Cuci Tangan Ibu dengan Air Saja Terkait Gejala Sakit Bayi Nigeria

A A

Ilustrasi seorang ibu mencuci tangan di baskom air di depan rumah pedesaan [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Sebanyak 353 ibu menyusui dengan bayi nol sampai enam bulan di pedesaan Enugu, Nigeria, ditanya tentang gejala bayi dua minggu terakhir.
  • Hanya 33,7 persen ibu mencuci tangan sebelum menyusui, sementara 88,4 persen mencuci tangan hanya saat tangan tampak kotor.
  • Sebanyak 93,8 persen ibu memakai sabun dan air, tetapi 90,1 persen mencuci tangan di dalam ember atau baskom.
  • Mencuci tangan dengan air saja berhubungan bermakna dengan kelima gejala bayi: demam, diare, muntah, batuk, dan pilek.
Daftar Isi
  1. Enam Bulan Pertama di Klinik Bayi Pedesaan
  2. Saat Tangan Tampak Kotor dan Sesudah ke Toilet
  3. Menjelang Menyusui dan Menyiapkan Makanan Bayi
  4. Ketika Tangan Dicuci di Dalam Ember
  5. Dua Minggu Terakhir: Demam, Diare, Muntah
  6. Hari-hari dengan Hand Sanitizer

Seorang ibu menyusui di pedesaan Enugu, Nigeria, ditanya tentang dua minggu terakhir. Apakah bayinya sempat demam, diare, muntah, batuk, atau pilek? Pertanyaan yang sama diajukan kepada 353 ibu dengan bayi berusia nol sampai enam bulan, lalu jawaban mereka disandingkan dengan kebiasaan mencuci tangan sehari-hari.

Kebiasaan itu dipilah menjadi tiga pertanyaan: kapan tangan dicuci, dengan apa, dan bagaimana caranya. Ada satu pertanyaan tambahan tentang seberapa sering ibu memakai hand sanitizer sebagai pengganti cuci tangan. Hasilnya, kebiasaan cuci tangan itu berhubungan dengan sebagian besar gejala sakit bayi yang ditanyakan.

Penelitian itu ditulis Cylia Nkechi Iweama dan rekan dari Departemen Human Kinetics and Health Education, University of Nigeria, Nsukka. Laporan berjudul The association between maternal hand hygiene practices and infant morbidity among mother-infant dyads in Enugu State: a cross-sectional study itu terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026.

Enam Bulan Pertama di Klinik Bayi Pedesaan

Para ibu ditemui di klinik kesejahteraan bayi pada 16 pusat kesehatan primer. Semuanya berada di empat wilayah pemerintahan lokal pedesaan di distrik senatorial Enugu North. Hanya ibu yang masih menyusui dan bayinya belum lewat enam bulan yang diikutkan. Sebanyak 385 ibu direkrut, dan 353 kuesioner yang terisi lengkap dianalisis.

Sebagian besar ibu, 64,9 persen, berusia 20 sampai 35 tahun. Sebanyak 68,0 persen menikah dan 67,4 persen berpendidikan menengah. Pekerjaan terbanyak adalah berusaha atau berdagang, 41,1 persen. Para penulis menyebut perempuan di desa-desa itu kebanyakan petani, pedagang kecil, dan perajin berpenghasilan rendah.

Soal penghasilan, sebanyak 79,9 persen ibu berpenghasilan di bawah 50.000 naira sebulan, yang oleh para penulis disetarakan dengan sekitar 32,2 dolar AS. Menurut mereka, pasokan air di desa-desa itu kadang menjadi masalah, begitu pula kemampuan membeli sabun.

Air keran menjadi sumber air terbanyak, dipakai 48,4 persen ibu. Sebanyak 26,3 persen mengandalkan sumur bor atau truk tangki, 23,8 persen menampung air hujan, 18,4 persen memakai sumur gali, dan 17,3 persen mengambil air sungai atau air permukaan.

Soal menyusui, 41,9 persen ibu memberi ASI eksklusif. Sisanya, 58,1 persen, menyusui sambil memberi makanan pendamping. Gejala sakit bayi dilaporkan ibu sendiri untuk rentang dua minggu sebelum ditanya, dan ibu boleh memilih lebih dari satu gejala.

Saat Tangan Tampak Kotor dan Sesudah ke Toilet

Kapan para ibu mencuci tanganSaat tampak kotor saja 88,4%; Sesudah memakai toilet 88,1%; Sesudah mengganti popok 69,4%; Sebelum siapkan makanan 60,1%; Sebelum menyusui 33,7%.Kapan para ibu mencuci tanganPersen dari 353 ibu menyusui di pedesaan Enugu, Nigeria,menurut waktu mencuci tangan0%25%50%75%100%Saat tampak kotor saja88,4%Sesudah memakai toilet88,1%Sesudah mengganti popok69,4%Sebelum siapkan makanan60,1%Sebelum menyusui33,7%Makanan yang dimaksud makanan bayi; tiap pertanyaan punya beberapapilihan jawaban
Sumber: Cylia Nkechi Iweama dan rekan, The association between maternal hand hygiene practices and infant morbidity among mother-infant dyads in Enugu State: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dua kebiasaan paling umum muncul lebih dulu. Sebanyak 88,4 persen ibu mencuci tangan hanya saat tangannya tampak kotor, dan 88,1 persen mencuci tangan sesudah memakai toilet. Kebiasaan pertama berhubungan dengan pekerjaan ibu dan status menyusuinya.

