- Program MyBFF@school berjalan Februari hingga Agustus 2016 di sekolah menengah pemerintah di Selangor, Negeri Sembilan, dan Kuala Lumpur.
- Skor-z BMI turun di kedua kelompok, tetapi BMI kelompok intervensi naik dari 28,40 menjadi 28,57 kg/m2.
- Gula darah puasa kelompok intervensi naik dari 4,90 menjadi 5,49 mmol/L, lebih besar daripada kelompok pembanding.
- Tekanan sistolik kelompok intervensi naik 4,64 mmHg, sedangkan di kelompok pembanding perubahannya tidak bermakna.
Daftar Isi
- Februari 2016: Lima Belas Sekolah di Tiga Wilayah
- Awal 2016: Darah Remaja yang Tampak Sehat
- Agustus 2016: Skor-z BMI Turun, BMI Peserta Program Naik
- Enam Bulan Kemudian: Gula dan Lemak Darah Ikut Naik
- Agustus 2016: Tekanan Darah Naik di Kelompok Intervensi
- Jalaludin dan Rekan Menimbang Tiga Kemungkinan
- Dari MyBFF@school ke Pengobatan Obesitas Bertahap
Dalam beberapa dekade terakhir, prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada anak dan remaja di seluruh dunia naik dengan tajam. Di Malaysia, sejumlah penelitian mencatat angka kelebihan berat badan dan obesitas pada siswa sekolah menengah berusia 13 sampai 15 tahun berkisar antara 8,2 dan 19,5 persen. Insiden diabetes tipe 2 pada usia muda juga naik tajam dalam beberapa dekade terakhir.
Dari latar itulah lahir My Body is Fit and Fabulous at School, yang disingkat MyBFF@school. Para penelitinya menyebut program ini sebagai studi intervensi berbasis sekolah berskala besar pertama di Malaysia yang melibatkan siswa kelebihan berat badan dan obesitas berusia 13, 14, dan 16 tahun. Hasil enam bulannya tidak seragam: skor-z indeks massa tubuh memang turun di kedua kelompok, tetapi di kelompok peserta program gula darah, sebagian lemak darah, dan tekanan darah justru naik.
Temuan itu dilaporkan Muhammad Yazid Jalaludin dari Departemen Pediatri, Fakultas Kedokteran, University of Malaya, di Kuala Lumpur, bersama sepuluh rekan dari University of Malaya, Institute for Medical Research dan Divisi Gizi Kementerian Kesehatan Malaysia, Rumah Sakit Putrajaya, serta UCSI University. Laporan berjudul Cardiometabolic outcome of MyBFF@school intervention program among secondary schoolchildren: a cluster randomized controlled trial itu dimuat jurnal BMC Public Health volume 24 tahun 2024.
Februari 2016: Lima Belas Sekolah di Tiga Wilayah
Program berjalan sejak Februari hingga Agustus 2016 di sekolah menengah pemerintah di Selangor, Negeri Sembilan, dan Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur. Lima belas dari 416 sekolah terpilih lewat pengambilan sampel acak, dan para siswanya terbagi ke kelompok intervensi dan kelompok pembanding. Dari 1.041 siswa yang bersedia ikut, 552 orang memiliki sampel darah lengkap pada awal program dan bulan keenam, yaitu 306 siswa kelompok intervensi dan 246 siswa kelompok pembanding.
Isi programnya berlapis tiga. Lapis pertama berupa permainan kelompok kecil seperti sepak bola, bola tangan, dan permainan seru, masing-masing 40 menit, dua kali seminggu, sehingga totalnya 80 menit setiap pekan. Lapis kedua adalah pendidikan gizi dengan modul yang diadaptasi dari Malaysian Childhood Obesity Treatment Trial (MASCOT), lewat ceramah di kelas, praktik langsung, dan kegiatan interaktif untuk memperkuat pengetahuan, sikap, dan kebiasaan makan siswa.
Lapis ketiga menyentuh sisi psikologis, dengan tema harga diri, persahabatan, keberanian bersikap tegas, berpikir positif untuk hidup sehat, dan pengelolaan stres. Sesi gizi dan psikologi digelar berselang minggu pada jam kokurikuler, masing-masing 45 sampai 60 menit, dipandu asisten peneliti terlatih yang ditempatkan penuh waktu di setiap sekolah. Tim peneliti juga memantau para siswa setiap bulan selama program berlangsung.
Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Awal 2016: Darah Remaja yang Tampak Sehat
Para siswa yang ikut rata-rata berusia sekitar 14 tahun, tepatnya 14,20 tahun di kelompok intervensi dan 14,24 tahun di kelompok pembanding. Kira-kira dua dari tiga peserta adalah perempuan, sebagian besar bersuku Melayu, dan kebanyakan bersekolah di kota. Di kelompok intervensi, 46,4 persen tergolong kelebihan berat badan, 40,2 persen obesitas, dan 13,4 persen obesitas morbid, sedangkan di kelompok pembanding angkanya 53,7, 36,6, dan 9,8 persen.
