- Tiap bilah panjangnya 20 sampai 30 sentimeter dan tebalnya 3 sampai 4 sentimeter.
- Dengan empat nada, lagu-lagu yang sedang digemari tidak bisa dimainkan dengan sempurna.
- Grup pimpinan Rafliansyah itu memadukan ensambel canang kayu dengan alat musik modern: gitar, bas, dan drum.
- Seluruh kisah ini bertumpu pada dua informan kunci, dan itu batasnya.
Daftar Isi
- Empat bilah kayu yang dulu menemani orang Singkil di sawah
- Rafliansyah menambah nada karena lagu masa kini tak muat di empat bilah
- Dari satu pemain menjadi ensambel, lalu gitar, bas, dan drum ikut naik panggung
- Seorang penjabat bupati ingin canang membuka setiap acara resmi
- Dua orang bercerita, dan beberapa hal dalam naskah yang tidak seiring
Grup Destanada akan tampil di depan para pemimpin daerah, dan Rafliansyah punya satu soal yang harus diputuskan: kaki. Canang kayu, alat musik orang Singkil, sejak dulu dimainkan dengan kaki dijulurkan ke depan. Bilah-bilah kayunya diletakkan di atas kaki, lalu dipukul. Di sawah, tak ada yang keberatan. Di hadapan bupati, posisi itu dianggap tidak sopan.
Keputusan Rafliansyah dan akibatnya dicatat Junaidi Purba, Vanesia Amelia Sebayang, dan Yusnizar Hennywaty dalam artikel The Dynamics of the Development of Canang Kayu Musical Instruments in the Aceh Singkil Community, terbit di International Journal of Culture and Art Studies volume 9 nomor 2, tahun 2025. Ketiganya dari Universitas Sumatera Utara, Medan. Mereka mewawancarai dua orang: Rafliansyah, musisi sekaligus ketua grup musik tradisi Destanada II, dan Bahauddin, seorang seniman.
Rafliansyah memilih mengubah cara main. Ia memasang canang pada sebuah kotak resonator, sehingga pemainnya bisa duduk bersila. Baginya, posisi itu lebih baik daripada kaki yang terjulur. Bukan hanya kaki yang ia ubah. Jumlah nada, cara penyajian, dan tempat canang diperdengarkan ikut bergeser, dan ketiga penulis menelusuri satu per satu apa yang mendorongnya.
Empat bilah kayu yang dulu menemani orang Singkil di sawah
Mundur dulu ke alatnya. Canang kayu, menurut naskah itu, umumnya dibuat dari kayu yang mudah didapat. Tiap bilah panjangnya 20 sampai 30 sentimeter dan tebalnya 3 sampai 4 sentimeter. Bunyinya lahir dari getaran badan kayu itu sendiri, sehingga para penulis menggolongkannya sebagai idiofon, sejenis xilofon dari kayu.
Nadanya hanya empat: do, re, mi, dan fa. Pada masa lalu, tulis Purba dan dua rekannya, orang Singkil memainkannya di sawah untuk menghibur diri. Satu orang, empat bilah, kaki terjulur. Kini alat yang sama terdengar di acara besar seperti pesta pernikahan, pesta adat, dan khitanan.
Pemiliknya adalah salah satu etnis di pesisir selatan Provinsi Aceh. Nama Singkil, menurut naskah, berasal dari kata sekel yang berarti mau. Orang Singkil hidup berdampingan dan berkerabat dengan orang Gayo dan Alas. Tradisi dan budaya mereka, tulis para penulis, berbeda dari orang Aceh yang menjadi mayoritas di provinsi itu.
Percampuran juga bagian dari cerita mereka. Orang Singkil banyak berbaur dengan tetangga dan pendatang: Mandailing, Nias, Aceh, Melayu, dan Minang. Namun sebagian besar yang tinggal di wilayah adat Singkil, kata naskah, telah melebur ke dalam budaya Singkil. Keseniannya berupa tari dan musik, dan keduanya biasa ditampilkan pada acara besar.
Ada dua tari yang disebut: dampeng dan ambe-ambeken. Pengiringnya rabana, gong, gendang dua sisi, dan canang kayu. Di antara alat-alat itu, canang kayu yang oleh para penulis disebut berperan penting dalam budaya masyarakat Aceh Singkil. Pada bagian penutup naskah, mereka menyebutnya alat musik yang telah menjadi identitas orang Singkil.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Rafliansyah menambah nada karena lagu masa kini tak muat di empat bilah
Empat nada itulah yang pertama dipersoalkan Rafliansyah. Kalau canang dipertahankan seperti aslinya, katanya kepada penulis, masyarakat kurang tertarik. Dengan empat nada, lagu-lagu yang sedang digemari tidak bisa dimainkan dengan sempurna. Akibatnya terasa langsung: panggilan manggung makin jarang, pesanan canang makin sedikit.
Soal pesanan itu bukan urusan orang lain. Rafliansyah juga pembuat canang, dengan nama usaha Rumah Canang. Maka ia memperluas tangga nada dari empat menjadi delapan, genap satu oktaf, bahkan lebih. Naskah mencatat keinginan agar canang mencapai satu atau dua oktaf supaya bisa mengiringi lagu populer masa kini.
Para penulis menyebut ini faktor ekonomi. Dengan tangga nada dan penyajian yang baru, grupnya dipanggil bermain di pesta adat dan acara resmi sambil membawakan lagu yang sedang tren. Pesanan pembuatan canang ikut naik. Begitu pula, tulis mereka, pendapatan para seniman di Aceh Singkil, tempat banyak pekerja seni bertahan di tengah kesempatan kerja yang makin sedikit.
