Anak di Kontainer Hatay Banyak Terserang Infeksi Napas Usai Gempa

A A

Ilustrasi foto udara deretan rumah kontainer pascagempa 2023 di Kahramanmaraş, Turki [Foto: Orhan Erkılıç (VOA)/Wikimedia Commons, Public domain]

  • Infeksi saluran napas atas akut dialami 76,3 persen anak 0-2 tahun, 84,4 persen anak 3-11 tahun, dan 91,5 persen remaja.
  • Sebanyak 33,2 persen anak 3-11 tahun tidak mendapat gizi cukup dan seimbang, pada remaja 16,8 persen.
  • Kutu rambut dilaporkan pada 30,2 persen anak 3-11 tahun, dan 44,4 persen tidak menggosok gigi teratur.
  • Di antara remaja, 41,9 persen bergejala PTSD berat dan 9,1 persen sangat berat.
Daftar Isi
  1. Modul Logam di Antakya
  2. Piring dan Sikat Gigi
  3. Botol Susu Bayi
  4. Kartu Vaksin dan Ruang Periksa
  5. Malam di Dalam Modul
  6. Pintu Kontainer

Satu unit kontainer di Antakya umumnya berukuran 21 sampai 30 meter persegi. Modul logam itu berisi satu atau dua kamar, dapur kecil, dan kamar mandi, sedangkan tempat mencuci pakaian dipakai bersama. Keluarga menyiapkan makanannya sendiri. Di modul semacam itulah 1.013 anak dan remaja berusia 0 sampai 18 tahun tinggal ketika ditemui antara Agustus dan Desember 2023.

Catatan lapangan itu dilaporkan Ecem Gülistan Çakar dan Emel Demir dari bidang Keperawatan Anak, Universitas Hatay Mustafa Kemal, dalam artikel Field study on the health status of children aged 0–18 in container cities after the 2023 Türkiye earthquake - Hatay example di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Riset itu disusun sebagai tesis magister keperawatan anak di universitas tersebut. Data dikumpulkan Çakar lewat wawancara tatap muka di kota kontainer, rata-rata 20 menit setiap kali, lalu tinggi dan berat badan anak diukur di tempat.

Data diambil di tiga kota kontainer di distrik Antakya, Provinsi Hatay, Turki. Setiap kota kontainer tempat data dikumpulkan memiliki Pusat Kesehatan Keluarga yang menyediakan dukungan psikososial dan pengobatan. Pesertanya 76 anak berusia 0 sampai 2 tahun, 358 anak 3 sampai 11 tahun, dan 579 remaja 12 sampai 18 tahun.

Modul Logam di Antakya

Rumah asal anak-anak ini kebanyakan rusak parah. Sebanyak 64,8 persen keluarga melaporkan rumahnya rusak berat dan 21,2 persen hancur, sementara yang tidak rusak sama sekali hanya 0,8 persen. Di dalam kontainer, 54,7 persen keluarga tinggal lebih dari empat orang.

Sebanyak 50,8 persen orang tua kehilangan pekerjaan setelah gempa, dan 50,6 persen mengalami penurunan pendapatan. Kepindahan ke kontainer pun tidak serentak: 48,9 persen anak menetap di sana pada bulan pertama, 31,5 persen pada bulan kedua sampai keempat, dan 19,6 persen sesudah lima bulan.

Sekolah ikut bergeser. Sebanyak 13 persen anak tidak lagi bersekolah setelah gempa, sedangkan 39,9 persen belajar di sekolah lapangan. Kehilangan menyentuh ketiga kelompok usia: separuh anak berusia 0 sampai 2 tahun, 51,7 persen anak 3 sampai 11 tahun, dan 61,3 persen remaja kehilangan sedikitnya satu anggota keluarga dalam gempa.

Baca juga Usai Gempa Turki, Banyak Keluarga Sulit Bicara tapi Tak Berobat

Piring dan Sikat Gigi

Masalah makan lebih sering dialami anak 3 sampai 11 tahun daripada remaja. Sebanyak 33,2 persen anak kelompok muda itu tidak mendapat gizi yang cukup dan seimbang, sementara pada remaja angkanya 16,8 persen. Nafsu makan turun pada 20,1 persen anak dan 8,8 persen remaja.

