- Hanya segelintir peserta di desa maupun kota yang mengaku tidak melakukannya.
- Kebiasaan meminum air bekas inilah yang paling jelas ditinggalkan.
- Pengetahuan tentang kuman tidak otomatis membuat sabun diterima.
- Sejumlah laki-laki menjelaskan keyakinan bahwa mencuci tangan dengan sabun dapat menghapus kekayaan.
Sebuah baskom berisi air diletakkan di dekat hidangan. Dua orang atau lebih mencelupkan tangan ke air yang sama, bergiliran, tanpa sabun, dan airnya tidak diganti. Kadang giliran itu berjalan dari yang paling tua sampai yang paling muda. Beberapa detik kemudian mereka makan dengan tangan, sering dari satu piring bersama.
Adegan itu dipotret tim peneliti di Mali pada 2022 dan dimuat sebagai gambar pertama dalam naskah Evans Atiah Asamane, Rachel L Adams, Chloe Poole, Cheick Sidibe, Youssouf Diarra, Niele Hawa Diarra, Mariam Yazdani, Mitali Bajaj, Selina Sfeir, Katinka Weber, Ousmane Toure, Nicola Gale, dan Semira Manaseki-Holland. Judulnya The tradition of washing hands in a common bowl before eating: a qualitative study of the practice of communal bowl hand rinsing before mealtimes, in rural and urban Mali, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Para penulis bernaung di University of Birmingham dan University of Sciences, Techniques and Technologies of Bamako, dengan beberapa anggota dari University of Cambridge dan rumah sakit di Inggris. Mereka menyebut kebiasaan tadi communal bowl hand rinsing, membilas tangan di baskom bersama. Kata membilas sengaja dipilih, sebab air dipakai bergantian, sabun jarang hadir, dan tangan nyaris tidak benar-benar tercuci.
Baskom
Baskom itu hadir di Bamako, ibu kota Mali, dan di desa-desa sekitarnya di wilayah Koulikoro, juga di Segou dan Sikasso. Di sana tim berbicara dengan ibu, ayah, nenek, dan tetua, total 168 orang dalam 26 diskusi kelompok serta 59 wawancara. Hasilnya, membilas di baskom bersama ternyata bagian hidup sehari-hari sebagian besar peserta.
Hanya segelintir peserta di desa maupun kota yang mengaku tidak melakukannya. Penulis menemukan pendorong utamanya bukan kekurangan air, melainkan keinginan membangun dan menjaga kerukunan, baik di antara anggota keluarga maupun antarrumah tangga ketika ada acara bersama. Kelangkaan air disebut sebagai alasan kedua, yang menurut penulis tetap relevan.
Kebiasaan itu digambarkan sebagai warisan turun-temurun untuk menjaga persatuan keluarga dan tali antargenerasi. Seorang tetua desa dalam diskusi kelompok menuturkan, “Para tetua kami dulu berkata bahwa ketika kita semua mencuci tangan bersama, masing-masing kita mengambil sesuatu dari yang lain, dan ini menyumbang pada kerukunan sosial.” Kutipan itu, seperti kutipan peserta lain, tercatat dalam bahasa Inggris di naskah.
Baskom juga menjadi tanda bagi orang luar. Seorang kepala rumah tangga di desa berkata bahwa bila tamu asing datang dan melihat sekeluarga mencuci tangan di wadah yang sama, “ia akan tahu bahwa kalian bersatu dan berpendidikan baik.” Namun, tidak semua peserta punya alasan setegas itu untuk kebiasaan yang mereka jalani setiap hari.
Seorang ayah di desa mengaku belajar kebiasaan itu dari orang tuanya. “Mereka tidak memberi tahu kami alasannya,” katanya. Cara menjalankannya pun beragam. Ada yang memegang urutan dari tertua ke termuda sebagai bentuk hormat, ada yang melonggarkannya saat terburu-buru, ada yang mendahulukan laki-laki, dan ada rumah tangga yang memakai tiga wadah.