Faktor kedua lebih sederhana: hiburan. Manusia, tulis Purba dan rekan-rekannya, butuh hiburan untuk melepas jenuh dan lelah dari rutinitas harian. Canang kayu dengan bunyinya yang khas telah menjadi salah satu hiburan warga Kabupaten Aceh Singkil. Syair yang dibawakan Grup Destanada, menurut naskah, membuat penonton merasa terhibur.
Dari satu pemain menjadi ensambel, lalu gitar, bas, dan drum ikut naik panggung
Dulu canang dimainkan sendirian. Sekarang ia hadir dalam ensambel bersama alat tradisi lain: gendang dua sisi, rapai, gong, dan sarune. Bahauddin dan Rafliansyah sama-sama mengatakan kepada penulis bahwa penyajian canang yang baik biasanya lengkap, ditemani gong, gendang dua sisi, dan rabana, supaya bunyinya bagus dan sesuai dengan lagu yang dibawakan.
Ada syarat lain yang mereka sebut. Pemain harus paham pukulannya. Ia harus memainkannya pelan-pelan, dengan jiwa yang tenang, agar lahir keindahan dan keselarasan. Para penulis mengulang hal itu di ujung naskah berbahasa Inggris mereka. “Meskipun tekniknya tampak sederhana, mencapai bunyi yang diinginkan menuntut pendekatan yang tenang dan terfokus,” tulis Junaidi Purba, Vanesia Amelia Sebayang, dan Yusnizar Hennywaty.
Lalu Destanada II melangkah lebih jauh. Grup pimpinan Rafliansyah itu memadukan ensambel canang kayu dengan alat musik modern: gitar, bas, dan drum. Sasarannya jelas. Kepada penulis, Rafliansyah mengatakan ia ingin menarik orang Singkil, terutama anak muda yang tak lagi berminat pada musik tradisi.
Ia tidak mau canang berhenti sebagai hiburan di sawah atau di pesta adat saja. Ia ingin canang tampil di acara resmi dan menjadi tontonan orang Singkil. Paduan itu, menurut naskah, tetap menjaga ciri khas canang kayu. Dan hasilnya, tulis para penulis, masyarakat tertarik menikmati canang gaya baru, terutama kalangan muda.
Baca juga Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi
Lalu, apakah ada yang menolak? Naskah menjawabnya pendek. “Dan perubahan itu berlanjut, dan tidak ada yang membuat orang marah karenanya,” tulis ketiga penulis, juga dalam bahasa Inggris. Mereka menilai perubahan itu berasal dari dalam, dari pelakunya sendiri, yakni Rafliansyah, baik pada bentuk alat maupun pada pertunjukannya.
Seorang penjabat bupati ingin canang membuka setiap acara resmi
Kembali ke kaki. Canang kini dimainkan di perayaan pernikahan dan penyambutan tamu penting: bupati, camat, perangkat desa. Menjulurkan kaki di hadapan mereka dianggap tidak pantas. Dengan kotak resonator, tulis para penulis, canang bisa dimainkan tanpa kaki terjulur, dan itu dinilai elok serta sopan saat menyambut tamu. Pemerintah daerah pun masuk ke dalam cerita, dan naskah menyebutnya faktor politik. Rafliansyah menuturkan bahwa Penjabat Bupati Aceh Singkil, Marthunis, sangat antusias terhadap kesenian canang. Apalagi pemainnya anak-anak muda Aceh Singkil. Perhatian itu ditunjukkan ketika ia membuka Festival Canang Kayu dan kegiatan seni lainnya.
Menurut penuturan yang sama, sang penjabat bupati juga membicarakan satu gagasan: canang sebaiknya selalu dipakai sebagai simbol pembuka di acara resmi pemerintah. Naskah memuat sebuah foto dokumentasi Rafliansyah. Di dalamnya penjabat bupati berdiri di tengah, diapit seorang kepala dinas dan Bahauddin, meresmikan festival seni.
Di tengah semua pergeseran itu, para penulis menarik satu garis. “Meski mengalami perubahan, Canang Kayu tetap menjunjung nilai-nilai budaya lokal dan identitas masyarakat Singkil,” tulis Purba, Sebayang, dan Hennywaty dalam ringkasan naskah berbahasa Inggris itu. Canang, kata mereka, harus mengikuti perkembangan musik supaya masyarakat tetap mau menikmatinya.
Baca juga Seblang Olehsari: Izin Sehari Ditolak, Tari Tujuh Hari Batal
Dua orang bercerita, dan beberapa hal dalam naskah yang tidak seiring
Seluruh kisah ini bertumpu pada dua informan kunci, dan itu batasnya. Salah satunya, Rafliansyah, adalah pelaku perubahan sekaligus pembuat canang. Naskah tidak memuat suara penonton atau anak muda yang disebut tertarik. Tidak ada pula angka tentang pesanan dan pendapatan yang dikatakan naik. Yang tercatat adalah penuturan para pelakunya.
Pembaca naskah juga akan menemukan beberapa hal yang tidak seiring. Posisi main yang baru disebut bersila di satu bagian, tetapi di bagian lain canang dimainkan sambil berdiri dengan kotak diletakkan di atas meja. Nama dua informan dieja berbeda-beda. Pemerintah disebut kurang peduli membina seni Aceh Singkil, sementara penjabat bupatinya digambarkan sangat antusias.
Rafliansyah berangkat dari satu soal kecil, yaitu kaki yang tak boleh terjulur di depan tamu. Dari sana canang kayu mendapat kotak resonator, empat nada tambahan, dan teman main bernama gitar, bas, dan drum. Bilah kayu yang dulu dipukul seorang diri di sawah kini dimainkan Destanada II di hadapan bupati.