Anak 3-11 tahun lebih sering kesulitanGizi tidak cukup dan seimbang: 3-11 tahun (n = 358) 33,2%, 12-18 tahun (n = 579) 16,8%; Kutu rambut: 3-11 tahun (n = 358) 30,2%, 12-18 tahun (n = 579) 16,6%; Tidak gosok gigi teratur: 3-11 tahun (n = 358) 44,4%, 12-18 tahun (n = 579) 5,9%; Pakaian tidak bisa bersih: 3-11 tahun (n = 358) 13,4%, 12-18 tahun (n = 579) 2,8%.Anak 3-11 tahun lebih sering kesulitanPersen anak per kelompok usia, kota kontainer Antakya,Agustus-Desember 20233-11 tahun (n = 358)12-18 tahun (n = 579)0%10%20%30%40%50%33,2%16,8%Gizi tidakcukup danseimbang30,2%16,6%Kutu rambut44,4%5,9%Tidak gosokgigi teratur13,4%2,8%Pakaian tidakbisa bersihSemua selisih bermakna secara statistik, p kurang dari 0,05
Sumber: Ecem Gülistan Çakar dan Emel Demir, Field study on the health status of children aged 0–18 in container cities after the 2023 Türkiye earthquake - Hatay example, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Melewatkan waktu makan dilaporkan pada 19,6 persen anak 3 sampai 11 tahun dan 8,6 persen remaja. Konsumsi susu dan olahannya menurun pada 14,0 persen anak dan 8,3 persen remaja. Konsumsi daging, ikan, dan unggas menurun pada 14,8 persen dan 9,3 persen, sedangkan konsumsi buah dan sayur menurun pada 7,3 persen dan 3,6 persen.

Satu kebiasaan justru mirip di kedua kelompok. Konsumsi makanan tak sehat atau junk food meningkat pada 69,6 persen anak 3 sampai 11 tahun dan 69,3 persen remaja. Selisih keduanya tidak bermakna secara statistik.

Beberapa langkah dari dapur, kebersihan badan memperlihatkan pola yang serupa. Kutu rambut dilaporkan pada 30,2 persen anak 3 sampai 11 tahun dan 16,6 persen remaja. Dari anak yang berkutu, 85,2 persen anak kelompok muda dan 89,4 persen remaja tidak mendapatkan sampo antikutu.

Sebanyak 44,4 persen anak 3 sampai 11 tahun tidak menggosok gigi secara teratur, sedangkan pada remaja 5,9 persen. Pakaian yang tidak bisa dijaga bersih dialami 13,4 persen anak dan 2,8 persen remaja. Menurut kedua peneliti, masalah kutu dan kebersihan mulut paling menonjol pada kelompok usia yang lebih muda.

Ketika kebersihan tidak bisa dijaga, alasan yang paling banyak disebut adalah lingkungan keluarga yang padat, 79,6 persen pada anak dan 91,7 persen pada remaja. Kekurangan perlengkapan kebersihan disebut pada 17,6 persen dan 3,1 persen, kesulitan air pada 9,9 persen dan 1,6 persen.

Botol Susu Bayi

Di kamar yang dihuni bayi, ceritanya bergeser ke ASI dan botol susu. Sebelum gempa, 75,0 persen anak 0 sampai 2 tahun disusui. Setelah gempa, 89,5 persen dari bayi yang menyusu tetap disusui, tetapi 40,4 persen mengalami perubahan frekuensi menyusu.

Alasan terbanyak penurunan frekuensi itu adalah ASI yang berkurang, 65,3 persen, disusul bayi yang menolak 17,4 persen dan ibu yang sakit 13,0 persen. Sebanyak 28,9 persen bayi sudah memakai susu formula sebelum gempa. Dari pengguna formula itu, 36,4 persen tidak bisa menjamin kebersihan saat menyiapkannya.

Makanan pendamping yang sesuai usia tidak bisa didapatkan untuk 92,1 persen bayi di kota kontainer. Ketika bayi menolak makanan pendamping, 45,4 persen orang tua berhenti memberikannya. Bantuan gizi setelah gempa hanya diterima 26,3 persen anak 0 sampai 2 tahun.

“Tak satu pun peserta dirujuk ke ahli gizi, dan kurangnya dukungan profesional bagi orang tua menunjukkan kekurangan serius dalam layanan gizi bayi dan anak kecil pascabencana,” tulis Çakar dan Demir (terjemahan). Mereka juga mencatat bahwa sebagian besar bayi tetap disusui, meski pada sebagian di antaranya frekuensi menyusu menurun.

