- Di seluruh Asia, emisi naik bersama pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya penduduk kota.
- Rata-rata emisi satu negara dalam setahun 463,18 megaton setara karbon dioksida.
- Di negara menengah atas, kota dan boros energi mengambil tempat itu.
- Di negara berpendapatan tinggi, kaitan ekonomi dengan emisi melemah.
Daftar Isi
- Sejak 1990, jarak antarnegara sudah lebar
- Sampai 2022, ekonomi dan kota berjalan seiring emisi
- Tahap pertama: industri awal dan energi padat karbon
- Tahap kedua: kota mengambil alih peran pendapatan
- Tahap ketiga: di negara kaya, kaitan itu memudar
- Sesudah hitungan: angka yang mengecil dan yang berselisih
Awal 1990-an, banyak ekonomi Asia mulai berubah cepat. Perdagangan dibuka dan industri diperluas. Dari titik itulah Hari Nugroho memulai catatannya: 41 negara Asia, diikuti tahun demi tahun sampai 2022. Yang ia catat adalah emisi gas rumah kaca tiap negara, lalu ia sandingkan dengan pendapatan penduduk, jumlah warga kota, dan cara negara itu memakai energi.
Hasilnya ia tulis dalam artikel Economic Growth and Greenhouse Gas Emissions in Asia: A Dynamic Panel Analysis Across Income Groups, terbit di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi volume 15 nomor 1 tahun 2026. Nugroho bekerja di Faculty of Economics and Business, Universitas Pertamina, Indonesia. Ia menulis naskah itu seorang diri, dalam bahasa Inggris, dengan angka dari World Development Indicators terbitan World Bank.
Urutan temuannya mengikuti tangga pendapatan. Di seluruh Asia, emisi naik bersama pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya penduduk kota. Di negara berpendapatan menengah bawah, yang menonjol adalah ekonomi dan kadar karbon energinya. Di negara menengah atas, kota dan boros energi mengambil tempat itu. Di negara berpendapatan tinggi, kaitan ekonomi dengan emisi melemah.
Sejak 1990, jarak antarnegara sudah lebar
Nugroho memilih 1990 sebagai tahun pertama karena dua alasan. Awal dasawarsa itu menandai mulainya perubahan ekonomi yang cepat di banyak negara Asia, menyusul liberalisasi perdagangan dan perluasan industri. Sejak masa itu pula data lingkungan untuk sebagian besar negara Asia tersedia secara ajek.
Selama 33 tahun itu terkumpul 1.353 catatan, satu untuk tiap negara pada tiap tahun. Rata-rata emisi satu negara dalam setahun 463,18 megaton setara karbon dioksida. Angka tertingginya 15.175,62 megaton, hampir 33 kali rata-rata itu. Angka terendahnya hanya 0,14 megaton.
Bagi Nugroho, selisih itu berarti satu hal. Segelintir ekonomi besar mendominasi gambaran emisi kawasan. Naskahnya tidak menyebut negara mana yang berada di puncak, dan tidak pula memuat daftar ke-41 negara itu.
Jarak pendapatan sama lebarnya. Pendapatan per kapita terendah dalam catatan itu sekitar 166 dolar Amerika Serikat setahun, sedangkan yang tertinggi melewati 81.000 dolar, dihitung dengan harga tetap 2015. Rata-ratanya 11.362,95 dolar. Kesenjangan inilah yang membuat Nugroho memisahkan negara menurut kelompok pendapatan.
Penduduk kota mengikuti pola serupa. Negara dengan warga kota paling sedikit mencatat 58.079 orang, sedangkan yang terbanyak sekitar 898 juta orang. Rata-ratanya 40,2 juta orang per negara. Nugroho memakai penduduk kota, bukan seluruh penduduk, karena kegiatan kota cenderung menuntut energi lebih banyak dan melepas karbon lebih besar daripada desa.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Sampai 2022, ekonomi dan kota berjalan seiring emisi
Ketika seluruh negara dihitung bersama, dua hal muncul paling jelas. Pendapatan per kapita berkaitan positif dengan emisi, dengan koefisien 0,242. Penduduk kota juga demikian, dengan koefisien 0,501. Keduanya bermakna secara statistik pada taraf 5 persen, batas yang diberi tanda bintang dalam tabel naskah.