Pemeriksaan darah sesudah puasa sedikitnya delapan jam memperlihatkan gambaran yang oleh para peneliti disebut mengkhawatirkan. Di kelompok intervensi, 49,0 persen siswa memiliki kadar HDL-C rendah dan 48,7 persen memiliki kadar LDL-C tinggi. Di kelompok pembanding, HDL-C rendah ditemukan pada 38,2 persen siswa dan LDL-C tinggi pada 60,6 persen. Kolesterol total tinggi tercatat pada 7,5 dan 9,3 persen siswa.
Resistensi insulin, yang dalam penelitian ini ditandai skor HOMA-IR 4,0 atau lebih, ditemukan pada 41,6 persen siswa kelompok intervensi dan 36,3 persen siswa kelompok pembanding. Diabetes masih jarang, yakni 1,0 dan 0,8 persen, dengan pradiabetes 1,3 dan 1,6 persen. Hipertensi tahap 1 tercatat pada 16,8 dan 17,2 persen siswa, sedangkan hipertensi tahap 2 pada 4,9 dan 1,6 persen.
Pada bagian latar makalahnya, Jalaludin dan rekan mengutip penelitian Liew dan kawan-kawan yang menemukan hipertensi pada 24,5 persen remaja Malaysia berusia 13 sampai 17 tahun, dengan kaitan kuat antara hipertensi dan indeks massa tubuh. Mereka juga merujuk Elmaogullari dan rekan, yang mendapati 42,9 persen anak berusia 2 sampai 18 tahun didiagnosis dislipidemia, dengan usia atau BMI yang lebih tinggi, atau keduanya, berkaitan dengan prevalensi dislipidemia yang lebih tinggi.
Agustus 2016: Skor-z BMI Turun, BMI Peserta Program Naik
Enam bulan kemudian, hasil pertama tampak menggembirakan. Skor-z indeks massa tubuh atau BMI menurut acuan pertumbuhan WHO 2007 turun secara bermakna di kedua kelompok, dari 2,12 menjadi 2,08 di kelompok intervensi dan dari 2,06 menjadi 1,99 di kelompok pembanding. Namun perbedaan perubahan antara kedua kelompok tidak bermakna secara statistik.
Angka BMI mentahnya bercerita lain. Di kelompok intervensi, rata-rata BMI justru naik dari 28,40 menjadi 28,57 kg/m², kenaikan kecil 0,17 kg/m² yang bermakna secara statistik. Di kelompok pembanding, BMI nyaris tidak bergerak, dari 28,05 menjadi 28,02 kg/m². Para peneliti menegaskan bahwa antara kedua kelompok tidak ada perbedaan bermakna, baik untuk BMI maupun untuk skor-z BMI.
Enam Bulan Kemudian: Gula dan Lemak Darah Ikut Naik
Hasil yang tidak terduga datang dari gula darah puasa. Di kelompok intervensi, rata-ratanya naik dari 4,90 menjadi 5,49 mmol/L, sedangkan di kelompok pembanding dari 4,81 menjadi 5,06 mmol/L. Kenaikan di kedua kelompok sama-sama bermakna, tetapi kenaikan di kelompok intervensi lebih besar, dengan selisih antarkelompok 0,38 mmol/L setelah disesuaikan dengan jenis kelamin.
Kolesterol total di kelompok intervensi naik dari 4,17 menjadi 4,76 mmol/L, trigliserida dari 0,98 menjadi 1,18 mmol/L, dan LDL-C dari 2,84 menjadi 3,61 mmol/L. Di kelompok pembanding, kolesterol total dan LDL-C juga naik, tetapi lebih sedikit, sementara trigliserida turun tipis dari 0,91 menjadi 0,86 mmol/L, penurunan yang tidak bermakna. Untuk ketiga ukuran itu, selisih antarkelompoknya bermakna, masing-masing 0,36, 0,26, dan 0,30 mmol/L.
Ada pula kabar baik. HDL-C naik di kedua kelompok, dari 1,04 menjadi 1,29 mmol/L di kelompok intervensi dan dari 1,08 menjadi 1,26 mmol/L di kelompok pembanding, dengan kenaikan yang lebih besar dan berbeda bermakna di kelompok intervensi. Insulin puasa di kelompok intervensi turun dari 18,46 menjadi 16,21 μU/mL, penurunan 2,24 μU/mL yang bermakna, meski selisihnya terhadap kelompok pembanding tidak bermakna.
Baca juga Atlet Muda Estonia Tetap Bisa Kegemukan meski Rajin Berlatih
Skor HOMA-IR di kelompok intervensi bergeser tipis dari 4,04 ke 4,01, sedangkan di kelompok pembanding dari 3,68 ke 3,73, dan perbedaan antarkelompoknya tidak bermakna. Rasio trigliserida terhadap HDL-C di kelompok intervensi hampir tetap, dari 0,98 menjadi 0,99. Di kelompok pembanding, rasio itu turun dari 0,90 menjadi 0,73, sehingga selisih antarkelompoknya, 0,19, tercatat bermakna.
