Tenaga Kesehatan Maroko Selatan Lebih Jarang Merokok dari Warga

A A

Ilustrasi tangan tenaga kesehatan memasang manset tensimeter jarum di lengan pasien di atas meja [Foto: rawpixel.com/Wikimedia Commons, CC0]

  • Seperempat tenaga kesehatan, tepatnya 25 persen, merokok, sedangkan di kalangan warga umum angkanya 35 persen.
  • Sebanyak 45 persen tenaga kesehatan melakukan aktivitas fisik setidaknya tiga kali seminggu, dibanding 30 persen warga umum.
  • Hipertensi ditemukan pada 20 persen tenaga kesehatan, sedangkan di kalangan warga umum angkanya 30 persen.
  • Merokok muncul sebagai prediktor terbesar penyakit kardiovaskular, dengan rasio odds 2,1.
Daftar Isi
  1. Mencatat 263 Orang di Dua Wilayah Selatan
  2. Rokok dan Olahraga Memisahkan Dua Kelompok
  3. Berat Badan Lebih Rendah, Hipertensi Lebih Jarang
  4. Merokok, Kurang Gerak, dan Tidur Pendek
  5. Dua Resep untuk Dua Kelompok
  6. Batas yang Diakui Para Penulis

Najlae Adadi bekerja di Institut Tinggi Profesi Keperawatan dan Teknik Kesehatan di Dakhla, di wilayah selatan Maroko. Bersama rekan-rekannya, ia meneliti seberapa sering penyakit kardiovaskular dan faktor risikonya muncul pada tenaga kesehatan, lalu membandingkannya dengan warga umum di dua wilayah selatan Maroko.

Jawaban yang dikumpulkan Adadi dan timnya terbit dengan judul Cardiovascular disease risk and lifestyle factors among healthcare workers and the general population in Southern Morocco: a cross-sectional study di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Daftar penulisnya memuat Najlae Adadi dari institut di Dakhla dan Universitas Mohammed V Rabat, Mohamed Yassine El Brouzi dari Universitas Ibn Tofail Kenitra, Mahassine Amensour dari institut serupa di Laayoune, serta sejumlah peneliti lain dari Tangier dan Rabat.

Mereka berangkat dari dua catatan. Para penulis menulis bahwa penyakit kardiovaskular menyumbang 38 persen kematian di Maroko, dan bahwa lingkungan kerja tenaga kesehatan penuh tekanan. “Sepanjang pengetahuan kami, belum ada penelitian sebelumnya yang menilai potensi risiko kesehatan yang dihadapi tenaga kesehatan Maroko, meskipun lingkungan kerja mereka mencerminkan lingkungan kerja staf medis di seluruh dunia dalam hal tantangan dan tekanan pekerjaan,” tulis mereka, dalam terjemahan.

Mencatat 263 Orang di Dua Wilayah Selatan

Penelitian dilakukan di dua wilayah selatan Maroko, yakni Laayoune-Sakia El Hamra dan Dakhla-Oued Ed-Dahab. Menurut Adadi dan rekan, keduanya dipilih karena tergolong wilayah yang relatif kurang terlayani dengan ciri sosiodemografis yang khas. Pesertanya 263 orang dewasa, separuh tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter, perawat, dan teknisi, separuh lagi warga umum dari wilayah yang sama.

Tenaga kesehatan terlatih mengukur tinggi, berat, lingkar pinggang dan panggul, serta tekanan darah tiap peserta, sementara kebiasaan hidup dan riwayat penyakit dicatat lewat kuesioner. Satu hal perlu dicatat sejak awal, dan para penulis menuliskannya sendiri: penyakit kardiovaskular dalam riset ini adalah diagnosis dokter yang dilaporkan peserta, bukan hasil pemeriksaan jantung oleh tim.

Kadar gula dan kolesterol pun tidak diukur langsung oleh tim Adadi. Angka-angka itu diperoleh dari laporan peserta sendiri, dan bila memungkinkan dari rekam medis mereka. Dengan data itulah Adadi, Mohamed Yassine El Brouzi, dan para penulis lain membandingkan dua kelompok yang tinggal di wilayah yang sama.

Rokok dan Olahraga Memisahkan Dua Kelompok

Empat ukuran, dua kelompokMerokok: Tenaga kesehatan 25%, Masyarakat umum 35%; Aktivitas fisik rutin: Tenaga kesehatan 45%, Masyarakat umum 30%; Hipertensi: Tenaga kesehatan 20%, Masyarakat umum 30%; Penyakit kardiovaskular: Tenaga kesehatan 10%, Masyarakat umum 15%.Empat ukuran, dua kelompokPersen peserta di tiap kelompok, selatan Maroko (n = 263)Tenaga kesehatanMasyarakat umum0%10%20%30%40%50%25%35%Merokok45%30%Aktivitasfisik rutin20%30%Hipertensi10%15%PenyakitkardiovaskularSelisih penyakit kardiovaskular tidak bermakna (p 0,08)
Sumber: Najlae Adadi dan rekan, Cardiovascular disease risk and lifestyle factors among healthcare workers and the general population in Southern Morocco: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Perbedaan pertama yang dicatat Najlae Adadi dan rekan muncul pada rokok. Seperempat tenaga kesehatan, tepatnya 25 persen, merokok, sedangkan di kalangan warga umum angkanya 35 persen. Selisih itu bermakna secara statistik, dan para penulis menyebut tenaga kesehatan merokok lebih jarang kemungkinan karena mereka lebih sadar akan bahayanya.

