Siklon Jarang Melanda Sri Lanka, tapi Paling Banyak Menelan Jiwa

A A

Ilustrasi hamparan lahan terendam banjir dengan pepohonan di kejauhan di Sri Lanka [Foto: AM.FALEEL (Panoramio)/Wikimedia Commons, CC BY 3.0]

  • Dari 59 kejadian bencana alam yang tercatat antara 2010 dan 2025, sebanyak 14.477.357 orang terdampak, 1.497.277 orang mengungsi, dan 2.218 orang meninggal.
  • Banjir bersama longsor berdampak pada sekitar 6,4 juta orang, memaksa 894.179 orang meninggalkan rumah, dan merenggut 479 jiwa.
  • Akan tetapi, korban jiwanya mencapai 823 orang, tertinggi di antara semua jenis bencana.
  • Meski begitu, tabel para peneliti mencatat nol pengungsi dan nol kematian untuk kekeringan.
Daftar Isi
  1. Enam rupa bencana sepanjang 2010–2025
  2. Banjir dan longsor dalam cermin catatan CRED 2022
  3. Siklon 2024–2025 dan pelajaran dari Teluk Benggala
  4. Kekeringan 2012–2020, bencana tanpa pengungsi di atas kertas
  5. Dari 2011 hingga 2025, tahun-tahun yang paling berat
  6. Yang selamat tetapi kehilangan rumah, menurut De Silva dkk.
  7. Batas data 2010–2025 dan angka yang tidak saling cocok

Selama bertahun-tahun, bencana di Sri Lanka dicatat sepotong-sepotong. Banjir musiman, longsor di lereng, siklon yang membawa gelombang badai, dan kekeringan yang berulang masing-masing meninggalkan laporannya sendiri, tetapi negeri pulau di Asia Selatan itu tidak memiliki data bencana nasional jangka panjang yang lengkap, konsisten, dan mudah diakses. Kajian terdahulu yang dirujuk para peneliti sudah mencatat lemahnya pengumpulan, penyimpanan, dan pertukaran data antarlembaga.

Kekosongan itulah yang hendak diisi Dewarahandhi Kavishka Madushan De Silva, Sudath Shirly Pathmasiri Warnakulasuriya, dan Samath D. Dharmaratne lewat artikel Natural hazards and population impact in Sri Lanka, 2010–2025 di jurnal BMC Public Health volume 26 nomor 2335, tahun 2026. Dua nama pertama bekerja di Fakultas Keperawatan University of Colombo, sedangkan Dharmaratne di Fakultas Kedokteran University of Peradeniya. Mereka menyebut kajian ini, sejauh pengetahuan mereka, sebagai gambaran nasional terpadu pertama selama 16 tahun.

Hasil penjumlahannya besar. Dari 59 kejadian bencana alam yang tercatat antara 2010 dan 2025, sebanyak 14.477.357 orang terdampak, 1.497.277 orang mengungsi, dan 2.218 orang meninggal. Banjir, terutama yang datang bersama longsor, menjadi bencana paling sering sekaligus paling luas akibatnya. Namun kematian terbanyak justru datang dari bencana yang lebih jarang, yaitu siklon yang disertai banjir dan longsor.

Enam rupa bencana sepanjang 2010–2025

Para peneliti memilah catatan itu ke dalam enam jenis, yakni banjir saja, banjir bersama longsor, siklon tropis saja, siklon bersama banjir dan longsor, kekeringan, serta longsor saja. Banjir adalah yang paling kerap berulang dan muncul hampir setiap tahun dalam periode kajian. Gabungan banjir dan longsor tercatat pada empat belas tahun, sebuah tanda bahwa kedua bahaya itu terus datang berpasangan.

Jenis lain jauh lebih jarang. Siklon tropis yang datang sendirian hanya tercatat pada 2012, 2013, 2020, 2021, dan 2022. Siklon yang disertai banjir dan longsor terutama dilaporkan pada 2024 dan 2025, tanpa pola berkala yang jelas. Kekeringan muncul tersebar pada empat tahun, yaitu 2012, 2014, 2017, dan 2020, sementara longsor yang berdiri sendiri hanya terdokumentasi sekali, pada 2014.

