiaTitik balik kurvaJalan risetnya25.783 orang 50 tahunke atasLama tidur dan tes dayapikirKurva U terbalikLama tidur dilaporkan sendiri oleh peserta.
Sumber: Lin Sun, Ruizhu Liu, Chunlu Zhang, Yuhan Yao, Peng Chen, dan Longyun Li, Sleep duration and cognitive function in middle-aged and older adults: a multinational study in China, England, and India, BMC Public Health, 26:1080, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari lengkung itulah Sun dan kelima rekannya menarik pesan utama mereka, yang ditulis dalam bahasa Inggris di bagian ringkasan naskah. “Temuan kami menunjukkan bahwa mempertahankan tidur sekitar 7 jam mungkin optimal bagi kesehatan kognitif pada usia lanjut,” tulis Lin Sun, Ruizhu Liu, Chunlu Zhang, Yuhan Yao, Peng Chen, dan Longyun Li. Kata mungkin di sana bukan basa-basi, sebab yang mereka potret adalah kaitan, bukan sebab dan akibat.

Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia

Sun juga memisahkan tiga kemampuan yang diuji. Tidur sembilan jam atau lebih berkaitan dengan hasil yang lebih buruk pada ketiganya: ingatan, hitung mundur, dan pengenalan waktu. Tidur empat jam atau kurang lain ceritanya. Ia konsisten beriring dengan ingatan yang lebih lemah di semua negara, tetapi kaitannya dengan hitung mundur dan pengenalan waktu lemah dan sering kali tidak bermakna.

Kemampuan menyebut hari, tanggal, bulan, dan tahun ternyata yang paling goyah. “Orientasi tampak paling peka terhadap tidur yang berkepanjangan, dengan ukuran efek negatif terbesar pada kelompok tidur 10 jam atau lebih,” tulis Sun dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Tes yang paling sederhana, empat pertanyaan tentang waktu, justru memperlihatkan jarak terlebar.

Mengapa dua ujung itu sama-sama berkaitan dengan skor rendah, Sun hanya menawarkan dugaan dari riset lain. Kurang tidur dikaitkan dengan terganggunya sinyal saraf di hipokampus dan terhambatnya pembuangan amiloid-beta dari otak. Pada penidur panjang, riset yang ia kutip menemukan kadar amiloid-beta 40 dan protein tau dalam plasma yang lebih tinggi serta penyusutan materi abu-abu, paling nyata di lobus oksipital.

Usia dan jenis kelamin dalam hitungan Liu dan Sun

Liu dan Sun kemudian membelah peserta menurut usia, dan lengkungnya berubah bentuk. Kelompok 50 sampai 64 tahun paling rentan di kedua ujung: tidur empat jam atau kurang maupun delapan jam atau lebih sama-sama beriring dengan skor lebih rendah, terburuk pada sepuluh jam atau lebih. Pada kelompok 65 sampai 74 tahun, hanya tidur sembilan jam yang masih berkaitan bermakna.

Pada peserta 75 tahun ke atas, Sun mendapati sisi kiri lengkung itu hilang. Tidur enam jam atau kurang tidak lagi berkaitan bermakna dengan skor daya pikir. Yang tersisa hanya tidur panjang: mulai sembilan jam, makin lama tidurnya makin besar ketertinggalannya. Sun menduga pergeseran ini berhubungan dengan mutu tidur yang memburuk seiring menua, bersama menyusutnya beberapa bagian otak pengatur tidur dan ingatan.

Laki-laki dan perempuan pun tidak sama dalam hitungan Sun. Laki-laki lebih rentan terhadap tidur singkat: yang tidur empat jam atau kurang tertinggal 0,16 poin, terlihat pada pria Tiongkok dan India tetapi tidak pada pria Inggris. Perempuan lebih peka terhadap tidur panjang. Di Tiongkok, perempuan yang tidur sepuluh jam atau lebih tertinggal 0,43 poin, sedangkan laki-laki 0,27 poin.

Untuk beda itu Sun kembali berhati-hati. Ia merujuk studi pada lansia di Taiwan yang juga menemukan kaitan tidur panjang dengan gangguan daya pikir lebih kuat pada perempuan. Penjelasannya, tulis Sun, kemungkinan berlapis, antara lain karena perempuan umumnya tidur lebih lama dan memiliki aktivitas gelombang lambat yang lebih tinggi. Semua itu masih berupa kemungkinan, bukan hasil pengukuran timnya.

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Batas yang diakui Chen dan Li

Peng Chen dan Longyun Li, yang bertanggung jawab atas ketepatan isi naskah, mencantumkan sederet batas. Lama tidur ditanyakan dengan cara berbeda: peserta Tiongkok dan Inggris menyebut kebiasaan tidurnya, sedangkan peserta India hanya melaporkan jam tidur dan bangun pada malam sebelumnya. Semua angka itu ingatan peserta sendiri, tanpa alat perekam gerak. Henti napas saat tidur, obat tidur, dan mutu tidur juga tidak ikut diperhitungkan.

Akibatnya, perbedaan antarnegara tadi tidak bisa dibaca begitu saja. “Secara keseluruhan, keterbatasan ini menyiratkan bahwa sebagian variasi yang teramati dalam hubungan tidur dan kognisi bisa mencerminkan keragaman metodologis, bukan perbedaan biologis atau perilaku yang sesungguhnya,” tulis Sun dan rekan-rekannya, juga dalam bahasa Inggris. Data mereka pun diambil pada satu waktu, sehingga tidak menunjukkan mana yang lebih dulu, tidur yang berubah atau daya pikir yang menurun.

Yang masih bisa diperiksa pembaca naskah Sun

Pembaca yang membuka naskah Sun akan menemukan beberapa hal yang tidak seiring. Kesimpulannya menganjurkan tidur sekitar tujuh jam, padahal titik puncak yang dihitung timnya berada di antara 5,5 dan 6,8 jam. India disebut negara berpendapatan rendah di badan naskah, sedangkan ringkasannya hanya menyebut negara berpendapatan tinggi dan menengah. Ada pula rujukan gambar lampiran yang masih tertulis “SX-SY”.

Satu hal lagi patut dicatat dari uji ulang yang dilakukan Sun dengan pembobotan untuk peserta yang datanya hilang. Dalam uji itu, kaitan tidur sembilan jam dan sepuluh jam atau lebih hanya mendekati bermakna, sedangkan kaitan tidur empat jam atau kurang tidak bermakna. Naskah tetap menyebut pola lengkungnya bertahan.

Lin Sun berangkat dari sepuluh kata, lima kali pengurangan, dan empat pertanyaan tentang waktu, lalu menyandingkannya dengan jam tidur puluhan ribu orang di tiga negara. Yang ia dapatkan adalah sebuah lengkung dengan puncak di sekitar tujuh jam dan dua lereng yang tidak sama curamnya. Langkah berikutnya, tulis Sun dan timnya, adalah mengikuti orang yang sama dari waktu ke waktu dengan alat ukur tidur yang objektif.

Bagikan

Baca Juga

Remaja Miskin Taiwan Lebih Puas Berkat Keluarga, Tetap Tertekan
Penyakit Hati akibat Alkohol Naik pada Perempuan Lansia Korea
Lapar di Masa Kecil Membuntuti Warga Desa Tiongkok hingga Tua
Ozon Udara Terkait Rabun Usia Tua di Kota Korea, Bukan di Desa
Warga Korea Mau Mengembalikan Obat Sisa, tetapi Jalannya Sulit
Jam Pintar dan Pengingat Rehat Kurangi Duduk Pegawai di Bangkok