Kebersihan bayi juga tidak selalu terjaga. Sebanyak 39,5 persen orang tua bayi menyatakan tidak mampu menjaganya, dengan alasan antara lain udara kamar yang tak bisa dijaga bersih, air yang sering mati, perlengkapan kebersihan yang kurang, dan listrik yang padam.

Meski begitu, timbangan dan alat ukur tinggi tidak memperlihatkan penurunan. Rata-rata berat anak 0 sampai 2 tahun tercatat 8,11 kilogram sebelum gempa dan 10,61 kilogram sesudahnya, dalam rentang enam bulan. Kedua peneliti menulis bahwa data gizi mereka menunjukkan kekurangan, tetapi tidak adanya tren negatif pada ukuran tubuh perlu dinilai lewat studi jangka panjang.

Baca juga Ramalan ISPA di 69 Distrik Türkiye, Model Sederhana Paling Jitu

Kartu Vaksin dan Ruang Periksa

Kartu vaksin menjadi barang yang banyak hilang. Hanya 64,5 persen anak 0 sampai 2 tahun yang masih memiliki kartu vaksin, 18,7 persen pada anak 3 sampai 11 tahun, dan 1,4 persen pada remaja. Di antara anak tanpa kartu, alasan terbanyak adalah kartu hilang saat gempa, yakni 96,3 persen, 99,3 persen, dan 91,1 persen.

Sebelum gempa, imunisasi anak hampir seluruhnya lengkap: 97,4 persen, 99,7 persen, dan 99,0 persen pada ketiga kelompok usia. Setelah gempa, 82,9 persen anak 0 sampai 2 tahun memiliki jadwal vaksin yang jatuh tempo, sedangkan pada anak 3 sampai 11 tahun 5,3 persen dan pada remaja 0,9 persen.

Penyakit yang paling sering dialami anak setelah gempa adalah infeksi saluran napas atas akut. Angkanya 76,3 persen pada anak 0 sampai 2 tahun, 84,4 persen pada anak 3 sampai 11 tahun, dan 91,5 persen pada remaja. Gastroenteritis akut tercatat pada 72,4 persen, 72,6 persen, dan 68,6 persen, tanpa perbedaan bermakna antarkelompok usia.

Penyakit kulit lebih sering dialami anak yang lebih kecil, yakni 26,3 persen pada anak 0 sampai 2 tahun dan 28,8 persen pada anak 3 sampai 11 tahun, dibanding 11,4 persen pada remaja. Infeksi saluran kemih paling tinggi pada remaja, 18,8 persen, dan rawat inap paling banyak pada bayi, 7,9 persen.

Kedua peneliti mengaitkan urutan itu dengan keadaan di lapangan. Gempa 2023 terjadi pada musim dingin, yang menurut mereka sejalan dengan infeksi saluran napas atas sebagai penyakit utama di semua kelompok usia. Masalah air dan kebersihan di kota kontainer mereka sebut sejalan dengan tingginya gastroenteritis akut di urutan kedua.

Malam di Dalam Modul

Di dalam modul yang sama, perubahan juga tampak pada tidur. Pola tidur berubah pada 51,3 persen anak 0 sampai 2 tahun dan 53,4 persen anak 3 sampai 11 tahun. Pada bayi, 59,2 persen selalu ingin terus bersama orang tua, dan 48,7 persen selalu menangis ketika dipisahkan dari mereka.

Anak 3 sampai 11 tahun yang selalu terbangun karena mimpi buruk mencapai 9,8 persen, dan 54,2 persen kadang-kadang. Sebanyak 23,5 persen selalu bertanya tentang gempa. Perilaku mundur ke tahap perkembangan sebelumnya, seperti mengisap jempol, mengompol, atau berbicara seperti bayi, tampak pada 27,1 persen anak.

Pada remaja, 88,8 persen kadang-kadang tampak cemas dan 5,4 persen selalu. Pikiran negatif tentang masa depan selalu muncul pada 21,2 persen dan kadang-kadang pada 67,0 persen. Sebanyak 56,1 persen kehilangan minat pada sekolah, 43,2 persen mengalami penurunan prestasi, dan 11,6 persen menunjukkan perilaku agresif.

