Makanan Ultra-Olahan Ibu Hamil Sejalan dengan Menu Anak Spanyol

A A

Ilustrasi meja sarapan dengan semangkuk sereal, buah raspberi, teh lemon, dan jus jeruk [Foto: Unknown photographer (NCI Visuals Online)/Wikimedia Commons, Public domain]

  • Rata-rata anak usia 8 tahun menyantap 282,2 gram makanan ultra-olahan per hari, setara 25,4 persen dari seluruh asupan hariannya.
  • Pada usia 8 tahun, anak yang ibunya berada di kelompok konsumsi tinggi saat hamil punya rasio risiko relatif 3,47 untuk masuk kelompok konsumsi tinggi.
  • Dari semua ciri anak yang diperiksa, hanya menonton televisi yang berhubungan dengan konsumsi tinggi di kedua usia.
  • Desainnya potong lintang, sehingga hubungan yang ditemukan tidak bisa ditetapkan sebagai sebab-akibat.
Daftar Isi
  1. Cara Menimbang Makanan Pabrikan
  2. Siapa yang Makan Lebih Banyak
  3. Jejak dari Menu Ibu Saat Hamil
  4. Kelas Sosial dan Harga yang Murah
  5. Layar Televisi yang Ikut Menyajikan Menu
  6. Olahraga yang Hanya Terlihat di Usia Remaja
  7. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Sereal sarapan, ham, kue kemasan, dan minuman ringan ikut mengisi piring anak berusia delapan tahun di Spanyol. Banyak sedikitnya isi semacam itu ternyata berhubungan dengan sesuatu yang terjadi sebelum si anak lahir, yakni apa yang dimakan ibunya selama hamil. Pola itu muncul pada 1.565 anak di Spanyol, dan masih terlihat pada 314 anak yang diperiksa ketika berusia 12 tahun.

Temuan itu ditulis Laura-María Compañ-Gabucio dari Grupo de Epidemiología de la Nutrición, Universidad Miguel Hernández, Alicante, bersama rekan-rekannya dari sejumlah lembaga riset Spanyol. Laporan mereka, Consumption of ultra-processed foods and associated factors in Spanish children aged 8–12 years: a cross-sectional analysis within the INMA cohort study, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 pada 2026. Penulis yang bertindak sebagai kontak utamanya adalah Jesús Vioque dari universitas yang sama.

Datanya berasal dari kohort kelahiran INMA, yang merekrut ibu hamil di Asturias, Gipuzkoa, Sabadell, dan Valencia antara 2003 dan 2008. Pada usia 8 tahun, 1.565 pasangan ibu dan anak dianalisis, sedangkan pada usia 12 tahun ada 314 pasangan dari Asturias dan Gipuzkoa. Orang tua atau pengasuh diwawancarai tentang kebiasaan makan anak selama setahun terakhir.

Cara Menimbang Makanan Pabrikan

Para peneliti tidak menghitung kalori, melainkan berat. Dari 46 butir makanan di kuesioner, 18 butir dimasukkan ke kelompok keempat klasifikasi NOVA, yaitu produk industri yang biasanya mengandung bahan tambahan, perisa, dan pewarna, dengan sedikit atau tanpa bahan makanan utuh. Berat seluruh butir itu lalu dibagi dengan berat semua makanan harian, tanpa menghitung air.

Alasannya sederhana. Sebagian produk ultra-olahan, misalnya minuman berpemanis buatan, tidak berkalori, sehingga hitungan berbasis energi bisa membuat konsumsi ultra-olahan secara keseluruhan tercatat lebih kecil daripada kenyataannya. Dengan ukuran berat itu, hasil pada usia 8 tahun terlihat jelas. Rata-rata anak menyantap 282,2 gram makanan ultra-olahan per hari, setara 25,4 persen dari seluruh asupan hariannya. Penyumbang terbesarnya makanan manis dengan 28,3 persen dari total ultra-olahan, disusul minuman dengan 27,6 persen.

