Atlet Muda Estonia Tetap Bisa Kegemukan meski Rajin Berlatih

A A

Ilustrasi stadion atletik berlintasan merah dengan seorang pelari dari kejauhan di Tallinn, Estonia [Foto: Margo Evardson/Pexels]

  • Anak laki-laki yang tergolong kelebihan berat badan atau obesitas berkisar kira-kira 19 sampai 22 persen dari tahun ke tahun.
  • Pada anak perempuan kisarannya kira-kira 12 sampai 15 persen.
  • Tidak ada kecenderungan naik atau turun yang bermakna antara 2010 dan 2024, baik pada anak laki-laki maupun perempuan.
  • Pada anak laki-laki, olahraga cepat-kuat berada di puncak: 13,9 persen kelebihan berat badan dan 15,4 persen obesitas.
  • Indeks massa tubuh tidak membedakan lemak dari otot.
Daftar Isi
  1. Unt dan Võsaste menghimpun catatan lima belas tahun
  2. Suvi mendapati garis yang nyaris datar
  3. Võsaste dan Suvi menelusuri angka menurut usia
  4. Unt membaca peta cabang olahraga
  5. Suvi menimbang jam latihan dan kebugaran
  6. Batas yang diakui Suvi dan angka yang perlu dicek

Eve Unt mencetuskan sebuah gagasan sederhana: membuka kembali catatan timbangan dan pengukur tinggi badan di Sports Medicine and Rehabilitation Clinic, Tartu University Hospital, Estonia. Di klinik itu anak dan remaja yang menekuni olahraga diperiksa kesehatannya, tahun demi tahun. Unt ingin tahu berapa banyak di antara mereka yang, meski rajin berlatih, tetap membawa berat badan berlebih.

Jawabannya ia tulis bersama Silva Suvi dan Risto Võsaste dalam Trends in body mass index categories among young athletes in Estonia 2010–2024: a retrospective study, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2209 tahun 2026. Suvi tercatat sebagai penulis pertama sekaligus penulis korespondensi. Menurut keterangan naskah, Unt dan Võsaste mengumpulkan datanya, lalu ketiganya menganalisis dan memeriksa angka-angka itu bersama.

Suvi, Võsaste, dan Unt bernaung di dua alamat yang sama, yaitu Department of Sports Medicine and Rehabilitation di Faculty of Medicine, University of Tartu, dan klinik kedokteran olahraga di Tartu University Hospital. Di ujung naskah, mereka berterima kasih kepada para dokter olahraga dan perawat yang selama bertahun-tahun menjalankan pemeriksaan tersebut. Dari tangan orang-orang itulah bahan kerja Suvi berasal.

Unt dan Võsaste menghimpun catatan lima belas tahun

Tumpukan yang dihimpun Unt dan Võsaste berisi 40.077 catatan pemeriksaan atlet berusia 8 sampai 19 tahun, dari tahun 2010 hingga 2024. Sebanyak 25.696 di antaranya milik anak laki-laki dan 14.381 milik anak perempuan. Usia rata-rata keduanya sama, 13,6 tahun. Golongan berat badan tiap anak ditentukan dari indeks massa tubuh menurut acuan usia yang disusun WHO.

Unt dan rekan-rekannya menjelaskan dari mana anak-anak itu datang. Estonia menjalankan pemeriksaan kesehatan atlet muda secara teratur sejak 2009 lewat sebuah proyek pencegahan nasional. Sasarannya atlet sampai usia 19 tahun yang berlatih dan bertanding secara rutin sedikitnya empat jam seminggu, di luar pelajaran olahraga di sekolah. Jadi, yang dicatat Suvi bukan anak yang sesekali berolahraga.

Cabang yang mereka tekuni beragam, dan Suvi mengelompokkannya ke dalam lima rumpun: olahraga daya tahan, permainan bola, olahraga cepat-kuat, olahraga estetika, dan multicabang. Di kalangan anak laki-laki, sepak bola paling ramai, 33,8 persen, disusul multicabang dan bola basket. Di kalangan anak perempuan, urutan teratas ditempati multicabang, bola voli 12,0 persen, dan senam ritmik 11,1 persen.

Ada satu hal yang dicatat Võsaste dan dua rekannya tentang jam latihan. Anak perempuan rata-rata berlatih 8,8 jam seminggu, lebih lama daripada anak laki-laki yang 7,6 jam. Sampai usia 15 tahun, anak perempuan memang berlatih lebih lama, terutama karena sesi panjang di olahraga estetika seperti senam ritmik. Sepak bola, kegemaran anak laki-laki, biasanya hanya tiga sampai empat sesi pendek seminggu.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Suvi mendapati garis yang nyaris datar

Temuan pertama Suvi menyangkut arah waktu. Selama lima belas tahun itu, anak laki-laki yang tergolong kelebihan berat badan atau obesitas berkisar kira-kira 19 sampai 22 persen dari tahun ke tahun, atau sekitar satu dari lima. Pada anak perempuan kisarannya kira-kira 12 sampai 15 persen. Di semua tahun, golongan berat badan normal tetap yang terbanyak.