Air Bekas
Variasi paling jauh terjadi sesudah baskom selesai dipakai. Sebagian peserta menceritakan kebiasaan meminum air bekas bilasan itu untuk mempererat ikatan keluarga. “Ini menguatkan ikatan keluarga. Tujuannya menguatkan pertalian, karena aku meminum kotoranmu, kamu meminum kotoranku juga,” ujar seorang ayah di kota dalam diskusi kelompok, dalam catatan penulis.
Air itu juga pernah lazim diberikan kepada anak-anak saja. Seorang ibu di desa menjelaskan bahwa setelah semua orang selesai membilas, ia memberikan airnya kepada anak karena dianggap mencegah sakit. Menurut ibu itu, air tersebut bahkan melindungi anak dari guna-guna bila ada orang yang berniat jahat kepadanya.
Kebiasaan meminum air bekas inilah yang paling jelas ditinggalkan. Seorang ibu di kota menuturkan bahwa sebagian orang dulu yakin air itu mendatangkan kasih sayang antaranggota keluarga, tetapi kini terlalu banyak penyakit sehingga orang berhenti. Penyakit menular disebut sebagai alasan utama berhentinya kebiasaan tersebut.
Kesadaran akan risiko ternyata cukup luas. Seorang ayah di desa dalam diskusi kelompok berkata mereka sudah dijelaskan bahwa cara lama tidak lagi memadai, dan semua sepakat mencuci tangan di wadah dan air yang sama merugikan kesehatan. Peran petugas kesehatan dalam menyebarkan pengetahuan itu diakui oleh para peserta.
Orang dewasa pun punya pertimbangan sendiri soal anak. Seorang peserta menyebut orang dewasa memakai ceret dan sabun karena tidak mau berbagi air dengan anak-anak yang banyak bermain dan tangannya sangat kotor. Sebaliknya, seorang ibu di desa menyebut justru orang dewasa yang bisa menulari anak, sehingga mereka wajib bersabun sebelum menyuapi anak.
Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun
Sabun
Pengetahuan tentang kuman tidak otomatis membuat sabun diterima. Sejumlah laki-laki menjelaskan keyakinan bahwa mencuci tangan dengan sabun dapat menghapus kekayaan. Seorang tetua dalam diskusi kelompok memperkirakan hanya sekitar 10 persen warga di tempatnya yang mencuci tangan dengan sabun, dan menyebut orang yang terus-menerus bersabun dipercaya tidak bisa menabung.
Ada pula yang menganggap air saja sudah cukup. Seorang ibu di desa menunjuk anaknya dan berkata anak itu akan bersih bila tangannya langsung dibasuh air. Seorang kepala rumah tangga lain menyebut sabun hanya perlu bagi orang yang pekerjaannya bersentuhan dengan kuman, sedangkan selebihnya cukup mencuci tangan dengan air biasa.
Ketakutan terbesar justru soal keluarga. Seorang ibu di desa mengatakan mencuci tangan terpisah memecah anggota keluarga, karena itu mereka suka mencuci tangan di wadah yang sama. Seorang ayah di kota menyebut keluarga yang tidak melakukannya akan menjadi “masing-masing untuk dirinya sendiri.” Bagi mereka, baskom menjadi penanda utuhnya rumah tangga.
Penulis membaca pola itu dengan tegas. “Data kami dengan jelas menunjukkan bahwa bukan kurangnya pengetahuan, kurangnya fasilitas cuci tangan, atau ketersediaan air yang menjadi persoalan utama, melainkan keberlanjutan praktik ini didorong oleh keyakinan yang mengakar tentang nilai sosialnya, nilai yang dalam banyak kasus mengalahkan kekhawatiran kesehatan apa pun,” tulis Evans Atiah Asamane dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Ceret
Di beberapa rumah, jalan tengah sudah ditemukan. Sebagian kecil peserta mengubah cara membilas agar nilai kebersamaan tetap terjaga sambil mengurangi kuman. Seorang kepala rumah tangga di desa menjelaskan keluarganya membilas tangan bersama di satu wadah pada putaran pertama, lalu mencuci dengan sabun dan air dari ceret secara terpisah pada putaran kedua.