Nugroho membaca angka pertama sebagai tanda bahwa skala masih menang. Perluasan ekonomi, tulisnya, masih melampaui perbaikan teknologi dan efisiensi di banyak ekonomi Asia. Industrialisasi yang cepat dan produksi yang membesar menaikkan kebutuhan energi, lalu emisi ikut naik.
Angka kedua ia jelaskan lewat kota. Pertumbuhan kota yang cepat menambah kebutuhan angkutan, menaikkan pemakaian energi, dan mendorong pembangunan infrastruktur. Tekanan pada lingkungan, menurut naskah itu, bisa menguat ketika urbanisasi berlangsung bersamaan dengan sistem energi yang bergantung pada bahan bakar fosil.
Dua ukuran lain tidak menunjukkan kaitan yang tegas pada hitungan seluruh Asia. Intensitas energi, yaitu energi yang dipakai untuk tiap satuan hasil ekonomi, tidak mencapai taraf itu. Begitu pula intensitas karbon, yaitu karbon dioksida yang dilepas untuk tiap satuan hasil ekonomi.
Penulis menawarkan satu kemungkinan penjelasan. Kondisi teknologi antarnegara terlalu beragam untuk memunculkan satu pola. Perbaikan efisiensi energi memang terlihat di sejumlah ekonomi, tetapi belum cukup kuat untuk mengimbangi dampak perluasan ekonomi terhadap lingkungan.
Emisi tahun sebelumnya juga ikut berkaitan dengan emisi tahun berjalan, meski lemah pada hitungan seluruh Asia. Lintasan emisi, menurut Nugroho, cenderung mengikuti pola jangka panjang industri dan pemakaian energi. Sesudah itu ia memecah catatannya menurut pendapatan. “Negara-negara Asia tidak semuanya menghadapi tantangan yang sama, dan hasil ini jelas menunjukkannya,” tulis Hari Nugroho dari Faculty of Economics and Business, Universitas Pertamina, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Tahap pertama: industri awal dan energi padat karbon
Kelompok pertama adalah negara berpendapatan menengah bawah. Di sini emisi paling lekat pada masa lalunya sendiri. Koefisien emisi tahun sebelumnya 0,918, mendekati satu. Nugroho menyebutnya tanda bahwa emisi di kelompok ini sangat bertahan dari tahun ke tahun.
Pendapatan per kapita berkaitan positif dengan emisi, tetapi lemah. Kaitannya hanya bermakna pada taraf 10 persen, lebih longgar daripada taraf 5 persen. Intensitas karbon juga positif pada taraf yang sama. Penduduk kota dan intensitas energi tidak menunjukkan kaitan yang bermakna di kelompok ini.
Nugroho menautkan pola itu dengan industrialisasi tahap awal. Pada tahap ini produksi bertumpu pada sektor yang rakus energi dan pada bahan bakar fosil. Negara menengah bawah, tulisnya, mengandalkan sumber energi padat karbon seperti batu bara dan minyak untuk menopang perluasan industri.
Dari sudut struktur, ia menyimpulkan bahwa industrialisasi tahap awal cenderung mendahulukan pertumbuhan produksi daripada efisiensi lingkungan. Kerusakan lingkungan lalu menjadi hasil sampingan yang lazim dari perluasan ekonomi. Karena itu ia menempatkan efisiensi energi dan penurunan intensitas karbon sebagai prioritas kebijakan bagi kelompok ini, disertai peralihan bertahap ke energi terbarukan.
Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya
Tahap kedua: kota mengambil alih peran pendapatan
Naik satu tingkat, gambarnya berganti. Di negara berpendapatan menengah atas, emisi tahun sebelumnya tidak lagi berkaitan bermakna dengan emisi tahun berjalan. Pendapatan per kapita dan intensitas karbon juga tidak. Yang paling kuat adalah penduduk kota.
Tabel hasil mencatat koefisien penduduk kota 0,806 untuk kelompok ini, tertinggi di antara ketiga kelompok untuk ukuran itu dan bermakna pada taraf paling ketat. Intensitas energi menyusul dengan koefisien 0,838 dan juga bermakna. Nugroho membacanya sebagai tanda bahwa pemakaian energi yang tidak efisien masih menjadi pendorong emisi.
Tekanan lingkungan di kelompok ini, menurut naskah, makin digerakkan oleh perluasan kota, bukan oleh kenaikan pendapatan semata. Urbanisasi yang cepat menambah kebutuhan angkutan dan infrastruktur. Kegiatan industri pun mengumpul di kawasan metropolitan.