Pola serupa terlihat pada kebiasaan bergerak. Menurut catatan Adadi, 45 persen tenaga kesehatan melakukan aktivitas fisik setidaknya tiga kali seminggu, sementara di kalangan warga umum hanya 30 persen. Selisih ini juga bermakna secara statistik, dengan nilai p 0,03.

Dalam matriks korelasi yang disusun Adadi dan rekan, orang yang lebih banyak berolahraga cenderung lebih sedikit merokok. Status sebagai tenaga kesehatan berhubungan positif lemah dengan kebiasaan berolahraga, yang menurut para penulis menunjukkan kelompok ini menjaga gaya hidup lebih sehat. Konsumsi alkohol, temuan yang mereka sebut menarik, berkorelasi positif sedang dengan insomnia.

Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung

Berat Badan Lebih Rendah, Hipertensi Lebih Jarang

Timbangan ikut bercerita dalam data Adadi. Indeks massa tubuh rata-rata tenaga kesehatan tercatat 24,5 kg/m2, lebih rendah daripada warga umum yang rata-ratanya 26,8 kg/m2, dengan perbedaan bermakna secara statistik. Para penulis juga menemukan korelasi negatif antara tingkat aktivitas fisik dan indeks massa tubuh, dengan koefisien r sebesar minus 0,35.

Hipertensi memperlihatkan arah yang sama. Hipertensi ditemukan pada 20 persen tenaga kesehatan, sedangkan di kalangan warga umum angkanya 30 persen, selisih yang dinyatakan bermakna dengan nilai p 0,04. Dalam pembahasannya, Adadi dan rekan menyebut perbedaan itu kemungkinan besar berasal dari kesadaran kesehatan yang lebih tinggi dan akses layanan pencegahan yang lebih mudah bagi tenaga kesehatan.

Namun pada penyakit kardiovaskular itu sendiri, Najlae Adadi dan rekan berhati-hati. Penyakit itu tercatat pada 15 persen warga umum dan 10 persen tenaga kesehatan, tetapi para penulis menegaskan selisihnya tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p 0,08.

Ada pula catatan yang membalik gambaran umum itu. Menurut paparan Adadi dan timnya, bila dipilah menurut usia, tenaga kesehatan justru memiliki prevalensi penyakit kardiovaskular lebih tinggi daripada warga umum pada kelompok umur 36 sampai 45 tahun serta 46 tahun ke atas. Para penulis mengaitkan pengamatan ini dengan riset terdahulu yang menyebut stres kerja sebagai faktor penyumbang utama.

Merokok, Kurang Gerak, dan Tidur Pendek

Setelah membandingkan dua kelompok, Adadi dan rekan menimbang faktor-faktor itu bersama-sama. Dalam model regresi yang memuat merokok, aktivitas fisik, indeks massa tubuh, dan hipertensi, merokok muncul sebagai prediktor terbesar penyakit kardiovaskular, dengan rasio odds 2,1. Hipertensi dan kadar kolesterol yang tidak normal juga berhubungan bermakna dengan risiko penyakit tersebut.

Uji terpisah yang dilaporkan Najlae Adadi menunjukkan perokok 1,8 kali lebih mungkin melaporkan penyakit kardiovaskular dibanding mereka yang tidak merokok. Sebaliknya, aktivitas fisik tampil sebagai faktor pelindung: menurut para penulis, peluang penyakit kardiovaskular turun 30 persen untuk setiap tambahan satu jam olahraga per minggu, dengan nilai p 0,03.

Rokok, olahraga, dan jantungKartu ringkas temuan: merokok menjadi prediktor terbesar penyakit kardiovaskular dengan rasio odds 2,1; peluang penyakit kardiovaskular turun 30 persen untuk tiap tambahan satu jam olahraga per minggu; perokok 1,8 kali lebih mungkin melaporkan penyakit kardiovaskular dibanding bukan perokok. Jalan risetnya: 263 peserta, kuesioner dan pemeriksaan, uji beda dua kelompok, regresi logistik.Rokok, olahraga, dan jantungHasil analisis hubungan, 263 peserta di selatan Maroko2,1Rasio odds merokokprediktor terbesar dimodel30%Peluang lebih rendahper tambahan 1 jamolahraga sepekan1,8 kaliPerokok lebihmungkinmelaporkan penyakitkardiovaskularJalan risetnya263 pesertaKuesioner danpemeriksaanUji beda duakelompokRegresi logistikDesain potong lintang: hubungan, bukan sebab-akibat
Sumber: Najlae Adadi dan rekan, Cardiovascular disease risk and lifestyle factors among healthcare workers and the general population in Southern Morocco: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tidur juga masuk hitungan tim Adadi. Peserta yang tidur kurang dari enam jam memiliki prevalensi hipertensi lebih tinggi dibanding mereka yang tidur tujuh sampai delapan jam, dengan nilai p 0,02. Dalam pembahasan, para penulis menyebut kebersihan tidur sebagai faktor penting dalam pencegahan penyakit kardiovaskular.

