- Puncak hipertensi pindah ke tengah, yaitu ke kantor berisi 50 sampai 99 orang.
- Begitu umur dan jenis kelamin disetarakan, arahnya berbalik.
- Setelah umur dan jenis kelamin disetarakan, tempat kerja satu orang tetap yang tertinggi dengan 730,5.
- Di ujung terbesar, yang menonjol justru penyakit pembuluh darah otak.
Daftar Isi
Satu orang, satu tempat kerja. Di Korea Selatan, 89.227 pekerja bergaji tercatat bekerja di tempat yang pegawai tetapnya hanya satu. Rata-rata umur mereka 46,1 tahun, hampir tujuh tahun lebih tua daripada pekerja di perusahaan berisi seribu orang atau lebih. Di ujung yang lain itu, 2.253.134 orang bekerja dengan rata-rata umur 39,2 tahun.
Kedua ujung tersebut disandingkan oleh Yangwoo Kim, Minji Koo, Eun Mi Kim, Jaiyong Kim, dan Inah Kim dalam Workplace size and cardiovascular disease subtypes among 11 million Korean wage workers: a nationwide cross-sectional study, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Naskahnya masih berstatus artikel dalam proses terbit, sehingga belum memuat volume dan nomor. Inah Kim, penulis korespondensi, berasal dari Graduate School of Public Health, Hanyang University, Seoul.
Yang mereka hitung ialah 11.212.512 pekerja bergaji berumur 15 sampai 64 tahun, hampir seluruh pekerja bergaji Korea pada 2021. Sebanyak 6.260.083 di antaranya laki-laki dan 4.952.429 perempuan. Tiap orang ditempatkan menurut jumlah pekerja tetap di tempat kerja utamanya, lalu dicocokkan dengan catatan klaim berobatnya untuk sepuluh kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah.
Ada delapan golongan ukuran: 1 orang, 2–4, 5–29, 30–49, 50–99, 100–299, 300–999, dan 1.000 orang atau lebih. Batas-batas itu bukan pilihan sembarang. Undang-undang keselamatan dan kesehatan kerja Korea menaikkan kewajiban perusahaan secara bertingkat pada angka 5, 30, 50, 100, 300, dan 1.000 pekerja. Golongan 5–29 orang, yang terbesar dengan 3.422.154 pekerja atau 30,5 persen, dipakai sebagai pembanding.
Tempat Kerja Satu Orang
Di tempat kerja satu orang, penyakit hipertensi tercatat pada 11.273,5 dari tiap 100.000 pekerja, kira-kira satu dari sembilan orang. Itu angka tertinggi di antara delapan golongan. Di perusahaan seribu orang atau lebih angkanya 7.334,7, yang terendah. Selisih keduanya, tulis para peneliti, mencapai 54 persen.
Angka mentah itu menyimpan umur. Pekerja di tempat kerja terkecil rata-rata lebih tua, dan menurut para penulis hal itu kemungkinan ikut mengangkat angka hipertensi mereka. Dari 89.227 orang di golongan tersebut, 33,5 persen berumur 45–54 tahun dan 26,5 persen berumur 55–64 tahun. Di perusahaan terbesar, kelompok 55–64 tahun hanya 10,7 persen.
Begitu umur dan jenis kelamin disetarakan, arahnya berbalik. Rasio odds hipertensi di tempat kerja satu orang, yang semula 1,12 terhadap golongan 5–29 orang, turun menjadi 0,85. Angka di bawah 1 berarti lebih rendah daripada pembanding. Golongan yang tadinya tampak paling banyak sakit justru tercatat paling sedikit.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Kantor 50 sampai 99 Orang
Puncak hipertensi pindah ke tengah, yaitu ke kantor berisi 50 sampai 99 orang. Setelah disetarakan, angkanya naik dari 8.425,8 per 100.000 di tempat kerja satu orang menjadi 10.008,3 di golongan 50–99 orang, lalu turun lagi ke 9.075,6 di perusahaan seribu orang atau lebih. Garis yang semula terus menurun berubah menjadi lengkung, rendah di kedua ujung dan tinggi di tengah.