Remaja juga dinilai dengan skala reaksi stres pascatrauma untuk anak. Di antara remaja 12 sampai 18 tahun, 41,9 persen bergejala gangguan stres pascatrauma (PTSD) berat dan 9,1 persen sangat berat. Sebanyak 35,7 persen bergejala sedang, 11,5 persen ringan, dan hanya 1,8 persen tanpa gejala.

Gejala PTSD remaja terbanyak di tingkat beratTanpa gejala (10 anak): Remaja 12-18 tahun 1,8%; Ringan (62 anak): Remaja 12-18 tahun 11,5%; Sedang (194 anak): Remaja 12-18 tahun 35,7%; Berat (228 anak): Remaja 12-18 tahun 41,9%; Sangat berat (50 anak): Remaja 12-18 tahun 9,1%.Gejala PTSD remaja terbanyak di tingkat beratPersen remaja 12-18 tahun per tingkat skala reaksi strespascatrauma anak10%20%30%40%50%0Tanpa gejala (10 anak)1,8%Ringan (62 anak)11,5%Sedang (194 anak)35,7%Berat (228 anak)41,9%Sangat berat (50 anak)9,1%Kota kontainer Antakya, Hatay, Agustus-Desember 2023
Sumber: Ecem Gülistan Çakar dan Emel Demir, Field study on the health status of children aged 0–18 in container cities after the 2023 Türkiye earthquake - Hatay example, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Skor kecemasan sesaat remaja, pada skala 20 sampai 80, paling tinggi pada mereka yang masuk kontainer lima bulan atau lebih setelah gempa, rata-rata 45,60. Pada yang masuk dalam sebulan pertama rata-ratanya 39,37, dan pada yang masuk bulan kedua sampai keempat 38,47.

Kecemasan bawaan berpola lain. Skornya lebih tinggi pada remaja perempuan, rata-rata 46,42, dibanding laki-laki 43,51, dan lebih tinggi pada remaja dari rumah rusak berat, 45,81, dibanding rumah rusak ringan, 41,60. Rokok atau zat lain dipakai 4,8 persen remaja laki-laki dan 0,9 persen remaja perempuan.

Dukungan psikologis jarang sampai. Hanya 3,9 persen orang tua bayi dan 5,6 persen orang tua anak 3 sampai 11 tahun yang menerimanya, sedangkan remaja yang menerimanya sendiri 9,3 persen. Menurut kedua peneliti, orang tua pun kehilangan dukungan psikososial, sehingga anak secara tidak langsung berada pada risiko lebih besar.

Baca juga Gempa Gorkha 2015 Hapus 473 Ribu Tahun Hidup Warga Nepal

Pintu Kontainer

Temuan itu punya batas yang dinyatakan penulisnya. Data dari tiga kota kontainer tidak dapat digeneralisasi ke kota kontainer lain, dan angkanya mencerminkan keadaan saat data dikumpulkan. Tidak ada pula data tentang kondisi anak sebelum tiba di kota kontainer, sehingga pengaruh masa darurat, terutama pada kesehatan jiwa, tidak terekam.

Çakar dan Demir mengusulkan arah layanan yang lain. Mereka menyarankan agar “layanan kesehatan bagi anak yang tinggal di hunian sementara ditangani dalam kerangka pencegahan, pemantauan, dan pemberdayaan, menjauh dari pendekatan yang hanya berfokus pada pengobatan penyakit” (terjemahan). Layanan gizi dan imunisasi perlu berlanjut, kebersihan lingkungan dibenahi, dan penyakit menular dipantau secara rutin.

Skrining kesehatan jiwa, konseling, dan dukungan psikososial juga perlu diperluas, terutama bagi remaja, lewat program jangka panjang yang menyatukan sektor kesehatan, layanan sosial, dan pendidikan.

Bagikan

Baca Juga

Mahasiswa yang Makan Lebih Banyak Madu Cenderung Tidur Lebih Baik
Hampir Seperlima Anak di Klinik Gigi Istanbul Alami Geraham Rapuh
Kadin Dorong Perdagangan Indonesia-Turki ke 10 Miliar Dolar AS
Erdogan Desak Rusia dan Ukraina Hentikan Serangan di Laut Hitam
Mahasiswi Turki yang Cemas soal Nilai Lebih Stres dan Nyeri Haid
Setahun Usai Gempa Noto, Penyintas yang Kesepian Lebih Tertekan