Baca juga Peringatan Dini Cepat, Tapi Yolanda Buktikan Itu Tak Cukup

Dominasi banjir dan longsor ini, menurut para penulis, sejalan dengan iklim monsun Sri Lanka, curah hujan yang sangat berubah-ubah, dan tekanan penggunaan lahan yang meningkat di wilayah rentan. Mereka merujuk laporan status UNDRR tahun 2019 untuk menegaskan bahwa temuan itu memperkuat penggolongan Sri Lanka sebagai negara rawan bencana hidrometeorologi.

Banjir dan longsor dalam cermin catatan CRED 2022

Banjir yang datang sendirian berdampak pada lebih dari 1,9 juta orang, membuat 283.428 orang mengungsi, dan menewaskan 268 orang. Begitu longsor ikut serta, angkanya melonjak. Banjir bersama longsor berdampak pada sekitar 6,4 juta orang, memaksa 894.179 orang meninggalkan rumah, dan merenggut 479 jiwa. Dari seluruh pengungsi yang tercatat selama 16 tahun, lebih dari separuh berasal dari gabungan dua bahaya ini.

Angka itu ditempatkan para penulis di samping catatan kawasan. Mengutip laporan CRED tahun 2022, mereka menyebut banjir di Asia Selatan berdampak pada kira-kira 750 juta orang antara 2000 dan 2021, hampir separuh penduduk dunia yang terdampak banjir. India, Bangladesh, dan Nepal secara konsisten melaporkan banjir sebagai penyebab utama pengungsian, dengan porsi lebih dari 60 persen pengungsian bencana tahunan di kawasan itu.

Di tengah gambaran kawasan tersebut, Sri Lanka tampak menonjol. Menurut para penulis, besarnya jumlah warga yang terdampak gabungan banjir dan longsor di negeri itu secara proporsional lebih tinggi daripada yang dilaporkan di beberapa negara Asia berpendapatan menengah. Mereka menafsirkannya sebagai tanda keterpaparan yang lebih besar, terkait pola permukiman, lereng yang tidak stabil, dan kepadatan penduduk di daerah rawan.

Siklon 2024–2025 dan pelajaran dari Teluk Benggala

Siklon yang disertai banjir dan longsor berdampak pada sekitar 1,7 juta orang dan membuat 319.670 orang mengungsi. Jumlah itu jauh di bawah banjir bersama longsor. Akan tetapi, korban jiwanya mencapai 823 orang, tertinggi di antara semua jenis bencana. Itu berarti lebih dari sepertiga dari 2.218 kematian selama 16 tahun berasal dari jenis bencana yang terutama baru dilaporkan pada dua tahun terakhir periode kajian.

Siklon paling jarang, paling mematikanSiklon + banjir + longsor: Kematian yang dilaporkan +823; Banjir + longsor: Kematian yang dilaporkan +479; Banjir saja: Kematian yang dilaporkan +268; Longsor saja: Kematian yang dilaporkan +241; Siklon tropis saja: Kematian yang dilaporkan +13; Kekeringan: Kematian yang dilaporkan 0.Siklon paling jarang, paling mematikanKematian menurut jenis bencana di Sri Lanka, jiwa3006009000Siklon + banjir + longsor823Banjir + longsor479Banjir saja268Longsor saja241Siklon tropis saja13Kekeringan0Angka per jenis bencana menurut tabel dalam naskah.
Sumber: Dewarahandhi Kavishka Madushan De Silva, Sudath Shirly Pathmasiri Warnakulasuriya, Samath D. Dharmaratne, Natural hazards and population impact in Sri Lanka, 2010–2025, BMC Public Health, 26(2335), 2026. Grafik: Cekricek.id

Pola semacam itu bukan hal baru dalam literatur yang dirujuk. Para penulis menyebut bukti dari pesisir Asia Selatan, tempat siklon menyumbang kurang dari 10 persen kejadian bencana tetapi lebih dari 30 persen kematian akibat bencana. Di kawasan Teluk Benggala saja, tulis mereka, siklon tropis menyebabkan lebih dari 500.000 kematian antara 1970 dan 2019, meskipun kemampuan prakiraan sudah maju.