Empat golongan menengah, dari 30–49 sampai 300–999 orang, semuanya berada di atas pembanding. Rasio odds tertinggi, 1,09, ada di golongan 50–99 orang. Menyusul 1,07 di golongan 30–49 orang, 1,06 di 100–299 orang, dan 1,03 di 300–999 orang. Dua golongan terkecil dan golongan terbesar berada di bawah 1.
Mengapa di tengah? Para penulis menawarkan satu kemungkinan: hipertensi sering tanpa gejala, sehingga lebih mudah ketahuan di tempat yang pemeriksaan kesehatannya lebih terjangkau dan ditindaklanjuti. Semua pekerja Korea yang diasuransikan berhak atas pemeriksaan kesehatan dua tahun sekali. Tingkat keikutsertaannya berbeda menurut ukuran tempat kerja, dan paling rendah di tempat kerja terkecil.
Batas 50 pekerja juga punya arti hukum. Tempat kerja dengan 50 pekerja atau lebih diwajibkan menunjuk tenaga kesehatan kerja, yang menurut para penulis dapat memudahkan pemeriksaan dan tindak lanjut yang lebih teratur. Mereka sendiri memberi batas pada dugaan ini. Keikutsertaan pemeriksaan tidak diukur langsung, sehingga penjelasan itu disebut masuk akal, bukan terbukti.
Jantung di Tempat Terkecil
Penyakit jantung iskemik bergerak ke arah sebaliknya. Di tempat kerja satu orang, angka mentahnya 1.114,0 per 100.000 pekerja, sedangkan di perusahaan terbesar 513,9. Setelah umur dan jenis kelamin disetarakan, tempat kerja satu orang tetap yang tertinggi dengan 730,5. Rasio odds-nya 1,12, dan di tempat kerja 2–4 orang 1,05.
Selisih itu kecil, dan para penulis tidak membesarkannya. “Ukuran sampel yang besar berarti kemaknaan statistik tidak boleh disamakan dengan perbedaan risiko yang besar pada tingkat perorangan,” tulis Yangwoo Kim dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Pada tingkat populasi, lanjut mereka, selisih yang sederhana pun bisa berarti bila terjadi pada kelompok pekerja yang perlindungan hukumnya terbatas.
Perbandingan dengan hipertensi memberi konteks. Penyakit jantung iskemik muncul dengan gejala, sehingga diagnosisnya tidak terlalu bergantung pada pemeriksaan rutin. Karena itu, menurut para penulis, pola di tempat kerja terkecil lebih kecil kemungkinannya lahir dari beda cara penyakit terdeteksi, dan lebih mungkin mencerminkan beda beban penyakit yang tercatat. Pengaruh faktor lain yang tidak terukur tetap tidak bisa disingkirkan.
Ketika yang dihitung hanya pasien rawat inap, angka mentah tempat kerja satu orang tetap lebih tinggi. Rasio odds-nya 1,50 untuk rawat inap sedikitnya satu hari, 1,50 untuk tiga hari, dan 1,57 untuk lima hari. Angka-angka ini belum disetarakan menurut umur dan jenis kelamin, sebab jumlah kasus di tempat kerja kecil terlalu sedikit untuk dihitung dengan stabil.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Perusahaan Seribu Orang
Di ujung terbesar, yang menonjol justru penyakit pembuluh darah otak. Rasio odds-nya 1,06 di perusahaan seribu orang atau lebih, sementara di golongan 50–99 orang 0,94 dan di 100–299 orang 0,97. Angka setaranya 580,6 per 100.000 pekerja, tertinggi di antara delapan golongan, tanpa garis naik atau turun yang ajek.
Temuan ini paling rapuh. Saat hanya rawat inap lima hari atau lebih yang dihitung, angka setara tertinggi pindah ke tempat kerja satu orang, 163,6 per 100.000, dan yang terendah ada di perusahaan terbesar, 115,1. Ketika 21 golongan industri ikut diperhitungkan, rasio odds perusahaan terbesar menyusut dari 1,06 ke 1,01 dan tidak lagi bermakna secara statistik.
Para penulis menyebut beberapa kemungkinan. Perusahaan besar mungkin lebih sanggup mempertahankan pekerja yang pernah sakit, lewat keamanan kerja yang lebih baik atau pengelolaan disabilitas yang lebih tertata. Pekerja di tempat kecil yang terkena serangan berat lebih mungkin keluar dari angkatan kerja. Potret satu tahun, tulis mereka, tidak dapat memilah kemungkinan-kemungkinan itu.