Yang tidak ditemukan Suvi justru sama pentingnya: tidak ada kecenderungan naik atau turun yang bermakna antara 2010 dan 2024, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Pada anak perempuan, hanya tahun 2015 yang berbeda nyata dari tahun 2010. Pada anak laki-laki, beberapa tahun berbeda dari 2010, tetapi Suvi membacanya sebagai naik-turun antartahun, bukan arah jangka panjang.

Dua wajah atlet muda EstoniaDua wajah atlet muda EstoniaDua wajah atlet muda EstoniaPemeriksaan kesehatan atlet usia 8-19 tahun, 2010-2024Laki-lakiPerempuan25.69614.381Catatanpemeriksaan13,6 th13,6 thUsia rata-rata7,6 jam8,8 jamLatihan per minggu19-22%12-15%Kelebihan beratdan obesitasSepak bolaMulticabangCabang terbanyakKelebihan berat dan obesitas: kisaran kira-kira antartahun kalender.
Sumber: Silva Suvi, Risto Võsaste, dan Eve Unt, Trends in body mass index categories among young athletes in Estonia 2010–2024: a retrospective study, BMC Public Health, 26(2209), 2026. Grafik: Cekricek.id

Unt dan dua rekannya lalu menaruh angka itu di samping gambaran anak Estonia pada umumnya. Sebuah survei tahun 2021/2022 yang mereka kutip mendapati 33 persen anak laki-laki dan 25 persen anak perempuan usia 7 sampai 14 tahun di negeri itu kelebihan berat badan atau obesitas. Di kalangan atlet muda angkanya lebih rendah. Lebih rendah, tetapi tidak nol.

Di titik inilah Suvi dan rekan-rekannya menulis kalimat yang menjadi poros naskah mereka. Dalam naskah berbahasa Inggris itu, mereka menyatakan bahwa ikut olahraga terorganisasi “tidak sepenuhnya menghapus risiko kelebihan berat badan di kalangan atlet muda.” Menurut Suvi, daya cegah olahraga bergantung pula pada beban latihan yang memadai dan keterlibatan jangka panjang, bukan pada keikutsertaan semata.

Võsaste dan Suvi menelusuri angka menurut usia

Ketika catatan itu dipilah menurut usia, Suvi melihat dua pola yang berlainan. Pada anak laki-laki, obesitas paling sering dijumpai justru pada yang termuda. Di usia 8 sampai 10 tahun, kira-kira 15 sampai 17 persen tergolong obesitas, lalu porsinya menyusut seiring bertambahnya usia. Golongan kelebihan berat badan relatif tetap, 10 sampai 13 persen, dari masa kanak-kanak sampai remaja pertengahan.

Pada anak perempuan, arah yang dicatat Suvi berbeda. Gabungan kelebihan berat badan dan obesitas naik dari usia muda, memuncak di remaja pertengahan, lalu sedikit turun pada kelompok tertua. Obesitas berkisar 1 sampai 7 persen dan lebih tinggi di usia 11 sampai 12 tahun. Kelebihan berat badan berkisar 5 sampai 11 persen, dengan nilai lebih tinggi di usia 12 sampai 15 tahun.

Unt dan rekan-rekannya tidak berhenti pada angka. Pola anak laki-laki, tulis mereka, mengisyaratkan bahwa masa kanak-kanak awal bisa menjadi periode penting munculnya lemak berlebih, bahkan pada anak yang aktif bergerak. Untuk anak perempuan, Unt menyebut beberapa kemungkinan: proses pematangan tubuh, seleksi khas tiap cabang olahraga, dan tuntutan latihan yang kian berat di akhir masa remaja.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Unt membaca peta cabang olahraga

Peta yang paling tajam muncul ketika Unt dan Suvi memilah catatan menurut cabang olahraga. Pada anak laki-laki, olahraga cepat-kuat berada di puncak: 13,9 persen kelebihan berat badan dan 15,4 persen obesitas. Permainan bola menyusul dengan 10,8 dan 9,9 persen. Olahraga daya tahan mencatat 10,1 dan 6,6 persen, sedangkan multicabang 10,7 dan 7,2 persen.

Pada anak perempuan, Suvi mendapati permainan bola di urutan teratas, dengan 13,3 persen kelebihan berat badan dan 8,1 persen obesitas. Olahraga cepat-kuat hampir setara, 12,0 dan 7,7 persen. Di ujung lain berdiri olahraga estetika. Di sana hanya 3,9 persen anak perempuan kelebihan berat badan dan 0,2 persen obesitas, angka terendah di seluruh peta itu.

