Warga Inggris di Tempat Lebih Panas Lebih Jarang Radang Lutut

A A

Ilustrasi seorang pejalan kaki di lereng berumput Taman Meersbrook dengan panorama kota Sheffield, Inggris [Foto: Neil Theasby (Geograph)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0]

  • Sebanyak 352.904 orang yang lututnya masih sehat diikuti rata-rata 11,3 tahun.
  • Rata-rata peserta hanya mengalami 8,44 hari panas dalam lima tahun itu, setara 0,46 persen dari seluruh hari.
  • Dibanding golongan tinggi, golongan sedang dan golongan rendah sama-sama mendapat rasio hazard 0,93.
  • Risiko terkecil ada pada peserta dengan paparan panas tinggi dan gerak sedang, yaitu 0,83.
Daftar Isi
  1. Paparan panas kronis: delapan hari panas dalam lima tahun
  2. Rasio hazard 0,90: risiko yang sedikit lebih rendah
  3. Aktivitas fisik tinggi: dua dari tiga peserta masuk golongan ini
  4. Analisis gabungan: panas dan gerak dibaca bersamaan
  5. Masuk akal secara biologis: dugaan yang belum menjadi bukti
  6. Perancu tersisa: batas temuan dan hal yang janggal

Paparan panas kronis, istilah yang terdengar seperti hidup bertahun-tahun di dekat tungku, dalam sebuah penelitian di Inggris ternyata berarti hal yang jauh lebih sederhana: seberapa sering seseorang melewati hari yang suhu puncaknya menembus 27 derajat Celsius. Hari seperti itu dihitung selama lima tahun, lalu dibandingkan antara satu peserta dan peserta lain.

Hitungan itu dipakai Yongjie Lao, Alimjan Ablitip, Yanjun Li, Qingyuan Wang, Yuchen Zhuang, Jianxiu Liu, dan Xindong Ma dalam Joint associations of chronic heat exposure and physical activity with the risk of knee osteoarthritis: a prospective cohort study based on the UK biobank, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel 1249, tahun 2026. Ketujuhnya bekerja di Tsinghua University, Beijing, sebagian besar di divisi ilmu olahraga dan pendidikan jasmani.

Yang mereka cari adalah kaitan panas dan gerak badan dengan osteoartritis lutut, penyakit sendi yang di sini disebut radang sendi lutut. Menurut naskah itu, gejala utamanya nyeri menahun, kaku, dan gerak sendi yang terbatas. Lutut paling sering terkena, kemungkinan karena ia termasuk sendi utama penopang berat badan dan terus-menerus menanggung tekanan serta gesekan berulang.

Bahannya datang dari UK Biobank, kumpulan data kesehatan jangka panjang warga Inggris yang direkrut pada usia 40 sampai 69 tahun. Sebanyak 352.904 orang yang lututnya masih sehat diikuti rata-rata 11,3 tahun. Selama itu, 23.146 di antaranya mendapat diagnosis radang sendi lutut. Itu kira-kira satu dari lima belas peserta.

Paparan panas kronis: delapan hari panas dalam lima tahun

Maksudnya begini. Hari panas, dalam naskah ini, adalah hari dengan suhu maksimum di atas 27 derajat Celsius, batas yang oleh para penulis disebut sebagai ujung atas rasa nyaman manusia terhadap suhu dan lazim dipakai dalam sistem peringatan panas. Paparan panas kronis seseorang adalah bagian dari seluruh hari, selama lima tahun sebelum ia direkrut, yang tergolong hari panas.

Angkanya kecil. Rata-rata peserta hanya mengalami 8,44 hari panas dalam lima tahun itu, setara 0,46 persen dari seluruh hari. Jadi yang disebut paparan tinggi bukan hidup di iklim terik. Peserta digolongkan terpapar tinggi bila proporsi hari panasnya masuk seperempat teratas di antara sesama peserta, dan terpapar rendah bila berada di bawah batas itu.

