Stunting di Kenya Lebih Sering Menimpa Anak Ibu Petani dan PRT

A A

Ilustrasi bunga jantan tanaman jagung dengan latar pondok beratap seng di kawasan Gunung Kenya, Kenya [Foto: CIAT/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Di antara anak Kenya yang ditelaah, 17,38 persen mengalami stunting.
  • Hanya 12,41 persen anak dari ibu pekerja profesional yang stunting, angka terendah dari empat golongan pekerjaan.
  • Pada anak dari ibu petani angkanya 22,34 persen dan pada anak dari ibu pekerja domestik 21,23 persen.
  • Di rumah miskin, peluang stunting anak dari ibu pekerja domestik 1,66 kali peluang anak dari ibu profesional.
  • Pada keluarga menengah dan kaya, ibu yang bekerja tidak berbeda bermakna dari ibu yang tidak bekerja.
Daftar Isi
  1. Ibu yang bekerja: tujuh belas dari seratus anak bertubuh pendek
  2. Ibu yang tidak bekerja: delapan belas dari seratus anak
  3. Di pekerjaan profesional, dua belas dari seratus anak
  4. Di ladang dan di rumah orang lain, lebih dari dua puluh satu
  5. Pada keluarga miskin, jarak antara dua pekerjaan itu melebar
  6. Pada keluarga mampu, hanya ladang yang masih meninggalkan jejak

Seorang ibu yang berangkat ke kantor dan seorang ibu yang berangkat ke ladang sama-sama meninggalkan anaknya di rumah, tetapi di Kenya kedua anak itu tidak tumbuh dengan peluang yang sama. Dari setiap seratus anak balita yang ibunya bekerja di bidang profesional, kira-kira dua belas bertubuh pendek untuk usianya. Pada anak yang ibunya bertani, angkanya dua puluh dua.

Perbandingan itu berasal dari tulisan Phyllis Mumia Machio, Association between maternal employment and child stunting in Kenya, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 460, tahun 2026. Machio mengajar di Department of Economics and Development Studies, University of Nairobi. Ia menelaah data 17.327 anak berusia di bawah lima tahun dari Kenya Demographic and Health Survey 2022.

Stunting, dalam naskah itu, adalah tinggi badan anak yang jauh di bawah tinggi lazim untuk usianya menurut patokan Organisasi Kesehatan Dunia. Di antara anak yang ditelaah, 17,38 persen mengalaminya. Angka itu berdekatan dengan laporan resmi survei yang sama, yakni 18 persen. Pertanyaan Machio sederhana: apakah pekerjaan ibu ikut menentukan siapa yang masuk ke dalam hitungan itu.

Ia berangkat dari dua tarikan yang berlawanan. Di satu sisi, ibu yang bekerja punya lebih sedikit waktu untuk menyusui, membeli dan memasak makanan bergizi, merebus air, serta membersihkan anak dan tempat bermainnya. Di sisi lain, pekerjaan mendatangkan uang ke rumah dan menambah daya tawar perempuan di dalam keluarga. Keduanya bisa berujung pada gizi anak yang berbeda.

Ibu yang bekerja: tujuh belas dari seratus anak bertubuh pendek

Lebih dari separuh ibu dalam data itu bekerja, tepatnya 58 persen. Bekerja di sini berarti menerima upah berupa uang atau barang, menjalankan usaha kecil, atau menggarap ladang dan usaha milik keluarga sepanjang tahun. Di antara anak-anak mereka, 16,76 persen tercatat stunting. Angka itu diperoleh sebelum keadaan rumah tangga lain ikut dihitung.

Setelah pendidikan ibu, usia ibu, status perkawinan, kekayaan rumah tangga, serta usia dan jenis kelamin anak diperhitungkan bersama, arahnya berubah. Peluang anak dari ibu bekerja untuk mengalami stunting tercatat 1,11 kali peluang anak dari ibu yang tidak bekerja. Selisihnya tipis, tetapi menurut Machio bermakna secara statistik.

Machio membaca selisih itu sebagai tanda bahwa tambahan uang dari pekerjaan ibu belum menutup waktu pengasuhan yang hilang. Ia menyebutnya tarik-menarik antara pengaruh pendapatan dan keterbatasan waktu. Tafsiran ini disampaikan sebagai kemungkinan. Data survei yang ia pakai tidak mengukur jam kerja ibu maupun besar upahnya.

Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh

Ibu yang tidak bekerja: delapan belas dari seratus anak

Pada kelompok kedua, 42 persen ibu tidak bekerja. Di antara anak-anak mereka, 18,29 persen mengalami stunting. Jadi, bila dilihat mentah tanpa menimbang hal lain, anak dari ibu yang tinggal di rumah justru sedikit lebih sering bertubuh pendek. Perbedaan satu setengah poin ini pun dinyatakan bermakna oleh penulisnya.