Isi makanan ultra-olahan anak 8 tahunMakanan manis 28,3%; Minuman 27,6%; Makanan cepat saji 18,9%; Daging olahan 13,4%; Makanan penutup susu 11,8%.Isi makanan ultra-olahan anak 8 tahunRata-rata persen tiap subkelompok dari total ultra-olahan(gram), 1.565 anak0%10%20%30%Makanan manis28,3%Minuman27,6%Makanan cepat saji18,9%Daging olahan13,4%Makanan penutup susu11,8%Makanan manis termasuk sereal sarapan, kue, cokelat, selai, permen
Sumber: Laura-María Compañ-Gabucio dan rekan, Consumption of ultra-processed foods and associated factors in Spanish children aged 8–12 years: a cross-sectional analysis within the INMA cohort study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Makanan manis di sini mencakup sereal sarapan, kue, cokelat, gula, madu, selai, dan permen. Minuman mencakup minuman ringan bergula maupun berpemanis buatan serta jus buah kemasan. Di bawah keduanya ada makanan cepat saji dengan 18,9 persen, yang mencakup kentang goreng, pizza, mayones komersial, saus tomat, margarin, dan olahan ikan.

Daging olahan seperti ham, sosis, dan chorizo menyumbang 13,4 persen. Makanan penutup berbahan susu, seperti custard dan puding, berada di urutan terakhir dengan 11,8 persen. Kelima subkelompok itu disusun dari 18 butir kuesioner yang masuk kelompok keempat NOVA, dan persentasenya dihitung dari berat total makanan ultra-olahan yang dimakan setiap anak.

Siapa yang Makan Lebih Banyak

Anak laki-laki usia 8 tahun menyantap rata-rata 305,3 gram makanan ultra-olahan per hari, sedangkan anak perempuan 257,8 gram. Dalam persen, porsinya 26,8 berbanding 23,8 persen dari asupan harian, dan perbedaannya bermakna secara statistik. Sumber utamanya pun berbeda, karena anak perempuan paling banyak mendapatkannya dari makanan manis, sementara anak laki-laki dari minuman.

Pada usia 12 tahun, konsumsinya lebih rendah daripada usia 8, yaitu 251,6 gram per hari atau 20,2 persen dari asupan harian. Makanan manis menjadi penyumbang terbesar dengan 34,9 persen dari total ultra-olahan, yakni 35,4 persen pada perempuan dan 34,5 persen pada laki-laki. Di usia ini, jumlah yang dimakan anak laki-laki dan perempuan tidak lagi berbeda bermakna.

Perlu dicatat, kedua kunjungan diperlakukan sebagai dua sampel terpisah karena jumlah peserta dan wilayahnya berbeda. Antara usia 8 dan 12 tahun, asupan energi anak naik dari 1.844 menjadi 2.114 kilokalori per hari. Pada rentang yang sama, waktu beraktivitas fisik turun dari 1,9 menjadi 1,6 jam, dan waktu menonton televisi turun dari 1,8 menjadi 1,3 jam per hari.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Jejak dari Menu Ibu Saat Hamil

Menu ibu dicatat jauh sebelum anaknya bisa memilih makanan. Pada usia kehamilan 12 dan 32 minggu, para ibu mengisi kuesioner 101 butir makanan, lalu konsumsi ultra-olahan mereka dirata-ratakan dan dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Anak-anak juga dibagi ke dalam tiga kelompok yang sama menurut konsumsi mereka sendiri.

Pada usia 8 tahun, anak yang ibunya berada di kelompok konsumsi tinggi saat hamil punya rasio risiko relatif 3,47 untuk masuk kelompok konsumsi tinggi alih-alih rendah, dibanding anak yang ibunya berada di kelompok rendah. Untuk ibu di kelompok sedang, angkanya 1,87. Pada usia 12 tahun, angka yang sama tercatat 3,09, dengan rentang kepercayaan 1,27 sampai 7,50.

Pada anak perempuan usia 12 tahun, angkanya melonjak menjadi 6,39, tetapi rentang kepercayaannya sangat lebar, dari 1,33 sampai 30,80. Jumlah anak perempuan di kunjungan itu 153 orang. Para penulis mengakui sampel yang lebih kecil pada usia 12 tahun dan pada analisis per jenis kelamin bisa membatasi ketepatan angka, sehingga hasilnya perlu dibaca dengan hati-hati.