Bedanya dengan bayangan sehari-hari perlu dipegang sejak awal. Kata kronis di sini menunjuk pada pengalaman suhu tinggi yang berulang dalam rentang waktu panjang, bukan pada panas yang berat. Seorang peserta yang tergolong terpapar tinggi tetap warga Inggris, yang hari panasnya dihitung dari suhu udara di sekitar alamat rumahnya.

Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular

Rasio hazard 0,90: risiko yang sedikit lebih rendah

Rasio hazard, ukuran yang dipakai para penulis, membandingkan seberapa cepat penyakit muncul pada satu kelompok terhadap kelompok lain selama masa pemantauan. Angka 1 berarti sama saja. Di bawah 1 berarti kelompok itu lebih jarang terkena. Peserta dengan paparan panas tinggi mendapat angka 0,90 dibanding yang paparannya rendah, dengan rentang kepercayaan 0,87 sampai 0,93.

Para penulis menyebut selisih itu tipis, modestly lower dalam bahasa naskah. Angka tersebut sudah memperhitungkan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, pendidikan, pendapatan, rokok, alkohol, riwayat cedera sendi, lama berada di luar rumah, jenis pekerjaan, dan penyakit penyerta. Dengan kata lain, bukan sekadar karena penghuni daerah lebih hangat kebetulan lebih muda atau lebih kurus.

Jejak yang sama terlihat sebelum hitungan apa pun dilakukan. Peserta yang kemudian terkena radang sendi lutut rata-rata mengalami 7,81 hari panas dalam lima tahun, sedangkan yang tidak terkena 8,49 hari. Mereka yang terkena juga lebih tua saat direkrut, 59,3 berbanding 55,9 tahun, dan indeks massa tubuhnya lebih tinggi, 29,5 berbanding 27,0.

Beda yang terkena dan yang tidakBeda yang terkena dan yang tidakBeda yang terkena dan yang tidak23.146 peserta terkena, 329.758 tidakTerkenaTidak terkena59,3 tahun55,9 tahunUsia rata-rata29,527,0Indeks massatubuh26,6%37,0%Lulusanuniversitas23,4%17,5%Pendapatanterendah3,2%1,3%Riwayat cederasendi7,81 hari8,49 hariHari panas, 5 tahunPendapatan terendah: rumah tangga di bawah 18.000 pound sterlingsetahun.
Sumber: Yongjie Lao, Alimjan Ablitip, Yanjun Li, Qingyuan Wang, Yuchen Zhuang, Jianxiu Liu, dan Xindong Ma, Joint associations of chronic heat exposure and physical activity with the risk of knee osteoarthritis: a prospective cohort study based on the UK biobank, BMC Public Health, 26(1249), 2026. Grafik: Cekricek.id

Tabel itu memperlihatkan pula garis sosial. Di antara yang terkena, hanya 26,6 persen lulusan universitas, sementara di antara yang tidak terkena 37,0 persen. Rumah tangga berpendapatan di bawah 18.000 pound sterling setahun mencakup 23,4 persen kelompok pertama dan 17,5 persen kelompok kedua. Riwayat cedera sendi lutut tercatat pada 3,2 persen berbanding 1,3 persen.

Aktivitas fisik tinggi: dua dari tiga peserta masuk golongan ini

Istilah kedua yang mudah disalahpahami adalah aktivitas fisik tinggi. Para penulis menjumlahkan jalan kaki, kegiatan sedang, dan kegiatan berat yang dilaporkan peserta sendiri, lalu menyatakannya dalam MET-menit per minggu, satuan yang menggabungkan lama kegiatan dengan besar tenaga yang dikeluarkan. Di bawah 600 disebut rendah, 600 sampai 1.200 sedang, dan 1.200 ke atas tinggi.

Bedanya begini. Tinggi di sini bukan berarti atlet. Sebanyak 65,3 persen peserta, kira-kira dua dari tiga orang, masuk golongan tinggi. Golongan sedang hanya 18,0 persen dan golongan rendah 16,7 persen. Golongan tinggi, dengan begitu, adalah kelompok terbesar, dan ia mencakup siapa saja yang total geraknya sepekan melewati ambang tadi.

