Jam Tangan Pintar Dipercaya Warga Saudi Menjaga Irama Jantung

A A

Ilustrasi jam tangan pintar di pergelangan tangan menampilkan angka denyut nadi [Foto: Ahmed Akeri/Pexels]

  • Meski begitu, 76,5 persen bersedia memakai jam tangan pintar untuk memantau dan mendeteksi aritmia.
  • Di antara pemakai jam tangan pintar, 35,2 persen pernah diberi tahu alatnya bahwa denyut jantung mereka tidak beraturan.
  • Pendorong utama persepsi positif adalah pengalaman dan perbedaan generasi, bukan kebutuhan klinis atau jenis kelamin.
  • Tidak ada peringatan yang dicocokkan dengan rekaman jantung penegas.
Daftar Isi
  1. Aritmia, Denyut Jantung yang Kehilangan Irama
  2. Wearable, Perangkat Kesehatan yang Dipakai di Badan
  3. Notifikasi, Peringatan yang Belum Tentu Diagnosis
  4. Persepsi, Cara Orang Menilai Manfaat Alat Itu
  5. Risiko Relatif, Takaran Siapa yang Lebih Yakin
  6. Akurasi, Ketepatan yang Tidak Diukur Survei Ini

Aritmia, kata dokter untuk denyut jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan, kini bisa datang sebagai pemberitahuan dari jam di pergelangan tangan. Di Arab Saudi, kira-kira satu dari tiga pemakai jam tangan pintar mengaku pernah menerima pemberitahuan semacam itu. Tiga dari empat orang dewasa di sana bersedia memakai jam itu untuk menjaga irama jantungnya.

Angka-angka itu dilaporkan Rabab A. AlKhalaf, Abdullah M. AlKhudair, Walaa H. AlMousa, Fatemah S. AlHadab, Fatimah Y. Alshareet, Norah H. AlSultan, dan Eman Elsheikh dalam artikel Perceptions of the use of smartwatches for the early detection of cardiac arrhythmias in Saudi Arabia: a cross-sectional study. Artikel itu terbit di BMC Public Health tahun 2026. Para penulisnya bekerja di College of Medicine, King Faisal University, di Al-Ahsa.

Aritmia, Denyut Jantung yang Kehilangan Irama

Naskah itu merumuskan aritmia sebagai kegiatan listrik jantung yang tidak seimbang, sehingga denyut menjadi lebih cepat, lebih lambat, atau kacau. Gangguan ini bukan perkara kecil. Para penulis menyebut angka kejadiannya di dunia berkisar 1,5 sampai 5 persen, dan ia ikut menyumbang kesakitan, kematian, serta beban biaya di negara maju maupun berkembang.

Salah satu bentuknya bernama atrial fibrillation, fibrilasi atrium, yang di naskah disingkat AF. Bentuk ini diperkirakan diidap 34 juta orang di seluruh dunia. Yang membuatnya sulit ditangkap sejak awal adalah sifatnya yang kerap diam: pada satu jenis AF yang datang dan pergi, kira-kira sepertiga pasien tidak merasakan gejala apa pun.

Di celah itulah jam tangan pintar masuk. Menurut para penulis, alat ini muncul sebagai pilihan populer di samping perekam jantung medis yang lazim. Maksudnya, orang yang tidak merasakan apa-apa tetap bisa mendapat isyarat bahwa denyutnya berubah, sebelum perubahan itu menjadi masalah serius. Pertanyaan naskah ini lebih sederhana: apakah orang Saudi percaya pada isyarat itu.

Wearable, Perangkat Kesehatan yang Dipakai di Badan

Jam tangan pintar tergolong wearable, sebutan untuk perangkat yang dipakai di badan. Naskah menggambarkan kerjanya dengan daftar yang akrab: menghitung langkah dan jarak tempuh, membaca tingkat stres dan kadar oksigen, mencatat pola tidur, serta memantau denyut jantung. Semua itu tersaji seketika, tanpa pemakainya perlu datang ke klinik.

Seberapa akrab warga Saudi dengan alat itu? Dari 459 orang dewasa yang ditanyai di lima wilayah besar kerajaan tersebut, 46,4 persen pernah memakai perangkat semacam ini untuk memantau kesehatan. Hampir separuh. Sisanya, 53,6 persen, belum pernah sama sekali.