Dua kelompok itu berbagi banyak hal yang sama. Pada keduanya, anak laki-laki lebih rentan: 19,65 persen anak laki-laki stunting, sedangkan anak perempuan 15,06 persen. Pada keduanya pula, masa paling rawan jatuh pada usia 13 sampai 24 bulan. Di rentang itu 28 persen anak laki-laki dan 19 persen anak perempuan tercatat stunting.

Machio mengaitkan puncak itu dengan masa anak mulai dilepas dari air susu ibu. Bila makanan pengganti tidak memberi zat gizi yang semula datang dari ASI, tulisnya, asupan anak bisa menurun. Sesudah usia dua tahun angkanya terus turun. Pada usia 49 sampai 59 bulan, jarak antara anak laki-laki dan perempuan hampir tidak terlihat lagi.

Di pekerjaan profesional, dua belas dari seratus anak

Gambaran berubah tajam ketika ibu yang bekerja dipilah menurut jenis pekerjaannya. Hampir separuh dari mereka, 49 persen, digolongkan sebagai pekerja profesional. Golongan ini mencakup jabatan manajerial, teknis, administrasi, dan penjualan. Di antara anak-anak mereka, hanya 12,41 persen yang stunting. Inilah angka terendah dari empat golongan pekerjaan yang dibandingkan.

Stunting anak menurut pekerjaan ibuProfesional: Persen anak stunting +12,41%; Pekerja manual: Persen anak stunting +18,06%; Rumah tangga dan domestik: Persen anak stunting +21,23%; Pertanian: Persen anak stunting +22,34%.Stunting anak menurut pekerjaan ibuPersen anak balita yang stunting, Kenya 20225%10%15%20%25%0Profesional12,41%Pekerja manual18,06%Rumah tangga dan domestik21,23%Pertanian22,34%Hanya anak dari ibu yang bekerja.
Sumber: Phyllis Mumia Machio, Association between maternal employment and child stunting in Kenya, BMC Public Health, 26(460), 2026. Grafik: Cekricek.id

Machio menduga penghasilan yang lebih baik menjadi penjelasnya. Uang itu dapat dipakai membeli makanan bergizi untuk anak. Uang itu juga memungkinkan ibu membayar pengasuhan yang layak, sehingga waktu yang ia habiskan di luar rumah tidak menurunkan mutu perawatan anak. Hasil bersihnya, menurut naskah, adalah kesehatan anak yang lebih baik.

Pendidikan berjalan searah dengan itu. Di antara anak dari ibu yang menamatkan pendidikan tinggi, 8,46 persen stunting. Pada anak dari ibu berpendidikan dasar atau tanpa pendidikan formal, angkanya 22,05 persen. Menurut Machio, ibu yang terdidik mungkin lebih tahu makanan yang dibutuhkan anak, lebih mampu mengatur jarak kelahiran, dan lebih sering memanfaatkan layanan kesehatan seperti imunisasi.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Di ladang dan di rumah orang lain, lebih dari dua puluh satu

Pada sisi yang lain berdiri dua pekerjaan berupah rendah. Pertanian menyerap 28 persen ibu yang bekerja, dan 22,34 persen anak mereka stunting. Pekerjaan rumah tangga dan domestik, yaitu bekerja untuk rumah tangga orang lain, menyerap 8 persen ibu. Di antara anak-anak mereka, 21,23 persen bertubuh pendek. Pekerja manual berada di tengah dengan 18,06 persen.

Sesudah keadaan rumah tangga diperhitungkan, jaraknya tetap ada. Dibandingkan dengan anak dari ibu profesional, peluang stunting pada anak dari ibu petani 1,29 kali, sedangkan pada anak dari ibu pekerja domestik 1,43 kali. Untuk ibu pekerja manual angkanya 1,14 kali, tetapi selisih sekecil itu tidak dapat dibedakan dari kebetulan.

Penjelasan Machio di sini adalah cermin dari penjelasan sebelumnya. Upah di ladang dan di rumah majikan mungkin kecil, sehingga tidak cukup mengganti waktu ibu yang hilang dari rumah. Kedua pekerjaan itu juga mungkin menuntut jam kerja lebih panjang. Dengan penghasilan terbatas, pengasuhan pengganti yang bermutu sulit dijangkau.

“Keterlibatan perempuan dalam pekerjaan berpenghasilan rendah seperti pekerjaan domestik dan pertanian berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan malnutrisi pada anak, terutama di lingkungan miskin,” tulis Phyllis Mumia Machio, pengajar ekonomi University of Nairobi, dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Kalimat itu menjadi simpulan utama tulisannya.