Nugroho menyebut ekonomi menengah atas sedang menjalani perubahan struktur: kota tumbuh cepat dan industri ditata ulang. Untuk tahap ini ia mengusulkan perencanaan kota yang mendorong infrastruktur hemat energi, angkutan umum, dan pembangunan kota rendah karbon.
Tahap ketiga: di negara kaya, kaitan itu memudar
Kelompok terakhir adalah negara berpendapatan tinggi. Emisi tahun sebelumnya kembali kuat, dengan koefisien 0,826. Namun tidak satu pun dari empat ukuran lain berkaitan bermakna dengan emisi: pendapatan per kapita, penduduk kota, intensitas energi, maupun intensitas karbon.
Penulis menduga ada faktor lain yang tidak teramati dalam hitungannya. Ia menyebut tiga: inovasi teknologi, peraturan lingkungan, dan dekarbonisasi struktural. Pendorong lama seperti kenaikan pendapatan dan urbanisasi, tulisnya, mungkin tidak lagi menjadi penentu utama emisi di ekonomi maju.
Pola itu ia nilai sejalan dengan hipotesis Environmental Kuznets Curve. Hipotesis tersebut menyatakan kerusakan lingkungan dapat menurun setelah pembangunan ekonomi melewati tingkat tertentu, didorong perbaikan teknologi dan tata kelola lingkungan yang menguat. Untuk negara kaya, sarannya adalah meneruskan investasi energi terbarukan, teknologi pengurang karbon, dan peraturan lingkungan yang lebih ketat.
Ketiga tahap itu kemudian ia rangkum dalam satu kalimat kebijakan. “Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan semestinya dirancang menurut tahap pembangunan ekonomi,” tulis Nugroho, juga dalam bahasa Inggris. Kalimat itu tidak ia rinci menjadi sasaran atau jadwal bagi negara tertentu.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Sesudah hitungan: angka yang mengecil dan yang berselisih
Di ujung naskah, Nugroho mengulang hitungan seluruh Asia dengan dua cara lain. Arah kaitannya tetap: ekonomi dan penduduk kota selalu positif. Besarnya yang berubah. Koefisien pendapatan per kapita 0,488 pada cara statis Fixed Effects, 0,395 pada Difference-GMM, dan 0,242 pada System-GMM, cara utama yang memperhitungkan emisi tahun sebelumnya.
Dari situ ia menarik kesimpulan bahwa cara statis bisa menaksir terlalu tinggi dampak pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan. Intensitas energi pun bermakna pada cara statis, lalu kehilangan maknanya pada cara utama. Koefisien penduduk kota ikut turun, dari 0,769 menjadi 0,501.
Hitungan ini punya batas. Salah satu uji keabsahan alat hitungnya tidak lolos pada sampel seluruh Asia dan pada kelompok menengah atas; penulis menyebut hal itu perlu disikapi hati-hati dan bersandar pada uji lain yang lolos. Untuk negara berpendapatan tinggi, faktor yang diduga menentukan emisi justru berada di luar hitungan. Naskah juga tidak memuat kelompok berpendapatan rendah.
Beberapa angka dalam naskah dapat diperiksa pembaca. Untuk kelompok menengah atas, tabel mencatat koefisien penduduk kota 0,806, sedangkan uraiannya menulis 1,165. Untuk kelompok menengah bawah, koefisien pendapatan per kapita tertulis 0,0242 di tabel dan 0,0215 di uraian, sedangkan intensitas karbon 0,00820 di tabel dan 0,00204 di uraian.
Jumlah catatan juga tidak dijelaskan. Statistik dasarnya memuat 1.353 catatan, tetapi hitungan seluruh Asia memakai 889. Tiga kelompok pendapatan masing-masing memakai 311, 311, dan 245 catatan, yang bila dijumlahkan menjadi 867. Abstrak menyebut emisi negara menengah bawah terutama didorong pertumbuhan ekonomi, padahal kaitannya hanya bermakna pada taraf 10 persen.
Catatan Nugroho berhenti pada 2022. Sampai tahun itu, emisi Asia masih berjalan seiring ekonomi dan penduduk kotanya, dan hanya di kelompok berpendapatan tinggi kaitan itu tidak lagi terlihat.