Ketika ditanya perangkat mana yang dipakai atau ingin dipakai, jam tangan pintar unggul jauh dengan 42,0 persen. Ponsel pintar dipilih 11,3 persen dan gelang pintar 8,1 persen. Lebih dari seperempat responden, 26,8 persen, tidak memakai perangkat atau aplikasi apa pun, sedangkan 11,8 persen berencana mulai memakainya.

Jam pintar paling banyak dipilihJam tangan pintar: Bagian dari 459 responden +42,0%; Tidak memakai apa pun: Bagian dari 459 responden +26,8%; Berencana mulai memakai: Bagian dari 459 responden +11,8%; Ponsel pintar: Bagian dari 459 responden +11,3%; Gelang pintar: Bagian dari 459 responden +8,1%.Jam pintar paling banyak dipilihPerangkat pemantau kesehatan yang dipakai atau ingin dipakai10%20%30%40%50%0Jam tangan pintar42,0%Tidak memakai apa pun26,8%Berencana mulai memakai11,8%Ponsel pintar11,3%Gelang pintar8,1%Responden adalah orang dewasa di lima wilayah Arab Saudi.
Sumber: Rabab A. AlKhalaf, Abdullah M. AlKhudair, Walaa H. AlMousa, Fatemah S. AlHadab, Fatimah Y. Alshareet, Norah H. AlSultan, dan Eman Elsheikh, Perceptions of the use of smartwatches for the early detection of cardiac arrhythmias in Saudi Arabia: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kebiasaan mencatat memperlihatkan jarak antara niat dan laku. Sebanyak 83,9 persen responden ingin merekam dan memantau penanda kesehatannya secara teratur. Namun yang benar-benar menyimpan catatan berat badan, denyut jantung, atau tekanan darah di ponsel baru 30,7 persen. Sebanyak 24,6 persen tidak mencatat sama sekali, dan hanya 4,8 persen masih menulisnya dengan tangan.

Perlu diingat siapa yang menjawab. Enam dari sepuluh responden berusia 22 sampai 31 tahun, 62,7 persen perempuan, dan 80,2 persen berpendidikan universitas atau lebih tinggi. Mereka yang berusia di atas 51 tahun hanya 7,4 persen. Gambaran dalam naskah ini, dengan kata lain, terutama gambaran orang Saudi yang muda dan terdidik.

Baca juga Aplikasi CheckPD Thailand: 81 Persen Peringatan Parkinson Benar

Notifikasi, Peringatan yang Belum Tentu Diagnosis

Kesediaan memakai ternyata lebih luas daripada kebutuhan medisnya. Hanya 10,0 persen responden mengaku punya masalah jantung dan pembuluh darah. Meski begitu, 76,5 persen bersedia memakai jam tangan pintar untuk memantau dan mendeteksi aritmia. Para penulis membacanya sebagai penerimaan yang lebar, termasuk di kalangan orang yang tidak tahu dirinya punya gangguan jantung.

Lalu ada angka yang paling mudah disalahpahami. Di antara pemakai jam tangan pintar, 35,2 persen pernah diberi tahu alatnya bahwa denyut jantung mereka tidak beraturan. Itu 68 dari 193 orang. Sebanyak 64,8 persen lainnya tidak pernah menerima peringatan apa pun.

Untuk memahaminya, dua istilah perlu dipisahkan. Yang pertama photoplethysmography atau PPG, sensor di jam yang menghitung denyut nadi dari pergelangan tangan. Sensor ini bekerja sendiri di latar belakang, tanpa diminta. Yang kedua ECG, singkatan electrocardiogram, rekaman jantung yang pada jam pintar harus dimulai sendiri oleh pemakainya.

Bedanya begini. Pemberitahuan denyut tak beraturan lahir dari sensor yang pertama, bukan dari rekaman yang kedua. “Karena peringatan semacam itu terutama dihasilkan oleh penapisan PPG pasif, persentase ini tidak boleh ditafsirkan sebagai pemakaian aktif fitur perekaman ECG pada perangkat; kuesioner kami tidak menangkap pemakaian aplikasi ECG,” tulis AlKhalaf dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Peringatan pun bukan penyakit. Para penulis menegaskan bahwa angka 35,2 persen menunjukkan orang sungguh berurusan dengan alatnya, tetapi tidak boleh disamakan dengan banyaknya kasus AF yang sudah dipastikan. Mereka juga menyebut kemungkinan lain di balik 64,8 persen yang tak pernah diperingatkan: aritmia memang jarang di masyarakat umum, atau kepekaan tiap perangkat berbeda.