Di sinilah Adadi dan rekan menempatkan sisi lain kehidupan tenaga kesehatan. Mereka menulis bahwa tekanan kerja di lingkungan layanan kesehatan, dengan jam kerja tak teratur, tekanan emosional, dan beban kerja berat, dapat meningkatkan kemungkinan hipertensi dan penyakit kardiovaskular terkait. Menurut mereka, di posisi bertekanan tinggi, kebiasaan merokok tenaga kesehatan pun masih dipengaruhi stres kerja.

Baca juga Orang yang Setia pada Hobinya Lebih Jarang Kena Darah Tinggi

Dua Resep untuk Dua Kelompok

Dari temuan itu, Najlae Adadi dan rekan menyimpulkan bahwa dua kelompok membutuhkan pendekatan berbeda. “Meskipun perilaku gaya hidup tenaga kesehatan lebih sehat, termasuk angka merokok yang lebih rendah (25%) dan tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi (45%), mereka tetap terpapar tekanan pekerjaan yang signifikan,” tulis mereka dalam simpulan, dalam terjemahan.

Untuk tenaga kesehatan, Adadi dan rekan menyarankan program kebugaran di tempat kerja, layanan kesehatan mental, lokakarya manajemen stres, program aktivitas fisik yang terorganisasi, serta pilihan makanan sehat di lingkungan kerja. Fokusnya, menurut mereka, adalah meredakan stres kerja, menjaga kesehatan jiwa, dan mencapai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Bagi warga umum, Adadi dan rekan menekankan kampanye berhenti merokok, akses layanan pencegahan yang lebih mudah, serta pendidikan tentang aktivitas fisik dan kebersihan tidur. Mereka juga melihat peluang pada teknologi kesehatan digital, seperti perangkat yang dikenakan di tubuh, aplikasi kesehatan di ponsel, dan platform berbasis kecerdasan buatan, untuk memantau faktor risiko.

Baca juga Jam Tangan Pintar Dipercaya Warga Saudi Menjaga Irama Jantung

Adadi dan rekan pun membayangkan peran baru bagi tenaga kesehatan di tengah masyarakat. Lewat program berbasis komunitas, tenaga kesehatan dapat menjadi pendidik yang menjembatani pengetahuan dan perilaku sehari-hari. Para penulis menyebut pola ini sebagai efek berjenjang yang mendorong perilaku lebih sehat di kalangan masyarakat yang lebih luas.

Batas yang Diakui Para Penulis

Najlae Adadi dan rekan tidak menutupi keterbatasan riset mereka. “Desain potong lintang tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat antara faktor risiko dan luaran kardiovaskular,” tulis mereka, dalam terjemahan. Karena itu, hubungan antara rokok, olahraga, tidur, dan penyakit kardiovaskular dalam riset ini adalah asosiasi, bukan bukti bahwa satu hal menyebabkan yang lain.

Para penulis juga mencatat bahwa data perilaku yang dilaporkan sendiri bisa terganggu bias ingatan atau keinginan tampil baik. Cakupan dua wilayah membuat hasilnya belum tentu berlaku di daerah lain, dan jumlah peserta mungkin kurang kuat untuk analisis per subkelompok.

Untuk riset berikutnya, Adadi dan rekan menyarankan desain jangka panjang, pengukuran objektif seperti penanda biokimia dan data perangkat yang dikenakan di tubuh, serta penilaian paparan kerja yang lebih rinci. Dalam simpulannya, para penulis menyebut perbaikan kesehatan kardiovaskular memerlukan pendekatan terpadu, yakni langkah organisasi untuk menekan stres kerja tenaga kesehatan yang digabung dengan edukasi dan pencegahan di tingkat masyarakat.

Bagikan

Baca Juga

Iklan Ilegal Obat Darah Tinggi di Taiwan Andalkan Dukungan Ahli
Cuci Tangan Ibu dengan Air Saja Terkait Gejala Sakit Bayi Nigeria
Anemia Remaja Uganda Lebih Banyak Menimpa Anak Laki-laki
Kebanyakan Warga Indonesia Buang Obat Sisa ke Tempat Sampah
Kebiasaan Merokok Perempuan di Emirat Memuncak pada Usia 25-29
Kematian Jantung dan Pembuluh Darah Kazakhstan Turun pada 2022