Vaksin Malaria RTS,S Melindungi Lewat Dua Sasaran Antibodi

A A

Tangan petugas kesehatan bersarung tangan lateks menyiapkan jarum suntik vaksin dari botol kecil [Foto: Mufidpwt/Pexels]

  • Sebanyak 254 anak yang tinggi pada NANP2 sekaligus J1 memiliki rasio hazard 0,470 dibanding 220 anak yang rendah pada kedua sasaran itu.
  • Bagian N-terminal, epitop sambungan, dan ulangan minor NVDP tidak ikut masuk ke dalam vaksin, padahal semuanya ada pada parasit yang sesungguhnya.
  • Anak dengan IgG tinggi terhadap NANP2 lebih lama bertahan tanpa malaria dibanding anak dengan IgG rendah, begitu pula anak dengan IgG tinggi terhadap J1.
  • Sisanya, 158 anak atau 21 persen, rendah pada semua sasaran dan rendah pula pada semua uji fungsi.
  • Jenis kelamin tidak membedakan apa pun, baik pada 339 anak perempuan maupun pada 396 anak laki-laki.
Daftar Isi
  1. Cara RTS,S menghadang parasit sebelum masuk hati
  2. Mengapa ukuran antibodi yang lazim tidak memilah siapa terlindung
  3. Dua sasaran pendek yang memisahkan anak terlindung dari yang tidak
  4. Antibodi pendek yang menempel lebih rapat dan memanggil bala bantuan
  5. Empat kelompok anak di dalam satu kelompok penerima vaksin
  6. Di mana penjelasan naskah ini berhenti
  7. Angka yang bisa diperiksa pembaca di dalam naskah

Seorang anak di Manhica sudah menerima rangkaian lengkap vaksin malaria, darahnya diperiksa sebulan kemudian, dan hasilnya menunjukkan antibodi yang tinggi. Beberapa bulan berikutnya anak itu tetap demam dan darahnya penuh parasit. Kejanggalan semacam ini berulang cukup sering sehingga sekelompok peneliti memutuskan membongkar ulang ukuran yang selama ini dipakai untuk menilai keberhasilan vaksin RTS,S pada anak Afrika.

Hasil pembongkaran itu ditulis Alessia Hysa, D. Herbert Opi, Liriye Kurtovic, dan James G. Beeson bersama rekan-rekannya dalam Antibody fine specificity correlates with protection from malaria for the RTS,S vaccine in young African children, yang terbit di PLOS Medicine volume 23 nomor 5 tahun 2026. Kurtovic dan Beeson dari Burnet Institute, Melbourne, bertindak sebagai penulis senior sekaligus penulis korespondensi naskah tersebut.

Bahan yang mereka telusuri berasal dari uji klinis fase IIb vaksin RTS,S/AS02 pada anak usia satu sampai empat tahun di distrik Manhica, Provinsi Maputo, Mozambik. Serum 735 anak yang menuntaskan tiga dosis dan 99 anak pembanding yang menerima vaksin non-malaria diperiksa ulang, lalu dicocokkan dengan catatan episode malaria mereka selama sekitar 18 bulan sesudah vaksinasi.

Cara RTS,S menghadang parasit sebelum masuk hati

Sasaran vaksin RTS,S adalah circumsporozoite protein atau CSP, protein permukaan utama sporozoit Plasmodium falciparum, bentuk parasit yang disuntikkan nyamuk dan bergegas menuju hati. Kalau antibodi berhasil mencegat sporozoit sebelum ia menempel dan masuk ke sel hati, parasit tidak sempat berkembang biak menjadi tahap darah yang menimbulkan demam. Kekebalan dari RTS,S terutama dikerjakan antibodi, dibantu sel T pembantu CD4.

Persoalannya, CSP yang dipakai vaksin bukan CSP yang utuh. Menurut Hysa dan rekan-rekannya, konstruk RTS,S hanya memuat 19 ulangan NANP dan bagian C-terminal, yang difusikan dengan antigen permukaan virus hepatitis B sehingga membentuk partikel mirip virus. Bagian N-terminal, epitop sambungan, dan ulangan minor NVDP tidak ikut masuk ke dalam vaksin, padahal semuanya ada pada parasit yang sesungguhnya.