Jam pintar dan irama jantung di Arab SaudiDari 459 orang dewasa di Arab Saudi, 76,5 persen bersedia memakai jam pintar untuk mendeteksi aritmia, 46,4 persen pernah memakai perangkat kesehatan di badan, 10,0 persen punya masalah jantung dan pembuluh, dan 35,2 persen pemakai jam pintar pernah diberi tahu denyutnya tak beraturan.Jam pintar dan irama jantung di Arab SaudiJawaban responden tentang deteksi dini aritmia76,5%Bersediamemakai jampintar35,2%Diberi tahu68 dari 193orang46,4%Pernah pakaiperangkat dibadan10,0%Bermasalahjantung danpembuluhJalan risetnya459 orang dewasaLima wilayah SaudiDitanya tatap mukaPemberitahuan denyut tak beraturan bukan diagnosis yangterkonfirmasi.
Sumber: Rabab A. AlKhalaf, Abdullah M. AlKhudair, Walaa H. AlMousa, Fatemah S. AlHadab, Fatimah Y. Alshareet, Norah H. AlSultan, dan Eman Elsheikh, Perceptions of the use of smartwatches for the early detection of cardiac arrhythmias in Saudi Arabia: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Persepsi, Cara Orang Menilai Manfaat Alat Itu

Persepsi, dalam naskah ini, berarti penilaian orang atas manfaat perangkat, bukan ukuran kerja perangkatnya. Responden disodori lima pernyataan dan diminta memilih satu dari lima tingkat persetujuan. Pernyataan yang paling disepakati adalah yang paling umum: 61,2 persen sangat setuju bahwa perangkat ini bisa mengukur sasaran kebugaran seperti olahraga, pola makan, dan tidur, sekaligus memantau denyut jantung dan tekanan darah.

Untuk aritmia, keyakinannya sedikit lebih rendah tetapi tetap kuat. Sebanyak 48,1 persen sangat setuju dan 24,4 persen setuju bahwa jam tangan pintar dapat dipakai untuk diagnosis dini dan pemantauan denyut tak beraturan. Hampir tiga dari empat orang. Yang ragu 19,2 persen, sedangkan yang menolak, bila dua tingkat ketidaksetujuan dijumlahkan, 8,3 persen.

Pernyataan lain menyentuh urusan layanan. Separuh lebih, 51,2 persen, sangat setuju bahwa perangkat ini bisa membantu mengatur janji temu dengan layanan kesehatan. Sebanyak 49,2 persen sangat setuju data dari jam, gelang, dan alat ukur digital memudahkan pemantauan pasien dari jauh dan deteksi dini aritmia.

Satu pernyataan mendapat sambutan paling dingin, yaitu pemeriksaan dan tindak lanjut secara daring untuk keluhan ringan atau sebagian penyakit menahun. Yang sangat setuju 40,1 persen dan yang setuju 22,4 persen. Di sisi lain, 9,2 persen tidak setuju dan 7,6 persen sangat tidak setuju, penolakan terbesar di antara kelima pernyataan. Percaya pada alat, rupanya, tidak sama dengan rela diperiksa tanpa bertemu dokter.

Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung

Risiko Relatif, Takaran Siapa yang Lebih Yakin

Siapa yang paling yakin? Para penulis menjawabnya dengan relative risk, risiko relatif, yaitu perbandingan peluang satu kelompok terhadap kelompok lain. Angka 1 berarti sama saja. Angka 1,12 berarti peluang kelompok itu berpersepsi positif 12 persen lebih besar daripada kelompok pembandingnya.

Umur menjadi pembeda yang paling jelas. Dibandingkan dengan responden di atas 51 tahun, kelompok 22 sampai 31 tahun mencatat angka 1,12, kelompok 32 sampai 41 tahun 1,14, dan kelompok 42 sampai 51 tahun 1,16. Ketiganya bermakna secara statistik. Jadi garis pemisahnya ada di usia 51, bukan di antara kelompok-kelompok yang lebih muda.

Pengalaman juga berpengaruh. Orang yang pernah memakai perangkat kesehatan di badan lebih positif daripada yang belum, dengan angka 1,05. Selisihnya kecil tetapi bermakna. Para penulis menafsirkan bahwa memegang sendiri alat itu menumbuhkan rasa percaya pada kegunaannya.