Obesitas atlet muda per cabang olahragaCepat-kuat: Laki-laki +15,4, Perempuan +7,7; Permainan bola: Laki-laki +9,9, Perempuan +8,1; Multicabang: Laki-laki +7,2, Perempuan +4,1; Daya tahan: Laki-laki +6,6, Perempuan +4,1; Estetika: Laki-laki +7,1, Perempuan +0,2.Obesitas atlet muda per cabang olahragaPersen dari pemeriksaan di tiap kelompok cabang olahragaLaki-lakiPerempuan51015200Cepat-kuat15,47,7Permainan bola9,98,1Multicabang7,24,1Daya tahan6,64,1Estetika7,10,2Indeks massa tubuh tidak membedakan lemak dari otot.
Sumber: Silva Suvi, Risto Võsaste, dan Eve Unt, Trends in body mass index categories among young athletes in Estonia 2010–2024: a retrospective study, BMC Public Health, 26(2209), 2026. Grafik: Cekricek.id

Suvi sendiri meminta angka per cabang itu dibaca hati-hati. Indeks massa tubuh tidak membedakan lemak dari otot, sehingga atlet di cabang yang mengandalkan kekuatan bisa tampak berlebih berat karena massa ototnya. Untuk angka rendah di olahraga daya tahan dan estetika, Unt menawarkan dua penjelasan: tuntutan cabang itu sendiri dan kemungkinan seleksi, yakni anak yang bentuk tubuhnya kurang cocok lebih jarang masuk atau bertahan.

Suvi menimbang jam latihan dan kebugaran

Apakah berlatih lebih lama berarti badan lebih ramping? Suvi menemukan hubungannya memang ada, tetapi lemah: makin banyak jam latihan seminggu, makin rendah golongan indeks massa tubuh, baik pada anak laki-laki maupun perempuan. Suvi dan rekan-rekannya terus terang menulis bahwa hubungan selemah itu bermakna praktis terbatas, meskipun secara hitungan nyata.

Hubungan yang lebih kuat ditemukan Võsaste dan Suvi pada ketahanan fisik, yang diukur dari daya puncak relatif terhadap berat badan saat tes beban. Anak dengan ketahanan lebih tinggi cenderung berlatih lebih lama dan berada di golongan berat badan lebih rendah. Kekuatan hubungan ini tergolong sedang, lebih kentara pada anak laki-laki, dan bertahan setelah usia diperhitungkan.

Dari sana Unt dan rekan-rekannya beralih ke saran untuk dunia olahraga anak. Program olahraga, tulis mereka, perlu memantau tumbuh kembang secara berkala, disertai pendidikan gizi sehat dan pengelolaan berat badan. Dalam naskah berbahasa Inggris itu, Unt dan dua rekannya mengingatkan para pelatih dan tenaga kedokteran olahraga bahwa “ikut berolahraga saja mungkin tidak cukup untuk menurunkan risiko kelebihan berat badan.”

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Batas yang diakui Suvi dan angka yang perlu dicek

Suvi, Võsaste, dan Unt mengakui sejumlah keterbatasan. Selain soal indeks massa tubuh yang tidak memisahkan lemak dari otot, mereka tidak memperhitungkan perbedaan kematangan biologis di rentang usia selebar 8 sampai 19 tahun. Mereka juga tidak punya keterangan tentang pola makan, kegiatan fisik di luar latihan, dan kebiasaan duduk. Nasib atlet berbadan berlebih dalam jangka panjang pun tidak ditelusuri.

Ada pula angka dalam naskah Suvi yang patut dicek pembaca. Di bagian pembahasan tertulis bahwa obesitas pada seluruh sampel kira-kira 2 persen pada anak laki-laki dan di bawah 1 persen pada anak perempuan. Padahal, di bagian hasil, obesitas anak laki-laki per cabang tidak pernah di bawah 6,6 persen, dan pada anak perempuan mencapai 8,1 persen di permainan bola.

Hal serupa terlihat pada angka multicabang. Suvi menulis porsinya 15,3 persen pada anak laki-laki dan 15,5 persen pada anak perempuan. Jumlah pemeriksaan multicabang yang dicantumkan, 4.598 dari 25.696 dan 3.122 dari 14.381, menghasilkan porsi yang lebih besar. Suvi juga menyebut atlet cepat-kuat relatif sedikit, sementara pada anak laki-laki jumlahnya 2.525, jauh di atas olahraga estetika yang 350.

Di luar ganjalan itu, kesimpulan Unt dan rekan-rekannya tetap terang. Dalam naskah berbahasa Inggris tersebut, mereka menulis bahwa atlet muda “tidak semestinya dipandang sebagai kelompok berisiko rendah yang seragam.” Timbangan dan pengukur tinggi badan di klinik Tartu, yang catatannya dibuka kembali oleh Unt, memperlihatkan anak-anak yang sama rajinnya berlatih tetapi tidak sama beratnya.

Bagikan

Baca Juga

Promo Takeaway Memikat Keluarga Inggris Berpenghasilan Rendah
Warga Ceko Memilih Makanan dari Rasa dan Harga, Bukan Lingkungan
Mahkamah Agung Israel Minta Ketua Partai Arab Mundur dari Pemilu
Motor ATV Gurun di Emirat Paling Berbahaya Justru di Jalan Aspal
Pengusaha Zimbabwe Wicknell Chivayo Tewas saat Helikopter Jatuh
Pemakai Ponsel Lama di Iran Lebih Rentan Kena Darah Tinggi