Para penulis menawarkan dua penjelasan. Paparan makanan sejak masa kandungan bisa ikut membentuk selera anak di kemudian hari. Kemungkinan lain, konsumsi ultra-olahan ibu yang tinggi sebenarnya menjadi penanda kerugian sosial, sehingga yang terlihat adalah keadaan keluarga, bukan semata menu kehamilan.

Para peneliti juga menjalankan uji tambahan. Ketika konsumsi anak pada usia 8 tahun ikut diperhitungkan, hubungan antara menu ibu saat hamil dan konsumsi tinggi di usia 12 tidak lagi bermakna secara statistik. Konsumsi di usia 8 justru muncul sebagai penanda kuat konsumsi di usia 12, sama seperti konsumsi di usia 4 menjadi penanda kuat konsumsi di usia 8.

Kelas Sosial dan Harga yang Murah

Kelas sosial ibu juga tercatat dalam analisis. Pada usia 8 tahun, anak dari ibu berkelas sosial rendah punya rasio risiko relatif 2,22 untuk berada di kelompok konsumsi tinggi, dibanding anak dari ibu berkelas sosial tinggi. Untuk kelompok konsumsi sedang, angkanya 1,87. Menurut para penulis, produk ultra-olahan umumnya lebih murah daripada makanan yang diolah minimal dan butuh waktu persiapan lebih singkat. Mereka juga merujuk riset yang menggambarkan orang tua berkelas sosial dan berpendidikan rendah cenderung kurang kritis terhadap produk semacam itu dan lebih sering menawarkannya kepada anak.

Pendidikan ibu baru tampak berperan pada usia 12 tahun. Anak dari ibu lulusan universitas punya rasio risiko relatif 0,21 untuk masuk kelompok konsumsi tinggi, dibanding anak dari ibu berpendidikan dasar atau lebih rendah. Pada anak laki-laki usia 12 tahun, angkanya 0,09, sedangkan pada keseluruhan sampel usia 8 tahun, pendidikan ibu tidak berhubungan bermakna dengan konsumsi tinggi.

Baca juga Berat Badan Ibu Sebelum Hamil Terbawa ke Tubuh Anak di Taiwan

Layar Televisi yang Ikut Menyajikan Menu

Dari semua ciri anak yang diperiksa, hanya menonton televisi yang berhubungan dengan konsumsi tinggi di kedua usia. Pada usia 8 tahun, anak yang menonton 2,1 sampai 5,6 jam per hari punya rasio risiko relatif 1,76 dibanding anak yang menonton paling lama 1,2 jam. Pada usia 12 tahun, untuk 1,4 sampai 5,5 jam per hari, angkanya 2,34.

Pada anak perempuan usia 12 tahun, angka itu mencapai 6,70, lagi-lagi dengan rentang yang lebar. Para penulis menghubungkannya dengan iklan, sebab riset lain yang mereka kutip mencatat anak Spanyol rata-rata menerima 10 paparan iklan televisi makanan dan minuman tidak sehat per hari. Paparan itu hampir dua kali lipat pada anak dari kelas sosial bawah.

Faktor yang menyertai konsumsi tinggiUltra-olahan ibu saat hamil: tinggi: Usia 8 tahun 3,47, Usia 12 tahun 3,09; Menonton TV: tertil tinggi: Usia 8 tahun 1,76, Usia 12 tahun 2,34; Pendidikan ibu: universitas: Usia 8 tahun 0,70, Usia 12 tahun 0,21; Aktivitas fisik: tertil tinggi: Usia 8 tahun 0,94, Usia 12 tahun 0,43.Faktor yang menyertai konsumsi tinggiRasio risiko relatif (RRR) konsumsi tinggi dibandingkonsumsi rendah sebagai acuanUsia 8 tahunUsia 12 tahun12340Ultra-olahan ibu saat hamil: tinggi3,473,09Menonton TV: tertil tinggi1,762,34Pendidikan ibu: universitas0,700,21Aktivitas fisik: tertil tinggi0,940,43Tidak bermakna di usia 8: pendidikan universitas dan aktivitas fisik
Sumber: Laura-María Compañ-Gabucio dan rekan, Consumption of ultra-processed foods and associated factors in Spanish children aged 8–12 years: a cross-sectional analysis within the INMA cohort study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Jenis kelamin juga tercatat di usia 8 tahun. Anak laki-laki punya rasio risiko relatif 1,76 untuk masuk kelompok konsumsi tinggi dibanding anak perempuan. Ketika seluruh bukti itu dirangkai, para penulis menyimpulkan dua hal yang paling konsisten. “Konsumsi makanan ultra-olahan ibu yang lebih tinggi selama kehamilan dan waktu menonton televisi yang lebih lama secara konsisten berhubungan dengan konsumsi makanan ultra-olahan yang lebih tinggi pada anak dan remaja,” tulis Compañ-Gabucio dan rekan (terjemahan Cekricek.id).