Menurut para penulis, perempuan yang berusaha atau berdagang dan yang tidak menyusui secara eksklusif mencuci tangan lebih sering daripada yang lain. Kebiasaan kedua, mencuci tangan sesudah ke toilet, berhubungan dengan pendidikan dan penghasilan bulanan. Sesudah mengganti popok bayi, 69,4 persen ibu mencuci tangan.

Baca juga Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup

Di Tabel 4, kebiasaan mencuci tangan hanya saat tangan tampak kotor berhubungan dengan tiga gejala bayi. Rasio odds demam tercatat 3,033, diare 9,209, dan muntah 27,454. Ketiganya bermakna secara statistik, sedangkan untuk batuk dan pilek hubungannya tidak bermakna.

Para penulis menerjemahkan angka itu dengan sederhana. Peluang demam, diare, dan muntah 3, 9, dan 27 kali lebih besar pada bayi yang ibunya mencuci tangan hanya saat tangannya tampak kotor. Mencuci tangan sesudah memakai toilet juga berhubungan dengan demam, dengan rasio odds 3,803.

Menjelang Menyusui dan Menyiapkan Makanan Bayi

Kebiasaan sebelum menyusui jauh lebih jarang. Hanya 33,7 persen ibu, kira-kira satu dari tiga, mencuci tangan sebelum menyusui bayinya. Kebiasaan ini berhubungan dengan status perkawinan, pekerjaan, penghasilan bulanan, dan praktik menyusui ibu.

Sumber air tidak banyak mengubah gambaran itu. Mencuci tangan sebelum menyusui, tulis para penulis, bukan kebiasaan umum apa pun sumber airnya. Hubungan yang bermakna hanya tercatat pada ibu yang mengambil air dari sumur gali dan yang menampung air hujan.

Di Tabel 4, kebiasaan mencuci tangan sebelum menyusui berhubungan bermakna dengan muntah pada bayi, dengan rasio odds 8,399. Untuk demam, diare, batuk, dan pilek, hubungannya tidak bermakna. Sebelum menyiapkan makanan bayi, 60,1 persen ibu mencuci tangan.

Kebiasaan sebelum menyiapkan makanan pendamping itu berhubungan bermakna dengan pilek, dengan rasio odds 3,096. Para penulis juga menyinggung penelitian Greenland dan rekan, yang mendapati ibu jarang mencuci tangan pada masa bayi baru lahir di Serang, Indonesia.

Ketika Tangan Dicuci di Dalam Ember

Sabun dipakai hampir semua ibu. Sebanyak 93,8 persen mencuci tangan dengan sabun dan air, dan kebiasaan ini berhubungan dengan tingkat pendidikan. Sebanyak 62,3 persen menjawab mencuci tangan dengan air saja, 28,3 persen dengan air dan spons, dan 11,3 persen dengan abu dan air.

Cara mencucinya lain lagi. Sebanyak 90,1 persen mencuci tangan di dalam ember atau baskom, hanya 35,1 persen di bawah keran yang mengalir, dan 43,9 persen dengan air yang dituangkan ke tangan. Kebiasaan mencuci di baskom tidak berhubungan dengan satu pun karakteristik ibu.

Sekitar 45 persen ibu yang mencuci tangan di ember atau baskom memakai air keran. Para penulis menilai kebiasaan ini tidak tepat. “Mencuci tangan di dalam baskom bukan cara mencuci tangan yang tepat, karena cara itu mengembalikan mikroorganisme ke tangan sehingga meningkatkan kemungkinan organisme itu berpindah ke bayi,” tulis Iweama dan rekan (terjemahan Cekricek.id).

Menurut para penulis, beda penelitian ini dengan sejumlah penelitian lain terletak pada bahan yang dipakai untuk mencuci tangan. Penelitian-penelitian itu melaporkan bahwa mencuci tangan dengan sabun pada saat-saat penting, seperti sesudah ke toilet, bukan kebiasaan umum. Soal kapan dan bagaimana tangan dicuci, temuan di Enugu sangat mirip dengan banyak penelitian sebelumnya.