Pada keluarga miskin, jarak antara dua pekerjaan itu melebar

Machio lalu membelah data menjadi dua menurut kekayaan rumah tangga. Keluarga miskin adalah kelompok terbesar, 43 persen dari seluruh rumah tangga. Di sana kira-kira satu dari empat anak mengalami stunting, tepatnya 24,67 persen. Pada kelompok inilah kaitan antara ibu bekerja dan tubuh pendek anak terlihat jelas, dengan peluang 1,14 kali.

Rumah miskin dan rumah mampuRumah miskin dan rumah mampuRumah miskin dan rumah mampuRasio peluang anak stunting, Kenya 2022Rumah miskinRumah mampu1,141,08 (tb)Ibu bekerja1,341,44Ibu petani1,661,19 (tb)Ibu pekerjadomestik1,25 (tb)1,02 (tb)Ibu pekerja manualBaris 1 dibanding ibu tak bekerja, lainnya dibanding ibu profesional. tb:tidak bermakna.
Sumber: Phyllis Mumia Machio, Association between maternal employment and child stunting in Kenya, BMC Public Health, 26(460), 2026. Grafik: Cekricek.id

Jenis pekerjaan mempertajamnya. Di rumah miskin, peluang stunting pada anak dari ibu petani tercatat 1,34 kali peluang anak dari ibu profesional. Pada anak dari ibu pekerja domestik, angkanya 1,66 kali. Ini angka tertinggi di seluruh perbandingan pekerjaan dalam naskah, dan muncul tepat pada kelompok yang paling sedikit punya pilihan.

“Perempuan yang tinggal di lingkungan miskin seperti permukiman informal biasanya memakai tempat penitipan anak yang tidak diatur dan tetangga untuk mengasuh anak mereka,” tulis Machio, juga dalam bahasa Inggris. Menurut dia, pilihan itu mungkin bukan pengasuhan terbaik. Ibu yang lebih mampu, sebaliknya, dapat membayar pengganti yang sepadan dengan waktunya sendiri.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Pada keluarga mampu, hanya ladang yang masih meninggalkan jejak

Pada kelompok kedua, yaitu keluarga menengah dan kaya, gambarnya lebih tenang. Stunting menimpa 16,24 persen anak di rumah menengah dan 10,33 persen di rumah kaya. Di sini ibu yang bekerja tidak lagi dapat dibedakan dari ibu yang tidak bekerja. Angkanya 1,08 kali, dan selisih itu tidak bermakna secara statistik.

Satu pengecualian bertahan. Anak dari ibu petani di keluarga mampu tetap menanggung peluang stunting 1,44 kali peluang anak dari ibu profesional. Angka ini bahkan sedikit di atas angka pada keluarga miskin. Pekerjaan domestik, yang paling berat jejaknya di rumah miskin, tidak menunjukkan selisih bermakna di rumah mampu. Naskah tidak menjelaskan mengapa ladang berperilaku berbeda.

Naskah ini tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan. Namun Machio mengakui bahwa jalur yang menghubungkan jenis pekerjaan ibu dengan stunting belum ia uji, dan ia menyerahkannya kepada penelitian berikutnya. Semua penjelasan tentang upah, jam kerja, dan penitipan anak disampaikan sebagai dugaan. Yang terukur hanyalah kaitan pada satu titik waktu, bukan sebab dan akibat.

Ada beberapa hal dalam naskah yang dapat diperiksa pembaca. Simpulan menyebut gizi anak dari ibu profesional membaik karena ibunya bekerja, padahal perbandingan pekerjaan hanya melibatkan 8.611 ibu yang bekerja dan tidak menyertakan ibu yang tidak bekerja. Selain itu, teks menulis nilai p 0,025 untuk ibu berusia di atas 35 tahun, sedangkan tabel seluruh sampel mencantumkan 0,005. Ringkasan menyebut satu dari lima anak, sementara angka yang dihitung 17,38 persen.

Dua ibu pada awal tulisan ini sama-sama pergi bekerja, dan data Kenya tidak menyalahkan salah satunya. Yang ditunjukkan Machio adalah dua timbangan yang berbeda isinya. Pada yang satu, upah cukup untuk membeli makanan dan pengasuhan. Pada yang lain, upah dari ladang atau dari rumah orang lain belum sebanding dengan jam yang diambil dari seorang anak yang sedang tumbuh.

Bagikan

Baca Juga

Pria Austria Baru Mengurus Kesehatan Setelah Badannya Sakit
Warga Inggris di Tempat Lebih Panas Lebih Jarang Radang Lutut
Separuh Perokok Penyintas Gempa Turki Mengisap Lebih Banyak Rokok
Tenaga Kesehatan Arab Saudi yang Kerja Sif Tidur Lebih Buruk
Petugas SPBU di Sudan Lebih Sering Sulit Membedakan Merah-Hijau
Makin Besar Balita Malaysia, Makin Sering Dibentak dan Dipukul