Olahraga yang Hanya Terlihat di Usia Remaja

Aktivitas fisik memberi gambaran sebaliknya, tetapi hanya pada usia 12 tahun. Anak yang aktif 1,8 sampai 6,5 jam per hari punya rasio risiko relatif 0,43 untuk masuk kelompok konsumsi tinggi, dibanding anak yang paling sedikit bergerak. Pada usia 8 tahun, hubungan semacam itu tidak bermakna secara statistik.

Para penulis mencatat bahwa bukti dari penelitian lain masih beragam. Sebagian riset lain justru menemukan hubungan positif antara aktivitas fisik dan konsumsi ultra-olahan, sehingga menurut mereka “hubungan antara aktivitas fisik dan konsumsi makanan ultra-olahan pada anak dan remaja belum sepenuhnya dipahami” (terjemahan Cekricek.id). Setelah konsumsi di usia 8 diperhitungkan, hubungan ini pun tidak lagi bermakna.

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Penelitian ini punya sejumlah batas yang diakui penulisnya. Desainnya potong lintang, sehingga hubungan yang ditemukan tidak bisa ditetapkan sebagai sebab-akibat. Makanan anak dilaporkan pengasuh berdasarkan ingatan setahun terakhir, sehingga makanan yang dimakan di luar rumah bisa terlewat, dan kecenderungan melaporkan pilihan yang tampak sehat tidak bisa disingkirkan.

Kuesioner yang pendek juga memaksa beberapa makanan digabung dalam satu butir. Butir susu utuh, misalnya, mencampur susu dan yoghurt biasa dengan milkshake, sehingga tidak dimasukkan ke kelompok NOVA mana pun. Sampel usia 12 tahun yang kecil membuat rentang kepercayaan melebar, dan para penulis meminta hasil itu dibaca dengan hati-hati.

Baca juga Makin Lama Menonton Video Pendek, Anak Thailand Makin Sulit Fokus

Ada pula bias seleksi. Anak yang datanya lengkap di usia 12 tahun ternyata lebih jarang bergerak dan lebih sedikit makan ultra-olahan saat berusia 8 tahun dibanding yang datanya tidak lengkap. Menurut para penulis, hal itu bisa membuat kekuatan hubungan pada kunjungan usia 12 tahun tercatat lebih kecil daripada sebenarnya.

Dari temuan itu mereka menyarankan intervensi sejak dini dengan dua jalur. Jalur pertama menyasar ketimpangan sosial ekonomi lewat pendidikan gizi yang terjangkau dan aturan pemasaran. Jalur kedua mendorong orang tua mengurangi waktu menonton televisi anak. Studi lanjutan yang mengikuti anak dari waktu ke waktu tetap dibutuhkan untuk menegaskan hubungan ini.

Dalam kesimpulannya, para penulis menyatakan konsumsi makanan ultra-olahan pada anak dan remaja Spanyol tergolong tinggi, terutama pada usia 8 tahun, dan berkaitan dengan faktor ibu serta gaya hidup. Mereka juga mencatat adanya perbedaan pola antara anak laki-laki dan perempuan, sehingga pendekatan yang lebih terarah dinilai perlu.

Bagikan

Baca Juga

Mahasiswa yang Makan Lebih Banyak Madu Cenderung Tidur Lebih Baik
Kue Ikan Gabus Apel Bantu Kendalikan Gula Darah Pasien Diabetes
Lansia Tiongkok Berpola Makan Sehat Berisiko Wafat Lebih Rendah
Ibu Kegemukan dan Anak Kurang Darah Kerap Serumah di Burkina Faso
Kue dan Permen Kuasai Jajanan Sekolah di Perkotaan Komoro
Stunting dan Anemia Cenderung Datang Bersama pada Anak India