Kelompok penyakit jantung lain memperlihatkan arah serupa. Rasio odds-nya di atas 1 hanya di dua golongan terbesar, yakni 1,06 di 300–999 orang dan 1,08 di seribu orang atau lebih. Angka setaranya bergerak sempit, dari 402,5 di golongan 100–299 orang sampai 438,2 di golongan terbesar.
Di Bawah Lima Pekerja
Garis lima pekerja memisahkan dua dunia aturan. Tempat kerja dengan kurang dari lima pekerja dikecualikan dari sebagian besar ketentuan undang-undang standar perburuhan Korea, termasuk aturan jam kerja, cuti berbayar, upah lembur, dan pemecatan. Golongan 5–29 orang adalah tingkat pertama tempat standar perburuhan berlaku penuh.
Upah mengikuti ukuran. Pendapatan tahunan median di tempat kerja satu orang 22,2 juta won, sedangkan di perusahaan seribu orang atau lebih 57,6 juta won, lebih dari 2,5 kali lipat. Proporsi laki-laki terendah ada di tempat kerja 2–4 orang, 49,1 persen, dan tertinggi di perusahaan terbesar, 62,1 persen.
Meski begitu, para penulis menolak membaca ukuran tempat kerja sebagai penyebab. “Ukuran tempat kerja karena itu harus diperlakukan sebagai penanda administratif dan organisasi, bukan sebagai mekanisme yang terukur,” tulis mereka. Jam kerja panjang disebut sebagai salah satu jalur yang relevan, tetapi jam kerja tidak ada dalam data, sehingga ia tinggal sebagai dugaan.
Yang mereka tawarkan ialah peta untuk pengawasan. Tempat kerja terkecil, tempat perlindungan jam kerja dan layanan kesehatan kerja terbatas, menurut mereka mungkin kurang terwakili dalam pengawasan penyakit jantung yang rutin. Hipertensi yang terdiagnosis menumpuk di tempat kerja menengah, sedangkan penyakit jantung iskemik lebih banyak tercatat di tempat terkecil.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Catatan Klaim 2021
Semua angka tadi berasal dari klaim berobat selama 2021. Seseorang dihitung sakit bila punya tiga catatan klaim atau lebih dengan diagnosis yang sama pada tahun itu. Data tersebut tidak memuat kebiasaan merokok, minum alkohol, kegemukan, aktivitas fisik, jam kerja, paparan di tempat kerja, ataupun tekanan psikososial. Penyetaraan hanya menyangkut umur dan jenis kelamin.
Karena potretnya satu tahun, urutan waktu tidak bisa ditetapkan. Para penulis tidak tahu berapa lama seorang pekerja sudah berada di golongan ukuran yang sama sebelum penyakitnya tercatat. “Karena itu, temuan ini harus ditafsirkan sebagai pola prevalensi, bukan bukti adanya efek sebab-akibat,” tulis mereka.
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Di bagian kesimpulan abstrak, kalimat tentang penyetaraan yang terbatas pada umur dan jenis kelamin tercetak dua kali. Salah satu penulis tertulis Minji Koo di daftar penulis, tetapi M. Ku di bagian kontribusi penulis. Tabel angka prevalensi memakai dua tanda catatan kaki, sedangkan keterangan di bawahnya hanya menjelaskan satu.
Naskah itu juga mencantumkan bahwa para penulis memakai Claude Opus 4.6 buatan Anthropic untuk menyunting bahasa Inggrisnya, dan menyatakan bertanggung jawab penuh atas isinya. Versi yang beredar masih berupa naskah yang diterima dan belum melewati penyuntingan akhir, sehingga rinciannya masih bisa berubah.
Kembali ke tempat kerja yang isinya satu orang. Angka hipertensinya paling tinggi sebelum umur diperhitungkan dan paling rendah sesudahnya, sedangkan penyakit jantung iskemiknya tetap yang tertinggi di kedua hitungan. Satu orang, satu tempat kerja, dan dua penyakit yang bergerak ke arah berlawanan.