Baca juga Tradisi Cuci Tangan Sebaskom di Mali Bertahan demi Keluarga

Dua Minggu Terakhir: Demam, Diare, Muntah

Satu kebiasaan berhubungan dengan semua gejala sekaligus, yaitu mencuci tangan dengan air saja. Kebiasaan ini berhubungan bermakna dengan kelima gejala yang ditanyakan, yaitu demam, diare, muntah, batuk, dan pilek.

Air saja dan lima gejala pada bayiDemam: Rasio odds 2,762; Diare: Rasio odds 2,731; Muntah: Rasio odds 2,757; Batuk: Rasio odds 2,088; Pilek (common cold): Rasio odds 2,923.Air saja dan lima gejala pada bayiRasio odds gejala pada bayi yang ibunya mencuci tanganhanya dengan air1230Demam2,762Diare2,731Muntah2,757Batuk2,088Pilek (common cold)2,923Kelima hubungan bermakna secara statistik (p<0,05), Tabel 4
Sumber: Cylia Nkechi Iweama dan rekan, The association between maternal hand hygiene practices and infant morbidity among mother-infant dyads in Enugu State: a cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Rasio odds demam tercatat 2,762, diare 2,731, muntah 2,757, batuk 2,088, dan pilek 2,923. Menurut para penulis, peluang demam, diare, dan muntah 2,8, 2,7, dan 2,8 kali lebih besar pada bayi yang ibunya mencuci tangan dengan air saja.

Mencuci dengan air dan spons berhubungan dengan empat gejala, yaitu demam dengan rasio odds 2,180, diare 5,526, muntah 10,418, dan pilek 2,553. Mencuci dengan abu dan air berhubungan dengan pilek, dengan rasio odds 3,567.

Air yang dituangkan ke tangan oleh orang lain berhubungan dengan demam, diare, dan pilek. Mencuci tangan dengan sabun dan air serta mencuci tangan di dalam baskom tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan gejala mana pun, begitu pula mencuci tangan sesudah mengganti popok bayi.

Hari-hari dengan Hand Sanitizer

Hand sanitizer, cairan pembersih tangan, dipakai lebih sedikit ibu. Hanya 23,5 persen yang selalu memakainya. Ibu yang mengambil air dari keran lebih sering selalu memakai hand sanitizer dibanding ibu dengan sumber air lain.

Temuan berikutnya oleh para penulis disebut menarik. Bayi dari ibu yang selalu memakai hand sanitizer lebih mungkin mengalami diare dan muntah, dengan rasio odds 3,962 dan 2,621. Bayi dari ibu yang tidak pernah memakainya justru lebih kecil kemungkinannya mengalami kedua gejala itu.

Para penulis menduga penyebabnya ada pada cara pemakaian. Menurut mereka, hal itu “bisa merupakan akibat dari pemakaian atau penanganan hand sanitizer berkadar alkohol tinggi yang tidak tepat, yang dapat berujung pada tertelannya cairan itu oleh bayi saat menyusu atau saat menggigit tangan ibunya” (terjemahan Cekricek.id).

Penelitian ini tidak menanyakan pengetahuan ibu tentang hand sanitizer. Para penulis menilai hal itu perlu diteliti lebih lanjut, karena pengetahuan bisa memengaruhi pemakaiannya. Mereka menyebut penelitian di Sagamu, yang mendapati hampir tiga perempat pesertanya mengenal hand sanitizer, tetapi hanya sekitar seperempat yang memakainya.

Baca juga Cuci Tangan di Panti Asuhan: Skor Awal Paling Rendah

Ada batas yang mereka akui. Penelitian ini berdesain potong lintang, sehingga temuannya mungkin tidak mewakili seluruh populasi. Gejala bayi dilaporkan sendiri oleh ibu, dan penyakit anak lain yang umum tidak diteliti, sehingga bisa memengaruhi hubungan yang teramati. Para penulis menyarankan penelitian dengan desain yang mampu membuktikan sebab-akibat. Penelitian semacam itu, menurut mereka, dapat menelusuri bagaimana kebiasaan cuci tangan ibu menyusui berujung pada gejala tertentu pada bayi.

Rekomendasi mereka berlaku untuk wilayah yang diteliti. “Pendidikan kesehatan masyarakat dan advokasi yang berkelanjutan tentang praktik cuci tangan yang benar di kalangan ibu menyusui diperlukan untuk mengurangi kesakitan bayi serta meningkatkan kesehatan bayi dan anak di wilayah penelitian,” tulis mereka.

Bagikan

Baca Juga

Anemia Remaja Uganda Lebih Banyak Menimpa Anak Laki-laki
Kebanyakan Warga Indonesia Buang Obat Sisa ke Tempat Sampah
Kebiasaan Merokok Perempuan di Emirat Memuncak pada Usia 25-29
Kematian Jantung dan Pembuluh Darah Kazakhstan Turun pada 2022
Warga Tepi Sungai Etiopia Nyaris Tak Kenal Penyakit Leptospirosis
Biaya Stroke di Iran Capai 1,42 Miliar Dolar dalam Setahun