Hasilnya berlawanan dengan dugaan umum. Dibanding golongan tinggi, golongan sedang dan golongan rendah sama-sama mendapat rasio hazard 0,93, dengan rentang 0,90 sampai 0,97. Kesimpulan para penulis: volume gerak mingguan yang lebih besar berkaitan dengan risiko radang sendi lutut yang lebih tinggi. Pola serupa muncul pada 92.106 peserta yang geraknya direkam alat di pergelangan tangan.

Naskah itu tidak membacanya sebagai larangan bergerak. Para penulis merujuk sebuah meta-analisis, yakni gabungan banyak penelitian, yang tidak menemukan beda antara gerak sedang dan rendah, tetapi mencatat risiko 1,26 kali pada gerak tinggi dibanding sedang. Menurut mereka, kenaikan risiko lebih sering terlihat di ujung paling atas, seperti atlet elite atau pekerjaan yang menuntut berlutut lama dan kerja fisik berat.

Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia

Analisis gabungan: panas dan gerak dibaca bersamaan

Analisis gabungan, bagian yang memberi judul pada naskah, berarti peserta dipilah menurut dua ciri sekaligus. Kelompok yang dijadikan acuan adalah yang paparan panasnya rendah dan geraknya tinggi. Kelompok inilah yang risikonya paling besar. Semua kelompok lain dibandingkan dengannya, sehingga angka di bawah 1 menandakan risiko yang lebih kecil daripada kelompok acuan itu.

Risiko radang sendi lutut menurut panas dan gerakPanas rendah, gerak tinggi (acuan): Rasio hazard +1,00; Panas rendah, gerak sedang: Rasio hazard +0,93; Panas rendah, gerak rendah: Rasio hazard +0,93; Panas tinggi, gerak sedang: Rasio hazard +0,83; Panas tinggi, gerak rendah: Rasio hazard +0,83.Risiko radang sendi lutut menurut panas dangerakRasio hazard; kelompok acuan bernilai 1,000,250,500,751,000Panas rendah, gerak tinggi (acuan)1,00Panas rendah, gerak sedang0,93Panas rendah, gerak rendah0,93Panas tinggi, gerak sedang0,83Panas tinggi, gerak rendah0,83Angka di bawah 1 berarti risiko lebih rendah daripada kelompok acuan.Ini kaitan, bukan sebab-akibat.
Sumber: Yongjie Lao, Alimjan Ablitip, Yanjun Li, Qingyuan Wang, Yuchen Zhuang, Jianxiu Liu, dan Xindong Ma, Joint associations of chronic heat exposure and physical activity with the risk of knee osteoarthritis: a prospective cohort study based on the UK biobank, BMC Public Health, 26(1249), 2026. Grafik: Cekricek.id

Risiko terkecil ada pada peserta dengan paparan panas tinggi dan gerak sedang, 0,83, dan angka yang sama muncul pada paparan panas tinggi dengan gerak rendah. Di dalam kelompok paparan rendah, gerak sedang dan gerak rendah masing-masing 0,93. Pada setiap golongan gerak, peserta dengan paparan panas tinggi selalu berada di bawah rekannya yang paparannya rendah.

Pola itu bertahan ketika batas paparan tinggi digeser ke nilai tengah, dan ketika peserta yang jatuh sakit pada satu atau dua tahun pertama dikeluarkan. Tidak semuanya seteguh itu. Pada peserta yang geraknya direkam alat, kaitan panas dengan radang sendi lutut melemah dan tidak lagi bermakna secara statistik, meski arah pola gabungannya tetap serupa.

Mengapa panas dan gerak tampak bekerja bersama, para penulis menawarkan dua tafsir. Udara lebih hangat mungkin mengurangi nyeri dan kaku sehingga beban pada lutut berbeda untuk jumlah gerak yang sama. Atau, orang di daerah lebih hangat memilih kegiatan lain, misalnya mengganti mendaki di medan tidak rata dengan berjalan di atas treadmill, mesin jalan di dalam ruangan. Mereka menyatakan tidak dapat memilah kedua tafsir itu.