Pada protein aslinya, wilayah ulangan tengah CSP tersusun dari 37 sampai 49 motif utama NANP dan sekitar empat motif minor NVDP. Di antara bagian N-terminal dan wilayah ulangan itu terdapat epitop sambungan yang sangat lestari dengan urutan asam amino KQPADGNPDPNANPN, yang oleh para penulis diberi nama J1. Urutan inilah yang kemudian menjadi salah satu kunci temuan mereka.

Dua cara mengukur antibodi vaksin RTS,SDua cara mengukur antibodi vaksin RTS,SDua cara mengukur antibodi vaksin RTS,S735 anak usia 1-4 tahun di Manhica, MozambikNANP15NANP2 + J115 ulangan2 ulanganPanjang sasaranYaJ1 tidak adaAda di vaksinp = 0,925p < 0,001Beda waktu sakitaHR 0,903aHR 0,470Risiko malariaHampir semua254 dari 646Anak beresponsNANP15 adalah uji baku yang dipakai luas untuk menilai vaksin RTS,Sdan R21. J1 adalah epitop sambungan yang tidak dimasukkan ke dalamkonstruk vaksin.
Sumber: Alessia Hysa, D. Herbert Opi, Liriye Kurtovic, James G. Beeson, dan rekan, Antibody fine specificity correlates with protection from malaria for the RTS,S vaccine in young African children, PLOS Medicine, 23(5), 2026. Grafik: Cekricek.id

Mengapa ukuran antibodi yang lazim tidak memilah siapa terlindung

Selama ini keberhasilan RTS,S dan R21 dinilai dari besaran IgG terhadap antigen berisi 30 ulangan NANP. Ukuran itu, tulis para penulis, hanya berkorelasi sedang dan tidak konsisten dengan perlindungan di berbagai uji klinis pada anak. Dalam kohort Mozambik ini pun hasilnya sama tumpulnya: tidak ada beda waktu menuju episode malaria pertama antara anak berespons tinggi dan rendah pada peptida panjang NANP15, dengan p sebesar 0,925.

Yang membuatnya rumit, antibodi terhadap ulangan panjang dan terhadap ulangan pendek ternyata bukan hal yang sama. Reaktivitas IgG terhadap NANP3 dan NANP15 berjalan hampir seiring, dengan koefisien korelasi rho 0,951. Sebaliknya, reaktivitas terhadap NANP2, yang hanya terdiri atas dua ulangan, cuma berkorelasi sedang dengan NANP3 dan NANP15, masing-masing rho 0,269 dan 0,375. Mengukur yang panjang berarti melewatkan yang pendek.

Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai

Dua sasaran pendek yang memisahkan anak terlindung dari yang tidak

Petunjuk pertama muncul dari sampel gabungan. Kumpulan serum 50 anak yang tetap bebas malaria selama pengamatan memperlihatkan reaktivitas terhadap NANP2 sebesar 3,5 kali dan terhadap J1 sebesar 2,1 kali lipat dibanding kumpulan serum 50 anak yang kemudian jatuh sakit. Karena itu kedua peptida pendek tersebut diuji satu per satu pada seluruh anak yang sampelnya masih tersisa.

Pada 646 anak dengan data klinis lengkap, 29 persen di antaranya mengalami sedikitnya satu episode malaria. Anak dengan IgG tinggi terhadap NANP2 lebih lama bertahan tanpa malaria dibanding anak dengan IgG rendah, begitu pula anak dengan IgG tinggi terhadap J1. Rasio hazard yang disesuaikan menurut umur tercatat 0,838 untuk NANP2 dan 0,718 untuk J1, keduanya bermakna secara statistik.

Gabungan keduanya memberi pemisahan paling tajam. Sebanyak 254 anak yang tinggi pada NANP2 sekaligus J1 memiliki rasio hazard 0,470 dibanding 220 anak yang rendah pada kedua sasaran itu. Sementara itu, IgG terhadap NANP15, yang menjadi uji baku selama ini, tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan risiko malaria, dengan rasio hazard 0,903 dan p sebesar 0,225.