Yang tidak berpengaruh sama menariknya. Laki-laki dan perempuan menilai serupa. Punya atau tidak punya masalah jantung juga tidak mengubah penilaian. Pendidikan condong ke arah positif dengan angka 1,03, tetapi tidak cukup kuat untuk disebut bermakna. Para penulis menduga sebabnya sederhana: sekitar 80 persen responden sudah sarjana, sehingga nyaris tidak ada perbedaan yang tersisa untuk diukur.

Dari situ naskah menarik satu kesimpulan. Pendorong utama persepsi positif adalah pengalaman dan perbedaan generasi, bukan kebutuhan klinis atau jenis kelamin. Orang menyukai alat ini karena sudah terbiasa dengannya, bukan karena jantungnya sedang bermasalah.

Baca juga Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata

Akurasi, Ketepatan yang Tidak Diukur Survei Ini

Di sinilah gambaran getar di pergelangan tangan mulai meleset. Percaya pada alat adalah satu hal, ketepatan alat hal lain. Untuk yang kedua, para penulis hanya mengutip kajian terdahulu, antara lain telaah Nazarian dan rekan-rekannya pada 2021 atas 18 studi dengan 424.371 peserta, yang melaporkan akurasi 97 persen. Survei mereka sendiri tidak menguji satu jam pun.

Naskah juga mencatat sisi yang kurang enak. Tidak semua orang yakin pada kemampuan jam tangan pintar, dan hasil positif palsu atau negatif palsu bisa memicu kecemasan yang tidak perlu, bahkan salah diagnosis. Karena itu para penulis menyebut perlunya pemeriksaan penegas dan pendampingan dokter, agar manfaat peringatan tetap ada sementara beban alarm palsu dibatasi.

Keterbatasan penelitian diakui cukup panjang. Responden dijaring seadanya di tempat umum seperti kampus, rumah sakit, pusat perbelanjaan, pusat kebugaran, dan jalan, sehingga hasilnya sulit diberlakukan untuk seluruh penduduk. Kelompok di atas 51 tahun, yang justru sasaran penting penapisan aritmia, kurang terwakili. Semua jawaban adalah pengakuan responden sendiri, dan gambaran yang diambil pada satu waktu tidak bisa menunjukkan sebab-akibat.

Perangkatnya pun diperlakukan sebagai satu golongan besar. Merek, model, dan generasi sensor tidak dibedakan. Tidak ada peringatan yang dicocokkan dengan rekaman jantung penegas. Akibatnya, tulis para penulis, mereka tidak bisa memperhitungkan perbedaan ketepatan antarperangkat.

Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa hal yang tidak cocok di dalam naskah. Tabel pekerjaan memuat 92 orang tidak bekerja, 13 pensiunan, 247 pekerja, dan 88 pelajar, yang jumlahnya 440, bukan 459. Lalu 35,2 persen penerima peringatan dihitung dari 193 orang, yakni mereka yang memakai atau ingin memakai jam pintar, padahal yang pernah memakai perangkat di badan tercatat 213 orang.

Satu hal lagi menyangkut umur. Kesimpulan menyebut usia yang lebih muda sebagai penentu terkuat, sedangkan angka tertinggi di tabel justru milik kelompok 42 sampai 51 tahun dan yang terendah milik kelompok 22 sampai 31 tahun. Naskah tidak menjelaskan selisih itu. Versi yang beredar memang masih berupa naskah diterima yang belum disunting akhir.

Jadi pemberitahuan tetaplah pemberitahuan. Jam di pergelangan tangan dipercaya tiga dari empat orang dewasa Saudi dan sudah menegur sepertiga pemakainya, tetapi penelitian ini mengukur keyakinan, bukan ketepatan. Batas istilahnya ada di situ: aritmia adalah nama gangguan pada jantung, sedangkan yang muncul di layar jam baru sebuah isyarat yang menunggu dipastikan.

Bagikan

Baca Juga

Pinggang Relawan Kesehatan Desa Thailand Susut dalam Tiga Bulan
Dendang Serawai Diwariskan Lewat Menonton, Bukan Lewat Sekolah
Merawat Lansia di Rumah Menguras Dompet Keluarga di Finlandia
Minuman Manis Selalu Ada di Rumah, Remaja Belanda Minum Banyak
Kenangan Pelajaran Olahraga di Sekolah Terbawa sampai Dewasa
Earphone Bersuara Keras Paling Erat Terkait Gangguan Pendengaran