Agustus 2016: Tekanan Darah Naik di Kelompok Intervensi
Tekanan darah memperlihatkan pola serupa. Tekanan sistolik di kelompok intervensi naik dari 110,51 menjadi 115,16 mmHg, atau 4,64 mmHg, dan tekanan diastolik dari 70,52 menjadi 73,34 mmHg. Di kelompok pembanding, perubahannya tidak bermakna: sistolik naik 0,71 mmHg dan diastolik turun 1,10 mmHg. Setelah disesuaikan, kelompok intervensi mencatat selisih 3,68 mmHg untuk sistolik dan 4,29 mmHg untuk diastolik.
Bagi Jalaludin dan rekan, gabungan hasil itu memperlihatkan rumitnya respons metabolik remaja dengan obesitas. Mereka menulis bahwa intervensi yang berkaitan dengan berat badan atau perilaku bisa memberi efek berbeda pada ukuran tubuh dan pada ukuran metabolik. Perubahan keduanya, menurut mereka, tidak selalu bergerak serempak ke arah yang menguntungkan.
Dalam simpulannya, para peneliti mencatat bahwa program ini memang membawa sebagian perbaikan, seperti turunnya insulin puasa dan naiknya HDL di kelompok intervensi, tetapi juga sejumlah perubahan yang tidak diharapkan. “Temuan yang bercampur ini menegaskan pentingnya menilai luaran antropometrik dan metabolik sekaligus ketika menimbang efektivitas dan keamanan intervensi obesitas pada remaja,” tulis Jalaludin dan rekan dalam ringkasan makalah, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Jalaludin dan Rekan Menimbang Tiga Kemungkinan
Para peneliti menyebut beberapa kemungkinan penjelasan. Yang pertama adalah penyesuaian fisiologis selama masa pubertas, yang kedua faktor makanan atau gaya hidup yang tidak sepenuhnya tertangkap dalam penelitian, dan yang ketiga kepatuhan siswa yang berbeda-beda terhadap komponen program. Menurut mereka, kenaikan penanda kardiometabolik itu perlu diteliti lebih jauh dengan rancangan jangka panjang untuk memastikan apakah perubahannya hanya sementara atau efek merugikan yang menetap.
Mereka juga menautkan hasilnya dengan rantai riset sebelumnya. Perbaikan HDL-C, tulis mereka, sejalan dengan penelitian observasional dan intervensi lain yang memuat aktivitas fisik terawasi. Untuk gula darah, mereka merujuk meta-analisis Marson dan rekan, yang menyimpulkan bahwa latihan fisik secara umum tidak berkaitan dengan turunnya gula darah puasa, walau insulin puasa dan HOMA-IR tercatat turun setelah latihan aerobik.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Jalaludin dan rekan mengakui keterbatasan penelitiannya. Asupan makanan hanya diukur dengan kuesioner frekuensi makan untuk sepekan terakhir yang diadopsi dari kuesioner buah dan sayur WHO STEPwise, sehingga asupan zat gizi makro dan mikro tidak bisa dimasukkan sebagai penyesuaian dalam analisis. Mereka juga mencatat bahwa kenaikan lemak darah dan tekanan darah, meski skor-z BMI turun sedikit, masih memerlukan analisis yang lebih rinci.
Dari MyBFF@school ke Pengobatan Obesitas Bertahap
Protokol MyBFF@school sejak awal dirancang agar mudah diterapkan di sekolah. Namun para peneliti menyimpulkan bahwa program ini, walau menjanjikan pada beberapa aspek, mungkin tidak bermanfaat bagi semua siswa. Program itu, tulis mereka, masih perlu disempurnakan dan dievaluasi lebih lama sebelum dapat dianjurkan sebagai strategi yang aman dan efektif bagi remaja dengan obesitas.
Mereka lalu menunjuk mata rantai berikutnya, yaitu pengobatan obesitas anak secara bertahap seperti yang dianjurkan American Academy of Pediatrics. Sebagai contoh, mereka merujuk program Take Charge yang diuji Arlinghaus dan rekan pada remaja berpenghasilan rendah dari kelompok etnis minoritas, berupa pengobatan lanjutan sesudah satu semester intervensi gaya hidup intensif. Arlinghaus melaporkan penurunan bermakna persentase terhadap persentil ke-95 BMI pada remaja yang awalnya tidak merespons intervensi satu semester itu.
Bagi Jalaludin dan rekan, contoh itu memperlihatkan bahwa sekolah dapat memainkan peran bertingkat dalam menangani obesitas. Penelitian berikutnya, tulis mereka, perlu menilai bukan hanya berat badan, tetapi juga profil kardiometabolik secara menyeluruh.