Perbandingan yang paling telanjang justru datang dari kelompok anak yang gagal membentuk kedua antibodi itu. “Patut dicatat bahwa anak dengan sedikit atau tanpa IgG terhadap NANP2 dan J1 memiliki laju malaria yang mirip dengan kelompok vaksin non-malaria sebagai pembanding,” tulis Hysa, Kurtovic, dan Beeson dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Bagi anak-anak itu, vaksin praktis tidak memberi tambahan apa pun.

Antibodi pendek yang menempel lebih rapat dan memanggil bala bantuan

Lalu bagaimana dua sasaran sependek itu bisa menentukan nasib seorang anak. Para penulis menguji fungsi antibodi pada 461 anak yang serumnya masih cukup. Anak yang tinggi pada NANP2 sekaligus J1 memperlihatkan pengikatan reseptor FcgammaRIII yang lebih kuat dan fiksasi komplemen C1q yang lebih besar dibanding anak yang rendah pada keduanya, dengan p berturut-turut di bawah 0,001 dan 0,017.

Penjelasan mekanisnya bertumpu pada ruang. Wilayah ulangan tengah CSP melilit membentuk kumparan, dan antibodi yang mengenali potongan sependek dua ulangan bisa menempel dalam jumlah jauh lebih banyak pada bentangan yang sama daripada antibodi yang menuntut potongan panjang. Kerapatan itulah yang, menurut para penulis, memperkuat fungsi bagian Fc antibodi, memperbanyak interaksi antarmolekul IgG, dan memacu sel B bekerja lebih keras.

Sasaran kedua bekerja dengan cara berbeda. “Antibodi yang khusus mengenali J1 mungkin memberikan perlindungan dengan menghambat pemotongan proteolitik CSP yang terjadi di Region I di sebelahnya,” tulis para penulis dalam naskah berbahasa Inggris itu. Pemotongan tersebut dibutuhkan parasit untuk mengubah bentuk CSP sebelum menempel pada sel hati, dan epitop J1 justru tidak ada di dalam konstruk vaksin.

Risiko malaria menurut sasaran antibodiNANP15: Rasio hazard tersuai umur +0,903; NANP2: Rasio hazard tersuai umur +0,838; J1: Rasio hazard tersuai umur +0,718; NANP2+J1: Rasio hazard tersuai umur +0,470.Risiko malaria menurut sasaran antibodi646 anak penerima tiga dosis RTS,S, pengamatan 18 bulan0,250,500,751,000NANP150,903NANP20,838J10,718NANP2+J10,470Nilai 1,00 berarti tidak ada beda risiko. Nilai NANP15 tidak bermaknasecara statistik (p = 0,225).
Sumber: Alessia Hysa, D. Herbert Opi, Liriye Kurtovic, James G. Beeson, dan rekan, Antibody fine specificity correlates with protection from malaria for the RTS,S vaccine in young African children, PLOS Medicine, 23(5), 2026. Grafik: Cekricek.id

Empat kelompok anak di dalam satu kelompok penerima vaksin

Ketika ketiga ukuran antibodi dipetakan bersama, 735 anak itu terurai menjadi empat kelompok yang berbeda. Kelompok terbesar berisi 300 anak atau 41 persen yang hanya tinggi pada NANP15. Sebanyak 139 anak tinggi pada NANP15 dan J1, sedangkan 138 anak tinggi pada ketiga sasaran sekaligus. Dua kelompok terakhir inilah yang paling kuat aktivitas fungsional antibodinya.

Sisanya, 158 anak atau 21 persen, rendah pada semua sasaran dan rendah pula pada semua uji fungsi. Para penulis menyebut mereka hipo-responden. “Keberadaan kelompok besar dengan respons rendah mungkin ikut menjelaskan efikasi vaksin yang hanya sedang dalam uji ini,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris. Efikasi uji asal tercatat 29,9 persen pada enam bulan pertama.

Umur ikut menggeser gambar itu. IgG terhadap J1 dan NANP15 konsisten lebih rendah pada anak yang lebih tua, dengan rata-rata umur 41,6 bulan, dibanding anak yang lebih muda dengan rata-rata 17,7 bulan. Untuk NANP2 pengaruh umur hanya lemah. Jenis kelamin tidak membedakan apa pun, baik pada 339 anak perempuan maupun pada 396 anak laki-laki.

Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi

Di mana penjelasan naskah ini berhenti

Para penulis menandai sendiri batas temuan mereka. Kaitan yang mereka temukan bersifat korelasi antara kadar antibodi dan risiko sakit, bukan bukti bahwa kedua antibodi itu yang menyebabkan perlindungan. “Meskipun kami belum menunjukkan bahwa kekhasan antibodi yang teridentifikasi dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi atau penyakit pada model vaksin hewan yang dipakai, hal ini bernilai untuk dinilai pada studi mendatang,” tulis mereka dalam bahasa Inggris.

Batas berikutnya adalah cakupan. Korelat perlindungan ini baru dinilai pada satu kohort fase IIb di Mozambik, sehingga belum bisa dibaca sebagai berlaku untuk seluruh populasi Afrika dengan intensitas penularan yang berbeda, apalagi untuk vaksin R21 yang konstruksinya mirip. Pengaruh dosis penguat juga belum diuji. Selain itu, naskah menyatakan tidak ada penyesuaian untuk perbandingan berganda pada seluruh uji statistiknya.

Ada pula batas teknis yang diakui terus terang. Uji fungsi antibodi tidak bisa dijalankan langsung dengan peptida pendek NANP2 dan J1 yang berbiotin, sehingga para penulis memakai peptida gabungan yang lebih panjang bernama Junction-repeat. Artinya, fungsi yang terukur berasal dari campuran motif NANP, NVDP, dan NPDP sekaligus, bukan dari kedua sasaran pendek itu secara terpisah.

Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina

Angka yang bisa diperiksa pembaca di dalam naskah

Beberapa hal di dalam naskah bisa diperiksa sendiri oleh pembaca yang teliti. Ringkasan penulis di bagian depan menyebut lebih dari 240 juta kasus malaria per tahun, sedangkan Pendahuluan pada halaman berikutnya menulis lebih dari 200 juta kasus yang dilaporkan pada 2023. Keduanya mengutip sumber yang sama untuk beban penyakit yang sama.

Kejanggalan kedua ada pada kalimat hasil. Untuk anak yang tinggi pada NANP2 sekaligus J1, naskah menulis adanya waktu yang lebih singkat menuju episode malaria pertama dibanding anak yang rendah pada keduanya, padahal seluruh angka di sekitarnya menunjukkan arah sebaliknya, yaitu waktu bebas malaria yang lebih panjang dan risiko yang lebih rendah. Kurva dan rasio hazard di bagian yang sama membantah kalimat itu.

Sisanya perkara ketelitian. Peserta disebut berusia satu sampai empat tahun, tetapi kelompok umur yang dianalisis mencakup rentang sampai 59,8 bulan atau hampir lima tahun. Daftar afiliasi memuat dua entri untuk lembaga yang sama di Barcelona, satu tertulis ISGlobal dan satu lagi tertulis SGlobal. Angka 735 yang paling sering dikutip pun bukan angka yang menopang temuan utamanya.

Kembali ke anak di Manhica yang antibodinya tinggi tetapi tetap jatuh sakit. Jawabannya, menurut naskah ini, ada pada jenis antibodi yang dihitung. Angka tinggi pada uji baku bisa datang dari antibodi yang mengenali bentangan panjang ulangan NANP, sementara yang tampaknya menentukan adalah antibodi terhadap potongan dua ulangan dan terhadap sambungan yang bahkan tidak ada di dalam vaksinnya sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Dark Kitchen di Sydney Cepat Berganti Nama, Menunya Serba Goreng
Pedagang Makanan Jalanan Pune: 68,8 Persen Tak Patuh Higiene
Gigitan Anjing di Khash, Iran, Terbanyak dari Anjing Berpemilik
Tari Adolesensi Membaca Gejolak Pubertas Anak Perempuan
Antibiotik Tidak Mengobati Influenza A, Dokter ITS Ingatkan Warga
Sabuk Buatan Mahasiswa UGM Beri Tanda Sebelum Kantong Stoma Bocor