Seorang ayah di kota menempuh urutan terbalik. Setiap anggota keluarga mencuci tangan dengan sabun sendiri-sendiri, lalu ketika makan mereka membilas bersama di satu wadah. Ceret yang dimaksud adalah wadah plastik berbentuk ceret dalam kit cuci tangan yang paling lazim dipakai di Mali, biasanya berpasangan dengan sebuah baskom.
Wabah sempat menggeser kebiasaan. Seorang kepala rumah tangga di desa mengaku memasang kit cuci tangan sejak masa Ebola dan terus menggantinya ketika rusak. Namun, perubahan itu sering tidak bertahan. “Ketika korona sedang parah, kami dulu mencuci tangan sendiri-sendiri, tetapi sekarang sudah hampir selesai jadi kami berhenti,” kata seorang ayah di kota.
Biaya juga disebut, walau oleh sedikit orang. Seorang ibu di desa mengatakan keluarganya tetap mencuci tangan di wadah yang sama karena tidak sanggup membeli kit baru. Menurut penulis, kit dan fasilitas cuci tangan mudah didapat dan relatif murah, sekitar 2.500 CFA atau 3,14 poundsterling, tetapi tidak semua keluarga memprioritaskannya dalam anggaran yang terbatas.
Soal siapa yang harus memulai, peserta terbelah. Seorang kepala rumah tangga menilai perempuanlah yang paling dekat dengan anak dan bertugas mengisi kit serta menaruh sabun. Kepala rumah tangga lain berpendapat sebaliknya. “Sebagai kepala keluarga, kamu harus memberi contoh yang baik. Kepala keluarga harus mencuci tangannya dengan sabun,” katanya.
Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Naskah
Beberapa hal dalam naskah itu bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Kalimat tentang sabun yang tidak baik bagi tradisi dan membuat orang tak bisa menabung muncul dua kali dengan atribusi berbeda. Pertama ia dicatat dari seorang tetua kota dalam diskusi kelompok, kemudian dari seorang kepala rumah tangga desa dalam diskusi kelompok.
Kelompok ibu juga dicatat berbeda. Bagian metode menyebut ibu dengan anak berusia 6 sampai 36 bulan, sedangkan bagian hasil menulis ibu dengan anak 6 sampai 24 bulan. Metode pun menyebut empat diskusi kelompok terpisah di tiap lokasi dari tujuh lokasi, sementara tabel mencatat 26 diskusi, dengan kelompok ibu hanya lima.
Bobot soal air juga bergeser. Di bagian hasil, kelangkaan air disebut alasan kedua yang tetap relevan, tetapi bagian diskusi menulis kelangkaan air tidak menonjol dalam penuturan peserta. Penulis sendiri mengakui temuan mereka khas konteks Mali, dan terjemahan dari Bambara ke Prancis lalu ke Inggris mungkin menghilangkan sebagian nuansa.
Mereka juga mencatat diskusi kelompok merupakan bagian riset yang lebih luas, mencakup menyusui, penyiapan pangan, dan ternak, sehingga waktu membahas baskom bersama mungkin berkurang. Dari situ penulis menyarankan program kebersihan yang langsung menyasar kebiasaan ini, melibatkan tetua, pemuka agama, dan nenek, serta menilai dampaknya terhadap kerukunan keluarga.
Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Baskom di dekat hidangan itu, pada akhirnya, bukan sekadar wadah air untuk tangan yang kotor. Di Bamako dan desa-desa Koulikoro, ia memikul urutan usia, rasa hormat, kerukunan, dan tanda bagi tamu. Karena itu air di dalamnya tetap dipakai bersama, bahkan oleh orang yang tahu betul bahwa kuman ikut berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya.