Masuk akal secara biologis: dugaan yang belum menjadi bukti

Masuk akal secara biologis, atau biological plausibility, adalah cara peneliti mengatakan bahwa sebuah kaitan punya jalan cerita di dalam tubuh. Para penulis menyusun cerita itu dari penelitian lain. Panas memperlancar aliran darah dan pasokan oksigen ke jaringan, mengendurkan otot, serta menambah kelenturan dan jangkauan gerak sendi, sehingga keausan akibat gesekan berkurang.

Panas juga disebut dapat memicu pelepasan endorfin, zat tubuh pereda nyeri, yang memutus lingkaran yang mereka gambarkan sebagai nyeri, lalu enggan bergerak, lalu otot menyusut, lalu radang sendi memburuk. Sebaliknya, dingin diduga mengentalkan cairan sinovial, pelumas di dalam sendi, sehingga sendi kaku dan gesekan antarjaringan bertambah.

Persoalannya, sebagian besar cerita itu berasal dari terapi panas, yaitu panas yang sengaja ditempelkan pada pasien, bukan dari cuaca. Salah paham yang perlu dikoreksi ada di sini. “Meskipun temuan semacam itu memberi kemasukakalan biologis, menerjemahkan efek panas terapeutik ke paparan lingkungan sekitar memerlukan kehati-hatian,” tulis Yongjie Lao dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Perancu tersisa: batas temuan dan hal yang janggal

Perancu tersisa, residual confounding dalam naskah, adalah faktor lain yang luput diukur dan bisa saja menjelaskan kaitan yang tampak. Para penulis mengakuinya terang-terangan. Mereka menghitung sebuah nilai uji, 1,46, dan mengartikannya begini: satu faktor tak terukur berkekuatan sedang sudah cukup untuk menerangkan selisih risiko pada kelompok paparan panas tinggi.

Keterbatasan lain mereka sebut satu per satu. Paparan panas dan kebiasaan bergerak hanya dipotret di awal dan bisa berubah selama belasan tahun pemantauan. Jumlah gerak sebagian besar berasal dari laporan peserta sendiri. Seluruh peserta tinggal di Inggris, sehingga berlakunya temuan ini di wilayah yang iklim dan gaya hidupnya sangat berbeda, menurut para penulis, masih perlu diteliti.

Ada pula beberapa hal yang dapat diperiksa pembaca di naskah itu sendiri. Kesimpulan menyebut gerak lebih banyak berkaitan dengan risiko lebih tinggi, padahal golongan sedang dan rendah mendapat angka yang persis sama, 0,93, tanpa tangga menurun. Angka untuk kelompok paparan panas tinggi dengan gerak tinggi juga tidak dituliskan di badan naskah, hanya ditampilkan dalam gambar.

Tabel ciri peserta menyimpan dua hal serupa. Persentase perempuan tertulis 52,4 persis pada seluruh peserta, pada yang terkena, dan pada yang tidak terkena. Data jenis pekerjaan kosong pada 40,2 persen peserta, bahkan 51,7 persen pada yang terkena. Pendanaan berasal dari program milik Nike Sports (China) Ltd, yang menurut para penulis tidak berperan dalam rancangan, analisis, maupun penulisan.

Maka istilah di awal tadi perlu dikembalikan ke ukurannya. Paparan panas kronis dalam penelitian ini adalah segelintir hari di atas 27 derajat Celsius dalam lima tahun kehidupan warga Inggris, dan kaitannya dengan lutut berupa selisih risiko yang tipis. Ia tidak berbicara tentang panas yang lebih berat daripada itu, dan tidak pula menyatakan bahwa panas melindungi sendi.

Bagikan

Baca Juga

Separuh Perokok Penyintas Gempa Turki Mengisap Lebih Banyak Rokok
Tenaga Kesehatan Arab Saudi yang Kerja Sif Tidur Lebih Buruk
Petugas SPBU di Sudan Lebih Sering Sulit Membedakan Merah-Hijau
Makin Besar Balita Malaysia, Makin Sering Dibentak dan Dipukul
Sakit Jantung Pekerja Korea Lebih Banyak di Tempat Kerja Terkecil
Remaja Tuli Nepal Takut Berobat karena Sulit Bicara dengan Dokter