Untuk Sri Lanka sendiri, para peneliti berhati-hati. Naiknya kematian pada kejadian siklon mutakhir, khususnya 2024 dan 2025, menurut mereka mungkin mencerminkan badai yang makin hebat terkait perubahan iklim. Mereka juga menyebut kemungkinan lain, yaitu celah yang masih tersisa dalam penyebaran peringatan dini dan kepatuhan warga terhadap perintah evakuasi. Keduanya disampaikan sebagai dugaan, bukan sebagai sebab yang sudah terbukti.

Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan

Kekeringan 2012–2020, bencana tanpa pengungsi di atas kertas

Kekeringan menghadirkan teka-teki tersendiri. Bencana ini berdampak pada lebih dari 6,5 juta orang, sedikit di atas jumlah warga yang terdampak banjir bersama longsor. Meski begitu, tabel para peneliti mencatat nol pengungsi dan nol kematian untuk kekeringan. Dua bencana dengan jangkauan hampir setara itu meninggalkan jejak yang sama sekali berbeda di dalam pembukuan.

Banjir mengusir, kekeringan menahanBanjir mengusir, kekeringan menahanBanjir mengusir, kekeringan menahanDua bencana dengan jumlah warga terdampak hampir setaraBanjir + longsorKekeringan6.490.1136.522.091Warga terdampak894.1790Warga mengungsi4790KematianPenulis menduga pengungsian akibat kekeringan kurang tercatat.
Sumber: Dewarahandhi Kavishka Madushan De Silva, Sudath Shirly Pathmasiri Warnakulasuriya, Samath D. Dharmaratne, Natural hazards and population impact in Sri Lanka, 2010–2025, BMC Public Health, 26(2335), 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis tidak membaca angka nol itu secara harfiah. Mereka menduga ketiadaan laporan pengungsian saat kekeringan lebih mencerminkan pencatatan yang kurang daripada ketiadaan yang sungguh-sungguh. Bencana yang datang perlahan, tulis mereka, kerap kurang terwakili dalam sistem pelaporan kemanusiaan karena mulainya bertahap, sebarannya meluas, dan pemicu tanggap daruratnya lebih lemah.

Penjelasan itu disandarkan pada riset terdahulu. Secara global, menurut catatan CRED yang mereka kutip, kekeringan mencakup kira-kira 35 persen penduduk terdampak bencana antara 2000 dan 2020, tetapi menyumbang kurang dari 5 persen kematian yang dilaporkan. Tinjauan Stanke dan rekan-rekannya pada 2013 menunjukkan bahwa kekeringan terutama bekerja secara tidak langsung, lewat kerawanan pangan, terganggunya mata pencaharian, dan tekanan gizi jangka panjang.

Dari 2011 hingga 2025, tahun-tahun yang paling berat

Dampak bencana tidak merata dari tahun ke tahun. Jumlah warga terdampak melampaui tiga juta orang pada 2014 dan 2018, masing-masing 3.005.826 dan 3.036.712 orang, disusul 2012 dengan 2.316.021 orang. Pengungsian terbesar terjadi pada 2011, ketika 663.696 orang meninggalkan rumah, lalu 2010 dengan 282.291 orang dan 2025 dengan 233.015 orang.

Kematian paling banyak tercatat pada 2025, yakni 854 orang, jauh di atas 2014 dengan 336 orang dan 2017 dengan 329 orang. Para penulis menyebut lonjakan 2025 sebagai kejadian yang menyimpang dari rata-rata tahun sebelumnya dan mungkin mencerminkan gabungan yang luar biasa parah antara kekuatan bahaya, keterpaparan, dan kerentanan penduduk. Latar belakang naskah menyebut siklon besar Dithwa pada tahun itu.

Di ujung lain, 2015 menjadi tahun paling ringan dengan 27.309 warga terdampak, 664 pengungsi, dan 10 kematian. Tahun-tahun puncak, menurut para penulis, bertepatan dengan anomali monsun ekstrem dan banjir besar di Asia Selatan. Mereka mengutip laporan IPCC tahun 2022 tentang kenaikan intensitas curah hujan 10 sampai 20 persen dalam beberapa dekade terakhir, serta laporan ADB tahun 2021 tentang naiknya kematian akibat banjir di Asia Tenggara.

Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit

Yang selamat tetapi kehilangan rumah, menurut De Silva dkk.

Satu perbandingan lagi diajukan para penulis, kali ini dengan Filipina dan Madagaskar. Sri Lanka, menurut mereka, menunjukkan jumlah warga terdampak yang sebanding tetapi rasio pengungsi terhadap kematian yang relatif lebih tinggi. Mereka membacanya sebagai tanda bahwa penduduk cukup berhasil diselamatkan dalam jangka pendek, sementara kerentanan yang menyangkut keamanan tempat tinggal dan kelangsungan mata pencaharian tetap bertahan.

Dari situ kesimpulan mereka ditarik. “Bahaya alam merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang terus-menerus di Sri Lanka, bukan peristiwa sesekali yang berdiri sendiri-sendiri,” tulis De Silva, Warnakulasuriya, dan Dharmaratne dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka mendorong pergeseran dari penanganan yang bersifat reaktif menuju pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan, dengan pengurangan risiko banjir dan longsor sebagai prioritas.

Usulan itu juga bersandar pada pengalaman negara lain yang mereka rujuk. Vietnam dan Thailand disebut mampu memperbaiki kelengkapan pelaporan lebih dari 30 persen dalam lima tahun setelah menerapkan sistem informasi bencana terpusat. Bukti dari tempat yang sebanding, tulis para penulis, juga menunjukkan bahwa investasi pada peringatan dini, tata guna lahan berbasis risiko, dan kesiapsiagaan warga dapat menekan kematian akibat bencana hingga 40 persen.

Batas data 2010–2025 dan angka yang tidak saling cocok

Para peneliti mengakui batas kajiannya. Seluruh angka bersumber dari data sekunder yang dihimpun lembaga lain, sehingga rentan terhadap bias pelaporan dan definisi yang tidak seragam. Mereka menemukan selisih jumlah kejadian dan besaran dampak antarbasis data, dan menilai angka kematian serta pengungsian kemungkinan lebih rendah daripada kenyataan, terutama untuk bencana yang datang perlahan dan penduduk di wilayah terpencil.

Naskahnya sendiri memuat beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca. Ringkasan menyebut puncak dampak pada 2011, 2014, 2016, dan 2025, sedangkan bagian pembahasan menyebut 2011, 2014, 2018, dan 2025. Tahun 2014 ditulis sebagai tahun dengan warga terdampak terbanyak, padahal angka 2018 yang dicantumkan sesudahnya lebih besar. Banjir disebut terjadi pada empat belas tahun, tetapi daftar tahun yang menyertainya hanya memuat tiga belas.

Tabel dampak menurut jenis bencana juga menyisakan pertanyaan. Judulnya menyebut 2015–2025, bukan 2010–2025. Bila keenam barisnya dijumlahkan, kematian hanya 1.824 orang, bukan 2.218, sedangkan warga terdampak menjadi lebih dari 16,7 juta, melampaui total 14.477.357. Rendahnya dampak pada 2015 pun dikaitkan penulis dengan gangguan pelaporan semasa pandemi, bersama 2022, padahal masa pandemi yang dirujuk naskah itu sendiri adalah 2020–2021.

Maka potret 16 tahun ini adalah satu mata rantai, bukan kata akhir. Ia menyambung catatan yang tadinya terserak menjadi satu urutan, dari banjir 2010 hingga siklon 2025, dan memperlihatkan pola yang sejalan dengan riset kawasan sebelumnya. Mata rantai berikutnya, sebagaimana diakui penulisnya, bergantung pada pembukuan bencana yang lebih rapi, termasuk untuk kekeringan yang hingga kini nyaris tidak meninggalkan angka.

Bagikan

Baca Juga

Usai Gempa Turki, Banyak Keluarga Sulit Bicara tapi Tak Berobat
Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup
Banjir Bandang Sumatra Berulang karena Sisa Longsor Masih di Hulu
Longsor Salju di Nepal Tewaskan 15 Pekerja Ekspedisi Himlung
Listrik Padam Memperberat Penyakit Kronis Lansia Puerto Rico
Delapan dari Sepuluh Buruh Garmen Sri Lanka Kepanasan di Pabrik